
Ruby terbangun oleh suara tangisan Raline, dengan kesadaran yang hanya setengah dia bangun dan menggendongnya.
" Hooaamm... " Ruby menguap menyingkirkan rasa kantuknya, dia melirik jam yang ada di nakasnya, hari masih terlalu dini. Dia menimang Raline yang sudah mulai menangis lagi.
" Kau bangun ? " Rai yang juga mendengar suara tangisan Raline ikut terbangun.
" Tidurlah dulu, kau sudah begadang semalaman, sekarang giliran ku " Jawab Ruby dengan berbisik.
" Tidak apa-apa, aku akan menemanimu begadang " Jawab Rai dan membenahi posisi duduknya bersandaran pada sandaran ranjang.
Dengan mata yang masih sangat mengantuk dia mengamati Ruby yang dengan sabar menimang Raline agar tidur kembali. Namun wajah Ruby yang sembab mengusik perhatiannya.
" Apa kau sebegitu lelahnya ? " Tanya Rai lirih dan turun dari ranjangnya menghampiri Ruby, memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak Ruby.
" Tidak " Jawab Ruby bingung dengan pertanyaan Rai.
" Wajahmu terlihat buruk, kenapa ? " Tanya Rai lembut.
Ruby yang sadar saat ini wajahnya pasti bengkak karena menangis sebelum tidur tadi menjadi salah tingkah, dia tidak ingin menanyakan apapun perihal ayahnya sampai dia tau sendiri maksud dari dokter Noh.
" Entahlah, mungkin karena cuaca di luar sana dingin " Jawab Ruby asal.
" Nanti kau akan menjenguk ayah mu bukan ? " Tanya Rai lagi.
Deg ! Jantung Ruby langsung berpacu dengan cepat begitu mendengar ucapan Rai, dan dia semakin salah tingkah.
" Ya ada apa memangnya ? " Tanya Ruby ragu-ragu.
" Mampirlah ke spa, aku tau disini juga ada spa, tapi lebih baik kau pergi ke tempat spa yang lain, kalau disini konsentrasi mu akan terpecah karena Raline, pergi dan nikmati waktu mu " Ucap Rai serak karena masih mengantuk.
" Baiklah jika kau mengizinkannya " Jawab Ruby cepat berusaha menyudahi percakapan mereka sebelum Ruby semakin gelisah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Akhir pekan biasanya memang di gunakan Ruby untuk mengunjungi ayahnya yang ada di rumah sakit, dia akan berada disana seharian bersama Raline dan Rai, tapi kali ini berbeda. Ruby meminta izin Rai agar dia bisa pergi sendirian.
" Kau yakin tidak ingin di antar ? " Tanya Rai kepada Ruby saat mereka akan berpisah di pintu utama.
" Tidak " Jawabnya santai.
" Aku akan pergi bersama Dylan naik taksi online saja " Lanjutnya.
" Kau sedikit aneh hari ini ? " Tanya Rai menyelidik, menatap wajah istrinya lekat-lekat untuk mencari tau apa yang terjadi.
" Apa ? Kau curiga aku bertemu laki-laki lain ? " Cibir Ruby sinis seperti bisa membaca pikiran Rai.
" Tentu saja aku curiga, tidak biasanya kau ngotot ingin pergi sendiri " Jawab Rai kesal.
" Hei siapa yang mau dengan ibu-ibu beranak satu seperti ku " Jawab Ruby ketus.
" Lucas " Saut Rai cepat menjawab pertanyaan Ruby.
" Kalau Lucas tau dia pasti muntah mendengar pikiran konyolmu saat ini " Ejek Ruby kesal.
" Baiklah, lagi pula aku akan tau setiap gerak gerikmu, jadi lakukan apapun itu mau mu, kalau sampai aku melihat laki-laki lain, kau akan tamat " Ancam Rai dingin.
" Aku takut sekali " Ruby memeluk dirinya sendiri dan berpura-pura takut untuk mengejek Rai.
__ADS_1
" Ayo kak " Ajak Dylan yang sudah bersiap akan berangkat bersama.
" Ok, baiklah aku berangkat dulu ya " Ucap Ruby kepada Rai dan kemudian berjinjit untuk mencium bibirnya, lalu berlari pergi menyusul Dylan yang sudah lebih dulu berjalan menuju gerbang.
" Jaga mata mu baik-baik ya " Teriak Rai. Dan di balas Ruby dengan gerakan hormat ala militer.
Ruby dan Dylan menuju gerbang dan melihat taksi online yang mereka pesan sudah menunggu. Dylan membukakan pintu untuk Ruby dan mempersilahkannya masuk lebih dulu.
" Tumben kau tidak ingin di antar ? " Tanya Dylan heran begitu dia sudah masuk dan menutup pintu mobil dan mobil pun melaju meninggalkan mansion.
" Kalau aku di antar sopir, dia akan mengikuti ku sepanjang hari. Aku sedang ingin berbicara penting dengan seseorang " Jawab Ruby asal.
" Kau tidak sedang punya pikiran macam-macam kan ? " Selidik Dylan curiga.
" Aish !! " Ruby melirik Dylan kesal.
" Dulu aku tidak menemukan kesamaan mu dengan mereka, sekarang aku tau di lihat dari mana kau dan mereka akan cocok jadi saudara " Sindirnya sinis.
" Aku hanya tidak mau berpihak pada siapapun kalau terjadi sesuatu di antara kalian berdua, bagi ku kalian semua orang yang spesial, jadi aku tidak akan bisa memihak salah satu di antara kalian " Jawab Dylan lirih.
" Auhh... manisnya " Puji Ruby gemas dan mengacak-acak rambut Dylan.
" Apa sih " Jawab Dylan menepis tangan Ruby, malu-malu.
" Hei, kenapa kau tidak ingin ku sentuh ? Aku ini kakak mu, aku bebas melakukan apapun pada adik ku " Jawab Ruby ketus lalu memiting leher Dylan dan semakin mengacak-acak rambutnya.
" Iya iya maaf " Ucap Dylan malas dan Ruby melepaskan kunciannya.
" Hei dengan sikap semanis itu apa kau yakin tidak ingin mencari kekasih ? " Goda Ruby usil.
" Ck " Dylan berdecak malas dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
" Aku tidak ingin punya kekasih, aku hanya ingin belajar dan menjadi orang yang bisa ayah banggakan, baru aku bisa memperkenalkan diriku sebagai anaknya, aku tidak ingin orang lain mengira ayah mengangkat ku anak hanya karena kasihan, aku ingin membuktikan bahwa aku pantas menjadi anak untuk orang sehebat ayah " Jawab Dylan serius.
" Aiyoo.... " Ruby mengelus-elus rambut Dylan lembut.
" Kau jangan merasa terbebani, ayah bukan orang yang seperti itu, dia menerima semua anaknya apa adanya " Lanjutnya menjelaskan.
" Kau tau Ken ? Dia itu produk gagal dari Klan Loyard, tapi lihat. Ayah begitu menyayanginya, bahkan Rai juga lebih menyayanginya " Oceh Ruby santai.
" Kau hanya tidak tau kalau kak Ken juga orang yang hebat " Jawab Dylan lirih.
" Aku tau, semua keluarga Klan Loyard adalah orang baik dan orang hebat " Jawab Ruby tersenyum lebar.
Tanpa terasa perjalanan mereka telah sampai di depan gerbang sekolah Dylan. Taksi mereka berhenti di antara deretan mobil-mobil yang mengantri masuk ke dalam sekolah.
" Wuah !! " Pekik Ruby terkejut menyadari mereka berada di antara mobil-mobil mewah yang berjejer.
" Anak sekolah membawa mobil-mobil seperti itu ? " Tanyanya tidak percaya. Dia mengedarkan pandangannya pada antrian mobil mewah di sampingnya.
" Tutup mulutmu itu, air liur mu menetes tuh " Ejek Dylan dan tersenyum melihat tingkah kakak iparnya. Dan kemudian memutar handle pintu mobil untuk membukanya, lalu segera keluar dari dalam mobil.
" Eh tunggu dulu Dylan " Teriak Ruby lalu menyusul Dylan dengan buru-buru. Namun karena terlalu bersemangat dia tersandung pijakan kaki dan jatuh terhuyung ke depan menabrak Dylan yang tepat menoleh ke arah Ruby.
" Aish hati-hati " Omel Dylan ketus dan membantu Ruby berdiri dan mengamati lutut Ruby.
" Ada yang sakit ? " Tanya Dylan cemas.
__ADS_1
" Auhh... adik ku manis sekali, perhatian sekali " Ruby mencubit gemas pipi Dylan, namun Dylan hanya menatapnya dingin.
Bersamaan dengan itu juga mobil Blair yang ikut berderet mengantri masuk berhenti tepat di sebelah taksi Ruby dan Dylan.
" Cih " Cibir Blair sinis melihat Dylan dan Ruby yang sedang berbincang tersebut.
" Pagi-pagi sudah merusak pemandangan saja " Blair berdecak malas lalu memalingkan wajahnya. Namun sesaat kemudian dia menoleh lagi dengan cepat ke arah Dylan dan Ruby.
" Haaahhh !!! " Pekiknya dengan mulut menganga lebar dan menempelkan wajahnya di jendela mobilnya, membuat mukanya berubah lucu.
" Itu kan si anak seberang bangku ? " Lanjutnya masih dengan perasaan tidak percaya, rupanya Blair tidak menyadari jika yang sedang di lihatnya tadi adalah Dylan.
" Apa itu kekasihnya ? " Gumamnya sendiri.
" Dia terlihat lebih tua ? Wuah ternyata anak aneh itu sukanya yang tua-tua ya ? " Ejeknya kemudian.
Namun belum sempat Blair mengamatinya lebih lama lagi, mobilnya sudah bergerak maju. Pandangan mata Blair masih terus mengamati Dylan dan Ruby yang semakin jauh dari padangannya.
" Lepaskan tangan mu " Saut Dylan dingin dan melirik tangan Ruby yang masih mencubit pipinya.
" Kenapa ? " Goda Ruby usil.
" Kau malu ? Atau takut kekasihmu melihatnya lalu cemburu ? " Godanya lagi.
" Sudah ku bilang aku tidak punya kekasih " Jawabnya malas dan menepis tangan Ruby agar menjauh dari pipinya.
" Iya iya yang jomblo " Ruby berdecak malas.
" Baiklah jomblo, kakakmu pergi dulu ya, sekolah yang benar " Ruby melambaikan tangannya dan kembali masuk ke dalam mobil.
Dylan ikut melambaikan tangannya dan menyaksikan mobil yang di tumpangi Ruby pergi berlalu baru kemudian dia berjalan menuju gerbang masuk sekolah.
Dylan berjalan melewati deretan mobil-mobil yang masih mengantri dan juga melewati mobil Blair.
" Huuuh... wajahnya saja yang sok polos, tapi lihat kelakuannya, pantas saja dia tidak tertarik padaku, ternyata tipenya adalah perempuan yang lebih tua " Cibir Blair sinis begitu melihat Dylan berjalan melewati mobilnya.
" Ya ampun ! " Pekik Blair terkejut mendengar kata-katanya sendiri, lalu dengan pelan dia memukul mulutnya sendiri.
" Untuk apa aku harus peduli dia tertarik padaku atau tidak, aku harusnya senang tidak punya fans seperti dia, dengan wajahnya yang lurus begitu dia bisa jadi haters ku " Ocehnya kesal sendiri.
" Dasar mulut bodoh, mulut bodoh " Gumamnya terus sambil memukul-mukul mulutnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu di tempat yang lain...
Ken yang baru saja bangun tidur mendadak merasakan hidungnya gatal dan terus saja bersin-bersin.
" Kau sakit ? " Tanya Kiran yang datang membawa nampan makanan yang baru saja di antarkan oleh petugas hotel.
" Tidak, hanya saja hidungku tiba-tiba gatal sekali " jawab Ken acuh dan menggosok hidungnya.
" Biasanya kalau mendadak bersin-bersin begitu tandanya ada yang sedang membicarakanmu " Celetuk Kiran asal.
" Oh ya ? " Tanya Ken menaikkan alisnya tidak percaya.
" Iya, kata nenek Mis jika kau bersin 2 kali itu artinya ada yang membicarakanmu baik-baik, jika kau bersin 3 kali ada yang membicarakanmu buruk-buruk " Jawab Kiran meletakkan nampan di meja dan memanggil Ken untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Aku tadi bersin 3 kali, tapi siapa yang yang sedang mengghibahkan ku ? " Tanyanya bingung.