
Ruby masih saja sibuk mengitari seluruh sudut rumahnya, memeriksanya dengan seksama. Sesekali dia menyentuhkan tangannya ke benda-benda yang ada di hadapannya, seakan meyakinkan diri bahwa semua ini bukan mimpi.
Sementara Rai duduk di sofa dengan menggendong Raline di temani Adelia, mereka berdua mengamati Ruby yang tak henti-hentinya memekik setiap kali melihat barang lamanya yang menurutnya telah hilang.
Ruby lalu berpindah pada dinding yang lain, dan pandangan matanya langsung tertuju pada ketapel yang tergantung disana.
Ruby mengernyitkan keningnya mengamati ketapel itu. Dengan perlahan-lahan tangannya terulur untuk menyentuhnya. Dia ingat ketapel itu adalah mainannya saat kecil bersama dengan teman-teman sebayanya yang ada disekitar lingkungan rumahnya. Dia sering memakainya untuk menembak pohon mangga yang ada di halamam rumahnya.
" Hm ? " Ruby menaikkan sebelah alisnya saat merasakan halusnya pahatan kayu dari ketapel tersebut. Jika di lihat sekilas ketapel itu tidak berubah sama sekali, tapi terasa jauh berbeda jika disentuh. Dulu ayahnya membuatkan ketapel itu dari batang pohon mangga yang patah, dengan tekstur kayu yang kasar dan sedikit bengkong di pangkalnya. Tapi ketapel yang di pegangnya saat ini bertekstur sangat halus dan seakan di ukir sedemikian hingga menyerupai ketapel lamanya.
" Rai ini... " Tanya Ruby mengangkat ketapelnya dengan ekspresi bingung.
" Itu seperti ketapel lamamu bukan ? Tapi itu sebenarnya pistol yang ku pesan khusus untuk mu " Jawab Rai santai.
Ruby yang bingung mendekatkan dirinya kepada Rai dengan membawa ketapel tersebut.
" Pistol apanya ? " Tanya Ruby memutar ketapel itu dan memperhatikannya dengan seksama.
" Patahkan bagian pangkalnya dan kau akan lihat tempat untuk memasukkan pelurunya, lalu patahkan lagi bagian lain dari ujungnya dan kau akan menjadikannya pemantiknya " Jelas Rai santai.
" Wuah !! " Pekik Ruby dengan mulut membentuk O bulat.
" Darimana kau mendapatkan pistol seperti ini " Tanya Ruby takjub.
" Kau bilang dulu kau suka bermain ketapel, dan saat aku membongkar barang-barangmu, aku menemukan fotomu yang berkalungkan ketapel, jadi aku memesannya langsung dari perancis agar membuatkanmu senjata dari bentuk ketapel seperti itu " Jawab Rai.
" Hei kenapa sampai berlebihan begitu " Omel Ruby mendengar penjelasan Rai, dia kembali mengamati ketapelnya dan mencoba mengubah ketapelnya menjadi pistol seperti petunjuk yang di berikan Rai. Dan lagi-lagi dirinya kembali terkejut karena benar saja ucapan Rai, hanya dalam beberapa gerakan cepat untuk mematahkan bagian-bagian dari ketapel itu maka pistol pun sudah siap.
" Pelurunya pakai apa ? " Tanya Ruby penasaran.
" Tidak ada " Jawab Rai asal, Ruby yang mendengarnya langsung menoleh kepada Rai dengan cepat.
" Sudah, gunakan sebagaimana fungsi ketapel saja " Lanjutnya acuh saat Ruby menatapnya dengan tatapan mata yang seakan mengatakan " terus kenapa kau bilang ini bisa jadi pistol rhoma !! ".
" Semula aku memang ingin menjadikannya pistol, lalu aku pikir-pikir kalau hanya untuk menembak buah mangga tidak perlu pistol kan, kau hanya perlu bilang pada pelayan kalau kau ingin buah mangga, mereka akan menyediakannya " Lanjut Rai asal, membuat Ruby semakin jengah dan memutar bola matanya.
" Baiklah, baiklah " Jawab Ruby malas lalu meletakkan kembali ketapel yang sedang di pegangnya ke dinding tempatnya semula.
" Tuan, makan malam sudah siap " Suara pelayan yang melapor itu membuat semua orang menoleh.
" Ya terima kasih " Saut Ruby lalu menghampiri Rai dan mengulurkan tangannya meminta Raline.
" Ayo makan " Ajak Rai kepada Adelia begitu Raline sudah berada di gendongan Ruby. Mereka bertiga berjalan menuju meja makan.
" Rai besok boleh kan aku main kesini lagi, aku belum puas mengitari rumah ini " Ruby meminta izin dengan sungkan.
" Kenapa harus besok ? Kau bisa menginap disini selama apapun yang kau mau " Jawab Rai santai.
" Sungguh ? " Pekik Ruby antusias, Raline yang ada di gendongannya pun sampai menggeliat karena terkejut oleh pekikan Ruby.
" Maaf maaf sayang, kau terkejut ya " Gumamnya seraya menepuk-nepuk pelan kaki Raline.
Adelia yang sudah menyelesaikan makan malamnya mengulurkan tangannya meminta Raline.
" Kau makanlah, Raline biar ibu yang menidurkannya di kamar " Ucap Adelia lembut.
" Tidak usah bu, seharian ini kami sudah banyak merepotkanmu " Jawab Ruby sungkan.
" Merepotkan apa sih, kalau kau memberikan Raline padaku dan kemudian memiliki adik untuk Raline pun aku tidak akan keberatan mengasuhnya " Jawab Adelia tersenyum menggoda Ruby.
" Itu ide yang bagus, adik untuk Raline " Celetuk Rai asal. Ruby dengan cepat menoleh ke arah Rai dan mendelik.
__ADS_1
" Raline masih bayi, bagaimana mungkin kita memikirkan adik untuknya " Jawab Ruby tertawa sungkan kepada Adelia.
" Kenapa tidak kalian masih muda, harusnya kalian memiliki anak sebanyak mungkin, biar ramai " Jawab Adelia tersenyum menggoda.
" Benar, bagaimana jika tiap tahun kau melahirkan ? " Saut Rai, lagi-lagi asal bicara.
Ruby yang sudah tidak tahan dengan ocehan-ocehan Rai pun mengulurkan Raline kepada Adelia, dan Adelia segera membawanya pergi ke kamar.
" Hei !! " Desis Ruby berbisik.
" Jangan ucapkan hal-hal yang memalukan begitu di depan orang lain " Omel Ruby lirih.
" Kenapa memangnya ? Kau tidak mau setiap tahun melahirkan ? " Tanya Rai polos.
" Aish " Decak Ruby semakin mendelik mendengar Rai mengulangi lagi pertanyaannya.
" Iya iya kau tidak akan melahirkan setiap tahun, ganti saja setiap 2 tahun " Jawab Rai asal.
" Hei !! " Pekik Ruby keras namun dia segera menutup mulutnya sendiri.
" Iya iya kita tidak akan memiliki anak lagi sampai kau siap, tapi... " Rai tiba-tiba meraih tangan Ruby dan menggenggamnya.
" Apa ? " Tanya Ruby heran begitu melihat Rai yang menaik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda.
" Ah kau tidak seru, begitu saja tidak tau " Rai menepis tangan Ruby dengan kesal, lalu melanjutkan makan malamnya di iringi decak kesal mengira Ruby tidak peka.
Ruby hanya tersenyum melihat tingkah Rai, dia pun segera menghabiskan makan malamnya, mengabaikan Rai yang masih saja memberengut kesal.
Setelah makan malam selesai, Ruby berniat menemui Adelia dan Raline yang ada di kamar, namun Rai mencegahnya dan mengajaknya pergi ke halaman depan, untuk berjalan-jalan santai. Namun baru saja keluar dari rumah, ponsel Rai berbunyi.
" Ini sekertaris Yuri, mungkin masalah pekerjaan " Ucap Rai seraya menunjukkan ponselnya yang masih berbunyi kepada Ruby.
" Baiklah kalau begitu aku akan menemui ibu saja ya, sekalian melihat Raline " Jawab Ruby dan Rai mengangguk sebagai persetujuan.
" Apa dia sudah tidur ? " Bisik Ruby saat dia membuka pintu secara perlahan.
" Ya dia tidur dengan tenang, masuklah " Jawab Adelia ikut berbisik dan melambaikan tangannya menyuruh Ruby masuk ke dalam.
Dengan perlahan dan tanpa suara Ruby menutup pintu, namun dia tidak menutupnya dengan benar dan membuat sedikit celah di antaranya.
" Bagaimana dia seharian ini ? " Tanya Ruby menatap Raline yang tertidur sangat pulas.
" Dia tenang dan tidak banyak menangis, sepertinya dia tau ini hari yang berat untuk ibunya, jadi dia sedikit meringankan beban mu mungkin " Jawab Adelia, dan kemudian menggenggam tangan Ruby.
" Bagaimana perasaanmu ? " Tanyanya serius.
" Aku baik-baik saja " Jawab Ruby dengan senyum yang di paksakan.
" Jangan memendamnya sendirian, sebaiknya kau keluarkan saja semua emosimu, lalu menjadi lebih baik, kalau kau menahannya sendirian itu hanya akan menyakiti hatimu, dan itu tidak baik untuk ASI mu " Nasehat Adelia lembut.
" Entahlah bu, aku berusaha menahannya seharian ini, tapi aku hanya membohongi semua orang " Ruby tertunduk dan menatap tangan Adelia yang sedang menggenggamnya.
" Kenapa kau tidak menangis saja sayang, dengan menangis kau bisa meluapkan semua kesedihanmu " Adelia menepuk pelan tangan Ruby. Namun Ruby malah semakin menunduk dalam, kesedihan yang seharian ini di tahannya rasanya meronta-ronta ingin segera melepaskan diri menjadi butiran-butiran air mata yang mengalir melalui matanya.
Adelia menatap Ruby penuh rasa iba, dia beringsut maju untuk memeluk Ruby, dan benar saja, begitu Adelia merangkulkan tangannya, tangis Ruby pecah seketika. Pundaknya naik turun seiring dengan tangisan tanpa suara yang keluar dari bibirnya.
" Bagaimana aku bisa menangis di depan Rai ibu, aku tidak ingin melukainya " Isak Ruby.
" Kalau begitu lepaskan saja padaku " Adelia mengelus-elus punggung Ruby untuk memberikan ketenangan padanya.
" Dia bersumpah akan menyakiti dirinya sendiri kalau melihatku menangis, jadi bagaimana bisa aku menangis di depannya. Aku tidak ingin dia terluka, aku sangat menyayanginya " Ruby semakin mengeratkan pelukannya kepada Adelia, menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
" Harusnya kau tidak menahannya sendirian sayang " Adelia menahan tubuh Ruby yang berguncang di pelukannya.
" Harusnya Kiran ada disini untuk menemanimu melewati ini " Lanjutnya lagi.
Namun Ruby hanya diam saja dan terus menangis menumpahkan semua emosinya yang seharian ini di tahannya.
Rai yang telah selesai menerima teleponnya ingin menyusul Ruby ke kamar, namun dia malah mendengar semua curahan hati Ruby kepada Adelia.
Jadi dia tau apa yang aku lakukan ? Maaf Ruby, maafkan aku malah membuatmu semakin menderita.
Dengan langkah gontai Rai beranjak pergi. Dia tidak tau bahwa dirinya lah penyebab Ruby berusaha terlihat tegar bahkan disaat terburuk dalam hidupnya, dirinya lah yang menyebabkan Ruby tidak bisa mengantar ayahnya dengan linangan air mata sebagaimana mestinya sebuah pemakaman. Dirinya lah sumber masalahnya.
Di liputi rasa putus asa yang membelitnya, Rai mengambil ponselnya dan menghubungi Kiran.
Kiran yang sedang menyiapkan tempat tidurnya melihat ponselnya di nakas bergetar kelap kelip. Sebuah panggilan masuk dan tanpa nama.
Sejenak Kiran ragu akan mengangkatnya, mengingat dirinya masih sering menerima teror telepon iseng di tengah malam. Namun ponselnya terus saja bergetar. Dengan ragu-ragu dia mengambilnya.
" Hallo... " Ucap Kiran dengan suara gemetaran.
" Hallo Kiran " Jawab Rai sungkan.
" Tu-tuan Rai " Pekik Kiran terkejut mendapat telepon dari Rai.
" Aku ingin meminta bantuanmu " Kini berganti Rai yang ragu-ragu, dia tidak ingin mengganggu bulan madu Ken dan Kiran, tapi melihat Ruby yang hancur seperti itu dan malah tidak bisa membaginya dengan dirinya, dengan terpaksa Rai harus meminta bantuan Kiran yang notabene adalah sahabat baik Ruby.
" Ya ? " Tanya Kiran gugup, sepanjang dia mengenal Rai, belum pernah sekalipun Rai meminta bantuannya, jangankan meminta bantuan, Rai bahkan tidak pernah berbicara panjang lebar dengannya, pun saat mereka berada dalam satu ruangan, mata Rai hanya tertuju pada Ruby.
" Bisakah kau pulang malam ini juga ? Ruby sedang... " Jelas Rai ragu-ragu.
" Baiklah " Saut Kiran memotong pembicaraan Rai, dia tidak tau apa yang sedang terjadi tapi jika menyangkut Ruby sudah pasti dia akan melakukan apapun untuk sahabatnya itu. Ruby bukanlah tipe orang yang meminta bantuan pada siapapun, jadi sudah pasti ini sangat penting dan mendesak hingga membuat Rai sendiri yang harus meminta bantuannya.
" Kau tidak keberatan ? " Tanya Rai dengan perasaan senang yang tidak bisa di tutupinya.
" Tentu saja, saya akan pulang malam ini juga " Jawab Kiran yakin. Firasatnya benar, terjadi sesuatu dengan Ruby, dia bisa merasakannya dari senyumnya yang terlihat dipaksakan saat mereka melakukan video call tempo hari.
" Tapi aku mohon jangan beritahu Ruby kalau aku yang memintamu pulang, Ruby sedang bersedih, ayahnya baru saja meninggal " Jelas Rai.
" Apa ? " Pekik Kiran terkejut, dia bahkan berdiri dari posisi duduknya di ranjang.
" Kenapa masalah sebesar ini harus dia sembunyikan ? " Cecar Kiran.
" Dia tidak ingin menganggumu " Jelas Rai.
" Baiklah, saya akan segera pulang malam ini juga " Kiran mengakhiri sambungan teleponnya dan langsung bergegas membereskan barang-barangnya.
Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih berselimutkan jubah mandi itupun terheran-heran melihat Kiran bersiap-siap.
" Ada apa ? " Tanya Ken bingung, melihat Kiran berjalan kesana kemari mengumpulkan semua barang-barang mereka.
" Bisa kita pulang malam ini ? Ayah Ruby meninggal dan dia merahasiakan ini dari ku " Isak Kiran, lalu dengan kesal dia membanting pakaian yang ada di tangannya yang akan dia masukkan kedalam koper. Dia jatuh terduduk dan menangis memeluk lututnya.
" Kiran... sayang... " Ken menghampiri Kiran dan menenangkannya.
" Sahabat macam apa aku yang sampai tidak sadar kalau Ruby sedang sedih, kemarin dia meneleponku, suaranya terdengar sedih tapi aku malah bercerita tentang bulan madu ku padanya " Isak Kiran semakin keras.
" Jangan menyalahkan dirimu sendiri sayang " Ken memeluk Kiran dan mengelus-elus punggungnya.
" Kita harus pulang sekarang Ken, malam ini juga " Saut Kiran di sela isak tangisnya.
" Iya baiklah, aku akan menghubungi pilot agar menyiapkan pesawatnya, barang-barang kita biar pelayan saja yang mengemasinya " Jawab Ken lembut.
__ADS_1
Dia membantu Kiran berdiri dan menuntunya ke sofa, memberikannya sebotol air mineral lalu menghubungi pihak hotel dan juga pilot agar mempersiapkan semuanya.
Bersambung...