
Hari terasa sangat panas karena matahari bersinar tepat di atas kepala, semua siswa sudah mulai menunjukkan gejala-gejala kelaparan dan mulai mendesahkan napas panjang di sela-sela jam belajar.
Mereka semua tampak sangat suntuk, bolak balik melihat jam dinding besar di atas papan tulis. Berharap jarum jam akan bergerak dengan kecepatan 200km/jam dan bel makan siang segera berdentang.
Beberapa anak bahkan mulai menutupi wajahnya dengan buku pelajaran, menyembunyikan matanya yang hanya tinggal 5 watt saja. Dan beberapa lagi sibuk marathon menguap mengusir kantuk yang mampir.
Namun semua keadaan itu berbanding terbalik dengan Dylan, dia justru terlihat sangat bersemangat dan bahagia. Dengan khidmat menyimak setiap kata yang di ucapkan oleh guru pengajar.
Semua sumber semangat dan kebahagiaannya tak lain karena beban rasa bersalah di hatinya telah lenyap. Mengetahui Blair baik-baik saja sudah membuatnya di banjiri perasaan lega yang tak terperi dan baginya jam berputar sangat cepat.
Hingga akhirnya waktu yang di tunggu murid-murid pun tiba, bel makan siang terdengar nyaring di telinga para pencari ilmu tersebut. Dengan pekikan riang mereka mengemasi barang-barang mereka dan langsung menghambur ke luar kelas.
Dera yang tidak ingin kehilangan kesempatan lagi segera berlari keluar kelas tanpa membereskan lebih dulu buku-buku pelajarannya. Dia ingin segera bertemu dengan Dylan dan menanyakan kenapa dia masih saja mengabaikannya.
Dengan buru-buru dia menuju kelas Dylan, melewati dua ruangan hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Dera tertegun di depan pintu, dia melihat Dylan yang sedang merapikan buku-bukunya dengan santai.
Mendadak pandangan matanya kabur, tertutup oleh genangan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. Perlahan berjalan mendekat ke arah Dylan yang masih saja berkutat dengan buku-bukunya.
" Kenapa ? " Tanyanya getir begitu sampai di depan bangku Dylan. Sekuat tenaga berusaha menahan perasaannya yang campur aduk.
Mendengar sebuah suara Dylan mendongakkan kepalanya dan sedikit terkejut melihat Dera sudah berdiri disana.
" Apa ? " tanyanya bingung.
" Apa ? " Dera mengulang kata-kata Dylan, sudah tidak tau lagi harus bagaimana menjelaskan padanya.
" Kau tanya apa ? " Ulangnya sarkas.
Dylan memiringkan kepalanya bingung, di tatapnya Dera yang sedang berdiri mematung.
" Entah kau memang tidak tau atau pura-pura tidak tau, tapi sikapmu itu sangat menyakitiku " Jelas Dera dengan suara tercekat. Dylan menghela nafas jengah, satu masalah terselesaikan kini muncul masalah baru yang tidak jelas asal muasalnya.
" Kau ingin bicara apa ? " Tanyanya dengan sabar, dia tidak ingin melibatkan dirinya lagi dalam kubangan rasa bersalah atau rasa yang lainnya, sudah cukup hanya Blair yang menyiksanya sampai seperti itu, pikir Dylan.
" Kenapa kau mengabaikan pesanku ? Aku melihat status whatsup mu sedang online tapi kau tidak membaca pesan ku " Jelas Dera lirih. Dylan memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa malasnya.
" Aku memang benar-benar tidak tau kau mengirimi ku pesan, kalau status whatsup ku sedang online itu karena aku harus mengurus sesuatu yang lainnya " Jelas Dylan tanpa basa-basi.
" Lalu apa susahnya melihat pesan ku dan membalasnya sebentar " Cecar Dera mulai kehilangan kendali.
__ADS_1
" Kenapa sulit sekali mendekati mu, aku berusaha keras agar selalu terlihat di matamu, saat kita bertemu di lorong, di perpustakaan, atau saat mengantre makan siang, bahkan disaat upacara setiap senin aku selalu berjaga di belakang barisanmu, kau pikir semua itu hanya kebetulan ? Tidak. Aku seperti orang gila yang sudah kehilangan harga diri hanya demi mendapat sedikit perhatianmu, tapi semuanya percuma. Kau bahkan tidak tersenyum saat aku menyapa mu di lorong, kau bahkan tidak menoleh saat tanganku bersentuhan dengan tanganmu di perpustakaan, dan kau bahkan tidak mau mendengarkan suaraku saat aku mengobrol dengan keras di belakangmu saat mengantre di kantin. Aku kehabisan cara, kehabisan harga diri lagi, sampai sejauh mana aku harus terus mengejarmu, sampai sejauh mana aku mampu bertahan menyukaimu " Dera mengutarakan semua perasaannya yang terpendam selama ini, mengabaikan kerutan yang semakin dalam di kening Dylan saat mendengar ungkapan perasaannya.
" Kau... " Balas Dylan ragu-ragu.
" Ya, aku menyukaimu, aku menyukaimu sejak kita masih duduk di bangku SMP, aku menyukaimu sejak pertama kali kau meracau tentang telepon ibumu dan paman ku, aku menyukai mu sejak 6 tahun yang lalu kau tau tuan yang tidak peduli dengan apapun " Pekiknya frustasi. Dia tidak akan bisa menahan lebih lama lagi perasannya.
Dylan hanya diam mematung mendengar semua kata-kata Dera, syok dan juga tidak percaya. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi otaknya mendadak berhenti bekerja, baru pertama kali baginya mendengar pernyataan ungkapan perasaan dari seseorang.
" Dera aku... " Dylan berusaha menjawabnya, namun lambaian tangan dari Dera membuatnya berhenti.
" Tidak bisa kah kau pertimbangkan sebentar saja ? " Sautnya memelas. Buliran air mata meluncur turun membasahi pipinya.
" Aku tidak memintamu menikahiku, aku tidak memintamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku, aku hanya memintamu mempertimbangkan perasaanku saja, tidak bisa kah kau melakukannya ? " Lanjutnya di antara suara beratnya yang bercampur isak tangis.
Dylan diam membisu, buntu sudah pikirannya.
" Kau bisa mencoba memulai berhubungan denganku selama beberapa bulan, lalu kau bisa memutuskan nanti jika dalam masa pengenalan itu kau tidak merasakan apapun dengan ku, aku akan dengan senang hati melepaskan mu " Ucap Dera memelas.
" Kau pikir perasaan itu seperti pekerja magang, yang jika dalam waktu yang telah di tentukan tidak memenuhi standart maka akan putus dengan sendirinya ? " Ketus Dylan, akhirnya bisa menyuarakan beberapa patah kata.
" Bagiku sama saja, beberapa bulan atau beberapa tahun, bagiku tidak akan ada bedanya, karena aku sudah menyukaimu sejak lama, sangat lama " Sanggah Dera sengit.
" Ayo biar ku antar kau ke ruang perawatan " Dylan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Dera.
" Apa karena Blair ? " Tanya Dera.
" Kenapa kau membawa-bawa Blair ? " Tanya Dylan heran.
" Kau menyukainya kan ? " Tebak Dera.
" Tidak " Jawab Dylan yakin.
" Kalau kau tidak menyukainya kenapa kau menolak ku ? " Kejar Dera.
" Aku hanya sedang tidak memikirkan tentang hubungan apapun dengan siapapun, pikiranku tidak menuju ke arah sana " Jelas Dylan asal.
" Kalau begitu beri aku kesempatan untuk membuatmu berpikir tentang hubungan, izinkan aku lebih dekat dengan mu " Kejar Dera.
Dylan menghela nafas panjangnya untuk yang kesekian kalinya. Baginya sebuah hubungan asmara antar anak SMA hanya akan merepotkan saja, saling cemburu, kemana-mana berdua, harus terus saling mengirim kabar, itu tidak sesuai dengan kepribadiannya yang introvert. Baginya, kesendiriannya adalah anugerah terindah untuk masa mudanya, dan dia tidak ingin mengambil resiko dengan hubungan semacam itu dengan siapapun.
__ADS_1
" Aku mengizinkan mu menjadi temanku, apa itu belum cukup ? " Jawab Dylan akhirnya, menyerah.
" Tapi tidak cukup dekat untuk membuatmu percaya aku menyukai mu " Saut Dera getir.
" Sudah ya, aku tidak ingin membicarakan hal pribadi di tempat yang bukan pribadi, ini sekolah tempat untuk belajar, jadi ku harap kau gunakan sesuai fungsinya, ok " Pungkas Dylan, dia lalu berjalan meninggalkan Dera yang masih saja diam mematung di tempatnya.
Mendengar penolakan Dylan, Dera jatuh bersimpuh dan menangis sesegukan. Membuat Dylan yang sudah beberapa langkah jauhnya berhenti dan berdecak kesal.
Aish !! Perempuan itu sangat merepotkan sekali !!
Rutuknya dalam hati, lalu mau tidak mau dia berbalik dan menghampiri Dera.
" Sudah jangan menangis lagi, ayo bangun " Dylan mengulurkan tangannya kepada Dera.
" Pergilah " Jawab Dera lirih di sela isak tangisnya.
" Sudah cepat bangun " Ucap Dylan acuh. Dera yang mendengar Dylan mulai tidak sabar pun mengulurkan tangannya ragu-ragu.
Begitu tangan mereka bersambut, Dylan menariknya dan membantunya berdiri.
" Aku paling tidak suka melihat wanita menangis, jadi jangan menangis lagi " Dylan mencoba bersikap manis dengan menghibur Dera yang di jawab dengan anggukan samar.
" Memangnya kau mengirimi ku pesan apa ? " Tanyanya lagi mengalihkan perhatian Dera agar segera berhenti menangis.
" Aku ingin makan siang dengan mu " Jawab Dera.
" Baiklah, ayo kita makan siang " Ajak Dylan, mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju kantin.
Kalau sudah begini apa yang harus ku lakukan ?
A. Menuruti saja keinginannya untuk lebih dekat.
B. Terus mengabaikannya meskipun itu mungkin akan merepotkan kalau-kalau dia menangis lagi gara-gara aku.
C. Minta pendapat dari para rangers.
D. Semua jawaban salah.
Batin Dylan menimbang-nimbang sikap apa yang harus dia ambil selanjutnya.
__ADS_1