CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kejujuran Tristan


__ADS_3

"Assalamu alaikum...." Tristan masuk kedalam Apartementnya.


Tristan sangat terkejut saat Dia membuka pintu apartemennya. Ternyata Kedua Orang Tua nya sudah berada di sana.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Tia dan Lambok.


"Mama....?? Papa....??" Tristan mencium punggung telapak tangan kedua Orang Tua nya. Perasaannya tak enak.


"Baru pulang, Nak?" Tanya Lambok.


Tristan merasa gugup. Orang Tua nya tak akan bersikap kasar atau mengamuk jika Mereka tahu Putera Puteri nya membuat kesalahan.


"Dari mana Kamu?" Tanya Tia ketus. Tia bersedekap.


"Lambok mengelus bahu Istri nya. Biarkan Tristan istirahat dulu, Sayang..." Pinta Lambok.


Tristan terlihat merasa bersalah. Dia masuk ke kamar nya membawa masuk tas ransel nya. Tristan memang selalu ingin simple. Pulang ke Indonesia hanya membawa beberapa pakaian ganti diperjalanan saja.


Dia juga membawa sedikit oleh-oleh yang tidak bisa ditolak pemberian dari Astrid.


Lambok membawa Tia duduk kembali ke sofa. Mereka sudah satu minggu menginap disana.


Lambok dan Tia beberapa minggu yang lalu terkejut menerima surat yang datang dari Universitas Negeri Negara I. Saat Lambok membuka dan membaca nya ternyata surat itu surat persetujuan cuti atas nama TRISTAN BINTANG WIJAYA.


Sebenar nya Lambok dan Tia ingin segera ke Negara I, namun karena pekerjaan Lambok yang masih padat, Dia memutuskan untuk menunda nya.


Tia pun berulang kali menelpon Tristan namun ponsel nya selalu di luar jangkauan.


Mereka berdua sempat khawatir akan keberadaan Tristan. Namun pada Akhir nya Tristan menelpon balik dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Tapi Lambok tak membahas soal surat cuti Tristan. Dia menunggu Putera nya untuk terus terang. Tapi nihil.


Tia juga menemukan berkas-berkas Lita yang hilang dari kamar. Seingat Tia yang masuk ke kamar Lita hanya dirinya dan Tristan. KTP dan ATM Lita tidak ada ditempatnya. Posisi KK Mereka juga berpindah. Seperti nya Tristan buru-buru jadi tidak fokus meletakkan ditempat semula.

__ADS_1


"Papa dan Mama kapan sampai? Kok gak kasih kabar ke Aku?" Tanya Tristan yang baru saja keluar dari kamarnya setelah mandi dan shalat Ashar.


"Apa ponsel Mu lowbet, Nak?" Tanya Lambok.


Tristan menepak jidad nya sendiri. "Astaghfirullaah... Aku lupa Pa..." Kata Tristan mencoba bersikap biasa. Dia menghidupkan ponselnya kemudian memasang charger pada ponsel nya. 25%.


Tia sudah membuka oleh-oleh yang Tristan bawa. Tia meletakkan dalam piring dan menyajikannya di meja. "Astrid selalu tahu makanan kesukaan Mama, yah?" Tia menyindir.


"Hhmmm... Itu... Bukan Ma... Bukan dari Kak Astrid. Teman Ku baru datang dari Singapura." Tristan beralasan namun wajah nya tak bisa menutupi kebohongannya.


Lambok terkekeh. "Kenapa Putera Papa sekarang, belajar untuk berbohong?"


Tristan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Tristan menunduk.


Lambok pindah duduk di sebelah Tristan. Dia merangkul bahu Tristan. "Ada apa Nak? Apa yang Kamu sembunyikan dari Kami? Apa Kami ini bukan Orang Tua Mu?" Tanya Lambok dengan lembut. Lambok sangat tahu bagaimana menghadapi Anak-anak nya.


"Dan surat ini, apa maksudnya ya, Pa?" Tia meletakkan amplop surat dengan logo Kampus Tristan.


Tiba-tiba Tristan langsung bersimpuh di kaki Tia. "Ma... Maafin Tristan. Tristan gak bermaksud menipu Mama dan Papa... Tristan.... Tristan hanya...." Tristan terdiam, Dia tak melanjutkan kata-kata nya.


Tia dan Lambok menghela nafas. "Dimana KTP dan ATM Kakak Mu, Lita?" Tanya Tia.


"Ada di kamar Kakak, Ma..." Kata Tristan kembali berbohong.


"Lalu pembayaran tiket pesawat atas Nama Lalita Puteri Wijaya, Krisna Gustian dan Salsabillah Gustian, Kamu pake ATM Kakak Mu, Nak?" Tanya Tia dengan suara serak dan mata yang sudah berkaca-kaca. Tia menangis menahan kerinduan pada Puteri nya.


Tristan mendongak tak percaya. Tristan lupa, saat itu tabungannya tidak cukup untuk membayar biaya Rumah Sakit dan transportasi lainnya. Dia memang membawa ATM Lita karena Lita yang mengizinkannya. Tristan tak membawa buku tabungan Lita.


Lambok yang curiga karena KTP dan ATM Lita tak ada di tempat nya langsung ke Bank untuk mengecek transaksi apa saja yang sudah keluar dari ATM Lita, itu pun setelah perdebatan panjang dengan pihak Bank karena merupakan privasi nasabah nya.


Tristan mengangkat wajahnya. Mengusap airmata Sang Mama. "Maafkan Tristan Ma... Maaf.... Tristan gak jujur sama Mama dan Papa..."


"Hik... hik... hik... Jadi Kakak Mu masih ada, kan? Apa Dia baik-baik saja, Nak?" Tia tak dapat lagi membendung airmata nya.

__ADS_1


Lambok menghampiri Tia dan merengkuhnya. Tia lah yang sangat terpukul atas insiden Lita. Tia juga yang memaksa Lambok agar cepat menyusul Tristan. Hati nurani nya sebagai Ibu tak pernah meleset.


"Alhamdulillaah, Kak Lita baik-baik saja Ma... Pa... Maaf Tristan menyembunyikan keberadaan Kakak dari Mama dan Papa. Kak Lita tak ingin Mama dan Papa kecewa." Tristan kembali menunduk.


"Apa yang sudah terjadi, Nak? Siapa Krisna dan Salsabillah?" Tanya Lambok.


Lambok mengangkat bahu Tristan. Tristan duduk diapit kedua Orang Tua nya.


"Kak Krisna....." Tristan ragu mengatakannya. Orang Tua nya pasti akan sangat kecewa jika Mereka tahu yang sebenarnya.


"Siapa?!" Tanya Tia tak sabar. Lambok mengusap bahu Tia dari jarak terhalang tubuh Tristan.


"Maaf Ma... Pa... Sekali lagi Tristan mohon ampun sama Mama dan Papa..." Tristan menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Kak Krisna itu yang menyelamatkan Kak Lita, Dia juga Suami Kak Lita, Tristan yang menikahkan Kakak..." Gumam Tristan sambil menunduk.


"Astaghfirullaah..." Tia membekap mulutnya sendiri. Tak percaya apa yang sudah Dia dengar.


Lambok mengelus dada nya yang terasa nyeri.


"Pa... Maafkan Tristan Pa... Papa boleh memukul Tristan tapi jangan marah sama Kak Lita... Kasihan Kak Lita, Pa... Ma..." Tristan merengkuh lutut Lambok. Tristan bersimpuh di lutut Lambok.


"Tristan gak bermaksud melangkahi kewajiban Papa... Tristan tak ingin melihat airmata Kak Lita... Tristan ingin Kak Lita bahagia... Ampuni Tristan...." Tristan mencium kedua lutut Lambok.


"Ma... Putera Kita sudah Dewasa... Dia sudah dapat menggantikan posisi Ku..." Lambok terisak.


"Tristan mohon ampun Pa..." Tristan benar-benar gak tahu lagi harus bagaimana. Tristan merasa sangat menyesal dan bersalah. Dia mengambil tangan Lambok dan memukulkannya ke kepala Tristan.


Lambok terkejut tangannya yang tak pernah menyentuh kasar kepada Putera Puteri nya, hari ini tangan itu melakukannya. Lambok menahan tangannya saat Tristan hendak melakukannya lagi.


Lambok memeluk Tristan. "Jangan seperti ini Nak... Papa menyayangi Kalian. Hati Papa sakit jika tangan Papa melukai Kalian... Hik... hik... hik..."


"Papa bangga sama Kamu... Kamu begitu menyayangi Kakak Mu, hingga Kamu mengambil sikap. Papa tidak marah Kamu mengambil kewajiban Papa. Papa merasa telah gagal sebagai Orangtua karena tidak tahu nasib Kakak Mu... Hik... hik... hik..." Lambok masih terisak.

__ADS_1


"Gak Pa... Papa dan Mama adalah Orangtua terbaik dalam hidup Kami. Kami bangga memiliki Mama dan Papa. Kak Lita juga minta maaf karena tidak mau memberitahu keberadaan Kakak pada Mama dan Papa. Kak Lita merasa bersalah pada Mama dan Papa. Kak Lita sekali lagi mengecewakan Papa dan Mama." Jelas Tristan mewakili Lita, Sang Kakak.


Tristan pun menceritakan kisah hidup Lita selama ini. Penyekapan yang dilakukan Bella, dikejar-kejar Penguasa Kalimantan hingga kepindahannya ke Singapura.


__ADS_2