
Seharian Lita berada di ruang ICU tempat Vero dirawat. Vero selalu memohon pada Lita untuk tidak sedetikpun meninggalkannya.
Hanya saat Shalat dan makan, baru Lita bisa keluar dari ruang ICU. Lita juga sudah memulai risetnya.
"Bagaimana kondisi Vero, Uncle?" Lita baru saja menyelesaikan laporannya saat Marcel masuk ke ruang Dokter.
Marcel tersenyum. "Alhamdulillaah... Kondisinya jauh lebih baik. Setidaknya Kamu sudah membangkitkan semangatnya untuk hidup. Kita lihat perkembangannya beberapa minggu ini, kalau memungkinkan, Uncle dan Auntie akan melaksanakan operasi untuk pengangkatan penyakitnya."
"Apa hal yang terburuk, Uncle?" Lita terlihat cemas.
"Uncle sudah katakan padamu, kemungkinannya berhasil hanya dua puluh persen, hanya Allah Yang Maha Kuasa. Uncle akan berusaha semaksimal mungkin." Kata Marcel.
Lita menunduk, mencoba tegar dan mulai mengingat pelajaran yang Lita dapat dari Negara J.
"Apa Uncle sudah mendapatkan Laporan tentang pengobatan Bang Vero di Rumah Sakit sebelumnya?" Tanya Lita.
Uncle Marcel menghela nafas. "Vero sepertinya sudah pasrah akan penyakitnya. Berulang kali saat sakit kepalanya kambuh, Dia hanya meminum obat pereda nyeri. Padahal pihak Rumah Sakit berulang kali meminta Vero untuk memeriksakannya lebih rinci."
"Lalu darimana Bang Vero bisa tahu kalau Dia terkena kanker Otak?" Lita penasaran.
"Seperti nya Vero pernah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Tapi tidak lama. Vero menyembunyikan penyakitnya dari Keluarganya. Uncle juga kurang jelas. Mungkin Auntie mu tahu...." Kata Marcel.
Lita mengangguk. Nindi memang sudah pulang ke rumah untuk menemani Putera dan Puteri nya di rumah.
"Kamu kalau lelah, pulang saja. Besok kembali lagi kesini. Vero juga sedang istirahat. Uncle sudah memberikannya obat. Jadi Dia tak akan rewel mencarimu... Hehehehe..." Goda Marcel.
Lita tersenyum. "Uncle gak pulang sekalian? Uncle kan juga udah seharian disini." Kata Lita.
"Hahahaha... Iya Kamu benar. Mulai besok Kita mulai mengatur waktu agar bisa fokus pada pengobatan Vero." Kata Marcel.
"Aku siap-siap ya Uncle." Kata Lita.
"Ok... Uncle tunggu di parkiran ya." Kata Marcel.
"Ya Uncle." Kata Lita tersenyum.
__________________________
"Kak Lita...!!" Vera langsung menghambur dalam pelukan Lita. Vera menangis. "Kakak kemana saja? Hik... hik... hik..."
Lita terkesima karena tiba-tiba Vera datang dan memeluknya. Lita mengusap kepala Vera yang tertutup hijab. "Sabar Dek... Istighfar..." Pinta Lita.
__ADS_1
Vera melerai pelukannya. Sudah sepuluh hari, Vero berada di Rumah Sakit, Keluarga Vero belum boleh menjenguknya. Karena permintaan dari Marcel. Tapi Marcel selalu memberikan info tentang perkembangan kesehatan Vero.
Lita merangkul bahu Vera dan membawa nya duduk.
"Kakak kemana saja? Kenapa baru pulang?" Vera merajuk sambil mengusap airmata nya.
"Kakak kan kuliah Dek, di Negara J." Kata Lita.
"Ya tapi kan ada liburnya, kenapa gak pulang ke Sumatera? Apa Kakak marah sama Abang?" Vera masih getir menahan tangisnya.
Lita menghela nafas. "Dek... Kamu tahu kan, keluarga Kakak dan Keluarga Kamu gak pernah Akur. Nenek Dinda gak merestui hubungan Kakak sama Abangmu. Dan lagi pula, Kakak tahu, Kak Diah sangat mencintai Abang Kamu."
Vera menggeleng cepat. "Gak Kak... Abang sudah gak cinta lagi sama Kak Diah sejak Abang mencintai Kakak. Abang hanya cinta sama Kakak. Sekarang Nenek udah gak ada, jadi gak ada halangan lagi untuk hubungan Kakak juga Abang."
Lita merengkuh bahu Vera. Lita tahu semua ini berat. Cinta tanpa restu tak akan menyatu, malah akan hancur di kemudian hari. Lagi pula Lita sudah melupakan cintanya pada Vero.
"Kakak dan Abangmu tidak berjodoh, Sayang. Kakak sudah melupakan Abang Kamu. Kakak kemari ingin menyelesaikan masalah Kakak dengan Abang Kamu agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari." Jelas Lita.
"Tapi Kak... Abang masih sangat mencintai Kakak. Abang gak pernah menghianati Kakak." Vera bersikeras membela Vero.
Lita tersenyum. "Rejeki, jodoh dan maut semua adalah Kuasa Allah... Untuk saat ini yang Kakak pikirkan bagaimana cara nya agar Abang Kamu sehat. Jadi Kakak minta tolong sama Kamu, biarkan Kakak konsentrasi menangani penyakit Bang Vero."
Vera nampak kecewa. Vera sangat berharap Abang nya menikah dengan Lita. Karena Lita adalah kehidupan bagi Vero.
Vera mengangguk. Walau berat tapi Lita benar kalau saat ini yang terpenting adalah kesehatan Abangnya.
"Kakak harus segera ke ruang ICU. Abang mu pasti sudah menunggu." Lita tersenyum.
Vera mengangguk. Vera menghela nafas.
Vera semalam mendengar percakapan Marcel dengan Kakek nya saat Marcel menelpon Sang Kakek dan di loadspeaker. Vera sangat kaget kalau Lita telah kembali dan ikut menangani pengobatan Abang nya. Makanya Vera pagi-pagi sekali pamit pada sang Kakek untuk keluar sebentar dengan berbagai alasan.
__________________________
"Pasien mu gak mau makan, Sayang." Canda Nindi saat melihat Lita masuk ke ruang perawatan Vero.
Vero memang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisi nya jauh lebih baik setelah Lita datang. Sudah Seminggu Lita merawat Vero.
"Kok gitu sih Bang? Mang Abang gak mau sehat?" Canda Lita.
Vero terlihat murung. Dia kesal karena sudah dua hari Lita tak berada disisi nya. Lita sedang sibuk menyusun riset nya juga sedang mengembangkan teknologi pengobatan kanker dan saraf.
__ADS_1
Marcel, Nindi dan Lita sedang mempersiapkan semua hal agar operasi pengangkatan kanker dari tubuh Vero membuahkan hasil.
"Apa Abang mau Kita jalan-jalan ke taman?" Ajak Lita dengan senyumnya yang tulus.
Vero mengangguk tapi masih murung.
"Tapi Sayaang...... Vero belum boleh keluar." Nindi nampak cemas.
Lita tersenyum. "Gak apa Auntie. Tapi Abang harus sarapan dulu, baru Aku ajak keluar." Pinta Lita dengan syarat.
Vero mengangguk. Nindi tersenyum. Dia menyerahkan sarapan Vero pada Lita.
"Bismillaah...." Kata Lita saat menyuapkan bubur di sendok ke mulut Vero.
Vero menerima nya perlahan. Lita dengan sabar menyuapinya.
"Auntie tinggal dulu ya." Kata Nindi merasa tak enak menjadi obat nyamuk disana.
"Kamu gak sayang Aku." Vero mulai bicara.
Lita terdiam sejenak. Lalu kembali menyuapi buburnya. Lita hanya tersenyum.
Vero menangkap tangan Lita yang hendak menyuapinya.
Lita menghela nafas. "Sedikit lagi, jangan mubazir yah. Bubur ini yang buat Mama Fitri loh... Beda kan sama sarapan kemarin?" Kata Lita. Lita tahu makanan dari Rumah Sakit gak enak. Maka nya Lita membuatkan bubur untuk Vero, namun Fitri yang tahu Lita kurang istirahat akhir-akhir ini, mengambil alih membuatkan bubur untuk Vero.
"Kenapa Kamu berubah? Apa Kamu gak mencintaiku lagi?" Vero nampak putus asa.
Lita tersenyum saat suapan terakhirnya masuk ke mulut Vero. Lita menyodorkan air minum dengan sedotan ke mulut Vero. Vero menerima nya walau banyak tanya di hati nya yang belum terjawab.
Setelahnya Lita meletakkan semua peralatan makan di washtafel di ruangan itu. Lita mencuci tangannya. Kemudian mengambil kursi roda.
Lita membantu Vero turun dari brankar. Lita merasa tubuh Vero sangat ringan. Terlihat ringkih. Sebisa mungkin Lita menahan tangisnya di depan Vero. Lita tak ingin membuat down semangat Vero karena airmata nya.
Tubuh Vero sedikit gontai karena sudah dua minggu tak turun dari brankar.
"Aduuuhhhh... Astaghfirullaah...." Vero memegang kepala nya.
"Kenapa Bang?" Lita terlihat cemas. "Kalau Abang gak kuat, tiduran aja yah..."
Vero menggeleng. Tangannya masih berpegangan pada bahu Lita. "Aku kuat. Aku ingin keluar, ke taman." Pinta Vero.
__ADS_1
Lita mengangguk dan kembali membantu Vero duduk di kursi roda.