Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Hadiah


__ADS_3

Suasana kantin penuh sesak oleh antrean murid-murid yang akan makan siang, Dylan yang mengantre bersama Dera itupun menjadi pusat perhatian. Ketua osis yang cantik, berprestasi dan termasuk anak baik-baik itu terlihat bersama siswa yang paling di kucilkan di sekolah, memiliki sifat yang buruk dan selalu menyendiri, juga predikatnya yang bukan main mengenai keluarganya, merupakan pemandangan yang tidak terjadi setiap harinya.


Sontak saja seluruh murid yang ada di kantin langsung berbisik-bisik sibuk menggosipkan serta menerka-nerka ada apa gerangan hingga mereka terlihat bersama.


Dera yang acuh dengan pandangan siswa lainnya terlihat sedang bercerita panjang lebar kepada Dylan dengan antusias, terkadang senyum lebar terkembang di wajahnya. Sedangkan Dylan masih tetap setia dengan ekspresi dingin di wajahnya, seolah di ruangan itu hanya ada dia seorang.


Setelah mengambil makan siang mereka, Dylan pun menuju meja yang ada disudut kantin di ikuti oleh Dera di sampingnya.


" Kau tidak suka susu ya ? " Tanya Dera memulai pembicaraan saat mereka telah duduk berhadapan.


" Tidak juga " Jawab Dylan asal, dengan cepat memakan makan siangnya.


" Boleh aku bertanya ? " Ucap Dera ragu-ragu.


" Bukankah kau sudah bertanya dari tadi " Dylan tetap acuh.


" Aku lihat kemarin kau memberikan susu kotakmu untuk Blair, jadi ku kira kau menyukainya " Dera ingin memastikan alasan Dylan memberikan susu kotak dan juga apel makan siangnya kepada Blair. Dalam hati Dera berharap Dylan tidak benar-benar menyukainya.


" Itu karena dia tidak datang makan siang " Jawab Dylan asal.


" Ah begitu ya " Jawab Dera lirih dan tersenyum terpaksa.


Dia tidak pernah peduli dengan siapapun di sekolah ini, tapi dia mendadak peduli pada Blair yang baru saja menjadi teman sebangkunya, dia bahkan tau Blair tidak makan siang.


Batin Dera getir mendengar kenyataan yang di ucapkan Dylan.


" Kau akrab dengannya ? " Tanyanya lagi memastikan.


" Tidak " Jawab Dylan singkat.


" Kenapa kau peduli padanya kalau dia tidak makan siang ? " Tanya Dera takut-takut, dia takut menyinggung perasaan Dylan. Baginya Dylan itu seperti sebuah kaca, sedikit saja tekanan dia bisa pecah dan kemudian berantakan. Sangat sulit untuk di gapai.


" Hanya bersikap baik saja " Jawab Dylan asal.


Duar !!! Jawaban Dylan seakan mematahkan keyakinannya bahwa Dylan tidak menyukai Blair, mungkin Dylan memang bilang dia tidak menyukainya, tapi dari sikapnya yang tidak seperti biasanya Dera tau Dylan menyukai Blair.


Dera kehilangan nafsu makannya, dia hanya memandangi Dylan dengan rasa yang berkecamuk, ungkapan perasaannya pada Dylan tak juga membuat Dylan mengubah pandangannya padanya, dia tetap acuh dan dingin.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Rai yang baru pulang bekerja disambut Ruby serta Raline di depan pintu utama, dengan di temani kedua pelayan yang selalu siaga berada di dekat Ruby.


" Kau tidak perlu repot-repot menunggu di luar begini " Ucap Rai tersenyum bahagia begitu turun dari mobil dan mendapati istri tercintanya sedang menunggunya dengan senyum manisnya.


" Aku tidak bisa tidak melakukannya, rasanya seperti ada yang kurang kalau tidak menyambutmu seperti ini " Jawab Ruby, Rai lalu merangkul pinggang Ruby dan membawanya ke pelukannya.


" Hei ! " Desis Ruby mendorong pelan tubuh Rai, dia melirik kedua pelayan yang sudah hafal dengan kebiasaan Rai dan mereka sekarang sedang berbalik badan tanpa perlu di perintah lagi.


" Mereka tidak melihat " Ucap Rai lantang tanpa rasa malu, lalu mengecup bibir Ruby pelan, kemudian berubah jadi lumatan yang lebih dalam. Ruby langsung mendorong tubuh Rai sebelum Rai semakin lepas kendali.


" Ck " Decaknya kesal.


" Mencium saja tidak boleh " Omelnya lalu menghampiri Raline yang ada di kereta dorongnya.


" Raline sayang kenapa belum tidur siang ? Kau sengaja menunggu papa ya ? " Rai membungkuk melihat Raline yang semakin hari semakin terlihat gemuk menggemaskan.


" Oooo... " Raline mengoceh seraya mengerucutkan bibir mungilnya dan tangan serta kakinya yang menggeliat melihat Rai dihadapannya.


" Ooh sayang jadi kau memang menunggu papa ya ? " Rai kembali mengajak bicara Raline.


Baik Ruby maupun kedua pelayan yang melihat tingkah Raline yang menggemaskan itupun tersenyum lebar. Raline semakin bertumbuh besar dan dia mulai memperlihatkan tingkah khas bayi yang selalu membuat semua orang tertawa.


Rai kemudian mendorong kereta bayi Raline memasuki rumah.


" Tolong kalian jaga Raline sebentar ya, aku akan menyiapkan baju ganti untuk tuan " Ucap Ruby kepada kedua pelayannya.


" Baik nyonya " Mereka segera mengambil alih kereta dorong Raline dan membawanya pergi ke ruang bermain, sementara Rai dan Ruby pergi ke lantai atas menuju kamar mereka.


" Bagaimana harimu ? " Tanya Ruby basa-basi saat mereka ada di ruang ganti, dengan Rai yang terus saja menempel di punggung Ruby, memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dipundak Ruby.


" Biasa saja, tidak ada kau di club jadi tidak seru " Jawabnya asal.


" Kau mau aku bekerja lagi ? " Celetuk Ruby asal.

__ADS_1


" Boleh juga " Rai langsung menegakkan punggungnya dan menarik Ruby agar berbalik menghadapnya.


" Aku akan membuat ruangan tambahan di club, aku akan membuat ruang bermain untuk Raline, lalu kamar untukmu jika kau harus tidur siang, jadi aku bisa bekerja di sampingmu sepanjang hari " Sudah membayangkan dengan wajah berseri-seri.


" Heol " Tatap Ruby tak percaya dengan sikap Rai, dia hanya asal bicara dan Rai sudah berpikir untuk menjadikannya sebuah kenyataan.


" Jangan aneh-aneh, lagipula kau kerja disana hanya 3-4 jam, jadi untuk apa membuang-buang uang membangun hal yang tidak penting " Omel Ruby lalu kembali berbalik menghadap lemari, memandangi tumpukan baju yang akan di pilihkannya untuk Rai.


" Cih " Cibir Rai kesal.


" Kau tidak tau saja, berpisah denganmu satu jam saja rasanya sudah seperti seharian, lamaaaa sekali " Jawab Rai menekankan kalimatnya lalu merangkulkan tangannya di pinggang Ruby, kembali pada posisinya semula.


Mendengar kata-kata manis dari Rai, jantung Ruby berdetak dengan cepat, wajahnya merona. Setiap hari selalu saja ada kata-kata manis dari Rai yang membuatnya semakin jatuh cinta padanya.


" Sudah, sudah " Ruby berusaha mengalihkan pembicaraan, lalu mengambil baju ganti untuk Rai dan berbalik menghadapnya.


" Ini baju ganti mu " Mengulurkan sebuah kaos berwarna biru tua kepada Rai.


" Sayang " Panggil Rai lirih, dia membelai wajah Ruby perlahan, lalu berhenti di pipinya. Mengusapnya dengan lembut.


" Nanti kita terlambat makan siang " Jawab Ruby gelagapan, bohong jika dirinya tidak hanyut dalam rayuan mematikan Rai.


" Kita bisa makan siang berdua saja " Jawab Rai asal lalu dengan cepat menggendong tubuh mungil Ruby, membawanya keluar dari ruang ganti menuju ranjangnya.


Dengan hati-hati membaringkan tubuh Ruby, lalu menatapnya penuh cinta.


" Aku ingin makan makanan pembuka ku dulu disini " Tangan Rai mulai menyusuri leher Ruby, membelai tulang selangkanya lalu turun ke bawah dan mendarat di dada Ruby sementara bibirnya sudah ******* habis bibir Ruby.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu Ken dan Kiran yang menghabiskan hari mereka dengan berlatih bela diri itupun sedang berada di ruang gym.


Ken melatih Kiran teknik-teknik dasar untuk bertahan dari serangan lawan, mengingat betapa rapuhnya Kiran jika harus berhadapan dengan orang lain.


" Jadi kalau ada wanita lain akan menamparmu kau harus apa ? " Tanya Ken layaknya seperti seorang pelatih pada muridnya.


" Menahan tangannya dengan kuat " Jawab Kiran mantap.


Bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk memulai latihannya.


Dia lalu berjalan menghampiri Kiran dan menabrak pundaknya.


" Hei kau buta ya ? Jalan pakai mata " Ketusnya marah.


" Maaf " Kiran menundukkan kepalanya meminta maaf.


" Aish kenapa meminta maaf, kau tidak perlu minta maaf, kan dia yang salah " Omel Ken kesal, membuyarkan sandiwaranya.


" Ya tapi kan sebaiknya kita minta maaf terlebih dulu, kalau dengan minta maaf masalah bisa terselesaikan bukankah itu lebih baik, jadi tidak perlu ada perkelahian " Jawab Kiran polos.


" Ya ya terserah kau saja lah, ayo ulang dari awal lagi " Jawab Ken mengalah lalu kembali mundur beberapa langkah jauhnya dari Kiran.


Dia kembali mengulangi latihannya, berjalan menuju Kiran lalu menabrak pundaknya.


" Hei kalau jalan pakai mata " Teriak Ken berpura-pura marah.


" Maaf " Kiran menundukkan kepalanya meminta maaf.


" Kalau kau meminta maaf begitu aku jadi merasa bersalah " Omel Ken tidak tega melihat ekspresi Kiran dan membuyarkan lagi sandiwaranya.


" Ya sudah tidak perlu pakai sandiwara, kita langsung saja latihan " Jawab Kiran ikut kesal.


" Ya sudah, bersiaplah " Ken lalu mengambil ancang-ancang dan melayangkan tangannya akan menampar Kiran.


Setelah berlatih cukup sering, Kiran sudah bisa mempertahankan dirinya dengan gerakan sederhana. Dia menahan tangan Ken, lalu memutarnya dan bergerak dengan cepat memiting tangannya ke belakang punggung Ken.


" Wooo bagus, kau belajar dengan cepat " Puji Ken melihat perkembangan gerakan Kiran.


" Tentu saja, kau melatihku dengan gila-gilaan, bagaimana mungkin aku tidak ada perkembangan " Jawab Kiran.


" Memangnya ini penting ya ? Kan tidak semua harus di selesaikan dengan cara seperti ini " Kiran melepaskan pitingan tangannya lalu duduk bersila di lantai. Mengistirahatkan dirinya.


" Kau tidak tau saja menjadi istri dari putra pemimpin Klan Loyard itu banyak godaannya, Ruby bahkan pernah berkelahi dengan beberapa wanita hanya karena dia tertangkap kamera paparazi sedang masuk kedalam hotel bersama kak Rai, wanita yang tergila-gila dengan kami itu menyeramkan " Cerita Ken panjang lebar.

__ADS_1


" Benarkah ? " Tanya Kiran tidak percaya.


" Tentu saja " Saut Ken percaya diri.


" Kalau itu menimpa Ruby aku maklum karena tuan Rai memang di gilai para wanita, tapi kalau kau ? Memangnya kau juga di gilai para wanita ? " Tanya Kiran polos.


" Hei kau ini !! " Teriak Ken kesal mendengar Kiran meremehkan popularitasnya.


" Aku ini terkenal di kalangan wanita kau tau " Sungutnya kesal.


" Iya iya aku tau kalau suami ku ini lebih terkenal di bandingkan tuan Rai " Kiran memilih mengalah.


Ken yang ada di sampingnya lalu merangkulkan lengannya ke leher Kiran.


" Pokoknya kau harus jadi wanita yang tangguh, paling tidak seperti Ruby yang bisa menjaga dirinya sendiri. Aku masih takut jika mengingat-ingat kejadian penculikanmu dulu " Kenang Ken dengan pandangan nanar.


" Siap bos " Jawab Kiran dan ikut merangkulkan tangannya di pinggang Ken.


" Aku sangat mencintai mu " Ken mencium kening Kiran.


" Kita sudahi latihannya kali ini, kak Rai dan yang lainnya pasti sudah menunggu untuk makan siang " Ken lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kiran berdiri.


" Ah ya aku hampir lupa, aku punya hadiah untuk mu " Ken menjentikkan jarinya saat teringat hadiah yang dia pesankan khusus untuk Kiran.


" Hadiah ? " Tanya Kiran dengan mata berbinar.


" Ya hadiah, khusus di buat untuk mu " Jawab Ken bangga.


" Benarkah ? " Kiran berjingkrak girang.


" Jangan terkejut, jangan terkejut " Ucap Ken, dia lalu berlari menuju sudut ruangan, tempat di letakkannya hadiah Kiran.


" Aku memesan ini saat kita berlibur di selandia baru, saat aku teringat sosok lain dari dirimu. Ini di rancang khusus oleh ahlinya dengan bahan berkualitas tinggi " Jelas Ken setengah berteriak.


" Sosok lain diriku ? " Gumam Kiran bingung dengan kata-kata Ken, tapi kemudian dia mengabaikannya.


" Apa sih hadiahnya ? " Tanyanya tidak sabaran.


" Tutup matamu dulu, jangan mengintip " Teriak Ken.


" Ok baiklah " Dengan cepat Kiran menutup matanya dan memegang dadanya yang berdegub kencang.


" Sudah kau boleh membuka matamu sekarang " Ucap Ken setelah berada tepat di hadapan Kiran.


" Taraaaa " Teriak Ken setelah Kiran membuka matanya.


" Hahaha... " Kiran tertawa kecut melihat benda yang ada di hadapannya saat ini.


" Kau serius ? " tanyanya tidak percaya.


" Tentu saja, bukankah sudah ku bilang begitu aku ingat sosok dirimu yang lain aku langsung merencanakan memberikanmu ini " Jawab Ken bangga.


" Wuah aku sangat terharu, benar-benar terharu " Kiran menggeram di sela-sela giginya yang terkatup rapat.


" Kenapa ? Kau bahagia bukan memiliki suami romantis seperti ku ? " Goda Ken percaya diri.


" Tentu saja, ku pikir tuan Rai yang memberikan setumpuk uang seribuan kepada Ruby saja sudah hal teraneh yang pernah ku lihat, tapi begitu melihat ini... aku kehabisan kata-kata " Jawab Kiran masih dengan senyum terpaksa.


" Kalau kau sesenang itu ayo cepat pakai, jangan lupa dialog ikonik mu ya " Ken menarik tangan Kiran mendekat.


" Tidak mau " Saut Kiran ketus.


" Ayo cepat " Paksa Ken, dia mendorong punggung Kiran.


" Aish, menyebalkan sekali !! " Sentaknya kesal tapi tetap menuruti perintah Ken, dengan malas dia naik ke skuter barunya yang berwarna merah di bagian alas dan setangnya, serta berwarna biru di bagian penutup rodanya.


" Ayo ke kamar naik itu, aku akan mengikutimu dari belakang " Ken mendorong punggung Kiran dan dia melaju di atas skuternya.


" Dialognya mana ? " Teriak Ken dari arah belakang.


" Poooo " Teriak Kiran penuh kekesalan.


Para pelayan dan juga tukang kebun yang terkejut mendengar teriakan Kiran menoleh ke arahnya, Kiran sedang melaju keluar dari ruang gym dan meluncur melewati lorong, dan mereka lebih terkejut lagi melihat Kiran yang sedang menaiki skuter beroda tiga itu dan Ken berlari-lari kecil di belakangnya. Melihat tingkah Kiran serta Ken, mereka hanya bisa tertawa cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2