
Blair yang kesal kembali ke kelasnya dengan berurai air mata. Ini bukan pertama kalinya dia menjadi obyek keserakahan ayahnya. Dimitri selalu saja seenaknya sendiri memutuskan apapun yang berhubungan dengan dirinya.
Dia ingat saat ayahnya menyuruhnya melakukan perjodohan dengan Andromeda kala itu, Blair menolak keras, tapi ayahnya tidak peduli, bahkan tangisan dan kemarahannya seakan hanya angin lalu untuk Dimitri. Lalu saat tiba-tiba ayahnya mengabarkan bahwa perjodohannya dengan Andromeda di batalkan dan berganti haluan menyuruhnya mengejar Rai, dia pun tidak di beritahu sebelumnya, hanya saja kemudian Dimitri tidak pernah lagi membahas tentang bagaimana tampannya Andromeda, atau bagaimana terkenalnya ayahnya yang berprofesi sebagai pengacara itu, atau tentang bagaimana kayanya keluarga mereka, seperti saat dia masih menggebu-gebu menjodohkan Blair dengan Andromeda. Dia beralih membicarakan tentang Rai dan Klan Loyard.
Blair sudah sampai di kelasnya yang sepi, dia langsung menuju mejanya. Menghempaskan tubuhnya begitu saja lalu membenamkan wajahnya ke meja bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat.
Sampai kapan aku akan begini terus.
Batinnya pilu, hampir menangis.
Tak berselang lama dia mendengar suara kursi bergeser tepat di sampingnya. Dia menghela napas pelan. Suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang, tidak ada tenaga lagi untuk melayangkan kekesalannya pada Dylan karena bersikap acuh padanya di kantin tadi.
“ Ehem... ehem “ Dylan berdehem cukup keras.
Hening membentang, tidak ada jawaban atau pun pergerakan dari Blair.
“ Ehem... ehem “ Dylan lagi-lagi berdehem, kali ini sedikit lebih keras.
Terserah, pokoknya aku tidak akan menegakkan kepala ku, aku marah padanya.
Batin Blair bersungut-sungut. Keheningan kembali membentang. Blair menajamkan pendengarannya, memastikan keberadaan Dylan disana. Tapi tak ada suara. Dia lalu mengintip ke arah bawah meja.
“ Haah... “ Blair menghela napas lega saat melihat kaki Dylan masih menyusup di bawah meja, yang artinya dia masih ada disana, menemaninya. Seketika itu juga perasaan nyaman kembali merayapinya. Panas di hatinya sedikit mereda.
Kruuuk, kruuuk, kruuuk !! Suara erangan perut Blair yang kelaparan terdengar sangat keras di dalam kelas yang sepi.
“ Hahaha.... “ gelak tawa Dylan menyusul seiring meredanya bunyi perut Blair.
“ Ish ! “ Blair menegakkan kepalanya lalu langsung memukul lengan Dylan dengan keras, membuat Dylan meringis menahan sakit.
“ Kenapa tidak menghabiskan makan siang mu ? “ Tanya Dylan lembut, dengan tubuh yang sedikit miring dan tangan yang bertumpu di atas meja menyangga pelipisnya, menatap Blair dengan senyuman manis.
Tapi Blair malah menanggapinya dengan kembali menumpukan kedua tangannya ke atas meja dan bibir manyun.
" Huh " Dia membuang muka ketus.
“ Memangnya kau tidak lapar ? “ Lanjut Dylan menggoda Blair.
“ Tidak “ Jawab Blair acuh.
“ Aku lupa kalau aku sedang diet, jadi aku tidak melanjutkan makan siangku “ kilahnya berbohong.
Dylan menghela napas saat mendengar jawaban Blair, dia ingin sekali bertanya padanya tentang Andromeda, tapi niat itu di urungkannya. Dia belum terlalu dekat dengan Blair untuk saling berbagi rahasia atau beban di hati.
“ Oh begitu, sayang sekali ya “ Gumam Dylan mengeraskan suaranya.
__ADS_1
“ Sayang kenapa ? “ Tanya Blair bingung.
“ Aku tadi membeli terlalu banyak snack, ku pikir kau bisa membantuku menghabiskannya, tapi ternyata kau sedang diet “ Jelas Dylan berpura-pura sedih. Dia lalu mengeluarkan berbagai macam snack dari dalam kantong plastik yang dibawanya.
Glek ! Blair menelan ludahnya begitu melihat tumpukan bermacam-macam snack di atas meja. Keripik singkong pedas, kesukaannya. Biskuit bantal berisi coklat, juga kesukaannya. Ah stik udang pedas, itu juga kesukaannya. Ternyata yang di beli Dylan adalah semua snack kesukaannya. Atau memang dia suka makan, entahlah yang pasti semua snack itu seakan-akan sedang melambai padanya “ Makan aku, makan aku “ merayu-rayu untuk segera di cicipi.
“ Hmp... “ Dylan hampir saja kelepasan tawanya melihat pandangan mata Blair tidak lepas sedikit pun dari perkumpulan snack itu.
“ Aku mau makan ini dulu ah “ Goda Dylan lirih lalu mengambil sekantong keripik singkong pedas. Membukanya dengan gaya yang di buat-buat seolah dia adalah model iklan dari produk tersebut.
Ini keripik yang terbuat dari singkong asli pilihan dan di olah dengan kematangan sempurna hingga menghasilkan kriuk renyah yang luar biasa, dengan sensasi bumbu balado yang menggoyangkan lidah, perpaduan sempurna untuk menemani waktu senggang anda.
Blair mengucapkan dialognya sewaktu dulu membintangi produk iklan keripik singkong tersebut seraya menelan ludahnya.
Dengan gerakan lambat Dylan mengambil sepotong keripik singkongnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. Mata Blair tidak lepas sedetik pun dari adegan itu.
“ Enak ? “ tanyanya tanpa sadar kepada Dylan.
“ Hahaha.... “ Tawa Dylan pecah begitu mendengar pertanyaan Blair.
“ Kalau kau penasaran coba saja sendiri “ Dylan lalu mengambil sepotong keripik singkong tersebut dan menyuapkannya pada Blair. “ Nih “ Tanpa di minta dua kali Blair langsung membuka mulutnya lebar-lebar, menerima suapan Dylan dengan riang gembira.
“ Bagaimana ? Enak “ Tanya Dylan menggoda.
“ Hmm “ Angguk Blair penuh semangat menikmati keripik singkongnya.
“ Ok kalau begitu, mulai sekarang aku akan menyuapimu setiap kali kita makan “ Jawab Dylan terlihat santai dengan ocehan asal Blair.
Blair langsung terdiam mendengar jawaban Dylan. Di tatapnya wajah Dylan, mencari kebohongan yang terselip disana. Tidak ada. Wajahnya terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakan akan menyuapinya mulai sekarang. Dia meraba dadanya, jantungnya ? Jangan di tanya lagi. Sudah tak karuan sejak tadi.
“ Buka mulut mu. Aa... “ Dylan kembali menyuapkan sepotong keripik singkong lagi.
Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Blair menuruti semua perintah Dylan. Dia menikmati setiap saat waktunya bersama Dylan, setiap perhatian yang di berikan olehnya, meskipun hubungan mereka tanpa status, meskipun mereka hanya teman tapi mesra.
Aku bersumpah aku tidak akan menjauh darinya sampai dia yang menyuruhku menjauh.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
“ Kau yakin managerku tidak sedang mencari ku kan ? “ tanya Blair untuk yang kesekian kalinya.
Mereka sedang berada di halte bus dekat sekolah saat ini. Dengan memakai masker serta kacamata hitam lebar Blair celingukan kesana kemari memastikan bahwa baik dirinya maupun Dylan tidak akan mendapat masalah karena pergi berjalan-jalan bersama secara sembunyi-sembunyi seperti ini.
Dimitri sangat ketat dalam menjaga Blair, memastikannya selalu berangkat dan pulang tepat waktu. Tentu saja dia menjaganya sebaik mungkin, karena baginya Blair sama halnya seperti produk yang dia tawarkan, semakin terjaga dengan baik maka akan semakin tinggi harganya.
“ Kan sudah ku bilang sebaiknya kita naik taksi saja “ Jawab Dylan sedikit kesal melihat Blair yang sedang gelisah tak tenang.
__ADS_1
“ Tapi aku juga ingin seperti di drama-drama yang pergi naik bus " Blair mendadak sedih mendengar Dylan yang menjawabnya dengan ketus. Dia menundukkan wajahnya lalu menendang-nendang pelan batu kerikil yang ada di bawah sana.
Dylan menghela napas, dia bukan orang yang terbiasa sabar dengan tingkah orang lain karena terlalu lama menyendiri. Tapi dia sudah berjanji akan merubah sikapnya. Namun apesnya adalah bahwa Blair yang dikirimkan Tuhan untuk menguji kesabarannya.
“ Sudah tenang saja, aku yakin manager mu tidak akan berani menghalangi kita sekalipun melihat kita pergi “ Dylan penuh percaya diri, karena dia yakin Rai sudah mengatur semuanya.
Dia lalu mengangkat dagu Blair agar wajah mereka berhadapan. " Kau percaya padaku kan ? " Tanyanya dengan suara favorite Blair, suara sehalus beledu yang mampu membuat siapa saja terhanyut karena saking lembutnya. Blair mengangguk dengan mantap.
" Ah tunggu sebentar " Dylan lalu melepaskan satu tali tasnya dan membuka resletingnya. Mengambil topi hitamnya dan kemudian memakaikannya pada Blair. Lalu merapikan rambut panjang Blair dan mengarahkannya ke depan.
" Nah begini " Gumamnya puas sendiri saat melihat kini wajah Blair tersembunyi dengan baik di balik topinya.
Untung saja wajah Blair tertutup maskernya, karena saat ini dia sedang menggigit bibir bawahnya gemas dengan tingkah romantis yang Dylan lakukan.
Bunyi ponsel dari saku Dylan mengagetkan mereka berdua, Dylan mengambilnya lalu melihatnya. Dari Rai. Dia lalu meminta izin pada Blair untuk mengangkat teleponnya dan pergi menjauh beberapa langkah.
“ Ya kak ? “ Jawabnya kemudian setelah dia merasa berada di jarak aman.
“ Kau jadi pergi kan ? “ Tanya Rai memastikan, dengan nada yang sedikit cemas.
“ Ya jadi “ Jawab Dylan heran, tidak biasanya Rai tertarik dengan urusan orang lain selain urusan Ruby tentunya.
“ Bagus, jangan lupa belikan dia steak, atau paling tidak baju yang paling mahal. Ingat kau laki-laki, harus punya harga diri yang tinggi. Kau tenang saja, uang yang ku berikan sudah lebih dari cukup “ Sekali lagi Rai ingin memastikan apakah rencananya akan berjalan lancar atau tidak sebelum mengadakan pesta bersama Ken.
“ Kau yakin uangnya cukup ? “ Dylan bertanya was-was.
“ Sangat yakin, itu uang yang banyak, kau tenang saja. Bukankah tas mu terasa berat ? Jadi kau bisa mengiranya sendiri kan jumlahnya “ Jawab Rai dengan sangat meyakinkan.
“ Baiklah terima kasih “ Dylan kemudian menutup teleponnya dan berniat memeriksa jumlah uang yang ada di tasnya.
“ Busnya datang “ Tunjuk Blair pada bus yang perlahan mendekat.
Dylan yang melihat hal itu mengurungkan niatnya memeriksa amplop pemberian Rai, dia segera menutup resleting tasnya dan kembali menyampirkan talinya di punggung. Berlari kecil menghampiri Blair.
“ Ayo naik “ Dylan meraih tangan Blair dan menariknya masuk ke dalam begitu bus telah berhenti sempurna di depan mereka.
💮💮💮💮💮💮
Hooooo greget banget deh bacanya, kenapa sih g di cek dulu....
Halah kesuwen, selak bosen bacanya...
Gak sabar pengen cepet-cepet lihat Dylan bayar pake uang seribuan...
Mungkin banyak dari kalian begitu dalam hati, tapi author mohon bersabar ya dalam menikmati alur cerita novel ini, author hanya bisa bilang terima kasih sudah menyediakan hati seluas samudera untuk menerima cerita author yang masih banyak kekurangannya.
__ADS_1
Selamat membaca, semoga suka 🙏🙏🙏