
Satu minggu Kemudian.
"Yaaang... Sudah selesai belum?" Marcel langsung menodong Nindi yang baru masuk ke kamar sehabis membantu Ibu memasak untuk keperluan sahur esok dini hari.
Nindi tersenyum. "Nanti malam saja, ya Yang. Kalau sekarang malu." Nindi tersipu malu. Nindi hendak mandi keramas karena Adzan Dzuhur sudah berkumandang.
Marcel mengunci kamar. Dia sudah bersiap akan melaksanakan shalat dzuhur.
Tak lama kemudian Nindi keluar dengan handuk kecil di kepalanya dan handuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Kok gak jamaah Yang?" Tanya Nindi yang melihat Marcel sudah menggelar 2 sajadah.
"Kita jamaah berdua yah." Kata Marcel lembut. Ini kali pertama Marcel mengimami Nindi.
Nindi mengangguk dan segera memakai pakaiannya dan mukenanya.
Nindi sangat bahagia, dia shalat diimami suaminya.
Mereka telah melaksanakan shalat dzuhur. Nindi mencium punggung telapak tangan Marcel. Marcel mengecup kening Nindi, kemudian turun ke pipi lalu ke bibir. Marcel menuntut dalam.
Nindi terengah. Marcel memberi jedah. Nindi melepas mukenanya. Dia bergegas merapikan mukenanya dan sajadah.
Baru saja Nindi menaruh peralatan shalatnya, Marcel langsung menggendongnya.
Marcel meletakkan tubuh Nindi perlahan di ranjang. Marcel mulai mencumbunya.
"Yaaang... Nanti malam saja." Nindi mendesah.
"Kamu tega Sayaaang... Kamu gak lihat nih?" Marcel memperlihatkan punyanya.
Nindi sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nindi pasrah, tak seharusnya dia menolak permintaan suaminya.
Nindi kesakitan saat milik Marcel berhasil menembus milik Nindi. "Aaaccchhh... Sakiiit yaaang..." Nindi memegang bahu Marcel kuat.
"Aku juga merasa nyeri, yaaang.... Tapi enak." Kata Marcel.
Marcel melakukan perlahan. Dia tak mau menyakiti istrinya. Nindi mulai menikmati walau ada rasa nyeri disana.
Akhirnya mereka menyelesaikan penyatuan cinta mereka. Marcel mengecup kening Nindi. Tubuh mereka telah basah oleh peluh.
Tak lama mereka terpejam. Mengistirahatkan tubuh mereka.
"Assalamu alaikum...." Salam dari luar rumah.
"Wa alaikumussalaam... Mamaaa.... Ayaaahhh..." Fathir dan Fahri berhambur melihat orangtuanya sudah berada di rumah setelah melakukan honeymoon ke Australia.
Ibu keluar dari kamar. Ibu tersenyum melihat kebahagiaan diwajah putrinya dan menantunya.
Fitri dan Fahmi mencium punggung telapak tangan Ibu.
"Kalian berdua saja?" Tanya Ibu.
"Ya Bu, Kita sengaja gak kasih tahu Kak Tia, takut merepotkan." Kata Fitri.
"Kok sepi, Bu? Pada kemana?" Tanya Fahmi.
__ADS_1
"Nindi dan Marcel ada di kamar. Mungkin lagi istirahat. Tadi abis bantu Ibu masak buat sahur. Marcel juga habis membersihkan kebun belakang." Kata Ibu.
Fitri hendak mengetuk pintu kamar Nindi.
"Fitri.... Biarkan saja." Kata Ibu yang mengerti sambil mengedipkan mata karena ada Fathir dan Fahri.
Fitri terkekeh... "Iya ya... Baru bisa sekarang..."
"Kenapa Ma?" Tanya Fathir.
"Gak apa. Auntie dan Uncle cape abis bantu Nenek. Tadi kamu gak bantu Uncle?" Tanya Fitri.
"Tadi Aku dan Fahri bantu Uncle di kebun belakang. Sudah rapih sekarang Ma... Uncle gesit banget." Puji Fathir.
"Ya sudah... Kalian jangan ganggu Auntie dan Uncle ya." Pinta Fitri.
"Ya Ma..." Kata Fathir dan Fahri.
Fitri dan Fahmi berlalu masuk ke kamar. "Yaaaang.... Aku juga mau..." Pinta Fahmi yang sudah memeluk tubuh Fitri dari belakang.
"Iiisshhh... Kamu ini. Kita baru sampe. Memang gak puas disana hampir tiap saat Kamu minta..." Fitri mengrucutkan bibirnya.
"Abis enak yaaang... Tapi Kamu juga suka kan?" Goda Fahmi.
Fitri tersipu malu. "Nanti kalau jadi lagi, gimana Yaaang...??" Tanya Fitri.
"Loh memangnya kenapa? Mang Kamu gak suka?" Tanya Fahmi heran.
"Anak Kita sudah tiga, Yaaang. Lagian umurku juga sudah 35 tahun." Kata Fitri.
"Yaaang... kalau masih dikasih, berarti Allah masih memberi kepercayaan pada Kita. Jadi Kita terima Amanah ini. Ibu saja anaknya 5." Kata Fahmi sambil menyusuri leher Fitri dengan kecupan.
"Yaaang.... Pintunya sudah dikunci belum? Nanti anak-anak masuk...." Fitri mengingatkan.
Fahmi menepak jidadnya. "Astaghfirullaah... Aku lupa." Fahmi langsung mengambil selimut menutupi tubuhnya yang sudah polos dan bergegas mengunci pintu.
Fitri terkekeh melihat Fahmi. "Pake ditutupin Yang... Aku dah lihat selama 15 tahun." Canda Fitri.
Tak lama kemudian. Fahmi memeluk tubuh Fitri yang terkulai lemas. "Yaaang... Mumpung ada Tia dan Nindi juga saudara-saudaramu disini, bagaimana kalau Kita pulang ke Jakarta. Kasihan Ayah Bunda, beberapa tahun ini Kita belum menjenguknya." Pinta Fahmi.
Orangtua Fahmi memang sudah kembali ke Jakarta setahun yang lalu karena sebentar lagi Ayah Fahmi akan pensiun.
Fitri memiringkan tubuhnya. "Tapi Kita juga baru kali ini Idul Fitri ngumpul semua, Yaaang..." Kata Fitri.
"Maksud Aku, setelah Shalat ied. Siang atau sorenya Kita berangkat. Gimana?" Usul Fahmi.
Fitri tersenyum. "Iya Sayaang... Terserah Kamu saja." Kata Fitri.
Fahmi mengecup kening Fitri. "Terima kasih ya Sayaaang. Kamu memang istri pengertian." Kata Fahmi.
"Ayah Bunda kan, orangtua ku juga." Kata Fitri sambil tersenyum.
"Kita mandi sekarang yaahh... Sebentar lagi ashar." Kata Fahmi.
Fitri mengangguk. Fitri baru saja hendak bangun tapi Fahmi langsung menggendongnya, membawanya ke kamar mandi. Mereka pun mandi bersama.
__ADS_1
Fitri sangat bahagia, ternyata Fahmi begitu menyayanginya. Sebelumnya Fahmi tak pernah seromantis ini.
Di Kamar Nindi.
"Yaaang...." Marcel mengecup bibir Nindi. "Bangun Yaaang... sudah mau ashar."
Nindi mengerjabkan mata. Nindi tersenyum melihat suaminya. "Jam berapa yaaang??"
"Sebentar lagi ashar. Kita mandi yuk." Ajak Marcel.
Nindi mengangguk. Nindi hendak bangun tapi... "Aauuwww.... Yaaang... Kenapa sakit sekali..???"
Marcel tersenyum. "Punyaku juga sakit Yang." Marcel tersipu malu. Marcel mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Marcel melihat ada bercak darah di seprei.
Marcel mengecup bibir Nindi. "Terima kasih Yang, sudah menjaga kesucianmu, untukku." Kata Marcel.
Nindi mempererat pelukan tangannya dileher Marcel. "Aku bahagia Yang, Akhirnya Aku menikah denganmu. Cinta pertamaku. Terima kasih Kamu mau memenuhi keinginanku." Mata Nindi berkaca-kaca.
"Ssstttt... Jangan sedih lagi yaaah... Aku akan selalu menyayangimu sampai maut memisahkan Kita." Kata Marcel.
"Aamiiin..." Kata Mereka berdua. Mereka pun mandi bersama walau ada rasa nyeri pada milik mereka masing-masing.
Mereka melaksanakan shalat ashar didalam kamar.
Kemudian.
"Yang... Aku lapar." Kata Marcel.
"Iya, Aku juga. Tadi Aku mau makan siang, tapi Kamu malah mengurungku." Canda Nindi.
Marcel terkekeh. "Abis Kamu nyuekin Aku, Yaang..." Canda Marcel.
"Aku malu Yang keluar. Sakit jalannya." Nindi manja.
"Ya sudah... Aku saja yang ambilkan yaah..." Kata Marcel lembut.
Nindi mengangguk. "Terima kasih ya Yang. I Love You." Kata Nindi.
Marcel tersenyum dan bergegas masih memakai sarung shalatnya.
"Sudah shalat ashar, dek?" Tanya Fahmi yang melihat Marcel masih menggunakan sarung.
"Sudah Kak." Kata Marcel.
Fahmi tersenyum. Dia mengerti. "Pasti Marcel masih bujangan." Batin Fahmi yang teringat bagaimana dia dulu pertama kali melakukannya dengan istrinya.
Ibu sedang di dapur. Ibu sudah menyiapkan makanan untuk Nindi dan Marcel. "Baru Ibu mau antar ke kamar." Yang diterjemahkan oleh Fitri.
"Gak apa Bu. Masa Ibu melayani Kami." Kata Marcel.
Ibu tersenyum. "Ini... Bawa saja ke kamar." Pinta Ibu. Ibu mengerti Nindi pasti sedang kesakitan.
Fitri terkekeh melihat Marcel. Marcel yang merasa Fitri mentertawakan, menunduk malu. Ibu mencubit lengan Fitri.
"Sakit.. Bu..." Kata Fitri sambil mengrucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Bu... Marcel ke kamar dulu ya." Pamit Marcel sambil membawa nampan.
"Iya Nak." Sahut Ibu.