Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Tragedi


__ADS_3

" Kau tidak lihat sih bagaimana wajahnya " Cerita Kiran menggebu-gebu di ruang keluarga bersama ke tiga anggota rangers yang lain.


Mereka semua berkumpul di sore hari yang cerah untuk membahas masalah Dylan yang sedang patah hati.


" Kan " Seru Ruby menepuk paha Rai yang ada di sampingnya dengan keras.


" Apa ku bilang, sudah pasti dia merasa putus asa, kalian sih belum apa-apa sudah menakutinya begitu " Omel Ruby kesal lalu menyilangkan kedua tangannya menatap Rai.


" Hei dia itu laki-laki, jadi dia harus bisa berpikir jauh ke depan, kalau hanya masalah begini saja dia sudah menyerah, bagaimana dia akan memimpin perusahaan yang nantinya akan di berikan ayah untuknya " Balas Rai sengit sembari mengusap-usap pahanya yang terasa sedikit panas.


Ruby dan Kiran terdiam mendengar penjelasan Rai, tentu saja mereka memiliki pola pikir yang berbeda. Bagi Kiran dan Ruby yang seorang wanita dengan hati lemah lembut, keputusan yang di ambil selalu melibatkan perasaan tanpa perhitungan. Yang penting bergerak dulu. Sedangkan bagi Ken dan Rai yang seorang laki-laki dengan didikan tegas dari Regis. Setiap langkah yang akan di ambil harus di perhitungkan terlebih dulu, mereka terbiasa menganalisa setiap keadaan sebelum membuat suatu keputusan, karena satu keputusan bisa mempengaruhi keputusan berikutnya di masa yang akan datang.


" Kalau dia memang benar-benar menyukai si dipsy itu... " Lanjut Rai, namun dia langsung mendelik tajam saat wajah ketiga orang yang kini berhadapan dengannya itu terlihat akan mengiterupsinya.


" Jangan di ralat " Sautnya cepat, membuat mereka semua langsung menutup mulut rapat-rapat.


" Kalau dia benar-benar menyukainya, harusnya dia menyusun rencana juga memprediksi kira-kira konflik apa saja yang akan muncul jika dia terus melangkah, kalau belum apa-apa sudah menyerah begini itu artinya dia tidak terlalu menyukainya " Jelas Rai panjang lebar.


" Ya juga sih, tapi mungkin saja dia tidak mengerti bagaimana harus bertindak karena sepertinya ini yang pertama baginya " Saut Ruby.


" Mungkin saja begitu, maka dari itu aku sudah menyiapkan cara agar kita bisa tau bagaimana perasaannya yang sebenarnya " Jawab Rai santai.


" Oh ya ? " Seru Kiran girang.


" Cara apa ? " Lanjutnya.


" Kalian lihat saja nanti malam " Jawab Rai santai.


🍁🍁🍁🍁🍁


Berkilo-kilo meter jauhnya dari mansion mewah milik klan Loyard, seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu di balik bantalnya.


Sudah lebih dari 3 jam dia menangis, tapi sepertinya stok air matanya masih cukup banyak untuk di keluarkan. Buktinya, meskipun telah lemas kehabisan tenaga, dia masih bisa meneteskan air mata. Di seka sebanyak apapun air itu tetap mengalir deras.


" Sudah " Sofia yang sedari tadi menungguinya itu mengelus-elus punggung Blair yang sedang membenamkan wajahnya di bantal.


" Memangnya kau tidak lapar ? " Tanyanya lembut.


Blair mendongakkan sedikit wajahnya untuk mengintip. Di lihatnya Sofia sedang duduk di tepian ranjang sembari membaca buku di satu tangannya yang lain.


" Lapar " Angguknya dengan suara serak di sela isak tangisnya.


" Makan dulu kalau begitu " Jawab Sofia santai.


" Tapi hatiku masih saja berdenyut sakit " Rengek Blair lalu kembali mengeluarkan tangisnya dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


" Haaah... " Sofia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Di tatapnya Blair yang masih awet di posisinya semula, tengkurap berbungkus selimut. Dia menutup bukunya dan menaruhnya di nakas yang ada di samping ranjang.


" Sudah cukup " Ucapnya tegas kemudian.


" Kau mau bangun atau ku panggilkan mama mu " Ancamnya. Sudah tidak punya pilihan lain lagi untuk membuat Blair diam. Mulai dari mendiamkannya dan membiarkannya menangis agar tenang sampai membujuknya makan dan pergi jalan-jalan semuanya tidak berhasil.


" Jangan ! " Pekik Blair langsung mendongakkan kepalanya.


" Makanya bangun " Sofia memukul lengan Blair dengan cukup keras.


" Aku sedang ingin tiduran begini " Kilah Blair kembali membenamkan wajahnya.


" Setidaknya jangan menangis " Seru Sofia mulai kesal.


" Tapi aku sedang sedih sekali kak, hatiku sedang hancur " Jawab Blair dari balik bantalnya.


" Hancur kenapa lagi ? " Sofia menarik tangan Blair agar dia bangun.


" Ceritakan pada ku, cepat " Lanjutnya dengan tegas begitu Blair telah duduk dan mata mereka bertatapan.


" Aku... aku.... " Jawab Blair sesegukan.


" Aku tidak tau " Blair menepis tangan Sofia yang menggenggamnya lalu kembali merebahkan dirinya. Meringkuk dan menangis lagi.


" Ya sudah lah " Jawab Sofia putus asa, lalu memilih membiarkan Blair menangis terus. Dia berjalan menuju jendela dan membukanya sedikit agar udara pengap di kamar itu berganti dengan udara segar dari luar.


Sofia adalah asisten Blair sejak dia menjadi artis, semula dia adalah salah satu pelayan di rumah keluarga Blair, tapi semenjak Blair berkarir tugasnya hanya fokus untuk mengawasi Blair saja. Di hari sabtu seperti ini biasanya dia akan sedikit sibuk untuk membantu Blair memilih pakaian juga berdandan karena dia akan pergi ke club malam.


Tapi sepertinya suasana hati Blair sedang sangat buruk untuk pergi kemanapun dan dia merasa kasihan sekali padanya. Dia menggelengkan kepalanya pasrah lalu menghempaskan dirinya ke atas sofa.


Semoga dia akan baik-baik saja malam ini.


Batinnya menatap Blair yang terbungkus selimut di atas ranjangnya.


Setali tiga uang dengan Blair yang sedang galau tingkat dewa, Dylan pun hanya diam saja menatap makan malamnya. Pandangannya dan pikirannya kosong.


" Kau ada acara malam ini ? " Tanya Rai membuka suara, memecah keheningan yang telah berlangsung lebih dari 30 menit itu.


Suasana makan malam terasa sepi karena kesedihan Dylan, membuat semua orang merasa canggung dan sungkan saat ingin bersenda gurau. Mereka semua sangat berhati-hati bahkan untuk sekedar menghela napas saja mereka harus menunggu Dylan bergerak lebih dulu. Mereka tidak ingin terlihat menari-nari di atas penderitaan saudara mereka.


Ken, Ruby dan Kiran kompak memandang Dylan, menunggu jawaban darinya. Tapi nyatanya lagi-lagi Dylan hanya diam saja memandangi piring yang ada di hadapannya.


" Dylan " Kiran menyenggol Dylan yang sedang duduk menyangga pipinya dengan wajah yang sedih.


" Eh ? Oh ? " Dylan terhenyak dan menatap ke empat kakaknya.


" I-iya ? " Tanyanya bingung.


Ruby menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya, pasrah.


" Dia benar-benar tidak tertolong lagi " Gumamnya pelan.


" Tuan Rai tanya kau ada acara tidak malam ini " Ucap Kiran mengulangi pertanyaan Rai.

__ADS_1


" Ti-tidak " Jawab Dylan gelagapan sembari mengedarkan pandangannya pada semua orang.


" Bagus kalau begitu, kau gantikan tugas ku bekerja malam ini. Aku ada urusan yang lebih penting " Ucap Rai sambil kembali memakan makanannya.


" Tu-tugas ? Tugas apa ? " Tanya Dylan semakin gelagapan bingung, selama ini dia tidak pernah mendapat tugas apapun dari Rai. Dan bayangan Dylan tentang tugas yang di maksud Rai adalah memukuli orang atau yang berhubungan dengan dunia hitam klan Loyard atau semacamnya.


" Sudah nanti kau akan tau sendiri, aku sudah memberi tahu sopir, dia akan mengantar mu " Jawab Rai santai berteka-teki.


" Ta-tapi... " Potong Dylan cepat, dia merasa tidak akan mampu melakukan tugas apapun yang di berikan oleh Rai dalam kondisinya yang sedang labil saat ini. Terlebih lagi hari sudah sedikit malam, dia ingin tidur saja untuk melupakan Blair sejenak.


" Sudah turuti saja " Saut Ken santai.


" Daripada kau hanya di rumah suntuk dan galau tidak jelas, ada baiknya kau mulai belajar sedikit demi sedikit tentang bisnis keluarga " Lanjutnya kemudian.


" Baiklah " Jawab Dylan lemas, dia merasa tidak enak kalau harus menolak perintah Rai. Dia sudah merasa lebih dari bersyukur bisa di terima di keluarga yang tidak pernah mempermasalahkan identitas dan asal usulnya jadi bagaimana dia bisa menolak saat kakak-kakaknya memberi perintah.


" Kalau begitu setelah makan malam bersiap-siaplah, pakai pakaian yang rapi, kau membawa nama klan kita " Perintah Rai lagi.


" Iya kak " Jawab Dylan pelan, sejenak Blair memang menghilang dari kepalanya tergantikan sederet bayangan berbagai macam tugas yang akan dia kerjakan.


Tukang pukul ? Tukang tagih hutang ? Atau tukang....


Batin Dylan bertanya-tanya sendiri, sama sekali tidak bisa menebak kira-kira tugas apa yang di bebankan padanya.


Setelah makan malam Dylan kembali ke kamarnya, melaksanakan tugas pertama dari Rai yang menyuruhnya bersiap-siap.


" Pakaian yang rapi ? " Gumamnya sembari mematut dirinya di depan cermin seluruh badan yang ada di ruang gantinya.


" Batasan pakaian yang rapi itu bagaimana ya ? " Lanjutnya memutar-mutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Dia telah memakai setelan jas yang entah bagaimana caranya sudah memenuhi lemari pakaian Dylan, atau mungkin memang sudah ada disana sejak pertama Dylan kemari tapi dia tidak pernah menyadarinya, entahlah, yang jelas ada begitu banyak setelah jas yang melekat pas di tubuhnya jika di pakainya.


" Ah tidak-tidak, aku terlihat sangat tua " Gelengnya meragu. Dia membuka kancing jasnya dan kemudian melepaskannya. Melemparkannya begitu saja di atas kursi yang ada di sana.


" Jangan berpikir kalau tugas itu seperti tugas kantoran yang membutuhkan setelan jas " Lanjutnya mengoceh sendiri.


" Kalau aku harus jadi tukang pukul maka bukankah aku harus terlihat santai sekaligus mengintimidasi " Dylan mendekap satu tangannya di dada dan tangan yang lain mengetuk-ngetuk bibirnya. Berusaha menentukan pilihan pada tumpukan baju di lemarinya.


" Ok yang ini saja " Ucapnya mantap lalu mengambil atasan kaos berwarna hitam yang di padukan dengan celana jeans hitam juga.


" Nah begini baru seperti tukang pukul " Serunya girang karena menemukan style yang sesuai menurutnya. Dia telah selesai bersiap dengan pakaian serba hitam yang terlihat santai namun sekaligus mengintimadasi .


Dengan tambahan jaket hoodie hitam juga topi hitam, dia bisa menyembunyikan wajahnya dengan cukup baik dan terlihat sangat meyakinkan sebagai tukang pukul.


" Ok berangkat " Dia mengepalkan tangannya penuh tekad. Karena telah belajar bela diri dari para ahlinya, Dylan menjadi lumayan percaya diri jika harus menghadapi sedikit hantaman.


Dylan pun pergi ke ruang keluarga untuk menemui Rai yang telah memberikannya tugas. Bisa Dylan dengar suara dentangan jam antik yang berbunyi 10 kali yang artinya dua jam lagi menuju tengah malam.


" Kak aku sudah siap " Ucapnya begitu masuk ke dalam ruang keluarga.


" Wooo kau tampan juga bergaya seperti itu " Puji Kiran bertepuk tangan.


" Memangnya kenapa kak ? Bukankah ini style dari kak Rai yang selalu memakai pakaian serba hitam saat akan bekerja " Jawab Dylan bingung sembari mengamati sendiri penampilannya.


" Tapi kan tidak di suasana hati mu yang sedang galau seperti sekarang " Saut Ruby cepat.


" Sst... " Desis ketiga anggota rangers yang lain mendelik ke arah Ruby.


Dylan tampaknya sudah sedikit kembali bersemangat setelah menerima tugas dari Rai, tapi berkat ucapan Ruby bahu Dylan yang semula tegap langsung merosot lagi.


Pikirannya kembali terisi penuh oleh Blair dan itu membuat dadanya berdenyut nyeri lagi.


" Maaf " Ucap Ruby sungkan dan memaksakan senyumannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Dasya " Teriak Dimitri dari bawah tangga, dia sudah berdiri di sana lebih dari 5 menit. Kesabarannya mulai habis saat dia melihat jam tangannya.


" Kenapa dia lama sekali, bukankah seharusnya dia sudah pergi ke club setengah jam yang lalu " Geramnya kesal sendiri sembari memukul besi pembatas tangga rumahnya.


Sofia yang mendengar teriakan dari ayah Blair itu mulai panik, tapi Blair masih meringkuk di atas kasur berbalut selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


" Blair ayo pergi, jangan begini, nanti ayahmu marah " Ajak Sofia gelisah.


" Aku tidak mau kak, aku ingin tidur saja malam ini " Rengek Blair dengan suara serak. Sepertinya air matanya sudah mulai berhenti tapi dia masih merasa lemas. Bagaimana tidak, dia melewatkan sisa harinya hanya dengan menangis saja, dia juga melewatkan makan malamnya.


" Hei kau harus pergi, kau tidak dengar suara papa mu mulai terdengar kesal, ayolah jangan begini " Ucap Sofia panik, sesekali dia melihat ke arah pintu kamar Blair, takut tiba-tiba tuannya yang tempramental itu sudah berdiri di baliknya.


" Tidak mau, sekali tidak mau tetap tidak mau " Jawab Blair tegas.


Baru saja Sofia akan menghela napas jengah, suara gebrakan pintu yang di buka dengan kasar itu terdengar, di susul dengan bayangan wajah Dimitri yang merah maroon.


" Aish belum juga bernapas sudah muncul di sana " Gumam Sofia semakin panik, dia mengguncang-guncang tubuh Blair, berharap Blair yang oneng itu paham kodenya dan segera membuka selimutnya.


" KENAPA BELUM BERANGKAT ? " Teriak Dimitri dengan keras. Saking kerasnya bahkan Sofia mengira dia sedang ada di taman safari dan melihat singa mengaum di hadapannya.


" Se-sepertinya nona B-Blair se-sedang tidak enak badan tu-tuan " Jawab Sofia gelagapan takut.


" Sakit apa ? " Kejar Dimitri dengan tegas sembari berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


" Sa-sakit dada " Jawab Sofia semakin mengkerut takut, dia ingin mundur menjauh tapi langkahnya sudah mentok bersinggungan dengan ranjang Blair.


" Sakit dada ? " Ulang Dimitri dingin tak percaya.


" Mm... sakit jantung ? " Ralat Sofia takut-takut, dia sendiri juga tidak tau Blair sakit apa, yang dia tau Blair hanya bilang hatinya hancur, jadi sudah pasti dia menderita sakit hati. Tapi Dimitri bukanlah tipe orang yang mau mendengarkan alasan, dan tidak mungkin juga memberitahu kalau Blair sedang sakit hati.


" Sakit jantung ? " Dimitri yang sudah bertatapan sejajar dengan Sofia itu mencondongkan tubuhnya ke arah Sofia.


" M-m-mungki tuan " Jawabnya dengan suara gemetaran, dia sampai harus mencondongkan tubuhnya ke belakang menghindari tubuh Dimitri yang semakin mendekat padanya. Tatapan mata Dimitri yang penuh kilatan kemarahan itu seakan mampu menelan bulat-bulat Sofia.

__ADS_1


" Aku tidak peduli " Sentak Dimitri kemudian sembari menarik selimut yang membungkus tubuh Blair lalu membuangnya dengan kasar ke lantai.


" Pergi ke club sekarang juga dan temani Andromeda " Perintahnya dengan suara menggelegar setelah dia menegakkan tubuhnya. Di liriknya Blair yang sedang meringkuk dengan mata terpejam. Berpura-pura tidur.


" Ba-baik tuan " Jawab Sofia menganggukkan kepalanya dengan cepat lalu berbalik menghadap Blair.


Aduh kenapa dia malah pura-pura tidur sih, memangnya dia pikir itu akan berhasil.


Omel batinnya kesal sekaligus takut.


" Blair bangun " Sofia mengguncang-guncang tubuh Blair. Tapi Blair masih tetap saja diam tak bergerak.


" Aduh... ku mohon jangan begini, bangunlah " Rengek Sofia berbisik, semakin ketakutan.


" DASYA !! " Teriakan Dimitri membuat Sofia berjengit kaget, yang di khawatirkannya terjadi juga. Sikap membangkang Blair sangat tidak di sukai oleh Dimitri, dan dia tidak akan sungkan-sungkan menggunakan kekerasan untuk membuat Blair atau siapapun menuruti perintahnya.


" Hei bangunlah, ku mohon " Bisik Sofia semakin keras mengguncang tubuh Blair. Setan apa yang merasuki Blair hingga nekat membangkang meski tau dia akan tetap kalah.


" Kau tau papa cuma bisa menghitung sampai 3, kalau sampai kau tidak bangun papa akan menyeretmu tak peduli meski tanganmu patah sekalipun " Ancamnya mengangkat tangannya, melipat 2 jarinya, jari manis dan kelingking dan hanya menyisakan 3 jari yang lain. Pertanda akan mulai menghitung.


" Satu " Dimitri mulai menghitung dan Sofia semakin panik, dia menatap Blair yang masih saja keras kepala berpura-pura tidur.


" Dua " Lanjut Dimitri mulai meninggikan suaranya. Kini hanya tersisa ibu jarinya yang belum terlipat, dan begitu jari itu terlipat Dimitri pasti langsung mengambil tindakan tanpa jeda.


Kalau ingin mati setidaknya pilihlah kematian yang indah Blair.


Batin Sofia panik.


" Ti... "


" Pa " Teriakan Blair memotong ucapan Dimitri yang akan memasuki hitungan terakhirnya.


" Tidak bisakah papa mengerti kondisi ku sekali saja ? " Protesnya kesal dengan suara bergetar. Dia bangun perlahan-lahan dan duduk di tepian kasur di samping Sofia.


" Tidak " Jawab Dimitri acuh, mendelik marah dengan otot-otot wajahnya yang menegang.


" Aku tidak mau tau kondisi mu sekarang, yang aku mau tau sekarang hari sabtu dan kau harus pergi ke club " Geramnya di sela-sela giginya yang terkatup rapat.


" Papa egois sekali, aku selalu menuruti papa selama ini, tapi kenapa papa tidak bisa berbuat sebaliknya " Teriak Blair melayangkan protesnya.


" Selama ini papa selalu menyuruhku melakukan hal-hal yang tidak ku sukai, tapi aku selalu menurut, sekarang suasana hati ku sedang buruk tapi papa terus memaksa ku melakukan hal-hal yang tidak ku sukai " Lanjut Blair dengan isak tangisnya lagi.


Tidak ada yang seapes dirinya, mendapat perlakuan dingin dari orang yang dia sayang dan sekarang mendapat teriakan dari ayah yang dia benci. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.


" Itulah gunanya seorang anak, kau melakukan perintah orang tua, kau mewujudkan semua keinginan orang tua " Jawab Dimitri dingin, menatap Blair dengan mata merahnya.


" Kalau aku tidak mau ? " Tantang Blair pelan. Hatinya yang sudah hancur sekarang seakan menjadi serpihan debu. Lembut tak terlihat.


" Kalau kau tidak mau lalu apa gunanya kau menjadi anak ku " Balas Dimitri sinis.


Cukup sudah. Blair tidak tahan lagi, dia berdiri dari duduknya dan menatap Dimitri dengan tajam.


" Memangnya aku yang minta jadi anak mu ? " Jawab Blair dingin.


" Kalau tau aku akan terlahir menjadi anak seorang yang serakah seperti mu, lebih baik aku tidak usah lahir saja " Teriak Blair putus asa. Selama ini memendam kekesalan pada Ayahnya dan sekarang pecah sudah.


" Dasar bocah tidak tau di untung " Maki Dimitri dengan tangan yang melayangkan tamparan di pipi Blair.


Inilah anti klimaksnya, sebuah tamparan keras itu membuat Sofia yang jadi penonton dalam diam terhenyak kaget. Selama ini dia memang sering melihat Dimitri berteriak-teriak dan membanting barang-barang jika sedang marah, tapi baru kali ini dia melihat Dimitri menampar Blair. Mungkin karena selama ini Blair selalu patuh dan mengiyakan saja perintah Dimitri jadi Dimitri jarang sekali marah padanya. Biasanya dia hanya akan membentak Blair sekali lalu sudah, Blair akan menurut lagi padanya.


Mungkin memang benar Blair sedang kerasukan hingga berani menantang ayahnya, begitu pikir Sofia.


" Jaga ucapan mu, kau kira bisa seenaknya bicara begitu pada papa karena kau sudah bisa menghasilkan uang sendiri ? Jangan harap " Ancam Dimitri kemudian.


" Kalau kau tidak mau berangkat sekarang, maka uang mu akan papa cairkan dan alihkan ke dalam rekening papa " Lanjutnya.


Ancaman Dimitri mampu membuat Blair menyerah, jika sampai uang hasil jerih payahnya selama ini di ambil oleh Dimitri maka dia tidak akan bisa bebas selamanya dari penjara ini.


Dengan isak tangis pasrah Blair mengangguk menuruti perintah Dimitri.


" Baiklah aku akan pergi " Jawabnya pelan sambil menyeka air matanya.


" Bagus, cepat bersiap " Perintah Dimitri menatap Sofia dan Blair bergantian.


" Papa akan menunggumu di bawah dalam 15 menit " Lanjutnya kemudian berbalik dan keluar dari kamar.


Blair langsung jatuh terduduk begitu pintu tertutup.


" Sstt... sayang sayang " Sofia memeluk erat Blair yang sedang bersimpuh di lantai.


" Jangan menangis, jangan menangis, kau gadis tegar bukan, jadi jangan menangis " Sofia berusaha menenangkan Blair dan menepuk-nepuk punggungnya.


Namun Blair masih terus menangis tanpa suara.


Dylan aku butuh kau sekarang.


Ratap batinnya pilu.


Di tengah suasana haru itu ponsel Sofia yang ada di nakas bergetar, dia meliriknya dengan kesal. Siapa kiranya yang mengiriminya pesan malam-malam begini pada seorang jomblo di sabtu malam minggu.


Dengan satu tangan dia mengambil ponselnya dan membuka pesannya.


Rekan atau saudara anda tiba-tiba saja bertindak di luar kebiasaannya seperti sedang kerasukan ?


Atau bingung menghadapi atasan yang suka marah-marah dan tempramental ?


Kami solusinya.


Buka praktek dukun online.

__ADS_1


Sofia meremas ponselnya dengan geram, kenapa harus ada pesan spam di tengah keributan ini, merusak suasana saja, pikir Sofia kesal.


__ADS_2