
Kiran sedang berdiam diri di kamar mandi, cukup lama. Setelah berganti baju dan mencuci muka, dia sedikit merasakan pusing. Tidak ingin Ken khawatir, dia pun memutuskan untuk lebih lama lagi berada di kamar mandi. Duduk terdiam di atas closet.
" Pasti ini karena aku kebanyakan minum dalgona cofee " Gumamnya sendiri sembari memijit pelipisnya, mengingat akhir-akhir ini dia sangat menggandrungi minuman yang sedang hits itu.
Lalu dengan mendongakkan kepalanya dia berusaha menghitung sudah berapa gelas yang dia minum seharian ini.
Di rumah, pulang sekolah .... 2, 3...
Kiran menggerakkan jari-jarinya sembari mengingat-ingat. Empat gelas, setidaknya sebanyak itulah yang di ingatnya.
Pantas saja perutku rasanya begah dan mual.
Batinnya seraya menyusupkan tangannya masuk ke dalam bajunya dan menggosok-gosok perutnya yang terasa sesak. Dia sudah mencoba mencari minyak angin di dalam lemari yang ada di kamar mandi, namun nihil, tidak ada.
" Sayang, kau sudah selesai ? Kenapa lama sekali ? " Tiba-tiba saja terdengar teriakan Ken yang sedang mengetuk pintu.
Kiran terkesiap, dia segera membenarkan pakaiannya kemudian berdiri dan mematut dirinya di cermin. Pas, dia terlihat baik-baik saja, tidak pucat dan tidak kesakitan.
" Ya aku sudah selesai " Balas Kiran juga sedikit berteriak, lalu segera keluar menemui Ken yang sudah menunggunya di depan pintu.
" Kau sedang apa ? Apa kau baik-baik saja ? " Tanya Ken cemas, di angkatnya dagu Kiran agar Ken bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. Dia menolehkan Kiran ke kanan dan ke kiri. Normal, begitu pikir Ken.
" Aku baik-baik saja " Jawab Kiran sembari meraih tangan Ken dan menurunkannya dari dagunya.
" Kau aneh sekali seharian ini " Ucap Ken masih belum percaya, di amatinya wajah Kiran dengan seksama, menilik apakah ada yang di sembunyikan darinya.
" Oh ya ? " Kiran mengernyitkan keningnya, memutar tubuhnya ke samping dan berjalan melewati Ken.
" Kau yakin baik-baik saja ? " Tanya Ken masih cemas, dia mengikuti Kiran yang sedang berjalan menuju ranjang mereka dari arah belakang.
" Iya sayang aku baik-baik saja " Jawab Kiran lembut sembari tersenyum, lalu menyingkap selimut dan menyusup masuk ke dalamnya.
" Kalau kau merasa ada apa-apa, kau harus segera memberitahu ku ya " Perintah Ken tegas, ikut menyingkap selimut di sisi yang lain dan kemudian merebahkan dirinya di atas kasur.
Dia lalu menggeser tubuhnya lebih mendekat ke arah Kiran, memeluknya dari samping seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur.
" Kenapa dekat-dekat sih " Kiran yang baru saja memejamkan matanya itu pun sedikit mendorong Ken menjauh.
" Hm ? " Ken terhenyak dan sedikit mengangkat tubuhnya, menatap Kiran yang masih terpejam dengan seksama.
" Biasanya aku juga begini " Ucapnya bingung.
" Iya itu kan biasanya, aku sedang tidak ingin biasanya, sana agak menjauh " Usirnya malas lalu berpaling memunggungi Ken yang masih bingung dengan perubahan sikap Kiran yang mendadak.
" Sayang... " Panggilnya lembut, kembali mendekat dan meletakkan dagunya di atas pundak Kiran.
" Katanya kau baik-baik saja, tapi sepertinya ada yang aneh dengan mu " Lanjutnya.
" Hm... biasa saja kok, aku cuma sedang ingin tidur di tempat yang luas, ranjangnya terlalu sempit kalau harus berbagi " Gumamnya sedikit tak jelas, masih dengan mata yang terpejam.
Ken bangun dan duduk, lalu menatap ranjangnya dari ujung ke ujung. Itu adalah ranjang ukuran king size yang bahkan bisa di pakai untuk 4 orang dewasa, dan Kiran malah bilang itu sempit ? Ken lalu kembali menatap Kiran dengan bingung.
Di amatinya Kiran yang sedang memunggunginya saat ini, dia menerka-nerka apa kiranya yang berbeda dari dirinya, atau apakah dia berbuat kesalahan hingga Kiran mengabaikannya. Dia berusaha mengingat-ingatnya, tidak ada. Seharian ini mereka normal-normal saja, bahkan mereka sempat berciuman dan berpelukan erat sepanjang pemutaran film Dilan tadi.
" Lampunya matikan ya sayang, terlalu terang, aku tidak bisa tidur " Gumam Kiran lagi yang semakin membuat Ken terkejut. Dia mendongak menatap langit-langit kamarnya.
Saat ini hanya lampu tidur yang satu-satunya menjadi sumber cahaya mereka, redup dan menenangkan. Tapi kenapa Kiran bilang masih terlalu terang ?
" Ini kan sudah lampu tidur sayang " Ken masih mencoba memahami sikap Kiran yang mungkin sebenarnya biasa saja dan menganggap bahwa dirinya lah yang terlalu sensitif.
" Tidak ini masih terlalu terang " Kiran sedikit menaikkan suaranya, lalu dengan gerakan cepat dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Iya iya akan ku matikan, tapi nanti pasti akan gelap sekali seperti mati lampu " Jawab Ken mengalah, dia lalu melangkah turun dari atas ranjang, memakai sandal rumahnya lalu berjalan pelan menuju saklar lampu dan mematikannya. Benar saja, suasana kamar sangat gelap gulita. Ken bahkan harus meraba-raba saat berjalan kembali menuju ranjangnya.
__ADS_1
Dengan perlahan dia kembali menyusup masuk ke dalam selimutnya dan merebahkan diri. Memilih membiarkan Kiran yang masih memunggunginya dan tidak mengganggunya lagi, memberikannya privasi.
" Ken bangun, Ken... Ken... " Kiran menggoyang-goyangkan pundak Ken dengan kuat.
Ken yang rasanya baru saja terlelap itu seperti bermimpi sedang naik di atas kuda dan balapan bersama Rai. Lalu dengan suara sengau dia menepis tangan Kiran. " Hiss !! "
Kiran yang sudah kesal itu pun mencondongkan tubuhnya, meraba-raba telinga Ken lalu menarik napas panjang.
" Hei bangun " Teriak Kiran di dekat telinga Ken.
" Apa ? Apa ? Ada Apa ? " Ken bangun dengan gelagapan begitu mendengar suara Kiran yang berteriak. Dia meraba-raba sekitarannya karena terlalu gelap.
" Ish kau ini " Kiran menepis tangan Ken yang mengacak-acak rambutnya.
" Kenapa lampunya di matikan, gelap sekali. Aku jadi tidak bisa melihat " Omel Kiran.
Ken yang masih mengantuk itu pun langsung membuka matanya lebar-lebar begitu mendengar ucapan Kiran.
" Kan kau sendiri yang minta lampunya di matikan " Jawab Ken bingung masih mencari-cari di mana Kiran.
" Aku hanya minta redupkan sedikit lampunya, terlalu terang. Sekarang hidupkan lagi " Perintah Kiran kesal dengan mendorong tubuh Ken.
" Kau ini aneh sekali sih " Ken yang kembali merasa ngantuk itu pun menyingkap selimutnya dan menurunkan kakinya ke lantai. Dingin langsung menyentuh telapak kakinya, dia mencari-cari sandal rumahnya namun tak kunjung ketemu.
" Cepat Ken " Rengek Kiran tidak sabaran.
" Iya iya " Ken menyerah dan langsung berdiri, berjalan meraba-raba mencari saklar lampu.
Ceklek ! Seketika ruangan menjadi sangat terang, ternyata bukan saklar lampu tidur yang di nyalakan Ken, melainkan lampu kamar yang terang benderang.
" Hei silau " Pekik Kiran langsung menutup matanya.
" Maaf maaf " Ken yang juga terkejut sendiri langsung menekan saklar yang lain, dan suasana kamar kembali remang-remang hangat.
" Ya ya " Jawab Ken malas lalu berjalan menuju ranjangnya. Dengan kesadaran yang hanya setengah dia kembali menyingkap selimutnya dan menyusup masuk lagi ke dalamnya. Dengan posisi terlentang dan tangan bersidekap di dada dia memejamkan matanya.
" Hiks... hiks... " Terdengar suara isak tangisan lirih dari arah sampingnya. Ken memincingkan matanya dan menoleh ke arah Kiran.
Di lihatnya Kiran sedang berbaring miring ke arahnya, dengan mata yang berkaca-kaca dan garis bibir yang melengkung ke bawah dia memandangi Ken.
" Kenapa menangis sayang ? " Ken ikut memiringkan tubuhnya dan mengusap lembut pipi Kiran.
" Kau.. kenapa kau tidur tanpa memeluk ku ? Kau sudah tidak sayang lagi padaku ya ? " Ucap Kiran memelas.
" Hah ? " Ken terhenyak mendengar penuturan Kiran, dengan mata yang membulat sempurna dia mengamati raut wajah istrinya itu.
" Kan kau sendiri yang bilang tadi kalau ranjangnya sempit dan kau menyuruhku sedikit menjauh " Ucap Ken membela diri.
" Aku menyuruhmu sedikit menjauh bukan berarti kau bisa mengabaikan ku begitu " Balas Kiran sengit, raut wajah sedihnya kini sudah berganti dengan ekspresi garang.
Ken menghela napas panjang mendengar jawaban Kiran. Ada yang aneh, begitulah firasat Ken, tapi dia tidak tau apa yang terjadi dengan istrinya itu.
" Iya maaf, sini aku akan memeluk mu lagi " Jawabnya mengalah, lalu mengulurkan tangannya ke arah Kiran. Menariknya dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
" Kau aneh sekali sih " Gumamnya dari atas puncak kepala Kiran.
" Aneh ? " Tanya Kiran dari dalam pelukan Ken, level kekesalannya yang semula sudah berada di bawah batas normal kini meningkat tajam hingga di titik tertinggi.
" Jadi di matamu aku orang yang aneh begitu ? " Tanyanya lagi dengan sengit, dia melepaskan pelukan Ken dan mendongakkan wajahnya agar bisa menatap Ken.
" Ti-tidak, bu-bukan begitu maksud ku " Jawab Ken gelegapan. Dia kenapa jadi cepat marah begini sih, tidak biasanya.
" Lalu kenapa kau bilang aku aneh ? " Tuntut Kiran sembari mendelik kesal.
__ADS_1
" Tingkah mu yang aneh, kau biasanya selalu kalem dan pengertian, tapi malam ini kau tidak begitu " Jelas Ken dengan hati-hati.
" Entahlah " Tiba-tiba Kiran merendahkan suaranya, dia kembali masuk ke dalam pelukan Ken.
" Suasana hati ku mendadak saja tidak enak, aku ingin marah tapi juga sedih di saat yang bersamaan, tidak tau alasannya apa " Jawab Kiran sedih.
" Kau kenapa ? " Ken yang panik langsung melepaskan pelukannya dan bangun terduduk. Di amatinya wajah Kiran.
" Apa ada yang menyakitimu ? " Tanyanya lagi.
" Tidak ada, hanya tidak enak hati saja " Jawab Kiran malas.
" Kau yakin ? Jangan menyimpan rahasia dari ku " Balas Ken dan kemudian membaringkan tubuhnya lagi.
" Iya aku cuma sedang tidak enak hati saja, tapi berada di pelukan mu seperti ini bisa membuat suasana hatiku kembali membaik " Jawab Kiran tersenyum lalu merangkulkan tangannya ke atas dada Ken. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
" Hm ? " Baru saja dia bilang memeluk Ken bisa menenangkannya, tapi sekarang dia sudah mendorong suaminya itu dengan keras.
" Kenapa lagi ? " Tanya Ken bingung, dengan kesal bangun dari tidurnya.
" Kau tidak mandi ya sebelum tidur ? Bau keringat mu tidak enak sekali " Kiran menutup hidungnya dan beringsut mundur menjauh.
Sekali lagi, Ken menghela napas melihat perubahan sikap Kiran yang tiba-tiba.
" Biasanya aku juga tidak mandi anjeliiii " Geram Ken menahan emosinya.
" Makanya rubah kebiasaan jelek mu itu, kalau begitu jangan dekat-dekat. Huh !! " Kiran memberengut kesal lalu berbalik memunggungi Ken dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai batas leher.
Pooooooo....
Ken mengepalkan tangannya sembari memejamkan matanya. Lalu kembali menarik napas panjang.
Sabar... sabar....
Batinnya mengelus-elus dadanya sembari menghembuskan napasnya melalui mulut.
" Kau sedang apa ? " Tanya Kiran.
" Kaget aku " Ken berjengit saat melihat Kiran sudah kembali menatap dirinya.
" Tidak, tidak sedang apa-apa " Kilahnya beralasan, tidak ingin semakin memperburuk suasana hati Kiran.
" Tidak tidur ? " Tanyanya lagi.
" Iya ini aku mau tidur " Jawab Ken dengan senyum terpaksa lalu dengan perlahan membaringkan tubuhnya.
" Selamat malam sayang " Ucapnya lembut.
" Peluk aku dari belakang " Perintah Kiran ketus lalu kembali memunggungi Ken.
" Tapi kau bilang... " Jawab Ken bingung.
" Jadi tidak mau nih memeluk ku ? " Tanya Kiran sedikit menolehkan wajahnya ke arah Ken, lalu memberikannya lirikan maut yang membuat ciut nyalinya untuk membantah.
" Iya iya sayang " Pungkas Ken mengalah. Dia lalu beringsut mendekat dan memeluk Kiran dari belakang.
" Nah kalau peluknya dari belakang kau tidak bau " Jawab Kiran puas.
Dasar teletubbies !!!
Teriaknya dalam hati. Sudah tidak mampu lagi menebak apa yang sedang terjadi dengan istrinya yang mendadak berperilaku aneh tersebut.
Sebentar manis, sebentar marah, sebentar sedih lalu sebentar lagi apa ? Entahlah hanya Kiran sendiri dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1