Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pergi Jalan-jalan


__ADS_3

" Hehe... " Dylan dan Blair sama-sama tertawa canggung.


Dasar ranjang sialan !! Nyaris saja aku menciumnya.


Dylan menghela napas panjang, meredakan kegugupannya. Hampir saja dirinya mencium seorang gadis tanpa meminta izin lebih dulu, dan itu adalah hal tergila yang pernah dia lakukan dalam hidup masa remajanya, bisa saja bukan dia di tuduh berbuat pelecehan, lalu Blair akan menuntutnya. Sekali lagi Dylan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan melalui mulutnya.


Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sekedar untuk mengusir pikiran liarnya yang meraung-raung menuntut mengulang momen romantis yang terjadi beberapa detik yang lalu.


" Umm... kau lapar ? " Dylan mengalihkan pembicaraan.


" Ya tentu saja " Saut Blair cepat, salah tingkah.


" Aku sangat lapar " Lanjutnya lalu tersenyum canggung.


Aahh padahal kurang sedikit lagi aku mendapatkan ciuman pertama ku. Dasar ranjang sialan !!


Makinya dalam hati.


" Eh tapi ini sedang jam pelajaran, kita tidak di perbolehkan ke kantin atau kita akan di panggil guru BK karena membolos " Dylan baru menyadari jika mereka masih berada di area sekolah bukan di area taman bunga yang memabukkan, dan lagi dia tidak ingin di panggil guru BK, terlebih guru BK nya adalah kakak iparnya. Jika sampai itu terjadi maka kakak-kakaknya akan menginterogasinya dengan cara yang anti mainstreem, dalam bayangan Dylan para teletubbies sedang mengitari penyedot debu dan sibuk memarahinya, " Nunu nakal ", " Nakal ya ", " Nunu tak baik ".


Ooohh... mengerikan.


Batin Dylan lalu bergidik mengusir bayangan mengerikan itu.


" Ah iya ya " Jawab Blair basa-basi, dia tidak nafsu makan saat ini, perutnya saja sudah penuh oleh perasaan aneh yang di rasakannya sekarang, bahkan hingga memenuhi rongga dadanya. Tidak akan muat untuk menampung makanan.


" Kau masih kuat kan menunggu hingga jam makan siang ? " Tanya Dylan sungkan, dia berpikir karenanya Blair sampai harus merasa kelaparan.


" Ya tidak masalah, aku sarapan lumayan banyak tadi pagi, masih banyak cadangan makanan di perutku " Jawab Blair sekenanya, gelisah sendiri, dan Dylan hanya mengangguk-angguk sebagai jawaban.


Situasi macam apa ini ? Kenapa jadi canggung sekali.


Mereka berdua kemudian mengalihkan pandangannya menyapu ruangan sempit di dalam tirai pembatas itu, mengusir kecanggungan di antara mereka. Membiarkan keheningan kembali menguasai keadaan. Lebih mudah bertengkar daripada harus seperti ini, begitulah isi pikiran mereka.


" Dylan... "


" Blair... " Ucap mereka berbarengan, lalu tertawa bersama saat menyadari hal itu.


" Kau duluan saja " Saut Blair cepat.


" Tidak, kau saja. Ladys always first " Tolak Dylan cepat, mempersilahkan Blair.


" Tidak kau saja, aku sudah lupa mau bilang apa " Jawab Blair canggung.


" Oh begitu, kenapa bisa sama ya, aku juga sudah lupa mau bilang apa " Dylan pun mendadak mati gaya, seperti bukan dirinya sendiri.


" Cih " Cibir Blair lalu tersenyum mendengar jawaban Dylan.


" Ikut-ikut saja " Lanjutnya berpura-pura ketus.


" Enak saja, aku memang lebih dulu lupa mau bilang apa " Sanggah Dylan tidak mau kalah.


" Iya iya kau tidak ikut-ikutan " Jawab Blair mengalah lalu tersenyum manis.


Deg !! Jantung Dylan mendadak berdegub kencang melihat senyum manis Blair, matanya langsung fokus pada bibir kecil mungil berwarna pink muda itu, dan perasaan aneh di dadanya kembali muncul. Perasaan berdesir aneh yang menggelitik geli yang tidak mampu di jelaskan oleh pikirannya itu membuat wajahnya merona merah, dapat Dylan rasakan kalau wajahnya memanas saat ini. Dia terus saja memandangi bibir pink milik Blair, dan pikiran terliarnya mulai menuntutnya lagi untuk mencium Blair, merasakan betapa manis dan lembutnya bibir itu jika dia menciumnya.


Dylan memalingkan wajahnya. Malu sendiri oleh pikiran mesumnya, dia menghela napas perlahan. Blair yang juga terus saja berpikir bagaimana caranya mengulang momen romantis beberapa menit yang lalu itu pun ikut memalingkan wajahnya saat Dylan berpaling. Dia mengelus-elus dadanya yang berdegub kencang tak tekendali. Suasana kembali hening, keduanya seperti kehabisan topik untuk di bahas.


Setelah bisa menenangkan debaran aneh dari dadanya, Blair menurunkan tangannya. Namun entah harus di bilang beruntung atau malah sial, dia tidak sengaja meletakkan tangannya di atas tangan Dylan yang ada di sampingnya. Jantungnya kembali berdebub kencang.


Aku bisa benar-benar mati muda kalau begini terus !!


Teriaknya frustasi merasakan dadanya yang terus berdebar-debar tak karuan.


Namun tiba-tiba saja ponsel Dylan berbunyi, sebuah pesan masuk. Blair terhenyak kaget dan mengangkat tangannya. Ada saja yang merusak suasana. Dylan yang canggung langsung mengambil ponselnya dan melihatnya sekilas.


Nanti makan siang bersama, ya ? Dera.


Dylan menghela napas panjang setelah membacanya, wajahnya yang merona merah tadi tiba-tiba berubah sedikit lesu dan terlihat jengah.


" Ada apa ? " Tanya Blair penasaran karena melihat perubahan raut wajah Dylan.


" Tidak apa-apa, hanya spam. Promo beli satu gratis satu " Jawab Dylan asal, malas membahasnya.


" Oh ya ? " Pekik Blair dengan wajah girang.


" Beli apa ? " Tanyanya antusias.


" Ayam goreng ? Spageti ? Atau thai tea ? Boba ? Atau cheese cake ? " Blair menebak-nebak sambil membayangkan berbagai macam makanan lezat di kepalanya.


" Hah ? " Dylan terkejut melihat tingkah Blair yang seperti anak kecil itu.


" Umm... baju kaos " Jawabnya sekenanya.

__ADS_1


Memang beberapa hari yang lalu dia juga mendapat pesan berisi voucher promo salah satu store yang baru buka di pusat perbelanjaan milik ayahnya, tempat Dylan membeli baju sewaktu datang bersama keluarganya sebelum pemakaman. Pelayan toko menawarinya menjadi member dan berjanji akan selalu mengirimkan pesan jika ada promo-promo terbaru di toko mereka. Saat itu jiwa berhemat Dylan tentu saja terpanggil jadi dia menyetujui tawaran pelayan tersebut untuk menjadi member, dia sudah terbiasa hidup hemat dan jarang sekali memakai kartu kredit yang di berikan oleh ayahnya. Dan yang paling penting, setidaknya dia tidak berbohong pada Blair masalah pesan promo, meski pesannya tidak dia terima hari ini.


" Yaah sayang sekali, pasti kaos laki-laki ya ? " Ucap Blair dengan sedikit kecewa.


" Coba saja kalau pakaian couple kita pasti bisa membelinya, beli satu gratis satu, kan lumayan " Gumamnya sendiri.


Satu lagi kejutan dari Blair yang membuat Dylan kagum, selain sifat oneng polosnya, sepertinya dia tidak malu hidup sederhana.


" Memangnya kau tidak malu beli barang satu gratis satu ? " Tanya Dylan menyelidik.


" Malu ? Kenapa harus malu, bukankah kita membelinya bukan minta " Sanggah Blair.


" Kau kan artis terkenal, seharusnya kau hidup dengan yaah... wah begitu " Ucap Dylan sungkan karena mengorek privasi orang lain.


" Wah apanya " Cibir Blair berdecak.


" Kau itu jangan melihat orang hanya dari luarnya saja, meskipun aku artis, aku sangat berhemat sekali. Aku menabung semua hasil jerih payahku menjadi model untuk membeli apartemen sendiri " Cerita Blair dengan dada membusung, membanggakan dirinya sendiri.


" Apartemen ? " Alis Dylan bertaut mendengar cerita Blair.


" Untuk apa ? " Tanya Dylan penasaran.


" Untuk ku sewakan, aku berencana menjadi juragan kontrakan yang kerjaannya menagih uang sewa dengan membawa tukang pukul, dengan buku catatan hutang piutang di tangan, rambut memakai roll dan sendal jepit " Jawab Blair kesal, memangnya untuk apa lagi membeli apartemen jika bukan untuk di tinggali, dasar oon, begitu pikir Blair.


" Jadi itu cita-cita mu ? " Ledek Dylan menahan tawa, dari wajahnya yang polos dan mudah di tebak itu Dylan tau kalau Blair hanya asal bicara. Dylan sebenarnya tau membeli apartemen tentu saja untuk di tempati, hanya alasan Blair yang ingin tinggal sendiri di apartemen itu yang Dylan tidak tau.


" Ish kau ini ! " Blair memukul lengan Dylan kesal.


" Aku ingin tinggal sendiri nanti saat sudah mampu membeli apartemen dengan uang ku sendiri, aku ingin hidup mandiri dan sesuai dengan pilihan ku, sesuai apa kata hatiku " Ceritanya dengan nanar, dapat Dylan rasakan ada sedikit nada kesedihan di suaranya. Lalu buru-buru di tutupinya dengan lirikan mata tajam dan bibir manyun berpura-pura marah.


" Ooh begitu " Dylan manggut-manggut dengan bibirnya yang tertarik kebawah.


" Ish !! " Blair memukul lengan Dylan sekali lagi.


" Apa lagi ? " Tanyanya seraya mengelus-elus lengannya yang sakit.


" Kau mengejek ku kan ? " Tuduhnya ketus, lalu menyilangkan tangannya di dada dan membuang muka. " Huh ".


" Aku tidak mengejek mu, sungguh " sumpah Dylan mengangkat jarinya membentuk huruf V.


" Lalu kenapa bibirmu tertarik ke bawah ? Apa lagi namanya kalau bukan meledek " Tuduh Blair.


" Ck dasar " Dylan yang gemas itu pun reflek mencubit pipi Blair.


" Aku tidak meledekmu neng, justru aku sedang bangga padamu " Dia menggoyangkan cubitannya ke kanan dan ke kiri. Membuat wajah Blair terlihat semakin menggemaskan.


" Oh ? " Dylan yang melihat Blair menangis buru-buru melepaskan cubitan di pipi Blair.


" Sakit ? " Tanyanya panik, dia melihat pipi Blair memerah, dan merasa bersalah.


" Aku mencubitmu terlalu keras ya ? Maafkan aku " Cemasnya lalu mengusap lembut pipi Blair yang memerah.


Kenapa dia harus pacar orang sih ?


Jerit Blair dalam hati, jika saja Dylan bukan kekasih orang lain, mungkin Blair sudah menghambur ke pelukannya saat ini, lalu merengek agar Dylan mau jadi kekasihnya, dan dia tidak akan melepaskan pelukannya sebelum Dylan menjawab ya.


" Iya keras sekali " Blair menepis kasar tangan Dylan, berpura-pura ketus.


" Sakit tau " Omelnya sembari mengusap air matanya lalu memalingkan wajahnya.


" Maaf ya " Ucap Dylan lembut.


Haduh jangan pakai suara itu, jantungku jadi lemah kan !!


Blair semakin merasa tak karuan, di dalam dadanya seperti bukan lagi kupu-kupu yang menari tapi pterodactile, dinosaurus terbang raksasa itu sedang mengobrak-abrik hatinya. Dia tetap memalingkan wajahnya, tidak kuat jika harus menatap wajah Dylan, takut meleleh.


" Neng... " Panggil Dylan lembut, namun Blair masih tetap bergeming.


" Neng... " Kedua kalinya, dan masih tak ada jawaban. Dylan menghela napas, hampir tidak sabaran lagi.


" Kalau sampai yang ketiga ku panggil kau tidak menoleh, aku akan pergi dari sini " Ancam Dylan berpura-pura.


" Neng " Panggilnya lagi, namun Blair masih saja tak menoleh.


" Ok baiklah, aku pergi sekarang ya " Dylan bangkit berdiri.


Kalau dia benar-benar pergi aku anggap itu pertanda aku tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi dan aku akan menjauh darinya sejauh mungkin. Tapi kalau dia tidak pergi, aku akan terus menempel padanya, menjadi teman tapi mesra dengannya, tak peduli bagaimana pandangan orang padaku nanti.


Batin Blair membuat keputusan yang sangat sulit untuk hatinya yang sedang bahagia-bahagianya menikmati perhatian Dylan.


" Aku sudah sampai sini loh, selangkah lagi aku akan keluar dari sini " Ucap Dylan seraya menyentuh tirai penutup, menggoyang-goyangkannya agar Blair melihat itu lalu menahannya. Kenapa tidak di tahan ?


" Neng " Panggil Dylan lagi dengan suara sehalus beledu.

__ADS_1


Jangan menoleh Blair, setidaknya biarkan dirimu menjadi teman tapi mesra yang bermartabat, biarkan dia yang menyerah lebih dulu.


Blair sudah merasa berada di ambang batas pertahanannya. Dia ingin sekali menoleh lalu menahan Dylan agar jangan pergi.


" Ya sudah, aku pergi sekarang " Jawab Dylan pelan, lalu keluar begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa lagi.


" Mungkin memang bukan takdir ku dekat dengan mu " Gumam Blair, jauh di lubuk hatinya dia menyesal tapi bagaimana pun dia sadar Dylan adalah milik orang lain, akan salah kalau dia mengabaikan hal itu.


Blair menghela napas panjang, melepaskan beban di hatinya. Wajahnya tertunduk lesu.


" Oh ? " Dylan masuk kembali ke dalam. Mendengar suara Dylan, Blair mendongak dan terkejut.


" Maaf ku pikir ini ruangan kosong. Aku sedang sakit jadi aku akan beristirahat disini, tapi sepertinya ruangan yang lain sudah penuh " Dylan menjahili Blair.


" Ish kau ini " Blair bangun dari duduknya, mengambil bantal dan langsung memukulkannya ke arah Dylan.


" Rasakan ini, berani-beraninya menjahili ku " Omel Blair kesal tapi juga bahagia, itu artinya dia tidak perlu menghindari Dylan lagi.


" Iya iya maaf " Ucap Dylan lembut, dia menahan tangan Blair yang memukulinya.


Tanganmu... kondisikan tangan mu remahan kerupuk, kenapa kau memegang tanganku.


Teriak batin Blair menatap tangan Dylan yang masih memegang tangannya meskipun Blair sudah tidak memukulinya lagi.


Aaargghh !!!


Teriaknya batinnya terkejut dan matanya membelalak lebar saat Dylan mengelus-elus tangan Blair yang di pegangnya dengan ibu jarinya. Glek !! Blair menelan ludahnya, tenggorokannya tercekat. Perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya, mencari tau bagaimana ekspresi Dylan saat melakukan hal itu.


" Hei kita pergi jalan-jalan yuk " Ajak Dylan santai.


Gawat !! Aku rasanya sudah hampir sekarat. Bagaimana dia bisa terus mengelus tanganku seperti ini tapi dengan wajah yang begitu santai. Aduh jantungku !! Pterodactile tenanglah, kau bisa berobek dadaku dengan tarianmu itu.


Wajah Blair berubah merah dan napasnya pendek-pendek tidak teratur karena saking gugupnya.


" Ka-kapan ? " Tanya Blair terbata-bata.


" A-Aku susah keluar jika bukan akhir pekan " Jelasnya.


" Kalau begitu sekarang saja " Ajak Dylan spontan, terlalu lama jika harus menunggu akhir pekan.


" Kau ini aneh-aneh saja, pergi ke kantin saat jam pelajaran saja kita akan di anggap membolos, apalagi pergi jalan-jalan keluar " Blair mencebik meremehkan Dylan, perlahan dia sudah bisa menguasai hatinya.


" Bukan sekarang saat ini juga maksudnya neng, tapi nanti sepulang sekolah " Jelas Dylan gemas dengan kepolosan Blair, lalu mengusak kepala Blair.


Heiiii tanganmu !!! Kondisikan tanganmu itu, senang sekali menyiksa jantung orang.


Blair mendapat lagi serangan jantungnya, padahal debaran jantungnya baru saja mereda setelah obrolan ringan mereka. Dan itu sangat melelahkan, lebih melelahkan dari lari maraton 10 km. Tidak percaya ? Coba saja jatuh cinta.


" Aku pulang sekolah nanti dijemput manager Yo, aku harus langsung pulang, bagaimana ini ? " Blair memelas, dia ingin sekali pergi jalan-jalan dengan Dylan.


" Begitu ya " Jawab Dylan kecewa. Lalu mereka berdua terdiam, sama-sama memikirkan bagaimana caranya agar bisa pergi jalan-jalan.


Ah !!


Pekik Dylan dalam hati, dia menemukan cara agar bisa membawa Blair pergi jalan-jalan dengan tenang. Siapa lagi yang akan di mintai bantuannya kalau bukan Rai.


" Kau tunggu dulu disini ya " Dylan melepaskan pegangan tangannya lalu pergi keluar. meninggalkan Blair yang terbengong-bengong bingung.


Di luar ruangan, Dylan segera menghubungi Rai. Meminta bantuannya agar mendapatkan izin untuk Blair.


" Kau bisa membantu kan kak ? " Tanyanya takut-takut pada Rai di sambungan teleponnya.


" Tentu saja, tentu " Jawab Rai bersemangat dan senang sekali.


" Kau pergi saja dengannya sisanya aku yang urus. Jangan lupa traktir dia makan dan belikan beberapa barang untuknya, yang bagus, yang mahal. Uang jajan dari ku lebih dari cukup, aku sudah memperkirakannya " Jelas Rai, sekalian dia menyelidiki apakah Dylan sudah membuka bungkusan amplop uang yang di berikannya.


" Baiklah kak, terima kasih banyak, kau memang kakak terbaik " Ucap Dylan senang. Dan Rai pun ikut bahagia, jika di lihat dari cara Dylan berterima kasih, sudah bisa di pastikan dia belum tau apa isi amplopnya, karena jika Dylan sudah tau bahwa ampolop uang itu berisi pecahan seribuan, maka tidak mungkin dia akan memuji Rai, dia pasti akan sibuk mengomel saat ini.


" Aku memang kakak yang baik, makanya itu aku berusaha membantumu berbaikan dengan Blair " Jawab Rai seraya menahan tawanya.


" Baiklah sekali lagi terima kasih ya kak " Pamit Dylan lalu menutup sambungan teleponnya.


Kira-kira aku akan membelikannya apa ya dengan uang jajan dari kakak yang sebanyak itu.


Batin Dylan menimbang-nimbang.


" Huahahahah.... " Tawa jahat Rai membahana ke seluruh penjuru ruangan, rencanannya mengerjai Dylan berjalan sempurna. Dia lalu menghubungi Ken untuk mengabarkannya hal itu.


" Siapkan pesta nanti malam " Perintahnya begitu Ken mengangkat teleponnya.


" Pesta ? Pesta apa ? " Tanya Ken bingung.


" Pesta merayakan air mata malu dari Dylan hahaha.... " Jawab Rai lalu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


" Siap Big Boss " Jawab Ken ikut tertawa.


Tidak seru rasanya hidup mereka jika tidak menjahili satu sama lain. Begitulah pemikiran the amburadul family.


__ADS_2