
Dylan tidak benar-benar terlambat saat sampai di sekolah, dia hanya sampai 5 menit kurang dari bel masuk. Sebenarnya dia malas melewati kelas Dera, tapi memilih jalan memutar akan membuatnya semakin lama sampai di kelas.
Dengan santai dan perasaan girang yang terpancar dari wajahnya, Dylan berjalan asik melenggang melewati lorong sekolah yang menuju kelasnya. Memang hanya perasaannya saja atau semua murid perempuan sedang menatapnya sekarang, entahlah, yang pasti bukan Dylan namanya jika dia peduli pada hal remeh temeh seperti itu.
" Itu si anu kan ? "
" Eh iya loh, kok beda ya ? "
" Itu bukannya si anak... " Tunjuk seorang murid perempuan lainnya dengan mulut mengangga menahan rasa terkejut.
" Kok dia jadi tampan ? "
Suara-suara bisikan itu mengantar langkah Dylan. Pemandangan yang sedikit berbeda di pagi hari itu tentu membuat banyak murid perempuan sedikit syok. Dylan yang biasanya menyisir rambutnya rapi ke atas dengan sorot mata dingin menyebalkan itu sekarang terlihat lebih manusiawi, rambutnya bergaya ala anak muda pada umumnya, sedikit berantakan dan sorot matanya kini terlihat meneduhkan. Membuat siapapun yang melihatnya pasti takjub dengan perubahannya.
Cissy yang sedang berdiri dan mengobrol santai dengan temannya yang lain itu pun juga tak luput memperhatikan Dylan.
" Oh my gosh " Pekiknya dengan mulut menganga dan kemudian buru-buru masuk ke dalam kelas untuk memberi tahu Dera.
" Keluarlah, kau tidak kan percaya sampai kau melihatnya sendiri " Pekiknya dengan heboh dan menarik tangan Dera yang sedang memeriksa sesuatu di catatannya.
" Apanya yang tidak akan percaya ? " Tanyanya bingung.
" Sudah lihat saja sendiri " Mereka berdua pun pergi keluar kelas, tepat saat Dylan tengah melintas di hadapan mereka berdua.
" Dylan ! " Sapanya dengan terkejut seperti yang lainnya.
" Penampilan mu... " Tanyanya dengan binar mata penuh kekaguman, setidaknya begitulah yang di tangkap oleh mata Dylan.
" Aku bangun kesiangan " Jawabnya malas seraya melirik rambutnya, seperti mengerti maksud tatapan semua mata yang terarah padanya. Dia pun kemudian berbalik dan akan menuju kelasnya, namun tangan Dera mencegahnya.
" Kau belum sarapan ? " Tanya Dera melirik sandwich yang ada di tangan Dylan, memperpanjang durasi pertemuan mereka di pagi yang indah ini.
" Ya belum " Dengan sopan dia menepis tangan Dera dan akan berjalan lagi.
" Tunggu dulu kenapa sih " Dera kembali meraih tangan Dylan dan menggenggamnya.
Ingin sekali Dylan menepis tangan Dera secara kasar, jika saja puluhan pasang mata tidak sedang menatap mereka sekarang. Entah apa yang merasuki Dylan saat ini, dalam lubuk hatinya yang terdalam mendadak sebuah suara mencegah Dylan untuk berbuat kasar dan arogan lagi, alasannya apa, tentu saja agar dirinya tidak semakin menjadi bahan bullyan yang akan semakin memperburuk citranya dan mungkin saja itu bisa mempengaruhi pandangan Blair terhadapnya. Blair lagi ? Ya di dalam kepalanya saat ini penuh dengan bayangan Blair, mendadak dia ingin menjaga image nya agar bisa menjadi anak baik-baik setidaknya hanya untuk Blair.
" Sudah hampir waktunya bel masuk " Jawab Dylan dengan sabar yang terpaksa.
" Nanti istirahat kita ke kantin bersama ya ? " Rengek Dera dengan suara manja.
" Iya lihat nanti " Dengan jengah Dylan berusaha melepaskan genggaman tangan Dera.
" Janji dulu " Dera mengulurkan jari kelingkingnya pada Dylan, memintanya membuat janji.
" Iya iya " Dylan menurutinya agar semua rengekan manjanya cepat selesai.
Bersamaan dengan Dylan yang melingkarkan jari kelingkingnya di jari Dera, Blair yang ternyata juga datang kesiangan itu pun lewat.
" Selamat pagi Blair " Sapa Dera dengan sikap manis yang di buat-buat, dia bahkan sengaja menggoyang-goyangkan jarinya yang bertautan dengan jari Dylan agar Blair melihatnya. Kau lihat kan kalau aku benar-benar akan bersama dengannya. Harusnya kau sadar diri.
__ADS_1
" Ya selamat pagi " Jawabnya lesu, semalam suntuk dia menangis hingga matanya tidak bisa di buka pagi ini. Dia sampai harus menggunakan banyak sekali concealer di bawah mata pandanya.
Dengan langkah yang lemas Blair berlalu begitu saja melewati Dylan dan Dera, bahkan acuh pada kesombongan Dera yang seakan ingin pamer kemesraan dengan Dylan.
Ke-kenapa dia tidak terpengaruh ?
Batin Dera bingung melihat sikap Blair yang cuek saja.
Sekali lagi, oneng di lawan !!
Justru Dylan yang terlihat takut dan khawatir dengan reaksi Blair saat melintas melewatinya.
" Sudah kan ? " Tanya Dylan kemudian menepis jari kelingking Dera dan langsung berjalan buru-buru menghampiri Blair.
Berjalan sejajar dengannya dalam diam.
Meninggalkan Dera yang memberengut kesal dan menghentak-hentakkan kakinya. Namun dia tidak boleh gegabah dalam merebut hati Dylan, toh sebentar lagi satu-satunya penghalangnya akan tersingkir.
Dia itu benar-benar rubah licik yang berpura-pura polos demi menarik perhatian Dylan ku.
Sungutnya kesal lalu kembali ke dalam kelas dan menghempaskan tubuhnya dengan keras di bangkunya.
Dylan terus saja memperhatikan Blair yang berjalan lesu, dengan pundak yang merosot.
Dia kenapa ? Apa sakit jantungnya sedang kumat ?
Batin Dylan bertanya-tanya.
" Selamat pagi " Balas Blair menyapa tak kalah riangnya, seketika itu juga punggungnya langsung tegap dan wajahnya di hiasi senyuman yang menampilkan deretan giginya yang rapi. Sangat berbeda 180 derajat dengan saat menyambut sapaan Dera.
" Cih " Decak kesal langsung mengudara dari bibir Dylan melihat perubahan sikap Blair yang secepat kilat demi menjaga imagenya. Dengan kasar dia membelah lautan murid-murid yang selalu menyambut Blair dengan setia.
" Ada apa semalam ? " Celetuk salah seorang murid bertanya pada Blair, sontak saja hal itu membuat Dylan yang sedang berjalan mendadak berhenti, mencuri dengar.
Semalam ?
" Iya ada apa ? Kenapa story mu di insta terlihat sedih " Saut yang lainnya juga penasaran.
Insta story ? Dia mengupload apa ?
" Tidak apa-apa hanya sedang menonton drama yang ceritanya sangat sedih, makanya aku mengupload emoticon wajah menangis " Kilah Blair berbohong.
Dia menangis ?
Batin Dylan bertanya-tanya.
Namun tiba-tiba saja semakin banyak anak yang mengerumuni Blair membuat Dylan terdesak ke samping dan tersisih.
Dengan masih memendam rasa penasarannya Dylan pun berjalan ke tempat duduknya, mengawasi Blair dari jauh.
Tapi dia terlihat sama saja, tetap ceria dan wajahnya juga tetap cantik seperti biasanya.
__ADS_1
Kata cantik yang keluar dari batinnya membuatnya tersipu malu sendiri, sejak kapan dia terbiasa memuji orang lain cantik, bahkan Ruby dan Kiran yang dianggapnya cantik pun tidak pernah di pujinya.
Ah ya !!
Serunya tiba-tiba, ide jahil kembali muncul di kepalanya, menikmati kekesalan Rai dan Ken yang cemburu bisa jadi cara balas dendam yang paling manis. Dia pun merencanakan balas dendam sesion ke duanya. Sebisa mungkin bermanja-manja kepada Ruby dan Kiran. Kedua kakak iparnya itu memang memiliki sifat keibuan, jadi mudah saja baginya untuk bermanja-manja dengan cara sederhana.
" Kenapa senyum-senyum sendiri " Tanya Blair heran melihat Dylan yang menunduk sambil senyum-senyum sendiri.
" Oh ? " Sedikit terkejut mendadak Blair sudah ada di sampingnya, dia pun lalu membenarkan posisi duduknya.
" Sudah selesai ritualnya ? " Tanyanya dengan sinis.
" Hm ? " Blair mengerutkan alisnya dalam. Apa dia masih marah ? Sebenarnya dia marah kenapa sih ?
Baru saja Blair membuka mulutnya akan bertanya, bel masuk telah berbunyi dan menimbulkan suara ribut anak-anak yang berlarian kembali ke kelas mereka masing-masing.
Blair pun kehilangan kesempatannya untuk bertanya. Dan saat suasana kelas sudah sedikit lebih tenang sembari menunggu guru pelajaran pertama datang, Blair kembali mencoba peruntungannya.
Dia menoleh ke arah Dylan, lalu memincingkan mata saat ada yang berbeda dari penampilannya.
" Dylan rambutmu... " Dengan tangan terulur Blair akan menyentuh rambut Dylan yang tidak serapi biasanya.
" Ck " Dylan berdecak sinis bersamaan dengan kepalanya yang menghindari sentuhan Blair.
Dia masih marah.
Dengan perasaan sedikit kecewa Blair menurunkan tangannya dan tak berselang lama guru pun datang untuk memulai kegiatan belajar mengajar.
Dua jam pelajaran yang terasa sangat lama untuk Blair. Pikirannya tidak berkonsentrasi pada apapun yang di sampaikan oleh guru, dia sibuk menerka-nerka isi hati Dylan serta alasan apa yang membuatnya semarah itu.
Dengan gelisah dia menghentak-hentakkan kakinya di bawah meja, menimbulkan sedikit guncangan pada meja mereka.
" Hentikan kaki mu, aku tidak bisa mendengarkan guru dengan benar " Bisik Dylan masih ketus.
" Ck " Decak kesal Blair menjadi jawaban atas bisikan Dylan. Dia lalu ganti mengetuk-ngetukan jarinya pelan dari dalam laci mejanya, sengaja melakukannya untuk melampiaskan kekesalannya pada Dylan yang berubah kembali dingin hanya dalam semalam.
Padahal aku menemaninya dalam kondisi memalukan seperti kemarin, tapi dia malah marah-marah tidak jelas. Tidak setia kawan.
Rutuknya dalam hati dan dia memanyunkan bibirnya.
Terdengar helaan napas panjang dari tempat Dylan duduk, dan itu malah menyulut kekesalan Blair semakin menjadi-jadi. Kini dia berganti posisi, dengan dagu diatas meja dan bibir manyun dia mengambil pensil dan sibuk mencoret-coret buku catatan di depannya dengan kasar.
Dylan yang duduk bersandar semakin terusik dengan tingkah aneh Blair, dia seperti sedang melihat anak TK yang sedang merajuk meminta permen tapi tidak di penuhi.
Kesal dan gemas bercampur jadi satu, mau tak mau membuat bibir Dylan tertarik membentuk senyuman.
Dia lalu menegakkan punggungnya, meraih tangan Blair dengan lembut dan menariknya masuk ke laci bawah meja, terus menggenggamnya disana dan setidaknya menghentikan tindakan Blair mencoret-coret buku yang malah membuat konsentrasinya buyar.
Jika tadi hanya dagu Blair yang bertumpu di atas meja, sekarang dia menumpukan keningnya. Menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti merona merah tersipu malu. Dia menggigit bibir bawahnya, mencegahnya agar tidak berteriak kegirangan karena balon berbentuk love dalam hatinya sedang mengembang besar dan melambung. Membuat dadanya penuh dengan perasaan berdesir yang aneh.
Hiyaaaaaa !!!!
__ADS_1
Dia semakin mengeratkan genggaman pensil di tangannya.