CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Putra Diandra


__ADS_3

"Rencananya Kamu mau masuk Universitas mana, Sayang?" Tanya Lambok pada Atala.


"Aku milih Universitas tempat Mama dan Papa dulu Kuliah bareng." Kata Atala yang pernah mendengar cerita dari Nindi kalau Papa dan Mama mereka satu Kampus hanya saja beda Fakultas. Nindi pun Kuliah di Universitas yang sama.


Lambok mengangguk. "Kamu sudah pikirkan mau ambil Jurusan apa?"


"Sudah dong Pa..." Atala menghampiri Lambok dan duduk disebelah Papa nya yang sedang memangku Tristan.


Tia memang melahirkan seorang bayi laki-laki dan diberi nama: 🌷Tristan Sastra Wijaya🌷. Kini usia Tristan sudah 2 tahun lebih.


"Rencananya Aku mau ambil jurusan Arsitektur, Pa." Kata Atala.


Atala mengambil Tristan dari Papa nya. "Adikku yang tampan... Nanti kalau sudah besar harus jadi pemberani seperti arti dirimu." Kata Atala.


Lambok tersenyum dan mengusap punggung Atala lembut. "Bagus... Papa setuju kalau memang itu sudah menjadi pilihanmu." Kata Lambok.


Walau Atala bukan anak kandungnya tapi Lambok sangat menyayanginya bahkan Mereka melupakan kalau Atala bukan anak kandung Lambok dan Tia.


"Pa... Tahu gak?" Lita baru saja datang ke ruang tengah setelah membantu Mama nya di dapur.


"Apa Sayang?" Tanya Lambok.


"Kak Atala itu di sekolah jadi Idola. Cewek-cewek pada keganjenan ngedeketin Kak Atala." Cerita Lita.


"Apaan sih Kamu, Dek?" Atala malu.


Lambok tersenyum. "Lalu apa tanggapan Kakakmu?" Tanya Lambok pada Lita.


"Biasa saja, Pa..Tetap cool..." Canda Lita.


"Papa mu dulu juga seperti itu. Banyak yang ngedeketin.Tapi Papa memilih Mama yang biasa-biasa saja." Kata Tia yang tiba-tiba sudah di ruang tengah.


Lambok tersenyum. "Siapa bilang Kamu biasa saja? Kamu itu bagi Aku, perempuan paling manis yang gak pernah bosan Aku lihat." Puji Lambok.


"Tuuhhhh mulai deh gombalnya." Canda Tia.


"Siapa yang gombal? Buktinya Aku sangat mencintaimu. Dan Cintaku menghasilkan anak-anak yang tampan-tampan dan Cantik-cantik." Canda Lambok.


Tia tersipu malu. "Ayo Kita makan. Vita sudah nunggu di meja makan. Kalau dengerin Papa ngomong gak akan abis." Canda Tia.


Tia mengambil Tristan dari Atala. Lambok merangkul dan mengecup kepala Tia. "Aku sangat mencintaimu, Sayang."


Tia tersenyum menatap Lambok. "Aku tahu Sayang. Aku sangat beruntung memiliki Kalian." Kata Tia.


"Adik, Kak Atala yang kalem, masak apa? Kaya nya enak?" Tanya Atala sambil mencubit pipi Vita lembut.


"Mama yang masak Kak, Aku dan Lita hanya bantu saja." Kata Vita merendah.

__ADS_1


Tia tersenyum melihat Vita yang selalu menunduk kala Atala mendekatinya.


Lambok memperhatikan Vita yang sangat pemalu. "Persis seperti Kamu, selalu menunduk kala Aku dekati." Bisik Lambok pada Tia.


Tia mencubit perut Lambok. Lambok meringis.


"Papa dan Mama walau sudah memiliki Kita, masih mesra saja. Aku bahagia mempunyai keluarga seperti saat ini. Rasanya Aku gak akan sanggup meninggalkan Kalian." Kata Atala.


Tia dan Lambok mengerutkan keningnya. Mereka saling pandang. Tia hanya mengangkat bahu nya.


"Maksud Kamu apa, Sayang? Memang Kamu mau pergi kemana?" Tanya Lambok yang terlihat sedih juga khawatir.


"Hehehehe... Salah yah Pa..? Maksud Aku, nanti kalau Aku sudah selesai Kuliah terus mau melanjutkan S2 di luar negeri, misalnya. Aku akan sangat merindukan Kalian. Apalagi sama Adikku yang menggemaskan ini." Kata Atala yang lagi-lagi menggoda Vita.


"Iiihhh... Kak Atala terus deh gangguin Aku." Vita mengrucutkan bibirnya.


"Abis Kamu ngangenin. Gak bosan dilihat." Puji Atala.


Lambok terperanjat. Tia melirik kearah Lambok.


"Lalu kalau Aku gak ngangenin, Kak?" Lita protes sambil mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha...." Lambok dan Atala tertawa.


"Nah... Kamu jadi Kakak gak boleh berat sebelah. Vita punya kembaran belum lagi Tristan." Canda Lambok.


Atala menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau Kamu tuh bodyguard Kakak.... Kalau ada yang ganggguin Kakak, Kamu yang melindungi Kakak dari Cewek-cewek itu..." Canda Atala.


Lita tersenyum. "Terima kasih Kakakku yang tampan." Kata Lita yang merangkul bahu Atala.


"Apalagi kalau Kamu menutup auratmu juga seperti Vita....." Atala menggantung kalimatnya.


"Aku belum siap Kak. Gak apa kan Ma, Pa?" Tanya Lita.


"Ya Sayang... Yang penting inget pesan Mama, jangan bergaul bebas dan harus bisa jaga diri. Jaga kepercayaan Mama dan Papa." Kata Tia bijaksana.


"Ya Ma. Lita akan ingat pesan Mama." Kata Lita.


"Ya sudah... sekarang makan yang bener dari tadi ngobrol terus. Nanti ngobrolnya dilanjutin setelah makan." Kata Lambok.


"Ya Pa...." Sahut Atala, Vita dan Lita.


Tia mengambilkan makan untuk Lambok. Kemudian menyuapi Tristan. Lambok pun menyuapi Tia.


Vita mengambilkan makan untuk Atala dan Lita. Sesekali Atala menyuapkan pada Vita dan Lita yang berada di sebelah kiri dan kanannya.


__________________

__ADS_1


"Aku harus mencarinya. Anakku pasti masih hidup." Batinnya.


Selama ini Dia sudah mengetahui kalau Putranya ditukar waktu di Rumah Sakit. Saat pertama kali dia menggendong putranya saat abis melahirkan, Dia melihat tanda lahir di pinggang kiri putranya.


Tapi setelah keesokan harinya, Dia mendapati Putra yang berbeda. Awalnya Dia ingin protes, namun dia urungkan. Dia gak mau Suaminya akan meninggalkannya karena Putra mereka telah ditukar.


Dan ternyata setelah beberapa minggu di rumah, bayi itu sakit. Dia membawanya ke Rumah Sakit tanpa sepengetahuan Suaminya. Ternyata bayi itu mengalami kelainan jantung.


Diandra mencoba ikhlas dengan kenyataan yang dia hadapi saat itu. Tapi apa daya, Allah berkehendak lain. Allah mengambil Rasya Aditya dengan cepat.


Dan membuktikan kalau Suaminya bukan laki-laki yang baik baginya.


Diandra menghela nafas. "Darimana Aku harus mulai mencarinya?" Batin Diandra.


Diandra kini sudah berada di Jakarta. Pekerjaannya di Sumatera sudah selesai. Dia sangat merindukan Fathir.


"Andra.... Panggil sang Mama. Kok melamun?" Tanya Tante Dewi yang menghampiri Putrinya.


"Gak kok Ma, Andra kangen sama Fathir." Kata Andra.


"Fathir sekarang pasti sudah lulus SMA. Kira-kira Dia meneruskan kemana yah?" Tanya Andra.


"Mama kurang tahu. Coba Kamu telpon Fathir." Kata Tante Dewi.


Andra mengangguk dan mendial nomor ponsel Fathir. Andra memang membelikan pada Fathir ponsel keluaran baru saat akan kembali ke Jakarta.


Awalnya Fitri menolak, tapi Andra memohon demi mengobati rasa rindunya pada Putranya. Akhirnya Fitri menerimanya. Dia gak tega dengan Andra.


"Assalamu alaikum Mama Andra." Sapa Fathir disana.


"Wa alaikumussalam Fathir. Kamu dimana Nak?" Tanya Andra.


"Aku masih di sekolah Ma. Hari ini pengumuman kelulusanku. Mama apa kabar? Mama baik-baik saja kan?" Tanya Fathir.


"Alhamdulillaah Mama baik. Setelah lulus Kamu mau lanjut kemana, Sayang?" Tanya Andra.


"Aku memilih Universitas yang sama dengan Atala, Ma... Di Jakarta. Aku bosan disini. Aku mau cari suasana baru." Kata Fathir.


"Mama doakan supaya Kamu diterima yah. Nanti Kamu tinggal sama Mama Andra saja yah, please..." Pinta Andra.


"Yaaahhh.. Fathir sih setuju saja, tinggal dimana juga. Nanti Fathir ijin dulu sama Ayah dan Mama." Kata Fathir.


"Nanti Mama bantu minta ijin juga ya Nak." Kata Andra.


"Ya Ma, terima kasih. Ma, sudah dulu ya. Pengumumannya sudah akan dimulai." Kata Fathir sopan.


"Ya Sayang. Kamu hati-hati. Salam buat Mama dan Ayah mu, juga Nenek, Auntie dan Uncle." Pinta Andra.

__ADS_1


"Baik Ma. Assalamu alaikum." Salam Fathir.


"Waalaikumussalaam..." Jawab Andra. Andra tersenyum bahagia. "Ya Allah... semoga Fathir diterima di Universitas Jakarta. Aamiin..."


__ADS_2