
Flash back on
siap sholat dzuhur, sebelum meninggalkan mushola Nadin mendengar sesorang berbincang di dekat gudang yang letaknya dekat musholla
Nadin mendekat,rencana awal ingin menyapa Salman yang sedang menerima telepon, ia urungkan niatnya saat mendengar apa yang di bicarakan Salman dengan sesorang yang Nadin duga adalah Ayahnya
"papa, tenang aja bentar lagi pah selangkah lagi kita akan singkirkan wanita tua itu,
iya pah Salman sedang berusaha untuk meyakinkan wanita tua itu agar segera menikahkan Salman dan Anaknya, iya setelah itu baru kita singkirkan adeknya, seperti papa menyingkiran papanya."
Deg..
jantung Nadin serasa berhenti, mengendap-endap dia mendekat
"pokoknya gak lama lagi pah olive bakery bakal jadi milik kita "
dada Nadin begemuruh, mengepalkan tangannya, wajahnya mulai meradang mendengar apa yang di bicarakan Salman dan papanya..
Astaghfirullah, aku gak boleh gegabah. aku harus bener-bener mencari bukti kejahatan mereka, baiklah kita mulai permainan ini
batin Nadin, bergegas turun untuk menjauh dari Salman
Flash back off
Masih di depan UGD Nadin setia duduk menunggu mama nya sadar, Salman di sebelahnya menahan kantuk..
" Man kamu pulang aja gakpapa kok bentar lagi juga Rasya datang"
"beneran gakpapa aku pulang? kamu sendirian loh, kalo ada apa-apa hubungin aku ya mba? " Salman bersemangat untuk pulang sejujurnya dia malas untuk kembali ke rumah dan bertemu orang tuanya.
"iya gakpapa man, makasih ya man sudah menemani" ujar Nadin..
"Sama-sama ya sudah aku pulang ya mba,mba kalo papa atau mama telepon tolong bilang aku ke cabang ya, aku ada urusan bentar di rumah teman " ujarnya memohon.
Nadin hanya mengangguk tanda setuju
Salman bangkit dan melangkah pulang tujuan nya bukan ke rumah tapi ke Apartemen kekasihnya,lebih baik dia pulang dan beristirahat di sana.
ya Salman menjalin hubungan diam-diam dengan kekasihnya,ia tak mau sampe orang tuanya tau dan menyakiti kekasihnya.
Salman sudah hafal tabiat kedua orang tua angkatnya..
&&&&&&&&&&&&&&&
Satria baru saja selesai praktek, kakinya berjalan melangkah menuju UGD..
di lihatnya Nadin yang duduk sambil memejamkan mata..
" kalo ngantuk istirahat aja di ruanganku "
Suara khasnya membangunkan Nadin..
__ADS_1
"ehh Abang kapan datang" duduk tegak merapikan jilbabnya..
"Rasya belum datang ?" menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok calon adek ipar
" belum,katanya sore nanti sekalian gantian
gimana bang hasil ctscan mama? "tanya nadin
" kamu tunggu di sini ya aku masuk ke dalam dulu " Satria berjalan memasuki ruang UGD..
tak beberapa lama dia kembali dengan raut wajah pias " Rasya mana kita harus bicara dengannya juga" ujarnya memijat ujung hidung mancungnya..
"Sebentar aku hubungi dia" meraih ponsel di dalam tasnya dan menghubungi Rasya..
Setelah mengakhiri panggilan dengan Rasya Nadin memutar tubuhnya menghadap Satria
"dia sudah di jalan dekat rumah sakit "
"Baiklah kita keruanganku sekarang, kabari Rasya kita menunggu di ruangan "
"tapi bang mama"
"mama akan di pindah ke NICU.. kamu tenang aja"
"Astaghfirullah mama,ke ke napa di pindah ke Nicu bang" ucarnya terbata air mata sudah lolos mengalir di pipi Nadin.
"Gakpapa biar mama lebih nyaman di sana" meraih tangan Nadin menggandengnya berjalan ke ruangannya.
Tak berapa lama Rasya telah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruangan Dokter Satria..di ketuknya pintu, saat masuk di lihatnya mba nya tengah duduk sambil menangis..
"ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang keadaan mama" menarik nafas dalam
"dari hasil ctscan mama,benturan hebat yang mengenai kepala mama berakibat pecahnya pembuluh darah di otak, itu yang menyebabkan mama mengalami koma, dan ketika sadar kemungkinan mama akan terkena struk" Satria menjelaskan sambil menatap tajam ke arah Rasya dan Nadin..
Rasya hanya bisa mengelap kasar mukanya dengan kedua tangan, memijit belakang lehernya..sementara Nadin menangis tesedu sedu,, di elusnya punggung kakak perempuannya yang selama ini menjadi tulang punggung mengurus semuanya menggantikan almarhum papanya "mba mama pasti bisa, mama wanita hebat mba" menenangkan mbanya.
Satria hanya mampu menatap nanar ke arah Nadin ingin rasanya dia merengkuh tubuh wanita di depannya membawa kepelukannya dan mengatakan ada aku di sisimu.
iya cukup kagum dengan laki-laki di sebelah wanita yang di cintainya. laki-laki yang terlihat dewasa di banding umurnya, ya calon adik ipar yang bisa bersifat tegar dan menguatkan kakaknya..
"Jadi sekarang apa yang harus kami lakukan dok" tanya Rasya..
"Sementara ibu dewi di rawat di NICU dulu sampai kondisinya stabil, kami tim.dokter akan terus memantau"
"Seperti yang Anda bilang mama anda pasti bisa melewati masa kritisnya,bantu memberi semangat dan berdoa"
ujar Satria..
"Baik dok, apa sekarang kami bisa lihat mama kami? "tanya nya..sementara Nadin masih menangis dia sudah tidak ada lagi keinginan untuk bertanya..
"kalian bisa masuk secara bergantian"
__ADS_1
"baik dok, kami pamit untuk bertemu mama" Rasya bangkit, di papahnya kakak satu-satunya untuk berdiri dan berjalan menuju Nicu..
Satria menemani mereka menuju Nicu..
saat di depan Nicu Rasya meminta kakaknya untuk masuk dulu agar nanti kakanya bisa pulang untuk istirahat sebentar sementara di luar Rasya berbincang dengan Satria kali ini mereka berbincang santai sebagai lelaki..
"apa orangtua bang satria jadi datang sabtu ini" tanya Rasya tiba-tiba
Satria sebenarnya enggan membahas soal rencana lamaran ini karena mengingat kondisi mama dan Nadin yang sangat terpukul dengan keadaan ini
"InsyaAllah jadi, mereka juga kangen dengan kua" tersenyum
"jadi orangtua abang melamar mba Nadin?"
Rasya bertanya
"belum tau, lihat kondisi mama dan Nadin seperti itu rasaya tidak etis membicarakan lamaran sya"
"Mba Nadin satu-satunya saudara aku, saat bang Satria mengatakan akan melamar mba Nadin mama sangat bahagia, mama berharap mba Nadin segera menikah agar ada yang menjaga dan melindunginya..Aku memang walinya sekarang dan pastinya akan melindungi dan menjaga mba Nadin" Rasya menarik nafas dalam
"keinginan mama melihat mba Nadin menikah dan membina rumah tangga bahagia "
"Aku rasa sabtu nanti saat orang tua bang Satria datang menikahlah dengan mba Nadin di depan mama mas, bukannya orang koma masih bisa mendengar hanya saja mereka tidak bisa merespon? "
Satria tekesingap mendengar penuturan Rasya, ada rasa bahagia karena wali dari Nadin memberi lampu hijau, tapi dia juga tak bisa egois dia harus memikirkan perasaa Nadin.
"kalo saya dan orang tua mungkin setuju, bagaimana dengan Nadin? "
"Nanti aku yang bicara dengan mba Nadin" potong Rasya..
pembicaraan terhenti saat Nadin keluar dari ruang Nicu dengan langkah gontai..
"Mba pulang lah, istirahat dulu adek yang akan menjaga mama" titah Rasya..
"dek mba masih mau di sini bersama mama" ujar Nadin
"Seenggaknya mandi dulu mba,mama gak suka mba bau" Rasya terkekeh mencoba menghibur Nadin
Nadin tersenyum kecil,memukul bahu adeknya
"kamu nich bisa aja, ya udah mba pulang mana kunci mobilnya "
"Aku yang akan mengantarmu" cegah Satria..
"kayaknya aku lebih percaya mba di anter bang Satria dari pada bawa mobil sendiri" Rasya menyetujui..
" Ya sudah mba pulang dulu ya" berjalan mendahului dua laki-laki di depannya
Satria menepuk pundak Rasya
" terimakasih,aku pastikan mbamu akan ku jaga dengan sepenuh hati" berlalu menyusul Nadin
__ADS_1
Rasya memandangi keduanya dengan perasaan lega,
mah, keinginan mama akan segera terwujud,rasya harap mama cepat sadar dan melihat kebahagian mba ,batinya