Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Tertembak


__ADS_3

Mobil Lucas telah sampai di bandara yang di maksudkan oleh penjaga tersebut. Bandara itu bukan bandara yang besar, tapi cukup bersih dan modern. Tidak terlalu banyak orang berlalu lalang disana. Lucas merasa lega karena tempat ini sepi, jadi mereka tidak akan di curigai.


" Ruby maaf aku harus mengikat tanganmu kali ini, dan juga menutup mulutmu, aku tidak ingin kau bertindak bodoh dan membuatku kehilangan kendali " Lucas mengelus kepala Ruby dengan perhatian.


" Cih " Ignes yang mendengar itu semua mencibir sinis.


" Akan lebih mudah melenyapkannya saja daripada repot-repot membawanya keluar negeri " Ignes menatap tajam ke arah Ruby.


" Meskipun aku mati tapi percayalah Rai tidak akan pernah berlari ke arah mu, lagipula siapa yang akan menyukai wanita sakit jiwa seperti mu " Ruby lagi-lagi memulai pertengkaran dengan Ignes.


" Mulutmu memang berbisa " Ignes hanya mampu merem*as udara di depannya tanpa berani menyentuh Ruby karena Lucas sudah memberikan tatapan marah kepadanya.


Ignes sudah memberitahu Lucas bahwa semua bandara, stasiun dan dermaga telah di blokir untuk mereka, jadi jalan satu-satunya Ignes berpura-pura membeli tiket pesat untuk 3 orang dengan nama sopir dan penjaga itu. Jadi dengan begitu mereka tidak akan ketauan. Mereka berencana akan pergi dulu ke luar pulau, baru nanti mereka akan melarikan diri dengan identitas baru dari bandara besar di tempat lain yang tidak mengenal mereka.


Ignes dan penjaga lebih dulu turun dari mobil untuk membeli tiket karena ini mendadak, dia tidak sempat mengecek melalui ponselnya untuk membeli tiket online.


" Ruby maaf nanti kau harus duduk di kursi roda, aku tidak punya pilihan lain. Bersabarlah, ini hanya akan sebentar saja " Lucas mencoba membujuk Ruby.


" Ada cara lain Lucas, lepaskan aku dan kita bisa hidup bahagia bersama sebagai sahabat. Jangan dengarkan Leon, jangan dengarkan Ignes, mereka semua jahat " Ruby mencoba merubah keputusan Lucas.


" Ruby kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat, aku mohon sekali ini saja bersikaplah penurut. Ok ? " Lucas terlihat kesal dan buru-buru, dia tidak memberi tahu Ruby kalau Rai sudah menemukan lokasi mereka dan akan menangkap mereka, dia tidak ingin Ruby semakin berusaha melarikan diri.


" Tapi Lu... " Ruby berusaha menyangkal namun ucapannya terhenti kerena Lucas sudah membungkam mulutnya dengan lakban berwarna krem serupa warna kulit.


Dia kemudian juga mengikat pergelangan tangan Ruby dengan lakban. Memakaikannya masker dan topi untuk menyamarkannya. Kemudian memerintahkan sopir untuk mengeluarkan kursi roda dari bagasi belakang.


Sopir hanya mengangguk patuh dan melaksanakan tugasnya. Setelah semua siap Lucas membantu Ruby turun dan mendudukkannya di kursi roda. Menutup tubuhnya dengan selimut besar yang membuat orang lain tidak bisa melihat tangannya yang terikat. Dia menutupi hingga ke leher, dan rambut Ruby di gelung untuk di sembunyikan di balik topinya, membuatnya terlihat seperti seorang laki-laki, karena tiket yang mereka beli untuk 1 orang wanita dan 2 orang laki-laki.


Lucas mendorong kursi rodanya memasuki bandara, mencari tempat duduk kosong di sudut ruang tunggu. Lucas mengedarkan pandangannya menyapu kondisi di bandara itu, suasananya memang tidak terlalu ramai tapi tidak ada yang mencurigakan sejauh ini.


" Bersabarlah sayang, sebentar lagi kita akan hidup bahagia dan aman di luar negeri " Ucap Lucas lirih seraya menyentuh pipi Ruby dengan kedua tangannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil yang di tumpangi rombongan Regis dan anak-anaknya sudah memasuki area pelataran bandara. Anak buah yang di sebar di seluruh bandara menginformasikan bahwa keadaan Ruby baik-baik saja dan mereka sedang menunggu di sudut ruangan.


Rai bergegas melompat turun begitu mobil berhenti. Regis hanya bisa menggelengkan kepala melihat Rai yang sama sekali tidak bisa bersabar. Ken juga hanya mampu menghela nafas melihat kakaknya yang sudah berlari memasuki bandara.


" Apa dia juga selalu buru-buru saat bersama Ruby ? " Tanya Regis heran.

__ADS_1


" Dia buldozer cinta, maju terus pantang mundur, bahkan saat kakak ipar menolaknya, dia tidak peduli tetap saja melakukannya " Ken menjawab asal.


" Apa yang kau bicarakan ? " Tanya Regis tidak paham apa yang di bicarakan Ken.


" Bukankah ayah bertanya masalah itu ? " Ken menjawab heran.


" Itu ? Itu apa ? " Tanyanya masih tidak mengerti.


" Masalah hubungan suami istri " Ken menjawab ragu-ragu, bukankah ayahnya bertanya tentang itu tadi.


" Hei kau ini belum menikah bagaimana bisa tau masalah hubungan suami istri ? " Suara Regis naik satu oktaf.


" Perhatikan pergaulan mu Ken, aku tidak ingin kau jadi orang mesum sebelum saatnya. Cepatlah menikah " Perintah ayahnya dengan tegas.


Apa ? Jadi kepolosan kakak tentang hubungan suami istri itu menurun dari ayah ? Daebak !! Ayah bahkan tidak tau mereka pasangan mesum.


Ken hanya bisa memandang wajah ayahnya yang terlihat memerah karena membicarakan masalah hubungan itu.


" Jaga keperjakaanmu sampai saatnya tiba, jangan berbuat macam-macam " Lanjut ayahnya mengakhiri pembicaraan.


Mereka berdua segera turun untuk menyusul Rai dan mencegahnya berbuat nekat.


Rai mendekatinya perlahan tanpa Lucas sadari. Mereka sekarang berjarak hanya 3 meter, jantung Rai berdetak kencang sekali ingin segera memeluk Ruby. Pikirannya kacau memikirkan kenapa Ruby sampai harus duduk di kursi roda.


" Awas Lucas !!! " Teriak Ignes yang melihat Rai mengendap-endap dari samping Lucas.


Lucas yang terkejut dan panik segera mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke segala arah, hingga akhirnya dia menyadari bahwa Rai sudah berada di depannya.


Ruby yang melihat Rai juga mengacungkan senjatanya ke arah Lucas terlonjak kaget, dan semua orang yang tiba-tiba juga mengarahkan senjatanya ke arah Lucas. Dengan cepat dia membuang selimutnya dan melepas masker juga lakban yang menutupi mulutnya.


" Tidak Rai jangan tembak " Ruby berdiri dan menghadang di depan Lucas dengan tangan yang masih terikat, menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Lucas.


" Ruby kau ? " Rai heran melihat sikap Ruby yang berusaha melindungi Lucas.


" Sayang jangan salah paham, aku mohon jangan ada pertumpahan darah, letakkan senjata kalian. Ok ? " Ruby berusaha membujuk Rai juga Lucas.


Dia tidak ingin melihat Rai melukai Lucas yang sebenarnya hanya sedang sakit jiwa nya, dan dia tidak ingin Lucas melukai Rai karena merasa terancam.


" Kalian berdua percayalah padaku, kita selesaikan ini dengan bicara, letakkan senjata kalian " Ruby masih berusaha membujuk.

__ADS_1


" Ruby kenapa kau malah membela nya ? " Rai berteriak marah.


" Sayang dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan ini nanti, tapi jangan ada yang terluka " Ruby menjelaskan semuanya dengan gugup. Sebenarnya dia sendiri takut karena ada begitu banyak senjata terarah kepada mereka.


" Tentu saja dia membela ku karena dia sudah tau betapa busuknya dirimu, kau penjahat brengsek " Maki Lucas kepada Rai.


Regis dan Ken yang baru saja masuk hanya bisa menggelengkan kepalanya, mereka sudah memprediksi kalau Rai akan selalu menggunakan kekuatannya alih-alih pikirannya.


" Kau !! " Rai menggeram marah.


" Hentikan !! Kalian tidak akan saling menyerang tanpa melukai ku lebih dulu, mengerti ? " Ruby berteriak panik dan berdiri diantara Rai dan Lucas.


" Kau penjahat yang bisa melukai siapapun, bahkan kau tega mendorong seorang gadis hanya karena dia menyukai mu " Lucas menyalahkan Rai atas insiden yang menimpa Lila.


" Apa maksudmu ? " Rai heran dengan ucapan Lucas.


" Lila gadis yang saat ini jadi penghuni rumah sakit jiwa karena cintanya kau tolak " Lucas menjelaskan dengan kesal.


" Kau salah paham Lucas " Ken menengahi.


" Bukan kakak ku yang mendorongnya dari atap, mungkin memang benar kakak ku menolaknya tapi dia tidak pernah mendorong Lila atau juga memaksa Lila terjun dari lantai 2 seperti rumor yang tersebar " Ken menjelaskan dengan cepat kesalahpahaman yang terjadi.


" Itu semua ulah Ignes " Rai yang kali ini melanjutkan.


Lucas dan Ruby terkejut mendengar penjelasan Ken dan Rai, mereka menoleh ke arah Ignes yang juga diam membatu di bawah todongan senjata penjaga yang sedari tadi ada di sebelahnya.


" Hahaha... " Tiba-tiba suara tawa Ignes menggema.


" Kalian ini hanya berkutat pada masa lalu rupanya ? Kenapa harus repot-repot memikirkan Lila yang sakit itu ? " Ignes berteriak.


" Dulu Lila dan sekarang Ruby " lanjutnya dengan suara lirih dan putus asa.


" Gadis bodoh itu berani-beraninya menyukai Rai ku, dan yang lebih lucu lagi adalah kenyataan bahwa ada seseorang yang mencintainya dengan tulus, bahkan rela untuk balas dendam. Dan sekarang Ruby, kau mencuri Rai dari ku, kau bahkan menikah dengan Rai ku, dan lagi-lagi banyak orang yang ingin melindungi mu. Tidak pernahkah kalian melihatku ? Aku lebih cantik dari Lila dan rubah licik itu, aku lebih kaya, lebih pintar, tapi kenapa tidak ada satupun yang menyukai ku, kenapa, kenapa, kenapa !!! " Ignes berteriak seperti orang gila.


" Bagaimana orang lain bisa mencintaimu kalau kau tidak bisa mencintai orang lain dengan tulus, kau hanya memikirkan dirimu sendiri " Rai mencibir Ignes.


" Tau apa kau soal perasaan ku !!! " Ignes berteriak dan kemudian mendorong tangan pengawal yang sedang menodongnya dengan pistol ke arah Ruby yang tidak terlindungi. Penjaga yang terkejut tanpa sadar menarik pelatuknya.


Dor !!! Suara tembakan menggema. Kejadian itu begitu cepat sampai membuat Rai tidak bisa mencegahnya. Hanya beberapa detik kejadian itu berlangsung tapi berakibat sangat fatal pada hidupnya.

__ADS_1


" Tidaaakk !!! " Teriakan Rai menggema di udara. Wajahnya memucat melihat ke arah Ruby yang sudah bersimbah darah.


__ADS_2