Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pertemuan


__ADS_3

" Bu Kiran " Teriak Blair berlari ke arah Kiran yang sudah menyerang Megan dengan satu sepatu hak tingginya dan langkah yang pincang karena tidak seimbang.


" Bu Kiran jangan bu " Blair memeluk pinggang Kiran dari belakang, berusaha menariknya.


Tapi jiwa Suketi yang sedang menuntut balas itu masih terus saja menyerang dengan membabi buta, membuatnya lupa semua gerakan taekwondo yang telah di ajarkan Ken maupun Ruby. Begitulah, otak selalu kalah oleh nafsu. Namun Megan juga tak kalah beringas. Dia yang telah terlatih untuk baku hantam di club malam itupun berhasil menjambak rambut Kiran.


" Dasar perempuan sinting " Teriak Megan menarik lepas sanggul sederhana milik Kiran hingga rambutnya yang panjang tergerai.


" Mau kau apakan Ken ku hah ?! " Teriak Kiran tak kalah nyaring, dia berhasil meraih kerah baju Megan dan menariknya serta beberapa kali menggetok kepala Megan dengan hak sepatunya.


Kedua perempuan beringas itu benar-benar berantakan. Aksi cakar mencakar, jambak menjambak, tarik menarik itupun terlihat sangat mengerikan bagi Blair juga asisten Megan.


" Tolong... tolong " Teriak sang asisten juga sembari memeluk Megan dari belakang, berusaha melerainya.


Sementara itu Rai, Ruby, Ken serta Dylan juga tukang photographer yang sedang berjalan menuju ruang tunggu itupun samar-samar mendengar teriakan minta tolong dari arah dalam. Merasa panik mereka semua berlari, hanya Rai saja yang terlihat acuh dan tetap berjalan santai.


Si photographer lah yang pertama membuka pintu dengan keras dan langsung melongo melihat keadaan yang kacau balau di dalam sana. Lalu di susul dengan Ruby, Ken dan Dylan yang menyusup masuk.


" Kiran? " Pekik Ruby syok.


" Sayang? " Teriak Ken kaget.


" Kakak? " Seru Dylan bingung.


Kedua wanita yang sedang berkelahi itupun berhenti dan menatap kedatangan mereka. Blair juga tak kalah terkejutnya.


" Raline ? " Dia menatap ke arah Ruby.


" Sayang ? " Lalu beralih pada Ken.


" Kakak ? " Dan beralih lagi pada Dylan. Kosong. Begitulah isi pikiran Blair saat ini, dia menyerah. Menyerah untuk menyimpulkan bagaimana lagi benang merah di antara mereka semua. Dia sudah tidak sanggup memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain di kepala. Dia melepaskan pelukannya pada Kiran dan memperbaiki penampilannya yang juga sedikit acak-acakan.


Hari apa sih ini, kenapa bisa ada kejadian begini, lalu apa hubungan mereka semua, kenapa bisa ada disini.


Batinnya bingung sendiri menatap Dylan, Ken dan Ruby secara bergantian.


Kiran yang merasa malu di tatap oleh keluarganya itupun melepaskan cengkramannya pada baju Megan dan menunduk.


" Tuan Ken " Tapi tidak dengan Megan, dengan percaya dirinya dia merengek manja dan berlari menghampiri Ken.


" Wanita sinting itu tiba-tiba saja menyerangku " Tunjuknya pada Kiran.


" I-itu aku... " Kiran mencoba membela diri, namun saat dia melihat tangan Megan bergayut manja di tangan Ken, jiwa Suketinya kembali berkobar.


" Hei lepaskan tanganmu dari su... " Teriaknya dan akan berlari menghampiri Megan, namun Blair buru-buru memeluknya lagi, mencegah lebih tepatnya.


" Jangan bu Kiran, jangan... " Cegat Blair panik sekuat tenaganya.


" Jangan halangi aku " Teriak Kiran meronta-ronta. Dan memandang Megan dengan kilatan mata ala super saiya.


" Aaarrgghh !!! " Tiba-tiba saja sebuah teriakan melengking dengan nada tinggi, Kiran dan Blair berhenti seketika.


" Hei siapa kau " Sentak Megan menatap Ruby yang sedang memelintir tangannya ke belakang. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun cengkraman tangan Ruby jauh lebih kuat.


" Hei kau ini bodoh atau bagaimana sih " Teriak Ruby pada Kiran.


" Menghadapi wanita begini saja sampai membuatmu berantakan begitu " Omelnya kesal.


Ok aku benar-benar tidak paham lagi apa yang mereka bicarakan.


Batin Blair semakin bingung. Dia melihat Ruby yang di sangkanya Raline datang bersama Ken dan Dylan serta Rai. Semula dia mengira Ruby ada di pihak kawan karena memiting tangan Megan untuk Kiran, tapi mendengar omelan Ruby dia juga jadi ragu, apakah Kiran dan Ruby juga bermusuhan.


Pikiran-pikiran Blair seperti benang kusut yang tidak bisa di urai, matanya fokus ke arah Ruby yang sedang memelintir Megan, tapi hatinya fokus kepada Dylan, semakin menambah rumit otak onengnya.


" Itu... itu... " Jawab Kiran gelagapan, malu dengan tutor taekwondonya.


" Lepaskan tangan ku " Megan masih meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.


" Aish berisik sekali sih " Rai yang semula diam saja bersandar di pintu dan menyaksikan semuanya itu mulai buka mulut.


Mendengar suara Rai yang terlihat kesal, mereka semua berhenti dan tertegun. Kalau sampai membuat marah sang big boss, maka tanggal kematian mereka rasanya sudah secara otomatis tercetak di batu nisan.


Blair semakin menghela napas berat, dulu hidupnya yang monoton dan santai itu mendadak berubah genre menjadi thriller. Apa lagi ini.


" Kau... " Rai berjalan mendekat ke arah Megan dan berhenti tepat di hadapannya.


" Aku membatalkan kontrak kerja sama dengan mu, tapi aku akan membiarkan mu selamat. Jadi cepat pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran " Ancamnya dingin pada Megan.


Aura yang di keluarkan Rai bukan main-main, jika bisa di gambarkan oleh kartunis, maka suasana saat ini tak ubahnya film fantasi Harry Potter, dimana Rai berperan sebagai dementor yang bisa menyedot kebahagiaan di sekitarnya dan bergantikan rasa seram.


" Tuan, tidak bukan begitu " Rengek Megan dengan suara manja, mencoba mengeluarkan pesonanya untuk merayu Rai.


" Dia yang lebih dulu menyerangku " Dia menunjuk Kiran dengan dagunya, dan masih meronta-ronta berusaha melepaskan tangannya dari pitingan Ruby.


" Aish dasar wanita sialan, ku bilang lepaskan aku " Sentaknya pada Ruby.


" TUTUP MULUTMU " Suara bentakan Rai menggema di seluruh penjuru ruangan itu, bersamaan dengan selaras senjata api yang mengarah tepat di kening Megan.


" Berani-beraninya kau menyebutnya wanita sialan " Geramnya dengan sorot mata yang tidak di buat-buat.


" Kau memang tidak tau di untung, aku melepaskanmu karena kau tidak mengusiknya sama sekali, tapi tidak kali ini. Terakhir kali ada yang menghinanya aku membuatnya terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma dan satunya di terbaring di pemakaman. Jadi kau mau pilih yang mana? " Tanya Rai dingin sembari menengadahkan wajah Megan dengan senjata yang di pegangnya.


Bohong jika Megan tidak merasakan gemetaran. Ruby yang memeganginya sudah mengeluarkan segenap tenaganya untuk menahan tubuh Megan agar tidak ambruk ke lantai.


" M-m-ma-maaf tu-tuan " Dengan sisa-sisa keberaniannya Megan mengucapkan hal itu, lalu tubuhnya merosot karena Ruby telah melepaskan pitingannya. Jika tadinya dia berusaha melepaskan diri, tapi kali ini rasanya dia ingin terus berpegangan pada tangan Ruby. Di tatap Rai dengan begitu mengerikannya membuat seluruh ototnya terasa lumpuh.


" Pergi kau " Perintah Rai dingin.


Tak perlu di ulangi dua kali Megan langsung lari terbirit-birit keluar dari ruangan tersebut di susul dengan asistennya yang juga takut melihat kejadian itu.


Dari semua wajah yang tertegun itu, hanya satu wajah yang terlihat sangat frustasi. Sang photographer itu mengusak rambutnya ke belakang. Jika Megan di pecat dari proyek ini lalu dimana lagi dia akan mencari penggantinya. Tidak mungkin bukan hanya Blair seorang yang menjadi modelnya untuk tema valentine. Apa mereka harus membuat konsep " Aku Jomblo dan Aku Bahagia " begitu kah? Melakukan pemotretan tidak bisa hanya sekali dua kali, belum mengeditnya, lalu merapatkannya, dan serangkaian proses yang panjang. Dan tenggat waktunya sudah sangat mepet.


Namun dia hanya memendamnya sendiri, suasana hati Rai yang masih buruk menjadi alasannya. Dia tidak ingin bernasib sama seperti Megan jika harus membahas hal itu sekarang.


" Kau ini ya " Ruby berjalan mendekati Kiran dan memukul lengannya dengan keras.


" Sakit " Rengek Kiran memelas.


" Biar saja, biar sakit sekalian " Ruby semakin keras memukul lengan Kiran.


Blair yang masih bingung hubungan di antara keduanya itupun ingin melerai, namun takut oleh Rai, mengingat Megan hampir saja di habisi hanya karena menghina Raline, begitu dia mengira-ngira.


Mungkin sepertinya Raline adik tuan Rai, lalu dia berpacaran dengan Dylan, dan dia teman bu Kiran. Ya mungkin saja begitu. Lalu kalau begitu kenapa pak Ken ikut meneriakinya tadi ?

__ADS_1


Blair masih saja berkutat dengan rangkuman hipotesa-hipotesanya yang sama sekali jauh dari kebenaran.


" Kau tidak apa-apa ? " Tanya Ken ikut mendekat, dia mendongakkan wajah Kiran dan memeriksanya dengan cepat.


" Ya aku tidak apa-apa, hanya rambutku saja yang rontok karena di jambak perempuan itu " Jawab Kiran malu-malu.


" Biar botak sekalian " Omel Ruby ketus tapi sikapnya berkebalikan, dia malah ikut merapikan rambut Kiran dengan lembut dan hati-hati.


Pak Ken suka padanya.


Blair seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang memenuhi kepalanya, dan hanya ini yang seratus persen benar.


" Kalian masih mau tetap disini atau pulang ? " Suara Rai memecah lamunan Blair, dia ikut menatap Rai yang berdiri tepat di sebelah Dylan sembari sesekali melirik lelaki yang membuat jantungnya berdegub kencang itu.


" Tidak apa-apa, kami disini saja " Jawab Ruby santai.


" Emm.. ma-maaf tuan " Sela tukang photographer itu sebelum Rai kembali bertanya pada Ruby. Rai beralih menatapnya dengan senjata yang masih menggantung di tangannya.


" Glek " Dia menelan salivanya saat melihat senjata itu, namun demi kesejahteraan bersama dia harus berani bertanya.


" Be-begini... ka-kalau modelnya di pecat lalu... " Tanyanya terbata-bata dan sangat hati-hati.


Semua orang pun menyadari hal itu dan menatap photographer dengan perasaan bersalah, terlebih lagi Kiran.


" Aku punya gantinya " Potong Rai cepat, sudah terlihat lebih santai. Namun meskipun begitu senjata di tangannya seolah masih menjadi momok bagi sang photographer tersebut.


" Si-siapa tuan ? Biar saya menghubunginya, karena kita harus bergegas " Jawabnya ragu-ragu, tidak ingin terlihat seperti memerintah.


" Dia " Rai menunjuk Dylan dengan senjata yang masih di pegangnya.


" Tidak!! " Hanya Blair yang berteriak panik dan semuanya terlihat santai-santai saja. Bahkan yang sedang di todongkan senjatapun tidak memiliki reaksi sama sekali.


Semua orang berputar menatap Blair dan memandangnya bingung.


" Kau tidak suka dia menjadi partner pemotretanmu atau kau tidak suka aku mengacungkan pistol padanya ? " Tanya Rai jahil dengan wajah terlihat menyeramkan.


" A-a-a... " Padahal Blair berusaha keras menjawab pertanyaan Rai, tapi hanya mulutnya saja yang komat-kamit sedangkan suaranya lirih tak terdengar.


" Kau ini apa-apaan sih, aku tidak mau " Dylan membuka suara dan dengan santainya menepis tangan Rai yang menodongnya.


" Kau tidak mau ? " Tanya Rai santai.


" Iya kenapa tidak mau? " Ruby ikut antusias bertanya pada Dylan dengan wajah penuh binar berharap Dylan merubah keputusannya.


" Mau saja, ya, ya... " Kiran pun ikut merengek agar Dylan menerima tawaran itu.


Entah harus senang atau sedih melihat hal itu, Blair hanya bisa tersenyum kikuk. Di satu sisi dia sangat bahagia jika dia akan melakukan pemotretan dengan Dylan, tapi di sisi lain dia akan merasa dadanya terus berdenyut nyeri karena jelas Dylan akan di temani Raline sepanjang hari ini. Bagaimanapun dia tidak akan sanggup seumpama mereka tiba-tiba bersikap mesra. Dalam pikiran Blair tentunya.


" Tidak mau " Jawab Dylan acuh lalu berjalan keluar ruangan.


Namun Rai tidak kehilangan akal, dia mengajak Ken dan juga sang photographer untuk menyusul Dylan, membujuknya agar mau menjadi model dadakan. Atau mengancam ya? Mungkin yang kedua lebih tepat, mengingat watak Rai yang suka sekali memaksa.


Kini hanya tinggal Kiran, Ruby dan Blair di ruangan itu. Suasana terasa canggung bagi Blair. Dia tersenyum kikuk dan mempersilahkan kedua wanita di depannya itu untuk duduk.


" Kau manis sekali sih " Tapi tiba-tiba saja Ruby langsung memeluk Blair.


" Ma-manis ? " Tanya Blair bingung. Bagaimana bisa Raline bersikap sok kenal sok dekat dengannya begitu, pikirnya.


" Jadi bagaimana ? Bagaimana semalam ? " Kejar Ruby antusias, malah dia yang menarik Blair agar duduk bersamanya.


Di apit dua wanita yang belum jelas asal usul dan hubungannya ini membuat Blair semakin canggung dan bingung.


Apa begini ya rasanya selingkuhan yang harus akrab dengan kekasih sahnya ? Sesak.


Jerit batinnya putus asa namun harus tetap tersenyum.


" Kosong ? " Tanya Ruby bingung.


" Artinya belum, bahasa anak jaman sekarang " Jelas Kiran santai.


" Yaaah " Lenguhan kecewa meluncur dari bibir mungil Ruby, dia menatap Blair dengan prihatin dan kemudian menepuk punggungnya pelan.


" Sabar ya " Dia menguatkan Blair.


Blair sendiri, yang otaknya oneng, malah semakin bingung dengan pembicaraan mereka. Topik apa ? Apa yang di bahas ? Dia tidak tau sama sekali.


" Hei kenapa kau tadi bertengkar dengan perempuan itu ? " Ruby beralih bertanya pada Kiran.


" Dia menghina Ken, mengatainya anak pungut dan berencana merebutnya dari ku " Jelas Kiran kembali ketus dan menyandarkan punggungnya di sofa.


" Apa ?! " Pekik Ruby kaget.


" Kalau tau begitu tadi harusnya aku mematahkan tangannya dan merobek mulutnya saja, dasar valakor, kenapa kau tidak... " Omelnya ketus panjang lebar.


Glek! Blair yang hanya menjadi pendengar dalam diam itupun menelan ludahnya dengan takut. Melihat Ruby mengumpat dan bicara soal hajar menghajar membuat nyalinya ciut. Bukankah dia bisa masuk kategori valakor juga kalau begitu? Mengingat dia dan Dylan sangat dekat dan juga sangat mesra.


Blair semakin mengkerut di apit kedua wanita yang menurutnya sama-sama bar-bar itu, yang satu bertarung dengan hak sepatunya dan yang satu bertarung dengan mulutnya.


Tuhan... kenapa begini hidupku, apa salah dan dosa ku.


Batinnya menangis pilu, takut dia juga akan di hajar oleh Ruby jika tau dia dan Dylan pernah sedekat itu.


" Menurutmu Dylan mau tidak jadi model dadakan itu ? " Mendengar nama Dylan di sebut oleh Kiran membuat kesadaran Blair kembali. Rasa-rasanya hanya Dylan yang ada di kepalanya.


" Mau, tenang saja. Rai pasti punya cara untuk memaksanya " Jawab Ruby santai.


" Mm.. anu " Takut-takut Blair membuka mulutnya. Dia baru ingat saat Ruby dan Kiran membahas soal ini.


" Ke-kenapa kau tidak khawatir melihat tuan Rai mengacungkan senjatanya pada Dylan? " Tanyanya terbata-bata. Dia berusaha bersikap senetral mungkin dan menyembunyikan kekhawatirannya.


" Khawatir ? " Ulang Ruby mengerutkan keningnya bingung.


" Aaah... ini tidak seperti yang kau bayangkan, Rai tidak akan mungkin menembak kepala Dylan, kau tenang saja. Cem-ceman mu aman " Jawab Ruby sembari terkekeh.


" Cem-ceman ? " Blair sedikit syok mendengar itu dari mulut Ruby, bagaimana dia bisa tau bahasa "cem-ceman". Setahunya anak gaul jaman sekarang akan menyebutnya gebetan, dan hanya dirinya saja yang menggunakan bahasa itu agar lain daripada yang lain.


Blair semakin mengkerut takut, jika Ruby tau Dylan adalah cem-cemannya, kenapa dia masih bersikap santai dan tidak menghajarnya seperti katanya tadi.


" Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud merebut Dylan darimu. Memang benar kami dekat dan dia sangat perhatian padaku, tapi percayalah kami tidak lebih dari teman tapi mesra, dia sepertinya sangat setia padamu, kau tidak perlu khawatir " Jelas Blair panik sendiri, mungkin dia memang takut di hajar oleh Ruby, tapi ketakutan terbesarnya adalah dirinya menjadi perusak hubungan orang lain.


" Kau ini mengoceh apa sih ? " Tanya Ruby bingung mendengar racauan Blair.


" Bu-bukannya kalian berhubungan ? " Blair malah balik bertanya, bingung sekaligus takut.

__ADS_1


" Ya kami memang punya hubungan " Jawab Ruby juga ikut bingung.


Oke ini seperti kontes siapa yang lebih bingung.


" Makanya itu, kau jangan salah paham " Jelas Blair dengan pelan-pelan.


" Aku tau kau punya hubungan dengan Dylan. dan aku sendiri juga bingung bagaimana awalnya aku dan dia menjadi dekat. Dia bilang karena dia merasa bersalah dengan penyakit jantungku yang padahal aku sendiri tidak punya penyakit jantung, lalu dia semakin mendekat, kita semakin dekat dan aku tanpa sadar telah jatuh cinta padanya. Tapi Dylan tidak pernah bilang dia menyukaiku, itu cuma aku. Mungkin bisa di bilang cintaku bertepuk sebelah tangan " Blair mengeluarkan semua isi kepalanya, yang sedetik kemudian di sesalinya.


Hei bodoh, bodoh, bodoh !! Kan dia tidak tau aku dan Dylan berhubungan dekat, bagaimana kalau setelah ini dia paham dan kemudian mematahkan tanganku juga merobek mulutku?


Batinnya panik sendiri, lalu secara reflek dia menutup kedua pipinya dengan tangannya.


Dengan takut-takut dia menatap Ruby yang sedang memasang ekspresi aneh menurutnya.


" Jadi kau juga menyukainya ? Kau jatuh cinta padanya ? " Teriak Ruby dengan antusias yang tidak di tutup-tutupi.


" I-iya " Jawab Blair semakin bingung. Dia girang ? Bukannya harusnya dia marah sekarang ?


" Kau dengar itu Kiran, dia juga menyukai Dylan " Teriakan Ruby masih mendominasi suasana, dan kali ini Kiran pun ikut girang dan memeluk Blair dari samping.


" Aku sudah yakin akan hal itu " Ucap Kiran sembari menggoyang-goyang tubuh Blair dengan kencang.


" Dylan... Dylan.... Dylan " Seru Ruby ikut memeluk Blair dari sisi yang lain.


" Umm... permisi " Blair mencoba mengiterupsi uforia aneh itu.


" Kenapa kalian girang begitu ? " Tanya Blair ragu-ragu.


Apa ini semacam memberikan kebahagiaan lebih dulu sebelum mengeksekusi terdakwa? Pikir Blair.


" Tentu saja kami girang, karena ternyata kau menyukai Dylan " Jawab Kiran cepat.


" Memangnya kau tidak cemburu aku menyukai kekasihmu ? " Tanya Blair lagi. Ruby dan Kiran langsung melepaskan pelukan mereka bersamaan dan menatap Blair dengan kening yang berkerut dalam.


Ish ! Salah pertanyaan kan !


Batin Blair menciut di tempatnya.


" Kenapa aku harus cemburu ? " Tanya Ruby balik bertanya.


" Bukankah kau kekasihnya ? " Jawab Blair ragu-ragu.


" Hahaha... " Tawa Ruby dan Kiran pecah begitu mendengar ucapan Blair, mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perut mereka.


" Hei memangnya kau tidak lihat wajahku ? Apa menurutmu wajah begini pantas berpacaran dengan anak di bawah umur begitu? Maaf mengecewakanmu tapi aku bukan tante-tante kesepian " Jawab Ruby sembari terkekeh.


" Ternyata kau memang benar sepolos itu ya " Timpal Kiran juga sambil tertawa.


" Tu-tunggu dulu " Blair mulai menyusun sesuatu di otaknya.


" Jadi kau bukan pacar Dylan ? " Tanyanya sekali lagi pada Ruby.


" Bukan lah, ada-ada saja kau ini " Jawab Ruby mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu keras tertawa.


" Jadi kalau begitu kau siapa ? " Tanya Blair.


" Aku kakak ipar Dylan, namaku Ruby " Jawab Ruby santai.


" Aku juga kakak iparnya " saut Kiran.


" Tidak mungkin, Dylan itukan anak tunggal dan yatim piatu " Sanggah Blair.


" Ya kau benar kalau masalah itu, tapi karena satu dan lain hal dia jadi punya 2 kakak dan 2 kakak ipar " Jelas Kiran.


" Aku tidak paham " Gumam Blair semakin bingung.


" Baiklah akan aku jelaskan, tapi tolong rahasiakan ini ya " Ruby membenarkan posisi duduknya dan mengatur suaranya.


" Aku istri Rai... " Ruby memegang dadanya sendiri.


" Dan dia istri Ken " Tunjuknya pada Kiran yang di jawab dengan anggukan santai dari Kiran.


" Hah ?!? " Blair menutup mulutnya sebelum menjerit histeris, dengan mata yang membulat dia bertanya pada Ruby.


" Sungguh? " Suaranya lirih tercekat.


" Iya tapi tolong rahasiakan ini ya, aku tidak suka menjadi pusat perhatian " Jawab Ruby dengan tersenyum.


" Rahasiakan juga statusku, mungkin guru-guru di sekolah sudah tau semua, tapi selebihnya tidak ada, aku tidak ingin membuat kehebohan di sekolah atau di mana pun dengan membuka identitasku " Saut Kiran juga dengan tersenyum santai.


Blair langsung berdiri dan memberikan hormat 90 derajatnya kepada Kiran dan Ruby.


" Maafkan saya nyonya, saya benar-benar tidak tahu " Ucapnya panik, bagian mereka berdua adalah kakak ipar Dylan kalah dengan kenyataan bahwa mereka berdua adalah nyonya besar di klan Loyard.


" Ish apa sih, sini duduk " Ruby meraih tangan Blair dan menariknya agar kembali duduk di tengah-tengah mereka berdua.


" Jadi bagaimana Dylan ? " Tanya Ruby sembari menaik-naikkan alisnya menggoda.


" I-i-itu... " Blair berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan itu, kejutan dari kedua wanita di sampingnya sukses membuat napasnya tersengal-sengal.


Eh tunggu dulu...


Hati Blair yang sedang berbunga-bunga itupun di hentikan oleh otak onengnya.


Kalau dia Ruby, kakak iparnya Dylan... itu artinya benar-benar ada wanita bernama Raline yang jadi kekasih Dylan dong?


Tiba-tiba saja pikiran itu muncul secara ajaib di kepalanya.


" Bagaimana ? " Kiran kembali mengulang pertanyaan Ruby karena melihat Blair yang masih saja bengong.


Blair akan membuka mulutnya bertanya perihal Raline, namun suara ponsel Ruby mengurungkan niatnya.


" Kau dimana ? " Tanyanya begitu dia menjawab teleponnya.


" Baik akan aku jemput " Setelah mengatakan hal itu dia mematikan sambungan teleponnya dan menatap Blair juga Kiran.


" Jangan cerita dulu, aku mau menjemput Raline di lantai bawah " Ucapnya kemudian segera berdiri dan berlari keluar ruangan.


Jadi Raline memang benar-benar nyata? Jangan !!!


Jeritan suara hati Blair.


Pertemuan yang kuharapkan, kini jadi kenyataan...

__ADS_1


Suara lagu dari si raja dangdut yang telah di aransemen ulang dengan musik jazz itupun menggema di seluruh penjuru pusat perbelanjaan, seakan menjadi original soundtrack untuk hati Blair yang kacau.


__ADS_2