
Mereka sudah kembali ke kamarnya. Rai yang dari bangsal lantai bawah sudah menahan emosinya mulai melampiaskannya bahkan sebelum Ruby sempat duduk.
“ Jadi ini yang kau lakukan di belakang ku ? “ Tanya Rai emosi.
“ Apa ? “ Ruby tidak mengerti maksudnya.
“ Apa ?!? Kau masih berani bilang apa ?!? Wah otakmu benar-benar akan ku ganti dengan otak udang “ Rai menyentil kening Ruby.
“ Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Danny bukankah kau melihatnya, dia seorang bule, mungkin baginya menggenggam tangan dan menciumnya itu hal yang wajar, bukankah di film-film mereka bahkan mencium pipi saat bertemu? “ Ruby mencoba beralasan.
“ APA ?!?! Jadi kau menunggunya mencium mu ?!?! “ suaranya berteriak.
“ Bukan begitu, ku mohon tenanglah dulu “ Ruby mencoba menenangkan.
Rai sudah dikuasai kemarahan, dia mengambil vas bunga dan akan membantingnya, dia teringat kejadian Rai saat marah dan membuat ruangannya seperti kapal pecah, dia tidak ingin itu terulang lagi terlebih ini di rumah sakit.
" Jangan " Ruby setengah berteriak.
" Letakkan itu pelan-pelan, jangan berfikiran pendek, ok ? " Ruby berusaha membujuk Rai.
Rai masih terlihat marah, dia benar-benar di kuasai emosi. Ruby berfikir keras apa yang harus dia lakukan untuk mengalihkan perhatian Rai. Tiba-tiba saja perutnya mual dengan keadaan tegang yang terjadi.
" Hueekk " Ruby hampir muntah, dia menahan mulutnya dengan telapak tangannya. Merasa semakin tegang semakin mual, dia berlari ke kamar mandi.
Rai diam saja tidak mengikutinya, dia merasa itu hanya akal licik Ruby agar terhindar dari kemarahannya.
" Dasar licik, kau pikir itu bisa membuatmu selamat dari hukuman " Rai bergumam.
" Hei cepat kemari " Rai berteriak.
Ruby keluar dari kamar mandi, wajahnya pucat. Makan siangnya yang hampir tercerna sempurna telah dia keluarkan semua.
" Hei perutku kenapa mendadak mual sekali ? Dan kram sakit " Ruby menjelaskan lirih.
Rai mendekatinya khawatir, dia melihat sepertinya Ruby tidak berbohong.
" Kau benar sakit ? Aku kira kau hanya berusaha menghindar dari hukuman mu " Rai bertanya khawatir.
" Kau ini, aku benar-benar sakit " Dia mengusap keringat dingin di dahi nya.
Rai membantu Ruby untuk tidur di atas ranjang, dia menekan tombol untuk memanggil perawat.
Hanya dalam beberapa menit, beberapa perawat dan dokter sudah datang ke ruang perawatan. Dokter jaga mengetuk pintu.
" Masuk " Perintah Rai. Dia sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Ruby. Wajah Ruby pucat, dia terus memegang perutnya yang terasa sakit.
Para perawat dan juga dokter segera menghampiri.
" Periksa dia " Perintah Rai, tapi dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya duduk.
Dokter mendekat untuk memeriksanya, dia meletakkan stetoskop di dada Ruby, memeriksanya dengan hati-hati. Wajahnya terlihat serius.
__ADS_1
" Tuan maafkan saya... " Dokter tersebut ingin menjelaskan.
" Tidak !!! " Rai berteriak memotong penjelasan dokter.
" Jangan katakan apapun. Ini tidak mungkin " Rai memeluk Ruby, matanya berkaca-kaca.
" Tapi Tuan... " Dokter itu berusaha menjelaskan lagi.
" Kalau kau bicara satu kata lagi, anggap itu sebagai kata perpisahan untuk dirimu sendiri " Rai mengancam.
Dokter itu pun terdiam, tidak berani melawan perintah Rai. Wajahnya cemas karena dia belum menjelaskan sepenuhnya.
" Sayang, kau akan baik-baik saja, kau tidak akan kenapa-kenapa. Aku disini menjaga mu " Rai memeluk Ruby erat, suaranya tercekat.
Ruby yang kesakitan merasa semakin lemas karena pelukan Rai yang terlalu erat. Dia menepuk punggung Rai pelan agar dia melepaskan pelukannya.
" Tidak , jangan bicara apapun, simpan tenaga mu. Kita baru saja mengungkapkan perasaan kita masing-masing, kenapa ini harus terjadi " Suara Rai meratap.
" Tuan Muda saya... " Dokter itu berusaha meluruskan kesalahpahaman.
" Diam kau !!! Mulai detik ini kau di pecat !!! " Suara Rai tinggi. Membuat semua perawat dan dokter menunduk takut.
" Hei lepaskan, aku tidak bisa bernafas " Ruby terbata-bata lirih di telinga Rai.
Rai melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Ruby yang pucat. Matanya berkaca-kaca.
" Kau pikir sedang bermain drama, kenapa berteriak dan semudah itu memecat orang lain " Suara Ruby lirih.
Rai memeluknya lagi, semakin erat.
" Jangan dengarkan dia, dia berbohong, kau tidak apa-apa, kau baik-baik saja " Rai berusaha menenangkan Ruby.
" Hei lepaskan aku !! " Ruby kehabisan kesabaran, dia mendorong tubuh Rai. Menatap dokter itu lagi.
" Maafkan saya nyonya, saya merasa yang berhak memeriksa nyonya adalah dokter kandungan, saya hanya dokter umum, saya takut membuat kesalahan diagnosa " Dokter itu mengucapkannya cepat agar tidak ada salah paham dari Rai lagi.
" Apa ?!? " Rai dan Ruby kompak terkejut mendengar penjelasan dokter.
" Kau ini kenapa tidak bilang dari tadi, kenapa harus membuat suasana menjadi sedih saja. Bilang saja dari awal dia harus di periksa dokter kandungan, kenapa berbelit-belit " Rai memarahi dokter itu, membuatnya semakin tersudut.
Ruby diam mematung, dia tidak percaya apa yang di dengarnya. Rai melihatnya mematung, mencoba menghiburnya.
" Hei tenanglah, tidak perlu khawatir, dokter kandungan juga sama saja seorang dokter, tidak perlu takut " Rai menepuk pundak Ruby.
Apa dia tidak mengerti artinya itu, kalau aku diperiksa dokter kandungan artinya aku hamil. Tunggu dulu.
Ruby menghitung dengan jarinya. Benar saja dia sudah 3 bulan ini tidak menerima tamu bulanannya.
Jadi aku benar-benar hamil ?!?
Ruby menunduk melihat perutnya.
__ADS_1
" Panggilkan dokter itu cepat " Perintah Rai kepada perawat yang berbaris.
Perawat menuju pesawat telfon dan menekan nomor lalu berbicara dan menutup telfonnya. Ruby masih diam membatu, pikirannya berhenti bekerja.
" Memangnya dokter kandungan itu memeriksa bagian apa ? " Rai bertanya santai kepada Dokter.
" Apa ?!? " Semua orang kompak terkejut dengan pertanyaannya. Rai bingung dengan ekspresi semua orang.
Lihatlah betapa bodohnya dia, dia tidak tau dokter kandungan memeriksa bagian apa tapi bisa melakukan itu. Dia benar-benar sesuatu. Aku harus menanyainya darimana dia tau masalah berhubungan itu, dia sangat berbahaya. Ruby menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rai.
Tak berapa lama dokter kandungan datang dengan membawa peralatan sebuah monitor yang diletakkan di sebuah troli yang di dorong seorang perawat.
Dokter langsung mendekati Ruby dan meminta izinnya untuk memeriksa. Ruby mengangguk menyetujuinya, perawat kemudian membantu membuka pakaian Ruby di bagian perutnya. Mengoleskan gel ke atas perutnya, dan sebuah alat di tempelkan di atasnya.
" Kenapa kau lakukan itu ? " Rai protes. Ruby memeloti Rai yang membuatnya terdiam.
" Ini sudah sekitar 10 minggu nyonya " Dokter itu menjelaskan sambil tetap fokus pada layar monitor.
" Semua bagus, tapi mungkin ini sedikit lemah, anda dalam masa rawan, jadi mohon berhati-hati " Dokter melanjutkan.
Rai sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter, dia terlihat sangat khawatir.
" Dia sakit apa ? " Rai bertanya kepada dokter.
" Sakit ? Nyonya tidak sakit. Nyonya sedang hamil. Selamat tuan, anda akan jadi seorang ayah " Dokter tersenyum menjelaskan.
" Apa ?!? " Kali ini dia yang terkejut sendiri karena kelambatan berfikirnya.
" Mana bayinya ? " Rai antusias mendekat ke arah dokter.
Dokter menunjuk monitor, Rai melihatnya, hanya lingkaran kecil sebesar kacang. Tapi wajahnya sangat antusias dan bahagia.
Dokter menyudahi pemeriksaannya. Perawat membantu Ruby merapikan pakaiannya.
" Saya akan menyuruh perawat menyiapkan obat untuk anda nyonya, apa ada keluhan lain ? " Dokter dengan ramah bertanya.
" Saya merasa mual dan sakit perut " Ruby menjawab lirih.
" Mual pada masa awal kehamilan merupakan hal yang wajar nyonya, saya akan menyiapkan obat mual untuk anda, dan sakit perut itu bisa jadi di sebabkan kontraksi akibat muntah anda " Dokter menjelaskan. Ruby dan Rai hanya mengangguk-angguk.
" Baiklah saya permisi dulu nyonya, selamat berbahagia dan selamat beristirahat " Dokter menundukkan kepalanya dan pergi keluar ruangan.
Semua perawat juga pergi meninggalkan ruangan. Hanya dokter jaga yang masih tetap disana, dengan wajah memelas.
Ruby memukul lengan Rai dan menunjuk dokter itu dengan wajahnya. Rai menoleh ke arah yang di tunjuk Ruby.
" Maafkan saya, anda tidak jadi saya pecat, sekarang silahkan bekerja kembali " Rai meminta maaf.
Dokter itu pun dengan semangat menundukkan kepalanya dan pamit undur diri. Meninggalkan pasangan calon ayah dan ibu baru. Rai tersenyum lebar mengelus elus perut Ruby. Dia sangat bahagia. Sedangkan Ruby menatapa wajah Rai dengan tajam dan cemberut.
Saatnya interogasi dari mana pikiran mesumnya itu dia dapatkan.
__ADS_1
" Kita harus bicara serius " Suara Ruby lirih dan tajam.