
Vero duduk termenung di balkon kamarnya. Dia terlihat sedih. Sebuah undangan pernikahan berada dalam pegangannya.
"Cepat sekali Kamu menikah, Vita? Aku kira Atala adalah Abang kandungmu... tapi ternyata...." Vero membuang nafasnya kasar.
"Sayaang...." Tiba-tiba Dita sudah berada di samping Vero. Dia mengusap bahu Vero.
"Ada apa Sayang? Kenapa melamun? Undangan dari siapa?" Tanya Dita beruntun.
"Mama....Dari kapan Mama disini?" Tanya Vero yang sempat kaget dengan keberadaan Mama nya yang tiba-tiba.
"Mama dari tadi memanggilmu, tapi Kamu seperti tak mendengarnya." Kata Dita lembut.
"Maaf Ma." Kata Vero menunduk.
Dita mengambil kartu Undangan yang berada ditangan Vero. Dita bergegas membukanya dan membacanya.
"Jadi Vita yang Kamu maksud, Puteri nya Mama Tia dan Papa Lambok, Sayang?" Dita sedikit terkejut.
Vero mendongak ke wajah Mama nya. "Apa Mama mengenalnya?" Tanya Vero.
"Jadi Mereka satu komplek dengan Kita? Ya Allah... Mama benar-benar gak tahu." Kata Dita.
"Mama dan Papa sangat mengenal Mereka. Mereka memang keluarga baik-baik. Dan Vita akan menikah dengan Atala. Ya Allah..... Benar-benar beruntung nasib Vita dan Tia." Kata Dita.
"Maksud Mama? Bukannya Atala itu Putera nya Mama Tia ya?" Vero gak mengerti.
Dita merangkul bahu Vero dan membawanya ke kamar. Dita mendudukkan Vero di ranjangnya dan Dita duduk disampingnya.
Dita mulai menceritakan kalau Tia dulu adalah mantan istri dari Suami nya, Adrian.
Ya... Vero adalah anak dari Dita dan Adrian. Sebenarnya bukan anak kandung Mereka. Vero adalah Putera nya Adnan dan Gita. Juga Vera adik perempuan Vero.
Vero dan Vera diasuh oleh Dita dan Adrian sejak Usia Vero 13 tahun dan Vera 10 tahun. Karena Gita dan Adnan meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat saat Mereka akan terbang ke Papua karena Adnan ditugaskan kesana.
Sedangkan Vero dan Vera saat itu dititipkan pada Dita dan Adrian karena Mereka sedang sekolah. Vero dan Vera memang sangat dekat dengan Dita dan Adrian.
Adrian dan Dita sangat menyayangi Mereka karena Dita dan Adrian sangat mendamba mempunyai anak. Tapi hingga kini, Mereka tak juga diberi kepercayaan untuk mempunyai anak dari rahim Dita.
Dita juga menceritakan kalau Atala bukanlah anak kandung dari Tia. "Malah dulu, Papa mu menyangka kalau Atala adalah Putera nya dengan Tia. Karena Papa menghitungnya masa perceraian Mereka sangat pas dengan kelahiran Atala."
"Tapi Mama Tia dengan tegas mengatakan kalau Atala bukan anak Papa mu." Dita terus menceritakan perihal kehidupannya dulu. Sesekali Dita mengusap airmata nya mengingat bagaimana Dia dulu melukai perasaan Tia.
Vero mengelus punggung Dita. "Sudah ya Ma... Semua sudah berlalu. Mereka kini juga sudah bahagia. Kita juga disini sangat bahagia, walau ternyata Cinta Vero bertepuk sebelah tangan." Kata Vero.
"Sayaang... Bukankah Vita punya kembaran?" Tanya Dita.
__ADS_1
"Lita maksud Mama?" Tanya Vero.
Dita mengangguk. "Mama lupa dengan nama Mereka. Tapi Mama Tia pernah bilang kalau Dia punya Puteri kembar."
"Ya Ma... Nama nya Lita. Lita sangat cantik. Berbeda sekali dengan Vita yang biasa saja." Kata Vero.
"Lalu kenapa Kamu tak memilih Lita? Kenapa Kamu memilih Vita?" Tanya Dita penasaran.
"Sejak bersama dengan Diah, Aku gak pernah dekat dengan perempuan mana pun Ma. Waktu itu akan ada acara Isra'mi'raj di Sekolah. Dari situ Vero mengenal Vita. Ternyata Vita sangat special Ma." Puji Vero.
"Tapi Vita akan segera menikah dengan Atala, Sayaaang..." Kata Dita.
"Tapi Vero juga gak tahu apakah Lita suka sama Vero atau tidak? Lagi pula Lita itu teman dekatnya Diah, Ma." Jelas Vero.
Selain cantik, Lita juga sangat cerdas. Dia sangat cuek, gak peduli dengan laki-laki teman sekolahnya yang menyukai dirinya. Jelas Vero.
"Lalu memangnya kenapa? Kamu juga gak tahu Vita suka sama Kamu atau tidak. Tapi Kamu mau menyayanginya. Sekarang cobalah buka hati mu untuk yang lain. Kalau masalah Diah, Diah masa lalu Kamu. Diah sendiri kan yang memutuskan Kamu?" Kata Dita.
"Ya Ma... Vero akan coba membuka hati Vero untuk yang lain. Vero sayang Mama...." Vero memeluk tubuh Dita.
Dita mencium puncak kepala Vero. "Lihatlah Kak, Bang....Anak mu sudah besar. Sebentar lagi Dia akan memiliki pasangan hidup." Batin Dita yang tak terasa airmata nya jatuh ke pipi.
______________________
Praaang....
"Astaghfirullaah..." Tia hendak mengambil gelas minumnya tapi terlepas begitu saja.
"Kenapa Ma..??!" Tanya Lita dan Vita yang segera menghampiri Tia.
Kaki Tia berdarah terkena pecahan beling gelas.
Vita langsung mengambil obat merah di dalam kotak obat.
"Ada apa Sayang?" Lambok yang sedang mengajari Tristan belajar juga ikut kaget dan memghampiri sang Istri.
"Gak tahu, Aku baru memegang gelas tiba-tiba terlepas begitu saja... Kenapa perasaanku jadi gak enak ya?" Kata Tia.
"Mungkin Kamu lelah, Sayang. Akhir-akhir ini Kamu sibuk mengurus persiapan pernikahan Vita dan Atala." Kata Lambok mencoba menenangkan Tia.
Lita segera membawa Tia menjauh dari pecahan kaca. Vita memberikan obat merah dan kapas pada Lita. Dia bergegas membereskan pecahan beling itu.
Tiba-tiba.... "Aauuuwwww...!" Vita juga terkena tusukan beling gelas itu.
"Pelan-pelan Sayang..." Kata Lambok yang segera mengambil sapu dan pengki kecil.
__ADS_1
Vita mencabut beling yang menancap di jarinya. Dia bergegas memberikan obat merah pada luka yang disodorkan Lita.
Lita sudah selesai mengobati Mama nya dan Dia juga mengobati luka Vita.
"Vita.... Coba Kamu telpon Atala, Sayang... Mama kepikiran terus sama Atala. Ya Allah... Lindungi lah Putera ku..." Doa Tia.
Vita mengangguk dan bergegas mengambil ponselnya. Vita tersenyum melihat wallpaper ponselnya, Atala sedang menyematkan cincin tunangan ke jari manisnya.
Vita segera menghubungi Atala. Tersambung..... Tapi tak ada jawaban dari sana. Vita mendialnya kembali. Beberapa kali Vita menghubungi hingga akhirnya...
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Coba lah beberapa saat kembali." Begitulah jawaban dari operator telpon.
"Gimana, Sayang?" Tanya Tia cemas.
"Gak diangkat Ma... Dan sekarang gak aktif." Vita juga terlihat sangat khawatir.
"Ya Allah... Ada apa ini? Aku mohon, lindungilah Kak Atala dimanapun Dia berada... Aamiin..." Batin Vita.
"Coba Kamu telpon Mama Diandra, Sayang." Pinta Lambok.
"Ya Pa..." Kata Vita yang segera mendial nomor Diandra.
"Assalamu alaikum Sayang..." Sapa Diandra di seberang sana.
"Wa alaikumussalam Ma... Ma apa Kak Atala sudah tiba di rumah?" Tanya Vita sebisa mungkin Dia tenangkan nada suaranya.
"Loh... Mama fikir Atala menginap disana?" Diandra terdengar bingung.
"Kak Atala sudah pulang setelah Shalat Isya berjamaah di rumah, Ma." Kata Vita lagi. Vita melihat jam di dinding. "Jam 21.30." Batinnya.
"Mungkin Atala terjebak macet, Sayang... Kamu jangan khawatir ya...." Diandra mencoba menenangkan Vita.
"Tapi Ma... Tadi Vita telpon berkali-kali nyambung tapi gak diangkat. Terus sekarang sudah gak aktif." Kata Vita mulai terisak.
"Sayaang... Kamu tenang dulu ya. Nanti Mama akan coba menghubungi Atala. Kita berfikir yang baik-baik saja. Mungkin Kak Atala terjebak macet, Dia gak bisa angkat telpon karena gak bisa minggir dan ponselnya Lowbet." Kata Diandra dengan sabar.
"Astaghfirullaah... Mama benar... Ya Allah.. Mudah-mudahan Kak Atala segera tiba di rumah ya Ma..." Vita menghela nafas.
"Ya Sayaang... Nanti Mama kabari Kamu kalau Atala sudah sampai ya... Duuuhhh... perhatian banget sama calon Suami nya..." Goda Diandra.
"Mama...." Vita manja.
"Ya sudah... Kamu tenang ya. Nanti Mama kabari Kamu....Assalamu alaikum." Salam Diandra yang memutus hubungan telponnya.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Vita.
__ADS_1