
[ Flashback On ]
Ignes sedang berlibur bersama orang tuanya, dia mengikuti orang tuanya dalam perjalanan bisnis.
Mereka bertemu tuan Regis, dan perbincangan bisnis pun terjadi. Regis mengatakan mencari seorang manager baru untuk club, Ignes yang melihat kesempatan untuk dekat lagi dengan Rai dan melihat Vivianne yang sudah tidak ada disisi Rai lagi, menawarkan diri untuk menjadi manager.
“ Tuan kalau di izinkan bolehkah saya melamar menjadi manager di club ? “ Ignes berbicara dengan sopan.
“ Apa kau yakin ? “ Regis tidak percaya, karena Ignes juga sudah memimpin perusahaan milik ayahnya, dan tidak mungkin repot-repot mau menjadi seorang manager utama dari sebuah club.
“ Ya saya menyukai tantangan dan suasana baru, lagi pula saya dan Rai adalah teman spesial jadi saya rasa kami bisa bekerja sama dengan baik “ Ignes meyakinkan.
“ Baiklah kalau kau mau, aku akan menghubungi Rai “
“ Terima kasih Tuan “ Ignes tersenyum bahagia.
[ Flashback Off ]
Ignes dan Ruby menoleh saat terdengar suara memanggil nama Ruby. Sosok tersebut mendekat perlahan, senyum hangat tersunging di bibirnya.
" Ruby sayangku, bukan kah kau harus bekerja, kenapa kau malah bersantai di sini ? " Rai memerintah Ruby, meskipun kata-katanya halus tapi terdengar menyeramkan.
Wajah Ruby pucat, begitu juga dengan Ignes. Dia mungkin merasa kekasih Rai tapi dia tidak segila itu untuk berani melawannya.
" Hei adik ipar, cepat pergi, kakakmu kalau sudah berwajah seperti ini sangat mengerikan " Ignes berbisik di telinga Ruby.
Ruby hanya bisa menghela nafas, dia tau seharian ini dia sudah menggoda Rai habis-habisan, tidak mungkin dia tidak akan di balas.
Ruby berdiri dengan malas, dia sedang berpikir bagaimana merayu Rai agar kemarahannya mereda, dan menimbang kira-kira hukuman apa yang kali ini akan di terimanya.
" Kau, pegawai baru, cepat ke ruangan HRD dan tanyakan tugasmu, ini bukan tempat bermain atau liburan " Rai memerintah Ignes dengan dingin dan pergi meninggalkannya dengan di ekori oleh Ruby.
Kira - kira hukuman apa yang akan ku terima kali ini ? Kalau melihat wajah mesumnya paling parah adalah melakukan itu, dan paling ringan adalah pelukan. Aku menggodanya sangat keterlaluan hari ini, jadi ini tidak akan lunas hanya dengan pelukan. Baiklah korbankan harga dirimu Ruby, ciumlah dia.
Ruby berpikir selama perjalanan kembali ke lantai 5.
Rai berhenti di depan pintu ruangannya, Ruby yang tidak berkonsentrasi menabrak punggungnya. Rai menoleh menatap Ruby. Pandangan matanya tajam. Seringai jahat tersunging di bibirnya.
Habis sudah aku, ini tidak akan selesai hanya dengan ciuman, dia sangat pendendam sekali. Ruby mer*mas tangannya.
Rai membuka pintu dan masuk, Ruby hanya bisa pasrah dengan nasibnya.
__ADS_1
" Ruby kau... " Rai memulai pembicaraan, dan berbalik ke arah Ruby. Dia terkejut melihat Ruby.
" Uhuk uhuk apa yang kau lakukan ? " Rai bertanya dengan terkejut, dia terbatuk oleh nafasnya.
Ruby yang sudah membuka kancing bajunya juga terkejut mendengar kata-kata Rai.
" Bukankah kau memanggilku untuk menerima hukuman ? Dan mengingat aku yang mungkin sedikit keterlaluan menggoda mu seharian ini, jadi aku berfikir hukuman yang akan aku terima adalah itu. Sebelum kau marah dan merobek bajuku, membuatku semakin malu dan tidak bisa pulang karena baju yang robek, jadi aku berinisiatif melepaskannya sendiri tanpa membuat kerusakan " Ruby menjelaskan detail.
" Ehem... ehem, begitukah ? " Rai menyembunyikan tawanya, dia tidak mengira Ruby akan punya pemikiran seperti itu.
" Bukankah kau memang selalu begitu, saat marah kau akan bilang 'kau milik ku, hanya milik ku ' lalu dengan kasar merobek bajuku " Balas Ruby dengan nada mengejek.
" Hahaha... kau cerdas juga rupanya, baiklah kalau begitu... " Rai melanjutkan namun dia terkejut lagi karena Ruby sudah membuka seragamnya dan hanya mengenakan tank top berendanya yang menggemaskan.
" Baiklah aku siap " Ruby berkata dengan wajah polos.
" Hahaha... Hei aku memanggilmu kesini karena ingin bicara dengan mu, bukan untuk menghukum mu, duduklah dulu " Rai merebahkan dirinya di sofa.
Apa ? Jadi dia memanggilku bukan untuk hukuman. Dasar sial, aku dengan bodohnya menyerahkan diriku sendiri. Kenapa dia begitu suka mempermainkan ku, saat aku bilang tidak mau dia akan memaksa, saat aku menyerahkan diri dia menolak, bodoh, bodoh, bodoh. Ini sangat memalukan.
Ruby menutup wajahnya karena malu dengan pemikirannya.
Ruby duduk dengan masih menutup wajahnya, dia tidak punya keberanian melihat Rai, apalagi dengan pikiran mesumnya.
" Kau mesum juga rupanya " Rai tertawa melihat tingkah Ruby.
Ruby membelai kepala Rai dengan satu tangan dan tangan yang lain masih menutupi wajahnya. Rai meraih tangannya yang menutupi wajahnya, memperlihatkan wajah merona Ruby. Dia memainkan jari-jari kecil Ruby.
" Hei aku bukan mesum, aku hanya hafal dengan kebiasaan mu " Balas Ruby ketus.
" Sungguh ? " Rai masih tertawa menggodanya.
" Kau tidak menikmatinya ? " Rai bertanya.
" Tidak " Jawab Ruby cepat, dia terlalu malu mengakui apapun saat ini, pikiran mesumnya saja sudah sangat memalukan, apalagi jika harus mengakui diam diam dia menikmati tiap sentuhan Rai.
" Baiklah kalau begitu. Ah ya aku memanggilmu kesini karena ingin memberi tahukan kalau ayah yang menerima Ignes, bukan aku yang merekrutnya, aku harap kau tidak salah paham, dan aku akan mengakui kalau kita adalah suami istri, jadi dia tidak akan mendekatiku lagi " Rai menjelaskan.
" Jangan, kalau kau mengakuinya aku takut dia akan bersikap seperti Vivianne, dia akan membenciku dan mulai menindasku, aku masih trauma dengan penindasan " Ruby menjelaskan.
" Aku cuma ingin hidup tenang tanpa saling benci atau permusuhan " Ruby melanjutkan.
__ADS_1
" Tapi... " Rai berusaha menyela.
" Sudahlah aku baik-baik saja, dan kalau dia membuat masalah dengan ku, aku akan menghajarnya sendiri seperti aku menghajar Vivianne " Jawab Ruby yakin.
" Baiklah kalau itu mau mu, aku hanya tidak ingin kita terganggu dengan Ignes " Rai menjelaskan.
" Tenang saja, aku tidak masalah " Ruby meyakinkan.
" Baiklah karena masalah kita sudah selesai, saatnya kita menjalankan hukuman mu " Rai memindah posisinya.
" Hukuman apa ? " Ruby bertanya bingung, bukankah tadi dia bilang tidak ada hukuman.
" Aku tidak mungkin menolak istri ku yang menyerahkan dirinya, aku suami yang baik, jadi aku harus menuruti keinginannya " Rai menggoda Ruby.
" Kapan aku seperti itu ? " Ruby menyangkal.
" Lihatlah, tadi kau sendiri yang menawarkan diri " Rai tersenyum puas karena bisa membalik keadaan.
" Itu karena tadi aku kira akan mendapat hukuman " Ruby masih mengelak.
" Lalu kenapa kau berfikir hukuman mu harus itu ? Padahal bisa saja aku akan menghukum mu dengan memecatmu dan kau harus terkurung lagi di rumah " Rai mencoba menjebak Ruby.
Sial, apa benar aku sudah ketularan mesum, kenapa juga aku punya pikiran akan di hukum dengan itu, harusnya tadi aku memikirkan yang lain. Aku sangat malu sekali.
Ruby semakin merona dengan jawaban Rai.
" Aku... aku... " Ruby kehabisan ide untuk menjawabnya.
" Tadi nya aku tidak ingin memberikanmu hukuman, tapi sepertinya kau minta sendiri untuk di hukum " Rai menyentuh pipi Ruby dengan jarinya.
" Kau benar-benar pintar memutar balikkan keadaan " Ruby menjawab sinis.
" Salah siapa kau berfikiran mesum ? " Rai tertawa.
" Aku tidak... baiklah baiklah aku menyerah " Ruby mengakhiri perdebatan, dia lebih malu karena Rai terus mengungkit masalah pikiran mesumnya.
" Aku suka istri yang mesum " Bisik Rai di telinga Ruby yang terdengar seperti desahan.
" Hei aku tidak mesum " Ruby setengah berteriak menyangkal. Rai tertawa mendengar jawaban Ruby.
Rai tidak menghiraukan Ruby dan mulai menciumi nya, menekan tubuh Ruby agar mereka semakin dekat.
__ADS_1
Aku suka Ruby yang mesum, hahaha. Rai tersenyum puas.