
Satria memacu kendaraanya menuju resto yang menyajikan masakan rumahan, Nadin tak menyadari jika kendaraan yang di tumpanginya melaju ke arah lain..
sesampai di resto Satria turun dan membukakan pintu penumpang
"Ayo turun, kita makan dulu baru pulang "
Nadin yang tersadar menatap Satria
" tapi aku gak laper, aku cuman pengen rebahan"
" makan dulu baru pulang ya" bujuknya lembut
Nadin akhirnya keluar mobil dan melangkah mengikuti Satria masuk ke dalam resto.
Di taman resto mereka duduk berhadapan menunggu pesanan datang
"Nadnad kamu punya aku sekarang berbagilah beban pikiranmu denganku " menggenggam tangan Nadin, awalnya Satria ragu melakukannya takut Nadin menolak, tapi ternyata Nadin membalas gengaman Satria
" iya bang aku bingung kenapa semuanya datang bersamaan" keluhnya
"ibu yang sakit, sebuah fakta yang harus aku selidiki, dan kamu bang "mendesah lemah
"aku ?"tanyanya menunjuk diri sendiri
"iya kamu datang tiba-tiba dan langsung melamarku " tersenyum
" aku bukan melamarmu tapi akan menikahimu "
awalnya dia takut membicarakan ini, tapi karena Nadin yang membuka pembicaraan soal hubungan mereka Satria memberanikan diri mengutarakannya
"ngaco kamu bang, Nikah itu ibadah seumur hidup pikirin baik-baik bang "ceramah Nadin
terlihat senyuman di wajah Nadin saat mengatakannya.Satria agak bernafas lega menyaksikan senyum di wajah Nadin..
"aku sudah mikirin ini matang-matang nad "
"kamu mau kan jadi i___"
pembicaraan mereka terputus saat pelayan mengantarkan pesanan mereka
"makasih mba " ujar Nadin dengan seutas senyuman di wajahnya..
Nadin mulai melahap makananya jujur sebenarnya dia lapar tapi malas makan,saat dia melihat makanan di depannya nafsu makannya kembali dan mulai memakannya
Satria hanya tersenyum memandangi Nadin yang tengah menyuapkan sesendok demi sesendok kemulutnya
" kenapa senyum-senyum bang, gak bakalan kenyang kalo makanan itu di senyumin, " ujarnya tertawa pelan
"abang udah kenyang liatin kamu makan" tuturnya
"bang tadi abang bilang apa ya? "sembari mengunyah makanannya..
__ADS_1
" makan dulu,kita bicarakan nanti" Satria mulai memakan makanannya..
_______________________________________________Satria pov
Sebelum aku mengantarkan nya pulang aku belokan mobilku ke sebuah resto yang menyajikan masakan rumahan, aku tau dia belum meningisi perutnya.
Awalnya dia menolak tapi karena pakasaanku dia mengikutiku.
saat menunggu makanan datang dia mengeluh tentang semua yang terjadi bersamaan.
aku mendengarkan keluh kesahnya,awalnya aku tak ingin membahas masalah niat ku dan orang tuaku untuk melamarnya..
Nadin mulai membahas soal hubungan kita
pikirku tak perlu Rasya yang mengatakan kepada Nadin tentang niatan baik ini.
pembicaraan kami terhenti saat pesenan makanan datang,ku lihat dia dengan lahapnya memakan makanan pesenannya.aku tersenyum melihatnya
"kenapa senyum-senyum bang,gak bakalan kenyang kalo makanan itu di senyumin" ujarnya tertawa pelan
"Abang udah kenyang liatin kamu makan" ujarku menggodanya..
"Bang tadi abang bilang apa ya" ujarnya sambil mengunyah makanannya
ehh dia masih membahas soal niatan baikku
aku tak mau dia menghentikan makannya
"Makan dulu kita bicarakan nanti" ujarku dan aku mulai memakan hidangan yang ku pesan
sepertinya momennya gak tepat untuk mengatakannya, dan masih ada waktu lima hari lagi pikirku.
selesai makan aku mengantarkannya pulang,
dia perlu beristirahat setelah seharian dia rumah sakit. aku berjanji besok pagi-pagi akan menjemputnya kembali,awalnya dia menolak dia bilang bisa bawa mobil sendiri,namun aku tetap bersikeras untuk menjemputnya besok dan akhirnya dia mengalah..
sepanjang perjalan pulang aku terfikir akan ucapan Rasya di rumah sakit tadi, apa iya ini takdir cintaku, atau cinta lamaku akan kelar di pelaminan.
Aku bersyukur Allah maha baik banget sama aku Allah datangkan aku di kehidupan Nadin saat di butuhkan.Bismillah aku bulatkan niatku untuk menikahi Nadin seenggaknya kami Sah dulu di mata Agama..
ku hubungi mama dan mengutarakan niat baikku, mama sangat setuju dan tak sabar menanti hari sabtu.
tinggal aku utarakan niatku kepada Nadin, agak sedikit takut kalo Nadin menolak mengingat gadisku dalam keadaan duka atas kecelakaan yang menimba orangtua satu-satunya..
Sesampai di Apartemen aku membersihkan diri dulu ,karena waktu Ashar hampir habis aku menjalankan sholat Ashar dan berdoa memohon kepada Allah agar di permudah dalam urusan ku..
menunggu Adzan subuh aku coba mengubungi Rasya dan mengatakan orangtuaku setuju..
Rasya tampak bahagia mendengarnya,aku pun mengutarakan gimana cara berbicara dengan Nadin yang saat ini keadaannya tidak baik.
Rasya meyakinkanku, dia yang akan bantu memastikan Nadin akan menerima niat baikku
__ADS_1
Aku bersyukur memiliki calon adek ipar yang sangat mendukungku..
_________________________________________
Author pov
Dikediaman pak Rahman
"sepertinya kita harus paksa Salman menikahi Nadin, sebelum perempuan itu mati kita harus pastikan semua bisnisnya sudah berbalik nama atas nama kita " di hisapnya rokok dan menerawang
"gimana caranya pah ? " tanya istrinya yang tengah menghisap rokoknya
"kita bikin perempuan sialan itu tak sadarkan diri, dan kita bikin surat palsu,tentang permohonnya agar Nadin menikah dengan Salman, bukannya kamu ahli dalam meniru tulisanya hemm" menoleh ke arah istrinya.
"iya sayang, besok kita ke rumah sakit untuk memastikan keadaan perempuan sialan itu" ujarnya dengan senyum sinis di wajahnya
"coba kamu hubungi Salman, pastikan dia tidak menyusahkan kita" bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah
Salman yang tengah menikmati tidurnya terganggu oleh dering ponselnya..
Dia baru tertidur satu jam lalu
saat iya datang dia tak dapat menolak ajakan Sari kekasihnya untuk melakukannya.
bagi sepasang kekasih ini memadu kasih adalah hal biasa. Sari juga tak keberatan saat Salman menyembunyikan hubungan mereka dari orang luar termasuk orang tuanya..
"hallo iya mah" jawabnya setengah membuka mata
"kamu di mana nak? apa masih bersama Nadin? "
"Salman tadi ke toko cabang bekasi mah, Nadin meminta Salman kesini" ujarnya berbohong
"ok nak jangan malam-malam pulangnya ya"
panggilan terputus
Salman segera menghubungi Nadin untuk memberi tau jika dia ke Bekasi kalo saja mama menelpon Nadin, gayung bersambut ponsel madin sepertinya mati karena nomornya di luar jangkaun.. sudah pasti mama tak akan bisa menghubungi Nadin
Salman dapat bernafas lega, di lihatnya kesamping kekasihnya yang terlelap di dadanya tanpa busana. dia tersenyum dan melanjutkan tidurnya sembari mengeratkan pelukannya.
Sabar ya sayang ini tak akan lama .ucapnya dalam hati menciumi pucuk kepala Sari..
Sari yang terganggu oleh Salman terbangun dan mendongak menatap Salman "sayang kamu sudah bangun " ujarnya dengan suara manja..
tanpa menjawab Salman langsung membungkam mulut kekasihnya dengan bibirnya..memperdalam ciumannya dan memulainya kembali.
baginya Sari adalah obat di kala dia terpuruk,
" aku janji akan segera menikahimu,setelah aku selesai mendapatkan apa yang seharusnya kita dapat " ..tekadnya dalam hati
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
hai hai..happy weekand emak bisa sedikit bernafas lega si sulung sudah selesai PAS nya.. jadi emak bisa update setiap hari
jangan lupa like n vote nya kakak❤❤😘🥰