
Blair berjalan ke arah toilet karena perutnya yang tiba-tiba merasa sakit. Dia langsung masuk kedalam bilik yang terbuka. Duduk di atas closet sambil meremas-remas perutnya.
Kenapa tiba-tiba sakit ya ?
Batinnya bingung. Dia merasa sangat sial hari ini, sudah semalam sibuk bersin-bersin, dan sekarang saat suasana hatinya sedang buruk malah di tambah sakit perut. Lengkap sudah yang namanya bad day.
Cukup lama dia berada di toilet hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke uks saja meminta obat pereda nyeri. Dengan malas dia keluar dari bilik toilet, mencuci tangannya sebentar lalu pergi meninggalkan toilet.
Sepanjang perjalanan menuju uks, dia harus kesusahan memasang wajah artisnya yang harus selalu terlihat sempurna mulus tanpa kusut. Dengan senyum yang tak pernah surut dia membalas sapaan para penggemarnya.
Namun jauh di dalam hati, dia sangat memberengut kesal. Benci pada dirinya sendiri yang harus berpura-pura tersenyum padahal suasana hatinya sedang buruk.
" Tunggu dulu " Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Blair.
" Apa maksud mu tadi ? " Tanya Dera yang masih belum terima mendengar penjelasan Blair.
" Aduh " Rintih Blair menepis tangan Dera.
" Apa lagi ? " Tanyanya malas, sudah cukup suasana hatinya yang buruk tanpa harus melihat Dera.
" Kau tadi bicara apa ? " Kejar Dera.
" Bicara apa ? " Blair balik bertanya bingung.
" Tentang Dylan yang mau menikah atau apalah " Erang Dera tidak sabaran.
" Ooh... " Blair membulat bibirnya, lalu menghela napas. Menenangkan dirinya sendiri sebelum mulai bercerita.
" Jadi dia itu bilang kalau aku sudah siap menjadi istri yang baik saat ku bilang aku pandai mengatur keuangan " Jelas Blair lambat-lambat.
" Lalu apa hubungannya hal itu dengan Dylan yang akan menikah ? " Potong Dera semakin bingung.
" Ish kau ini katanya pintar, masa begitu saja tidak bisa melihat jauh ke depan " Decak Blair kesal.
" Hm ? " Dera mengernyitkan keningnya, masih belum paham.
" Dylan itu sudah punya pacar Raline yang jauh lebih tua darinya. Dan coba pikir, masa anak seusia dia sudah membahas masalah istri ? Apalagi kalau bukan karena dia sudah siap menikah " Blair menjelaskan logika sepihaknya pada Dera yang tidak tau asal muasalnya duduk perkaranya.
" Itulah resikonya kalau menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua, pasti Raline akan memaksa untuk segera di nikahi, mungkin saja dia takut jadi perawan tua " Lanjutnya lagi masih memaksakan logika sepihaknya.
Dera yang cerdas namun di butakan oleh cinta itu hanya bisa menyimak penjelasan Blair dengan serius, ikut memainkan logikanya dan akhirnya percaya. Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, sepertinya sebaris lirik nyanyian salah satu diva di tanah air itu memang benar adanya, buktinya Dera yang cerdas saja di buat mati kutu oleh si onengnya Dylan.
" Tidak mungkin Dylan mau menikah muda " Sanggah Dera panik sendiri.
" Memangnya dia tidak ingin kuliah ? " Tanyanya tidak terima.
Blair hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Dera, lalu berbalik dan akan pergi melanjutkan perjalanannya ke uks.
" Kau mau kemana ? " Dera kembali menahan tangan Blair.
" Mau ke uks " Jawab Blair malas.
" Aku tidak percaya, kau pasti mau menemui Dylan " Sanggah Dera.
" PIkiran mu buruk sekali sih " Sekali lagi Blair menepis tangan Dera.
" Aku ini sedang sakit perut, tiba-tiba perutku kram. Aku mau ke uks meminta obat pereda nyeri " Jelas Blair menunjuk perutnya.
" Kau selalu bilang begitu tapi pada akhirnya kau pergi menemui Dylan " Decak Dera masih tidak percaya.
" Ya sudah kalau tidak percaya ikut saja, tapi nanti kalau kau kecewa jangan salahkan aku ya " Jawab Blair malas lalu berjalan meninggalkan Dera.
Mereka berdua berjalan beriringan tapi tak saling bicara, diam dan menjaga jarak. Dera sibuk memutar otaknya mencari celah tidak masuk akal atas kenyataan yang di ungkapkan Blair. Sedangkan Blair sibuk mengira-ngira kenapa tiba-tiba perutnya merasa kram.
Tinggal satu belokan lagi dan mereka akan sampai di uks, Blair mengusap-usap perutnya saat berbelok lalu tiba-tiba berhenti. Dera yang melamun meneruskan saja langkahnya.
" Hei anak ini " Ucap Blair menarik tangan Dera agar kembali melangkah mundur.
" Apa sih ? " Dera terhenyak dari lamunannya dan menatap Blair dengan kesal.
" Tuh lihat " Blair menunjuk arah depan mereka dengan dagunya.
Di depan sana, Kiran dan Dylan sedang asik mengobrol berdua. Tadi Dylan yang baru saja keluar dari uks berpapasan dengan Kiran yang akan masuk.
__ADS_1
Dera dan Blair memutuskan bersembunyi di balik tembok dan mengintip juga menguping pembicaraan Dylan serta Kiran.
" Kau sakit ? " Tanya Kiran saat melihat obat yang sedang di bawa Dylan.
" Tidak, ini untuk teman " Jawab Dylan salah tingkah.
" Hooo sudah punya teman sekarang " tunjuk Kiran ke arah wajah Dylan yang sedang merona merah.
" Apa sih " Decak Dylan mengalihkan wajahnya.
" Iiih malu-malu " Kiran semakin menggoda Dylan, lalu mengelus-elus kepalanya.
" Aku senang sekali melihat perubahanmu ini, kau jadi terlihat lebih bahagia sekarang. Beri tahu aku siapa orangnya ? " Tanya Kiran lembut.
Blair dan Dera yang sibuk mengintip itu tidak bisa dengan jelas mendengarkan obrolan Dylan karena suara latar yang terlalu berisik. Tentu saja, saat ini sedang jam istirahat. Namun baik Blair maupun Dera sama-sama mendelik syok saat melihat Kiran mengelus-elus kepala Dylan, terlebih lagi ekspresi Dylan yang malu-malu malah menjadi hantaman telak untuk mereka berdua.
" Nah kan apa ku bilang, kau jangan ikut aku nanti menyesal " Bisik Blair saat melihat Dera menghentakkan kakinya dan mengepalkan tangannya penuh emosi. Aku juga marah sebenarnya, tapi...
" Dasar guru genit, lihat saja aku akan mengadukannya pada kepala sekolah biar dia di keluarkan " Ancam Dera.
" Eh ? " Blair terhenyak mendengarnya.
" Kenapa kau melakukan itu, mereka dekat atau tidak kan bukan urusanmu " Cegah Blair.
" Hei kau ini bodoh atau apa sih, memangnya kau pikir ini tempat untuk saling merayu begitu ? Ini sekolah tempat untuk belajar, dan lagi dia itu seorang guru, tidak pantas bersikap mesra pada muridnya begitu " Sanggah Dera sengit.
" Tapi kan tidak perlu sampai mengadukannya, kalau nanti dia di pecat memangnya kau tidak merasa bersalah ? " Debat Blair tak mau kalah.
" Kalau benar begitu justru lebih baik, hilang satu saingan ku " Desis Dera lalu berjalan pergi meninggalkan Blair.
" Jahat sekali sih " Gumam Blair mencibir Dera lalu kembali mengamati Dylan serta Kiran yang masih mengobrol.
" Ok daah " Kiran melambaikan tangannya berpamitan pada Dylan lalu masuk ke ruang uks.
Dylan pun juga ikut melambaikan tangannya lalu berbalik dan pergi. Melihat keadaan sudah aman, Blair langsung saja berlari menuju ruang uks. Dengan buru-buru membuka pintunya bahkan tanpa mengetuk terlebih dahulu.
" Oh ? " Kiran dan Dokter jaga yang sedang duduk berhadapan itu sama-sama menoleh ke arah Blair dengan bingung.
" Ada apa Blair ? " Tanya Dokter jaga itu kemudian.
" Masuklah dulu ke ruang periksa, aku akan memeriksa mu " Perintah dokter jaga itu menunjuk ke arah ruangan di balik tirai penyekat.
Dengan sungkan Blair berjalan melewati Kiran yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
Oh my gosh !! Dia memang cantik jika di lihat dari dekat, pantas saja Dylan mau-maunya di pegang.
Batin Blair takjub lalu dengan kikuk membalas senyuman Kiran.
Di dalam ruang pemeriksaan yang tersekat oleh tirai itulah Blair berusaha menguping pembicaraan Kiran dengan dokter jaga.
" Saya sarankan anda periksa ke rumah sakit saja bu Kiran, saya takut salah mendiagnosa. Sepertinya anda harus melakukan check up total " Terdengar suara dokter jaga itu lirih.
" Begitu ya ? " Terdengar juga suara Kiran yang memelas.
Dia sakit apa sampai harus check up total ? Kasihan, kalau sampai Dera mengadu dan dia benar-benar di pecat pasti lebih kasihan lagi.
Batin Blair ikut bersimpati.
" Baiklah kalau begitu, terima kasih " Kiran bangun dan mengulurkan tangannya menyalami dokter jaga.
" Jangan sungkan bu Kiran " Jawab Dokter jaga itu membalas uluran tangan Kiran dan menyalaminya kemudian mengantarkan Kiran sampai pintu keluar.
Mendengar suara pintu tertutup Blair buru-buru keluar dari ruang pemeriksaan.
" Eh mau kemana ? Aku akan memeriksa mu " Ucap Dokter jaga yang sudah berjalan kembali ke mejanya dan terkejut begitu melihat Blair menuju pintu keluar.
" Maaf Dokter, nanti saya kembali lagi, tunggu sebentar saja " Jawabnya Blair sembari membuka pintu lalu bergegas keluar. Dia menoleh kekanan kekiri mencari keberadaan Kiran lalu segera berlari menghampiri Kiran yang masih belum jauh.
" Tunggu bu " Panggil Blair.
Kiran berhenti dan menoleh.
" Kau memanggil ku ? " Tanya Kiran.
__ADS_1
" I-iya " Jawab Blair gelagapan dan berjalan semakin mendekat.
" Ada apa ? " Tanya Kiran lembut sambil tersenyum.
" Begini... bisa kita bicara sebentar ? " Jawab Blair sungkan, senyuman Kiran yang seperti penuh kesabaran itu membuatnya semakin merasa bersalah. Dia merasa ikut andil jika sampai Kiran di keluarkan dari sekolah.
" Boleh, mau keruangan ku ? " Tawar Kiran karena sudah terbiasa menerima curhatan dari murid-muridnya, jadi dia mengira Blair juga ingin berkonsultasi padanya.
Blair celingukan mengamati situasi sekitarnya, lumayan sepi dan aman. Di sekitar ruang uks memang selalu sepi, karena hanya orang yang berkepentingan saja yang biasanya mengunjungi uks. Pura-pura sakit untuk menghindari upacara merupakan salah satu contoh fungsi lain ruang uks.
" Tidak disini saja " Jawab Blair lirih.
" Baiklah " Kiran mengangguk santai.
" Umm... begini, saya minta anda jangan terlalu dekat-dekat dengan Dylan " Ucap Blair ragu-ragu.
Mendengar nama Dylan Kiran langsung mengernyitkan keningnya lalu tersenyum lucu. Namun dia berusaha menahan ekspresinya dan berniat sedikit menggoda Blair.
" Kenapa ? " Tanya Kiran berpura-pura serius.
" Kenapa aku harus menjauhi Dylan " Tanyanya lagi.
" Ya karena anda tidak pantas saja dekat-dekat dengan seorang murid seperti itu " Jawab Blair semakin sungkan karena merasa terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, tapi demi kebaikan bersama yaitu kebaikan Dylan, Kiran dan dirinya sendiri tentu saja, maka Blair harus mengatakannya.
" Memangnya aku dekat dengan Dylan seperti apa ? " Tanya Kiran semakin serius, dia menikmati tingkah Blair yang terlihat panik. Dia lucu sekali, pantas saja Dylan gemas setiap kali bercerita tentangnya, batin Kiran berusaha menahan senyumnya.
" A-aku melihat anda mengelus-elus kepala Dylan tadi dan itu sikap yang tidak pantas di lakukan seorang guru kepada muridnya, terlebih lagi guru yang cantik seperti anda, nanti orang lain bisa salah paham dan semakin mengucilkan Dylan " Jelas Blair dengan cepat.
Woooo... perhatian juga rupanya dia pada si nunu.
Batin Kiran semakin tertarik ingin menggodanya.
" Memangnya kau siapanya Dylan ? Kau pacarnya ? " Tanya Kiran.
" Bu-bukan sih " Jawab Blair semakin mengkerut sungkan, dia merasa sudah terlalu jauh ikut campur urusan orang lain.
" Terus kau siapanya sampai mengatur siapa saja yang boleh dekat dengan Dylan ? " Kejar Kiran.
" A-aku temannya, teman sebangkunya " Jawab Kiran sedikit membusungkan dadanya, merasa percaya diri kali ini.
" Oh cuma teman sebangkunya ? " Cibir Kiran semakin memanas-manasi keadaan.
" Tidak, kami bukan cuma teman sebangku, kami lebih dari itu " Sanggah Blair mulai terpancing.
" Lalu ? " Kedua tangan Kiran bersidekap di dada dengan pandangan mata yang sedikit menantang.
" Ka-kami... " Blair bingung mencari kata yang tepat untuk menggambarkan hubungannya dengan Dylan saat ini.
" Hemm " Kiran masih menunggu jawaban Blair dengan gaya sok nya.
" Kami teman tapi mesra asal anda tau " Jawab Blair pada akhirnya. Otaknya tidak lagi bisa menemukan padanan kata yang pas untuk menggambarkannya, mengingat Dylan sudah memiliki pacar, kata cem ceman justru di nilai Blair sangat tidak tepat.
" Pfftt... " Kiran hampir saja kelepasan tawanya begitu mendengar jawaban dari Blair, dia berdehem untuk menyamarkannya.
" Oh jadi kalian teman tapi mesra ? " Jawab Kiran sambil menahan tawanya.
Aish kenapa aku bilang begitu sih, nanti kalau dia mengadu pada Dylan kan gawat. Si dodol !!
Blair memukul sendiri mulutnya yang asal bicara itu.
" Ti-tidak penting aku ini teman apanya, yang penting kalau anda masih dekat-dekat dengan Dylan, bukan cuma Dylan yang akan terkena masalah tapi anda sendiri juga " Jawab Blair berusaha serius.
" Terkena masalah ? " Kiran mengernyitkan keningnya, kali ini dia benar-benar serius mendengarkan ucapan Blair.
" Ya, di sekolah ini ada anak lain yang juga suka pada Dylan, dan dia cemburu melihat kedekatan anda dengan Dylan, jadi dia mau melaporkan anda kepada kepala sekolah " Jelas Blair.
" Siapa ? " Tanya Kiran penasaran.
" Aku tidak mau bilang, nama di rahasiakan, sebut saja dia kamboja " Jawab Blair gelagapan melihat keberanian Kiran.
" Aish aku sangat benci dengan kamboja, membuatku trauma " Gerutu Kiran kesal sendiri.
" Makanya anda tidak perlu tau, jadi jangan dekat-dekat lagi dengan Dylan, ini demi kebaikan bersama " Lanjut Blair lalu segera pergi meninggalkan Kiran yang masih kebingungan menerka-nerka siapa kah gerangan si bunga kamboja tersebut.
__ADS_1
Bodoh, bodoh, bodoh, kenapa mulutku ember sekali sih. Kalau Bu Kiran mencari tau siapa orangnya bisa terjadi perang dunia ketiga. Tapi kalau tidak di beritahu, jika Dera sampai benar-benar mengadu maka Dylan juga akan berada dalam masalah. Tidak boleh, Dylan ku tidak boleh ada dalam masalah lagi, sudah cukup dia di kucilkan. Tenang Blair, kau pasti bisa berpikir jernih di tengah situasi gawat seperti ini. Ayo otak ku yang cerdas berpikirlah jalan keluarnya.
Blair memijit-mijit pangkal hidungnya saat berjalan kembali menuju kelasnya, rasa paniknya mengalahkan rasa sakit kram di perutnya hingga dia lupa tujuan awalnya ke ruang uks.