CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Sidang


__ADS_3

Sudah dua minggu Lita mondar-mandir hanya ingin bertemu Dosen pembimbingnya. Dan beberapa kali pula Lita berpapasan dengan Leo. Namun sikap Leo yang sangat cuek membuat Lita tak memperdulikannya. Lita sudah berjanji akan menyelesaikan Risetnya, Ujian Negara dan langsung kembali ke Indonesia.


Lita tak yakin akan sikap Leo yang cuek padanya menandakan kalau Leo memang tidak serius dengannya. "Mungkin Dia benar-benar telah berpaling dariku. Dan bersenang-senang dengan Wanita itu." Batin Lita.


"Lagi pula baby beauty nya Astrid sangat menggemaskan. Dia membuatku melupakan kesedihanku." Lita tersenyum manakala mengingat bayi Astrid yang sudah lahir ke dunia satu minggu yang lalu. Lita sangat senang, tak pernah sekali pun Lita tak datang ke Apartemen Astrid hanya ingin bermain dengan Baby Beauty.


Lain hal nya dengan Leo. Dia masih cemburu dengan Almarhum Vero. Ditambah lagi sikap Lita yang tak memperdulikan diri nya saat Dia cuek pada Lita. "Kenyataannya Lita santai saja. Berarti Lita belum bisa move on dari Vero, selama ini." Batin Leo.


Hingga pada akhirnya hari dimana Lita harus sidang, mempresentasikan tentang Risetnya selama ini di depan Dosen penguji.


"Semangat ya Sayang... Aku yakin Kamu pasti bisa." Astrid memberi semangat pada Lita sebelum Lita berangkat ke Kampus.


"Doain Auntie yang cantik...." Lita terus saja menciumi Baby Beauty yang menggemaskan.


Astrid tak pernah melarang Lita. Dia tahu, Lita sedang menutupi kesedihannya. Beberapa kali Astrid memergoki Lita yang diam-diam menangis sambil melihat foto kebersamaannya dengan Leo di ponsel Lita.


"Pasti dong Auntie... Aku akan mendoakan Auntie ku yang sangat cantik, baik hati dan tidak sombong, supaya berhasil Ujiannya......" Astrid menirukan suara anak kecil dan itu berhasil membuat Lita tertawa lepas.


"Aku berangkat ya..." Pamit Lita yang tak bosan tetap menciumi Baby Beauty.


"Kalau Aku dicium terus, kapan Auntie berangkatnya?" Kata Astrid lagi masih dengan suara anak kecil.


Lita hanya tersenyum. "Baiklah... Auntie berangkat.... Assalamu alaikum..." Salam Lita.


"Wa alaikumussalaam.... Hati-hati Auntie..." Jawab Astrid sambil melambaikan tangan baby nya yang sedang dalam gendongannya.


_______________________


Lita sangat percaya diri mempresentasikan Risetnya kepada dua orang Dosen Penguji. Lita yakin apa yang sudah Dia lakukan ditambah lagi semangat dari Dosen Pembimbingnya yang mengatakan kalau Risetnya tidak gagal.

__ADS_1


"Umur seseorang tidak ada yang tahu, Lita. Kita seorang Dokter hanya memberikan yang terbaik untuk pasien Kita, tapi Kuasa Tuhan tak ada yang dapat mengiranya." Kata-kata Dokter Oliver masih terngiang di telinga Lita manakala Lita sempat Down dengan hasil risetnya.


Beberapa kali Dosen penguji menyudutkan Lita, namun dengan tenang Lita menjawab semua pertanyaan dan desakan para Dosen Penguji. Lita juga merendahkan dirinya kalau Dia hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Hanya Allah yang mempunyai Kesempurnaan. Itulah kata-kata terakhir Lita menangkis semua debatan Dosen Pengujinya hingga kedua Dosen itu hanya manggut-manggut sambil tersenyum.


Tak pernah Lita sangka dan Lita duga, kedua Dosen Penguji nya berdiri dan memberikannya aplaus. "Selamat Nona Lalita Puteri Wijaya... Kamu berhasil dengan Nilai yang MEMUASKAN....!"


Lita mengusap wajahnya. "Alhamdulillaah... Ya Allah..." Lita menengadah. Tapi Lita belum selamat karena masih ada satu orang Dosen Penguji yang menanti Lita di ruang terpisah dari tempat Ujian nya sekarang.


Kedua Dosen Penguji Lita memberikan selamat. Lita membalas dengan senyuman sambil menangkupkan kedua telapak tangannya. "Terima Kasih Dokter." Lita sambil sedikit membungkuk.


Lita segera keluar dari ruang sidang untuk beristirahat sejenak. Karena setelah jam makan siang, Dia akan menghadapi satu orang Dosen Penguji penentu.


"Bismillaah... Aku pasti bisa." Lita menghembuskan nafasnya perlahan.


"Bagaimana Lita?" Suara Dokter Oliver terdengar menegurnya.


"Alhamdulillaah Dokter... Dokter Ranjit dan Dokter Sherly bisa menerima presentasi Saya..." Lita nampak bahagia.


Lita hanya mengangguk. "Tapi bukankah Dosen Penguji terakhir juga lebih sulit, Dokter?" Tanya Lita terlihat cemas.


Dokter Oliver tersenyum. "Saya yakin, Kamu bisa menghadapi nya."


Lita hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu, Saya ijin ke Kantin dulu, Dokter. Tenggorokan Saya terasa kering. Mungkin karena tegang tadi." Kata Lita dengan wajah bersemu merah.


"Oh... Baiklah.. Silahkan... Nanti kalau sudah selesai, Kamu temui Saya, yah?" Kata Dokter Oliver.


"Siap Dokter." Senyum tulus Lita. Lita pun beranjak menuju kantin. Tapi Lita kembali berpapasan dengan Leo.


Lita menunduk. Hati nya sakit. Leo pun terlihat terluka namun Leo menyembunyikannya. Leo tersenyum sinis pada Lita.

__ADS_1


Lita memutar tubuhnya hanya untuk melihat tubuh Leo yang membelakanginya. "Tapi....Kenapa Dokter Leo belok ke arah Musholah?" Batin Lita. "Ke toilet? Gak mungkin, itukan toilet mahasiswa, masa Dosen ke toilet mahasiswa?" Batin Lita.


Lita hendak mengikuti Leo tapi tiba-tiba tenggrokannya tercekat. "Aacchhh....Aku haus sekali..." Lita buru-buru ke Kantin dan memesan orange jus dan beberapa donat.


Lita menikmati jajanannya. "Kenapa Pak Leo kesana?" Lita masih memikirkan Leo. Jam memang menunjukkan sebentar lagi waktunya shalat dzuhur.


Musholah itu memang Mahasiswa moslem yang mendirikannya, mengingat Mereka kesulitan untuk melaksanakan shalat lima waktu. Ada gudang kosong yang lama terbengkalai. Para Mahasiswa Moslem dan beberapa teman Mereka yang punya rasa empati pada orang Moslem, membantu membersihkan gudang itu, mencat kembali temboknya yang sudah mengelupas cat nya.


Itu pun dengan berbagai protes dari Dosen dan Mahasiswa yang tidak menganggap keberadaan Mahasiswa Moslem di Kampus Mereka. Namun karena kegigihan Para Mahasiswa Moslem, akhirnya Rektor mengijinkan gudang itu dipakai sebagai Musholah.


Saat itu Lita baru menginjakkan kaki nya di semester pertama. Lita juga ikut andil dalam renovasi gudang itu apalagi akan dijadikan Musholah. Setelah tempat itu bersih dan rapih, Lita bersama beberapa Mahasiwi berbelanja kebutuhan Musholah, seperti sajadah dan Al Quran. Sedangkan Mukena, dianjurkan untuk membawa masing-masing.


"Ah.. Sudah Adzan..." Lita bergegas menghabiskan orange jus dan donat nya yang tersisa. "Aku ingin muhassabah disana sambil menunggu jam istirahat selesai." Batin Lita.


Beberapa menit kemudian Lita pun segera bergegas ke Musholah.


Sampai di Musholah, Lita terkejut melihat Leo yang baru akan keluar dari dalam Musholah.


Leo sedikit terperanjat kepergok oleh Lita.


"Dokter... Sedang apa?" Tanya Lita bingung.


"Oh... Itu tadi ada Mahasiswa yang meminta tanda tangan untuk Makalah nya." Kata Leo berbohong. Leo memang terpilih sebagai salah satu Dosen Pembimbing. Leo sempat kecewa kala tahu Lita bukan sebagai Mahasiswi bimbingannya.


"Tapi kenapa Dokter yang mendatanginya?" Lita tambah bingung.


"Saya buru-buru, dan Mahasiwa itu makalahnya tertinggal di dalam Musholah. Jadi Saya mengikutinya kesini." Alasan Leo.


"Oohhh... Aku kira, Dokter abis shalat Dzuhur?" Lita berharap.

__ADS_1


Leo hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Memang apa peduli mu?!" Ketus Leo sambil berlalu.


"Tapi... Dokter...?!!" Lita mencoba menahan langkah Leo, namun Leo tak memperdulikan Lita. Lita menghela nafas. "Dokterrr....???"


__ADS_2