
Kelas sudah bubar. Leo yang masih membantu Dokter David memeriksa hasil test dadakan, sedikit terkejut. "Loh ini Lalita Puteri ada, tapi kenapa Aku tak melihatnya." Gumam Leo sambil mengerutkan keningnya.
"Ada apa Dokter Leo?" Sapa Dokter David yang mengagetkannya.
"Oohh... Gak ada apa-apa Dokter. Saya hanya kagum dengan hasil test Mahasiswa tingkat pertama." Leo mengeles.
"Siapa?" Tanya Dokter David.
"Lalita Puteri...." Sahut Leo.
"Ooohhh.... Dia memang cerdas... Malah sangat cerdas. Persis seperti Auntie nya, Dokter Nindy, Istri Dokter Marcel." Jelas Dokter David.
Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tidak mengenal orang yang barusan disebut oleh Dokter David. Tapi kalau Dokter Marcel, Leo memang beberapa kali bertemu di Rumah Sakit. Marcel Dokter ahli penyakit cancer yang sangat terkenal.
"Maksud Dokter, Dokter Marcel ahli penyakit Cancer?" Tanya Leo.
Dokter David mengangguk. "Saya lupa. Saat Dokter Marcel dan Dokter Nindy belajar di Kampus Negara A, Kamu masih remaja." Jelas Dokter David.
"Jadi Dokter wanita yang sering bersama beliau, itu istrinya? Lalu apa hubungannya dengan Lalita?" Leo makin penasaran.
"Dokter Nindy itu auntie nya Lalita Puteri." Kata Dokter David.
"Tapi bukankah Dokter Nindy berhijab? Lalu Dokter Marcel?" Leo makin penasaran.
Dokter David menghela nafas. Dia ingat kisah cinta Marcel-Nindy yang sampai bertahun-tahun tak jadi menikah. "Karena cinta nya yang sangat besar, Dokter Marcel mengikuti kepercayaan Dokter Nindy." Jelas Dokter David.
Leo menghela nafas. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia teringat akan kata-kata Fathir. Istri nya Fathir juga mengikuti agama Fathir. "Berarti kata-kata Fathir tidak main-main." Batin Leo.
_____________________________
Leo duduk bersandar pada kursi di balkon kamar nya. Asap rokok mengepul. Hanya seisap, rokok dia matikan lalu membakarnya yang baru. Begitu terus yang Dia lakukan hingga rokok dalam kotaknya habis dan puntung rokok yang masih panjang numpuk dalam asbak.
"Besok Aku akan ke ruang kelas nya. Kenapa Aku tak melihatnya hari ini? Litaaaa.... Aku merindukanmu." Kata Leo berkata pada diri nya sendiri.
Di saat yang bersamaan.
"Uhuk... uhuk... uhuk...." Lita tebatuk. Lita dan Astrid baru saja memulai makan malam.
"Pelan-pelan dong say...." Astrid mengusap punggung Lita dan memyodorkan air minum.
"Alhamdulillaah.... heeeehhh... Aku udah pelan-pelan kok." Sahut Lita.
"Hhhmmmm... Lagi ada yang kangen kali." Goda Astrid.
Baru saja Astrid selesai bicara, ponsel Lita berdering. Astrid melirik ke ponsel Lita.
"Panjang umur... Benerkan ada yang kangen..." Canda Astrid.
Lita hanya menggeleng dengan candaan Lita.
"Assalamu alaikum..." Sapa Lita.
"Wa alaikumussalaam Sayang.... Kamu sedang apa?" Tanya Arby.
__ADS_1
"Aku baru mulai makan malam, Kak. Bersama Astrid." Jawab Lita.
"Hhmmm Aku ganggu ya? Maaf ya... Dilanjutkan dahulu makannya. Nanti Aku telpon lagi ya..." Kata Arby.
"Baik Kak... Terima kasih..." Jawab Lita.
Setelah saling memberi salam, sambungan telpon pun terputus.
"Duuuhhh yang dapat perhatian...." Goda Astrid.
Lita hanya tersenyum. Lita melanjutkan makan.
"Kamu serius kan menerima Arby?" Tanya Astrid disela-sela kunyahannya.
"Insyaa Allah... Aku terus berusaha..." Jawab Lita singkat.
"Kak Arby sebatang kara." Kata Astrid.
Lita mengangguk. "Dia sudah cerita." Lita meletakkan sendoknya di piring. "Aku takut hanya kasihan padanya..." Lita menunduk sedih.
"Mudah-mudahan dari rasa kasihan akan tumbuh benih-benih cinta. Kak Arby sangat baik dan tulus." Hibur Astrid.
Lita mengangguk. "Dia berbeda dengan Vero. Wajah Mereka memang seperti pinang dibelah dua. Tapi sifat Mereka berbeda. Kak Arby lebih mudah bergaul dan supel, sedangkan Bang Vero agak kaku. Temannya juga sedikit." Jelas Lita.
Astrid mengangguk. "Kak Arby tak pernah menjalin hubungan dengan gadis mana pun, Dia merasa kurang percaya diri. Takut nanti Mereka tak mau terima dengan kondisi nya yang sebatang kara. Padahal banyak yang suka dengannya. Tapi saat pertama kali melihat Kamu, Dia langsung rewel banget minta didekatkan." Cerita Astrid.
Lita meneruskan makannya. "Saat mendengar cerita nya Aku merasa kasihan... Aku berharap jika Aku menerima nya bukan karena kasihan tapi benar-benar Aku mencintainya... Seperti dulu Aku pernah mencintai seseorang." Kata Lita.
"Aamiin...." Astrid mendoakan. "Sudah makannya? Mau tambah?" Tawar Astrid.
"Terima kasih saudaraku yang cantik." Puji Astrid.
"Sama-sama Saudaraku yang baik hati." Balas Lita.
"Hahahaha...." Mereka tertawa bersamaan.
______________________________
Hari berganti. Hari ini Lita dan Astrid tak ada kelas. Mereka memutuskan pergi ke Mall untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan di Kampus, Leo sangat kesal karena jadwal Lita yang kosong hari ini. Gagal sudah rencana nya ingin menemui Lita di kelas.
Hari ini terasa sangat panjang waktu nya. Leo benar-benar badmood. Hari ini Dia beberapa kali membentak Para Mahasiswi yang terus menggoda nya.
Padahal itu hak Mereka, karena mata Mereka melihat dengan mata Mereka sendiri, bukan mata Leo. Lagi pula tak salah jika Para Mahasiswi mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna seperti Leo.
Leo lebih banyak menghabiskan waktu dalam ruangan Dosen. Makan siang pun Dia pesan lewat OB. Leo benar-benar tidak fokus. Beberapa kali hasil koreksi pelajaran Mahasiswi kelas lain, dikembalikan oleh Dokter David.
Jawaban benar dinilai salah, jawaban salah dinilai benar.
"Sebaiknya Anda pulang dan istirahat di rumah. Seperti nya ada kurang sehat hari ini." Kata Dokter David.
Leo menghela nafas. "Baiklah Dok, maaf atas keteledoran Saya..." Kata Leo sambil merapihkan meja nya.
__ADS_1
"Jangan banyak merokok. Tidak baik untuk kesehatan." Kata Dokter David sambil berlalu.
Leo terpana. "Bagaimana Dokter David bisa tahu?" Gumamnya sambil mencium kiri kanan bahu nya mengendus seragam Dokter nya. "Tidak bau rokok." Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Di Mall
Astrid dan Lita berkeliling Mall sekedar melihat-lihat setelah selesai membeli keperluan sehari-hari Mereka. Sedangkan belanjaan Mereka sudah Mereka taruh di dalam mobil saat hendak melaksanakan shalat Dzuhur.
"Ya ampun Strid... Kita udah seharian di Mall." Kata Lita.
"Hik..hik..hik..." Mereka berdua ketawa cekikikan sambil menutup mulut Mereka.
"Sekali-kali gak apa lah Lita... hitung-hitung refreshing... Setiap hari berkutat sama syaraf... Hehehe..." Canda Astrid.
"Tolooong.....!!!" Tiba-tiba terdengar jeritan minta tolong dari suara seorang perempuan.
"Astaghfirullaah... Ada apa tuh!?" Lita terkejut.
Lita dan Astrid berlari ke sumber suara. Dan ternyata sudah banyak orang berkerumun.
"Tolong...! Bos Saya pingsan!" Wanita yang dikerumuni masih berteriak.
Lita dan Astrid saling menatap.
"Maaf... Permisi...." Lita meminta jalan dari kerumunan itu.
"Apa Anda mengenalnya?" Tanya seorang pengunjung pada Lita dengan wajah tak bersahabat karena penampilan Lita dan Astrid yang berhijab.
"Maaf... Kami Calon Dokter... Mungkin ada yang bisa Kami lakukan untuk pertolongan pertama." Jelas Lita.
Sontak semua orang yang berkerumun memberi jalan pada Lita dan Astrid.
"Bisa minta tolong digotong..... kesana...." Lita menunjuk sofa panjang yang memang ada di dalam Mall. Para Lelaki pengunjung membantu membopong sang Bapak.
Lita dan Astrid segera memeriksa keadaan Bapak tersebut. Astrid merogoh tas nya dan mengambil stetoskop. Lita melepaskan dasi Bapak itu dan membuka sedikit kancing kemeja yang di kenakan Bapak itu.
Astrid mulai memeriksa. Astrid menghela nafas. "Tadi abis makan apa Bapak ini?" Tanya Astrid pada wanita yang berteriak.
Lita sudah membuka sepatu Bapak tersebut dan melepas juga kaos kaki nya.
"Sup kacang Mede." Jawab perempuan itu, seperti nya Dia sekretaris sang Bapak.
Lita memencet urat saraf yang ada di tumit kaki sang Bapak. Sang Bapak bereaksi, nafasnya tersengal. "Seperti nya kolesterol nya naik. Seharusnya di usia nya ini tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi kacang mede." Jelas Lita.
"Sebaiknya Kita bawa ke rumah sakit. Bos Anda sudah bereaksi." Kata Astrid.
Sekretaris itu mengangguk. Beberapa sekurity membantu Lita dan Astrid menggotong sang Bapak ke dalam mobil.
"Tapi Saya tak bisa menyetir." Kata Sekretaris itu.
"Biar Saya yang nyetir." Kata Lita.
"Strid... Kamu sendirian gak apa kan?" Tanya Lita.
__ADS_1
Astrid tersenyum. "Gak apa. Aku balik dulu ke Mess merapihkan belanjaan Kita. Nanti Aku nyusul." Kata Astrid.