
"Bagaimana kabar Cucu ku....??" Nenek Nia nampak sedih sekali karena mendengar penuturan Tristan. Saat ini Tia dan Vita sudah bersama Mereka.
"Lita kritis, Nek." Kata Vita hati-hati.
"Ya Allah.... Tolong hilangkan penyakit cucuku...." Nenek Nia menengadah sambil menitikkan airmata.
"Maafkan Tia, Bu. Tia dan Kak Lambok tak bermaksud menyakiti hati Lita... Kami hanya...." Tia belum selesai bicara.
"Sudahlah Tia... Lebih baik Kita berdoa agar Allah mengangkat penyakit Lita dan Lita segera sehat." Pinta Nenek.
"Aku mau ke Rumah Sakit sekarang!" Tiba-tiba Fahri langsung berdiri. "Lita pasti menungguku..."
"Fahri....!" Tegur Fathir.
"Aku mohon Bang. Ini salahku juga. Lita pasti menungguku... Aku akan minta maaf padanya..." Fahri berkeras.
"Biarkan Fahri pergi, Fathir. Mungkin benar apa yang dikatakan Fahri..." Kata Tia.
"Aku antar Bang..." Tristan lansung mengambil kunci motornya dan mengambilkan helm untuk Fahri.
"Hati-hati Tristan... Jangan ngebut-ngebut." Teriak Tia setelah Tristan dan Fahri berpamitan.
"Ya Ma...!" Jawab Tristan juga sambil berteriak.
Namun Tristan hanya janji dimulut saja. Karena permintaan Fahri yang ingin cepat tiba di RS AS.
Dua puluh menit Mereka tiba di RS dengan menerobos kemacetan Jakarta.
"Fahri...?!" Nindi tak percaya dengan penglihatannya, baru saja Marcel menanyakan keponakannya itu.
"Bagaimana keadaan Lita, Auntie?" Tanya Fahri setelah menyalami Lambok, Leo, Atala dan Marcel.
"Fahri, ikut Uncle...." Pinta Marcel.
Fahri menatap Nindi, Nindi mengangguk. Fahri pun mengikuti Marcel.
Setelah mensterilkan pakaian Fahri dan tubuhnya, Fahri masuk ke ruang ICU dimana tubuh Lita terlihat lemah dengan alat medis yang sudah terpasang disana.
"Assalamu alaikum Adikku yang cantik..." Fahri tak dapat menutupi kesedihannya melihat tubuh yang tak berdaya itu. Sepi... Hanya detakan alat medis yang terdengar memenuhi ruangan itu.
"Uncle...." Fahri menatap Uncle tak tega melihat kondisi Lita.
"Duduklah... Ajaklah Dia bicara..." Pinta Marcel.
Fahri mengikuti permintaan Marcel. Fahri mengambil telapak tangan Lita dan menggenggamnya dengan lembut. "Dek... Abang datang..." Fahri mengecup jemari Lita. Mengusap pipi Lita perlahan.
"Dek... Bangunlah... Abang gak marah sama Kamu... Maafin Abang yang sudah mendiamkan Kamu... Abang cuma bercanda, Sayang... Abang tahu, Kamu gak mungkin gak hadir di hari bahagia Abang.... Tapi kenapa Kamu jadi begini? Ini jadi tamparan untuk Abang karena mengancam Kamu...." Air mata Fahri menetes.
__ADS_1
Selama Marcel menjadi Keluarga, baru kali ini Dia melihat Fahri menangis. Fahri begitu mencintai dan menyayangi Lita. Marcel tahu kedekatan Lita dan Fahri, makanya Marcel berinisiatif mengajak Fahri untuk membangunkan Lita.
Air mata Fahri menetes membasahi jemari Lita. Namun Lita tak bergeming. Lita diam seribu bahasa seakan tak ada niat untuk bangun lagi.
"Uncle... Kenapa Lita diam saja? Apa Dia marah padaku?" Fahri terlihat cemas.
Marcel menghela nafas.
Tiba-tiba Fahri memukul-mukulkan telapak tangan Lita ke wajahnya. "Kamu pukul Abang, kalau itu bisa membuatmu tenang!? Kamu marah sama Abang kan?! Makanya Kamu gak mau melihat Abang!" Fahri terus memukulkan telapak tangan itu ke wajahnya hingga tubuh Lita tiba-tiba bergetar.
Marcel terkejut melihat kelakuan Fahri. Baru saja Dia akan mencegah Fahri namun tiba-tiba tubuh Lita bergetar.
Fahri terkejut saat tangan Lita tak bergerak, kaku, berat, menahan pukulannya yang akan menampar wajah Fahri.
Airmata Lita mengalir.
"Subhanallaah..." Marcel mendekat.
"Uncle... Kenapa dengan Lita? Kenapa tangannya jadi kaku seolah menahan hentakanku?" Fahri terlihat khawatir.
"Lita merespon kehadiranmu, Fahri. Dia tak mau melukai Abangnya. Lita sangat menyayangimu..." Marcel mengusap sudut matanya yang berair. "Alhamdulillaah...."
"Tapi kenapa Lita tak juga membuka matanya?" Fahri masih belum percaya.
"Sabarlah... Setidaknya Lita sudah tahu Kamu berada disini. Tetaplah di sampingnya." Pinta Marcel.
Sesaat di waktu bersamaan... Dibawah alam sadar Lita.
Lita menangis di suatu tempat. Lita bingung kenapa seluruh Keluarganya meninggalkannya ditempat asing. Lita tak tahu sedang berada dimana.
Sebuah sentuhan lembut membuat Lita mendongak. Dia kembali terisak.
"Abang... Huk... huk... huk... Keluarga ku tak menyayangiku lagi.... Aku dibuang... Aku gak tahu harus pergi kemana... huk... huk... huk... Aku gak tahu ini dimana?! Kenapa Aku berada disini??"
Sosok itu berjongkok di depan Lita yang terus menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia mengusap airmata Lita dengan jemarinya yang putih bersih. Dia menggeleng... Mengisyaratkan agar Lita tak menangis dan harus selalu tersenyum.
"Aku ikut Bang Vero saja.... Semua orang jahat padaku... Kekasihku menghianatiku lagi... huk.. huk... huk..." Lita mengadu pada Vero.
Vero terlihat sedih namun Vero cepat tersenyum. Dia membelai hijab Lita yang menutupi sampai ke pinggang. Vero mengangguk dan menggenggam tangan Lita. Mengajaknya pergi dari tempat itu.
Lita mengikuti langkah Vero. Lita tak lagi menangis karena Vero mau membawanya.
Hingga di suatu titik putih. Lita dan Vero makin mendekat, hingga terlihat seperti sebuah gerbang dengan nuansa serba putih.
"Itu apa Bang? Cerah sekali... Apa Abang tinggal disana?" Tanya Lita.
__ADS_1
Vero menoleh dan menatap wajah Lita sambil mengangguk.
"Apa Abang Vero bahagia?" Tanya Lita lagi.
Vero hanya mengangguk. Vero kembali menggenggam tangan Lita dan mengajak Lita melewati gerbang itu.
Namun..... Baru saja Lita melangkahkan kaki nya sebelah menyebrangi pembatas gerbang, Seseorang menarik lengan Lita.
Lita menoleh dan mengernyitkan keningnya. Lita nampak tak asing dengan wajah seorang Kakek namun terlihat segar dan gagah.
Lita mencoba mengingat. Lita langsung tersenyum dan berhambur memeluk sosok Kakek itu.
"Kakek.... Kakek Arif...." Lita menengadah. Kakek Lita memang tinggi semampai. Lita sering sekali memandang foto sang Kakek saat Neneknya memberikan foto Almarhum Kakeknya. Malah Lita sendiri yang membawa foto Kakek nya ke seorang pelukis untuk melukis foto sang kakek.
Vero hendak mengajak Lita masuk ke gerbang. Namun Kakek Arif menepis tangan Vero. Kakek Arif membawa Lita menjauh dari gerbang. Vero terpaku melihat Lita dibawa sang Kakek.
"Kek... Aku mau ikut sama Bang Vero. Aku mau bersama Kakek." Pinta Lita memohon.
Kakek Arif menggeleng. Wajahnya menggambarkan kesedihan. Kakek Arif terus menggenggam tangan Lita ke suatu tempat menjauhi gerbang. Tangan Lita terulur memohon pada Vero agar menggapainya.
Vero hendak menggapai tangan Lita namun sesuatu menahan Vero, Lita juga tak mengerti apa.
"Bang Veroooo...!!" Panggil Lita. Namun Kakek Arif terus membawa Lita menjauh dari Vero.
Hingga di suatu tempat yang indah. Kakek Arif menghentikan langkahnya. Mengajak Lita duduk di sebuah taman yang indah. Rasa-rasanya Lita pernah melihat taman ini tapi entah dimana.
"Assalamu alaikum Adikku yang cantik...." Tiba-tiba terdengar suara Fahri memberi salam.
Lita celingak celinguk, namun tak terlihat ada orang disana.
Kakek Arif berdiri menjauh. "Kakek mau kemana? Jangan tinggalkan Lita... Lita masih ingin bersama Kakek..." Teriak Lita.
Kakek Arif hanya tersenyum dari kejauhan.
"Dek... Bangunlah...." Lita mendengar suara itu lagi. Lita mencari asal suara itu.
"Maafkan Abang, Dek. Abang janji gak akan marah lagi sama Kamu...."
Lita terus mencari suara itu. Lita tak melihat lagi sosok sang Kakek. Lita berlari... Dia merasa sendiri hingga pada akhirnya Lita menemukan sosok Fahri disuatu tempat.
Fahri sedang memukuli wajahnya sendiri. Lita tersentak kaget. "Pukul Abang kalau itu bisa membuat Kamu bangun!"
Lita berlari dan menggapai tangan Fahri, memegang kuat tangan itu. "Jangan Bang...Hik... hik... hik.... Jangan sakiti diri Abang...."
Tiiiiiit.........
Alat pacu jantung yang terhubung dengan dada Lita berdecit tak beraturan.
__ADS_1