Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Buka Praktek


__ADS_3

" Ada apa ? " Tanya Kiran begitu masuk ke ruangan Ken.


" Tidak apa-apa hanya sedang kangen saja padamu " Jawab Ken berjalan mendekat ke arah Kiran, menyambutnya dengan pelukan.


Menurutnya bukan saat yang tepat memberitahukan perihal Dera yang ternyata adalah si kamboja yang di maksud Kiran. Suasana hati Kiran yang berubah-ubah bisa menjadi boomerang untuknya sendiri jika sampai Kiran tau tentang Dera.


" Tumben, biasanya kau tidak pernah bersikap begini kalau di jam kerja " Jawab Kiran menelisik wajah Ken, merasa ada yang aneh dengan suaminya itu.


" Memangnya salah aku memeluk istri ku sendiri ? Kalau perlu aku juga bisa mengumumkan kepada seluruh sekolah kalau kau adalah istri ku " Jawab Ken berpura-pura ketus agar terlihat normal.


" Memangnya apa untungnya kalau kau mengumumkan pernikahan kita, toh seluruh guru di sekolah ini juga sudah tau " Cibir Kiran.


" Ya kan masih ada sebagian orang yang belum tau, lagipula aku rasa ini juga demi kebaikan mu " Jawab Ken sembari merapikan poni tipis Kiran.


" Tidak perlu, tidak ada untungnya untuk ku " Tolak Kiran santai, melepaskan pelukan Ken dan berjalan menuju sofa kemudian duduk menyandarkan punggungnya.


" Sayang aku ingin makan yang pedas-pedas " Ucap Kiran sembari berpikir, ingin makanan pedas yang seperti apa, pedas berbumbu, pedas sambal, atau pedas berkuah.


" Memangnya kau ingin makan apa ? " Tanya Ken ikut duduk di samping Kiran.


" Apa ya... " Gumamnya masih belum menemukan makanan yang pas untuknya.


" Ceker setan ? " Tawar Ken menyumbangkan ide, Kiran sangat menyukai makanan itu saat sedang stres.


" Mmm " Kiran menggeleng, masih belum mendekati selera lidahnya saat ini.


" Spicy chicken wings level 5 " Tawar Ken lagi sembari mengingat-ingat deretan makanan pedas kesukaan Kiran.


" Tidak " Kiran masih menggeleng.


" Lalu kau ingin makan apa ? " Tanya Ken mulai sedikit tidak sabaran. Dia sudah mencium gelagat berbahaya dari sikap Kiran saat ini.


" Aku ingin makan makanan yang pedasnya bisa membuatku berkeringat dan menghilangkan kantuk " Jawab Kiran masih berusaha memilih deretan bayangan makanan di kepalanya.


" Apa ya ? " Gumam Ken ikut berpikir keras. Dia bukan tipe seorang penjelajah makanan, apa yang di siapkan para koki dia akan memakannya selama itu memang bisa di makan. Dan lagi Pak Handoko sangat ketat mengatur asupan nutrisi yang di hidangkan untuk anggota keluarga Loyard. Makanan yang di hidangkan tidak boleh terlalu pedas juga terlalu manis, harus yang sedang-sedang saja.


" Aha ! " Seru Kiran akhirnya memutuskan makanan apa yang dia inginkan.


Melihat Kiran yang sudah membuat keputusan, Ken langsung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Bersiap menelepon restoran yang kiranya menyediakan makanan yang Kiran inginkan nanti.


" Apa ? Makanan apa ? Biar ku pesankan untuk mu " Jawab Ken sembari bersiap-siap dengan jempolnya di atas ponsel.


" Aku mau makan salad buah yang di jual di depan minimarket depan sekolah " Jawab Kiran mantap.


" Salad buah ? " Tanya Ken bingung. Bagian mananya dari salad buah yang terasa pedas ? Pekiknya dalam hati tak habis pikir.


" Di tukang salad buah itu buah-buahannya lengkap, jadi aku suka sekali " Jawab Kiran antusias.


" Kau mau kan membelikannya untuk ku ? " Rengek Kiran sambil menggoyang-goyangkan lengan Ken.


" Aku tidak tau tempatnya " Jawab Ken bingung.


" Di depan minimarket. Di sebelah cafe yang kemarin kan ada minimarket, lalu di depannya ada tukang salad buah yang enak sekali, belikan ya, ya, ya " Rengek Kiran lagi.


" Pesan di restoran saja ya, restoran itali kan juga bisa membuat salad buah " Tawar Ken mengalihkan keinginan Kiran karena dia yakin kalau Kiran pasti akan menyuruhnya untuk membeli dengan kedua tangannya sendiri.


" Aku tidak suka, rasanya terlalu lidah luar negeri " Jawab Kiran bergidik mual membayangkan sepiring sayuran mentah yang di siram minyak zaitun dengan perasan air lemon itu. Rasanya aneh, begitu pikir Kiran saat pertama kali mencoba salad sayuran ala restoran itali. Dan pikirnya pasti salad buahnya juga akan berbeda rasa dengan selera lidahnya yang lokal-lokal saja.


" Baiklah kalau begitu akan ku suruh Pak Dim saja yang beli, pekerjaan ku masih banyak " Jawab Ken beralasan.


" Oh jadi kau akan menyuruh Pak Dim ? " Tanya Kiran dengan datar, jika di lihat dari perubahan nada suaranya, maka mode gaharnya sebentar lagi akan menyala kalau Ken tidak buru-buru meralat ucapannya.


" Tidak " Saut Ken cepat dengan salah tingkah.


" Aku baru mau memperjelaskan kalau aku akan meminta Pak Dim menemaniku untuk membelinya, kan aku tidak tau tempatnya " Jawab Ken dengan senyum kikuknya.


" Bagus " Kiran mengacungkan jempolnya.


" Tadinya aku sempat mengira kalau kau akan menyuruh pak Dim untuk membelinya, tapi aku percaya kau tidak mungkin menyuruh orang lain kan saat istrimu yang memintanya, karena yang aku tau suami ku bukan orang yang seperti itu " Jelas Kiran bangga lalu memeluk Ken, membenamkan wajahnya di dada Ken.


" Tentu saja dong " Jawab Ken dengan sangat meyakinkan.


" Mana mungkin aku tidak menuruti keinginan istri ku yang cantik ini " Lanjutnya sambil mengelus-elus kepala Kiran, berusaha menahan tangannya agar tidak mencubit hidung Kiran karena gemas melihat sikap istrinya yang sedang PMS itu.


" Ya sudah kalau begitu ayo beli sekarang, aku akan menunggu mu di ruang guru saja, jangan lupa belikan untuk para guru yang lain ya " Ucap Kiran melepaskan diri dari pelukan Ken lalu mencium pipinya.


" Daah " Pamitnya kemudian pergi ke luar dari ruangan.


" Ini tidak boleh di biarkan, aku harus menemukan dukun yang sakti mandraguna untuk mengobati Kiran " Jeritnya putus asa dan mau tidak mau dia harus pergi sendiri untuk membelikan makanan Kiran.


Dia tidak berani berbuat curang di belakang Kiran, karena dia sendiri belum yakin apa yang akan Kiran lakukan selanjutnya, bisa saja dalam sekejap dia berubah pikiran lagi dan memutuskan ikut pergi saja. Entahlah, hanya Kiran dan Tuhan yang tau bagaimana pikiran Kiran bekerja.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dylan dan Blair berjalan sambil berpelukan dengan posisi yang tidak nyaman. Dylan sendiri harus menjaga jarak amannya saat memeluk Blair dari belakang karena tidak ingin celananya juga ikut terkena noda darah haid Blair.


Sementara Blair berjalan dengan kikuk karena syok bercampur malu. Kenapa harus Dylan yang selalu saja menemukannya dalam keadaan yang memalukan. Pertama bra hitam, kedua pingsan dan ketiga adalah yang terparah menurutnya. Memang bukan aib jika seorang wanita mengalami haid, yang menjadi aib adalah "tembus" nya itu yang kadang memang tidak di sadari oleh sebagian wanita saat tamu bulanannya datang.


" Nah sampai, duduk dulu disini " Dylan mendudukkan Blair yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan mata kosong.


" Aku pergi dulu " Ucap Dylan kemudian berbalik badan.


" Tunggu " Blair meraih tangan Dylan.


" Kau mau kemana ? " Tanyanya masih dalam keadaan bengong.


" Aku mau kembali ke kelas mengambil jaket ku " Jawab Dylan santai.


" Lalu bagaimana dengan haid ku ? " Tanya Blair masih syok, otaknya gelap dan kosong tidak ada apapun yang terlintas di kepalanya saat ini.


" Iya kau tenang saja, aku akan membelikan mu pembalut " Jawab Dylan santai lalu mengusak kepala Blair.


" Tunggu di sini saja, jangan kemana-mana " Lanjutnya tersenyum jahil meledek Blair.


" Hehehe... " Blair tertawa kecut.


" Memangnya aku bisa kemana dengan pakaian seperti ini, kau pandai sekali kalau bercanda " Geram Blair antara kesal bercampul malu. Bisa-bisanya Dylan menganggap remeh masalah seperti ini.


" Hahaha " Gelak tawa Dylan membahana dengan cukup keras di perpustakaan yang sepi itu, membuat penjaganya sampai mendongakkan kepalanya untuk melihat Dylan dan Blair.


Mentang-mentang perpustakaannya sepi, tertawa sampai sekeras itu.


Batin penjaga perpustakaan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


" Ya sudah aku pergi dulu, nanti keburu jam istirahat habis atau kau akan terjebak disini sampai jam pulang sekolah " Ucap Dylan berbalik badan dan segera pergi.


Blair yang masih di liputi kekacauan itu membenamkan wajahnya di atas meja, menendang-nendang lantai dengan kakinya.


Ambyar, ambyar, ambyarrrr !!!!

__ADS_1


Teriak batinnya.


Dylan berjalan buru-buru menuruni tangga, lalu berbelok dan melewati lorong menuju gerbang depan.


Dia akan pergi ke minimarket yang ada di depan sekolah untuk membelikan Blair pembalut juga celana dalam sekali pakai yang biasanya di jual bebas di minimarket modern.


Sebenarnya di kantin sekolah juga menyediakan lengkap kebutuhan semacam itu, tapi akan jadi tanda tanya besar jika Dylan yang membelinya disana. Jadi demi keamanan juga kenyamanan bersama Dylan akan membelinya di luar area sekolah.


Letak minimarket itu tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya perlu di tempuh dengan lima menit berjalan kaki.


" Selamat datang, selamat belanja " Sapa pramuniaga penjaga minimarket ramah begitu Dylan masuk ke dalam.


Membeli pembalut di minimarket merupakan pertama kalinya untuk Dylan, jadi dia harus berkeliling lebih dulu mencari dimana letak pembalut itu.


Ketemu, di rak bagian perlengkapan kebutuhan wanita.


Dia berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan rak display pembalut. Terdapat berbagai macam pembalut dari berbagai merk. Semuanya memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Extra daun sirih, extra panjang, extra kering, dan ekstra-extra yang lain. Dylan memilihnya dengan serius dan berhati-hati.


Sementara itu sebuah mobil sport berwarna merah mentereng terlihat memasuki pelataran parkir minimarket itu dan berhenti tepat di depannya.


" Mana penjual salad buahnya ? " Gumam Ken bertanya sendiri, dia celingukan mencari penjual salad buah yang menurut petunjuk Kiran berjualan di depan minimarket tersebut. Namun sejauh mata memandang, Ken tidak melihat pedagang kaki lima satu pun yang berjualan di sekitar sana.


Ken merogoh saku jasnya, mencari benda pipih yang terbuat dari kaca anti gores tersebut.


" Hm ? " Keningnya berkerut saat tidak menemukan alat komunikasinya itu, tangannya beralih turun mencari ke saku celananya, namun juga kosong. Dia beralih mencarinya di dalam laci dashboard mobil tapi juga tak ketemu.


" Aish !! " Decaknya kesal saat ingat bahwa dirinya meninggalkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja ketika dirinya terlalu syok mendengar permintaan Kiran tadi.


Ken turun dari dalam mobilnya, menoleh kesana kemari mencari seseorang untuk di tanyai, namun di jam-jam kerja seperti ini tidak ada orang-orang yang berkeliaran. Dia melihat ke dalam minimarket, seorang pramuniaga sedang duduk di depan komputer kasir.


Daripada pulang dengan tangan kosong dan membahayakan nyawanya sendiri, Ken lebih memilih masuk dan bertanya pada pramuniaga tersebut.


" Selamat datang, selamat belanja " Sapa pramuniaga itu dengan suara lantang.


Ken langsung berjalan mendekat ke arahnya.


" Ada yang bisa saya bantu ? " Tanyanya pada Ken.


" Umm begini, saya ingin bertanya apa di sekitar sini ada tukang penjual salad buah ? " Tanyanya ragu-ragu.


" Salad buah ? " Ulang pramuniaga itu mengernyitkan keningnya.


" Iya menurut informasi penjual salad buah itu biasa berjualan di depan minimarket ini " Jawab Ken.


" Maafkan saya kak, saya pegawai baru di sini, baru 2 hari bekerja, jadi saya tidak tau " Jawabnya sungkan.


" Ah begitu ya " Ken mengangguk-angguk maklum. Tamat sudah riwayatnya, dimana lagi dia harus mencari tukang penjual salad buah, batinnya merana.


" Sebentar saya tanyakan pada senior saya dulu " Ucap Pramuniaga itu sopan.


" Iya terima kasih " Jawab Ken tersenyum lega. Selamat, batinnya menghela napas.


Pramuniaga itu keluar dari meja kasirnya dan berjalan menuju salah satu deretan rak display yang ada disana, menghampiri rekannya yang sedang menata barang-barang. Ken mengikutinya dengan pandangan matanya.


" Hm ? " Dia memincingkan matanya saat melihat sesosok tinggi jangkung yang terlihat sedang serius mengamati sesuatu itu.


" Itu Dylan " Gumamnya pelan memastikan.


" Sedang apa dia di sini ? " Tanyanya pada diri sendiri. Ken lalu berjalan menghampiri Dylan.


" Hei " Panggilnya setelah yakin bahwa itu adalah Dylan.


" Oh hai kak " sapanya tanpa terkejut sama sekali.


" Sedang apa kau disini ? " Tanya Ken berjalan mendekatinya.


" Sedang memilih-milih ini " Jawab Dylan masih serius menatap deretan pembalut yang ada di depannya.


" Memilih apa sih ? " Ken ikut menolehkan kepalanya melihat barang apa yang sedang di pilih Dylan dengan seriusnya.


" Hei !!! " Pekiknya berteriak, membuat Dylan juga kedua pramuniaga yang sedang berbicara itu terhenyak kaget dan menoleh ke arah Ken. Dia melihat kedua pramuniaga itu menatapnya dengan heran dan Ken membalasnya dengan senyum kikuknya sambil menunjuk Dylan.


" Kau sudah gila ya !!! Untuk apa kau memilih barang seperti ini !! " Desis Ken langsung memiting leher Dylan.


" Aww...aw sakit kak, lepaskan " Teriak Dylan memukul-mukul tangan Ken yang menghalangi saluran pernapasannya itu.


" Jawab dulu " Desis Ken semakin mengeratkan pitingannya.


" Iya iya lepaskan dulu " Jawab Dylan meronta-ronta. Ken melepaskannya lalu menatapanya dengan marah.


" Kau jangan macam-macam ya " Ancam Ken kemudian.


" Dengan siapa kau akan melakukannya " Tanyanya sedikit marah.


" Melakukan apa ? " Kali ini ganti Dylan yang bingung dengan maksud Ken


" Melakukan ****.... aish !! Kau ini masih pelajar, jangan terjerumus dengan pergaulan bebas seperti itu " Ken masih di liputi kekesalannya hingga yang dia pikirkan adalah Dylan sedang membeli sarung pengaman alih-alih melihatnya sebagai pembalut.


" Pergaulan bebas apa sih ? " Decak Dylan kesal lalu mengabaikan Ken dan mengambil satu bungkus pembalut dan membaca komposisinya.


" Itu kan barang yang untuk... " Tunjuk Ken pada pembalut yang di pegang Dylan. Namun dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya karena saking syoknya.


" Untuk menstruasi maksud mu ? " Jawab Dylan santai.


" Oh ? " Seperti tersadar oleh ucapan Dylan Ken langsung merebut bungkusan berwarna pink itu, membalik-baliknya dan mengamatinya dengan seksama.


" Oh ya " Gumam Ken menghela napas lega saat tidak melihat gambar sepasang kekasih di sampul luarnya.


" Aneh " Decak Dylan kesal lalu merebut kembali pembalut itu dari tangan Ken dan kembali membaca tulisan-tulisan kecil yang tercetak disana.


" Tinggal beli saja kenapa pakai di baca segala sih ? " Tanya Ken ikut mendekat dan membaca bungkusan pembalut itu.


" Aku harus memeriksa komposisinya dulu, apakah akan membuat iritasi atau tidak " Jelas Dylan.


" Oooh " Ken membulatkan bibirnya sambil mengangguk-angguk.


" Tulisannya aneh begitu memang kau tau apa yang membuat alergi ? " Tanya Ken menunjuk sederet tulisan istilah yang tidak dia mengerti sama sekali artinya.


" Kau ini " Lagi-lagi Dylan berdecak kesal dan menatap Ken yang benar-benar tidak paham.


" Ini artinya tambahan pemutih, dan ini bisa menyebabkan iritasi terhadap pemakainya " Jelas Dylan sambil menunjuk deretan kata-kata istilah ilmiah.


" Kalau begitu cari saja yang tidak ada tambahan pemutihnya " Jawab Ken santai mengangkat bahunya.


" Tidak bisa semua pembalut ada bahan tambahan pemutihnya, jadi sebaiknya cari yang kadar tambahan pemutihnya sedikit saja " Jawab Dylan juga santai.


" Oh begitu " Ken mengangguk-angguk saja mendengar penjelas Dylan.


Ken bahkan membantu Dylan untuk mecarikan pembalut yang kadar tambahan pemutihnya lebih sedikit dari yang di pegang Dylan.

__ADS_1


" Nah ini " Seru Ken mengambil sebuah pembalut dengan bungkusan berwarna hitam.


" Lihat tulisannya, bebas pemutih dan bebas pewangi " Ucap Ken menyodorkan pembalut itu pada Dylan.


Dylan mengambilnya dan membaca dengan seksama komposisinya, lalu mengangguk setuju.


" Iya ini sepertinya bagus, aku ambil yang ini saja " Jawabnya kemudian.


" Nah kan apa ku bilang " Celetuk Ken sombong.


Kedua pramuniaga yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka itu hanya bisa melongo bingung. Bagaimana tidak, dua orang laki-laki dengan tampang yang sangat tampan sedang berdiskusi tentang pembalut wanita. Mereka menelisiknya dari atas sampai bawah, tidak ada yang aneh dengan gelagat kedua makhluk itu, tapi kenapa bisa mereka terjebak pembicaraan semacam itu.


" Kakak, apa kau pernah membaca komposisi dari pembalut yang akan kau beli " Tanya Pramuniaga pertama kepada seniornya yang juga sedang melongo di sampingnya.


" Boro-boro membaca kandungannya, aku bahkan mencari yang paling murah karena toh barang itu juga akan di buang " Jawabnya menggelengkan kepala.


Pramuniaga pertama itu berjalan mendekati Ken dengan takut.


" Umm... permisi tuan " Ucapnya ragu-ragu. Gadis remaja yang baru lulus sekolah dan memasuki dunia kerja itu pertama kalinya melihat laki-laki model begitu. Karena dulu semasa sekolah teman-teman dan masalahnya hanya berkutat seputar PR, ujian dan nilai saja.


" Ya ? " Jawab Ken santai menoleh pada gadis yang sedang berdiri di sampingnya dengan mengkerut takut.


" Menurut senior saya, ternyata yang berjualan salad buah adalah cafe sebelah, di sini tidak ada tukang penjual salad buah " Jelasnya takut-takut.


" Ah begitu ya, terima kasih kalau begitu " Jawab Ken tersenyum ramah. Dan gadis itu langsung pergi dari hadapan Ken dengan buru-buru, kembali pada seniornya karena takut.


Bukan tanpa alasan, dia sering melihat di tv kalau biasanya orang dengan kelainan hasrat rata-rata berwajah tampan dan memikat. Membuat korbannya terjatuh dalam pesonanya dan akhirnya terjadilah yang harus terjadi.


" Hei kau sudah selesai kan ? Ayo. Aku akan memberikan tumpangan untukmu " Ajak Ken.


" Iya ayo, sebentar aku bayar ini dulu " Jawab Dylan lalu berjalan menuju meja kasir sementara Ken berjalan keluar dan menunggunya di depan mobil.


" To-totalnya lima puluh ribu, ada tambahan lagi ? " Tanyanya takut-takut dan menjaga jarak.


" Ah ya tolong satu jamu herbal pereda nyeri haid ya " Jawab Dylan santai.


Pramuniaga itu langsung berlari tergopoh-gopoh mengambilkan sebotol minuman pereda nyeri haid yang terbuat dari bahan herbal tersebut.


" Totalnya jadi lima puluh tujuh ribu semuanya " Ucapnya lirih.


" Ah ya " Dylan mengambil dompetnya dan menyerahkan uang satu lembar lima puluhan dan satu lembar sepuluh ribu.


" Ambil saja kembaliannya " Ucap Dylan tersenyum ramah lalu mengambil kantong plastik belanjaannya.


" Haaah !!! " Seru kedua pramuniaga itu merosot lega begitu Dylan keluar dari minimarket.


" Ayo " Ajak Dylan yang langsung berjalan menuju kursi penumpang.


" Eh tunggu dulu " Cegat Ken menahan Dylan.


" Tadi kan aku sudah membantu mu, sekarang gantian " Ucap Ken tersenyum lebar.


" Apa ? " Tanya Dylan mengerutkan keningnya.


" Belikan salad buah di cafe itu, Kiran ingin makan salad buah, sekalian beli juga untuk guru-guru yang lain " Perintah Ken kemudian memberikan kartu kreditnya pada Dylan.


" Ok " Jawab Dylan santai, cuma membeli salad buah saja, pikirnya enteng.


Setelah menunggu cukup lama, Dylan pun kembali sambil membawa tas belanja berisi berbox-box salad buah.


" Nih " Dylan mengulurkan tas belanja itu dengan santai.


" Ku belikan khusus untuk kak Kiran, yang spesial " Lanjutnya bangga.


" Sip " Ken mengacungkan jempolnya.


Dan mereka berdua masuk ke dalam mobil kemudian pergi kembali ke sekolah.


Setelah sampai di sekolah, Ken dan Dylan berpisah di parkiran. Ken berjalan menuju ruang guru sedangkan Dylan langsung berjalan menuju lantai 2, ke perpustakaan menemui Blair yang pasti sudah menunggunya dengan harap-harap cemas.


" Sayang " Panggil Ken begitu memasuki ruang guru.


Semua guru yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Ken dan tersenyum malu-malu. Kiran yang di panggil tapi mereka semua yang ikut malu.


" Ini " Dia mengulurkan kantong belanjaan yang berisi salad buah untuk para guru, dan satu lagi yang terpisah untuk Kiran yang spesial.


" Terima kasih " Jawab Kiran girang menerima tas belanjaan itu dan membagikannya pada guru-guru yang lain.


" Terima kasih bu Kiran, pak Ken " Ucap guru-guru dengan serempak.


" Sama-sama " Jawab Ken ramah dan mengajak Kiran pergi ke ruangannya untuk memakan salad buahnya.


" Aku tadi bertemu Dylan di minimarket " Cerita Ken saat mereka sudah berada di dalam ruangannya dan duduk di sofa.


Kiran yang sedang membuka salad buahnya itu mengernyitkan keningnya bingung.


" Kenapa Dylan pergi ke sana ? " Tanyanya.


" Membeli pembalut " Jawab Ken santai.


Kiran yang baru saja menyuapkan salad buahnya itu tersedak mendengar jawaban Ken.


" Dia membelinya untuk siapa ? " Tanya Kiran terkejut. Namun Ken malah diam saja sambil melongo.


" Aku lupa tanya dia beli untuk siapa " Jawabnya kikuk.


" Hei kau ini, harusnya kau itu bertanya dia membelinya untuk siapa, membeli barang seperti itu kan artinya dia sudah melangkah terlalu jauh, " Pekik Kiran memukul lengan Ken.


" Aish !!! " Rutuknya kesal.


" Kenapa aku tidak berpikir kesana ya ? " Makinya kesal pada diri sendiri.


" Dasar kau ini " Decak Kiran kesal.


" Sayang, salad buahnya terlalu manis, aku ingin makan ceker setan saja deh " Lanjutnya dengan manja dan mendorong kotak salad buah itu menjauh.


" A-apa ? " Tanya Ken dengan kesal yang tertahan, tiba-tiba saja kepalanya terserang migrain.


Ting tung !!! Suara pesan di ponselnya membuatnya terkejut. Masih dengan rasa kesalnya dia mengambil ponselnya dari atas meja dan membukanya.


Istri atau suami anda sering marah-marah tidak jelas ?


Atau sering berubah-ubah keputusan ?


Kami solusinya.


Buka praktek dukun online


Setidaknya begitulah penggalan isi pesan yang dia baca, seakan juga ikut-ikutan mengejek kesialannya.

__ADS_1


__ADS_2