
"Bahkan Lita sangat meratapi kepergian Vero." Leo nampak kesal juga sedih. Leo sedang berdiri dekat jendela kamar nya. Leo sudah kembali ke Jogja setelah melihat pemakaman Vero dari jauh.
Bahkan Leo sempat jiarah ke makam Vero sesaat Lita dan Nindi meninggalkan pusara Vero.
Di saat hujan makin deras, Leo berjongkok di pusara Vero. "Beruntung sekali Kamu, Vero. Dicintai oleh gadis yang sangat Aku cintai. Gadis yang bisa meluluhkan hati ku yang beku. Bodoh Kau Vero, kenapa Kamu tak kuat menjadi Laki-laki!"
"Kamu lihat kan Vero?! Lita begitu terluka karena ulah mu. Dia melupakan ku gara-gara Kamu!" Leo meluapkan kekesalannya pada pusara Vero.
Hingga adzan Ashar menyadarkan Leo. Baru Leo beranjak meninggalkan pusara Vero.
Leo mengusap wajah nya dengan kasar. Dia beranjak dari jendela. Melihat travel koper nya yang sudah bertengger di tembok dekat pintu.
Leo memutuskan kembali ke Negara J, karena cuti nya yang hampir habis. Dan ijin masa berkabung dari tempat nya bekerja juga sebentar lagi.
Leo menarik koper nya, dan membuka pintu kamar.
"Sudah siap, Nak?" Tanya Lisa, Sang Mama.
Leo hanya mengangguk tak bersemangat.
"Kenapa bersedih gitu? Papa tak mengenalmu.... Kamu tidak pernah seperti ini?" Selidik Alex, Sang Papa.
"Hhhmmm... Pasti gara-gara gadis berhijab yang cantik itu yah?" Tanya Eyang Puteri menggoda.
"Lita.... Lita nama nya Eyang." Jawab Leo lesu.
Eyang nya mengelus punggung Leo. "Kalau jodoh tak akan kemana Cah Bagus, Kamu perdalam lagi ilmu agama mu. Ingat kan pesan Eyang Kakung mu, Wanita baik-baik hanya untuk Laki-laki baik. Mungkin saat ini Allah belum mengizinkan Kamu meminang Lita, karena Kamu yang belum bisa mengontrol emosi mu.... Eyang lihat, Lita sangat lembut dan penyayang." Nasehat Eyang.
Leo memandang wajah Sang Eyang. Leo memeluk tubuh renta itu yang tinggi nya hanya sedada Leo. "Terima kasih, Eyang. Leo janji akan terus mendalami Agama islam. Eyang sehat-sehat yah. Eyang harus janji, Eyang menghadiri pernikahan Leo dan Lita, kelak." Leo melerai pelukannya.
"Insya Allah Cah Bagus." Eyang menciumi wajah Leo. Leo menunduk menyamai tinggi wajah nya dengan Sang Eyang. "Hati-hati di jalan. Jangan tinggalkan shalat lima waktu." Pesan Eyang.
Leo tersenyum dan mengangguk. Setelah nya Leo berpamitan kepada kedua orang tua nya. Dan Leo segera menaiki taxi online yang sudah menunggu nya, mengantar ke Bandara.
_________________________
"Lita....." Tiba-tiba Farah menghentikan suapannya.
Lita mendongak. "Ada apa?" Tanya Lita yang masih tekun menyuap.
"Tuh..." Tunjuk Farah dengan dagu nya.
Fahri yang sedang menyuap pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk Farah.
Lita mengerutkan kening nya. Lita belum percaya dengan apa yang Lita lihat kini. "Kak Arby...?" Gumam nya.
"Bukan Lita... Dia Bang Veri, Saudara kembar Bang Vero." Jelas Farah.
"Serius?" Lita masih tak percaya.
__ADS_1
Farah mengangguk.
"Assalamu alaikum...." Sapa laki-laki yang disebut Veri oleh Farah. Dia tersenyum pada Lita.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Lita, Farah dan Fahri.
"Apa kabar, Lita?" Tanya Veri.
Lita kaget, sangat kaget. "Farah bilang Dia Veri, saudara kembar Bang Vero. Tapi bagaimana mungkin Dia mengenalku?" Batin Lita.
"Lita... Ditanya kok malah bengong." Sikut Farah menoel pinggang Lita. Sontak saja Lita kegelian.
"Iiihhhh... Jangan klitikan." Lita terkaget.
"Hehehehe... Maaf Lita. Lupa...." Farah menutup mulutnya.
"Alhamdulillaah.... Aku baik." Jawab Lita ragu. "Mungkin Dia tahu dari Vera saat Aku merawat Bang Vero." Batin Lita.
Veri mengerutkan kening nya. "Kok Aku berasa kayak orang asing sih?"
"Maksud nya?" Lita tak mengerti.
"Kamu lupa sama Aku? Aku Arby...." Kata nya.
"Ta... Tapi kata saudaraku...." Lita menunjuk ke arah Farah.
Arby tersenyum. "Boleh Aku ikut gabung?" Tanya Arby tanpa ragu-ragu dan tanpa persetujuan langsung ikut duduk di rerumputan.
"Gak apa. Aku tadi ke rumah Kalian, Kata Om Lambok, Kalian ada disini." Jelas Arby.
Lita masih tak mengerti. Banyak tanya dalam lubuk hati nya.
"Lita makan nya banyak. Aku aja sampe dapat jatah dikit." Canda Farah lagi. "Ya kan Lita..??"
"Haahh... Apa...??" Lita tergagap.
"Kamu kenapa sih? Kok bingung gitu?" Farah penasaran.
Arby tersenyum. "Aku tahu, kenapa Lita bingung. Kamu bilang Aku Veri, sedangkan Aku menyebut ke Lita, Arby. Makanya Lita makin bingung."
"Oohhh jadi Kak Arby sudah bertemu Keluarga Kakak? Ternyata benar, saudara kembar Bang Vero? Tapi bagaimana cerita nya." Lita baru nyambung.
"Naaahhh... Beda kan kalau orang cerdas. Cepat tanggap." Goda Fahri.
"Abang bisa aja." Lita tersipu malu.
"Tapi sayang, masih agak LOLA...." Canda Farah.
"Maklum lah Dek... Lita kan masih banyak masalah." Kata Fahri.
__ADS_1
"Masalah apa?" Tanya Arby penasaran.
"Gak ada apa-apa Kak. Sekarang Kakak ceritain aja, bisa sampai sini." Lita menutupi kesedihannya pada orang lain.
Arby memulai cerita nya. "Setelah Kamu memberikan Aku alamat rumah Nenek mu, Aku diantar oleh Fahri ke rumah Kakek Burhan. Mereka sangat terkejut melihat kedatanganku. Apalagi Nenek, seperti ketakutan."
"Awal nya Aku fikir akan disambut dengan baik. Tapi nyata nya kedatanganku membawa malapetaka." Arby menunduk. Ada kekecewaan dimata nya.
"Memang nya kenapa?" Tanya Lita penasaran.
FLASHBACK ON
"Si... siapa Kamu?!" Ketus Nenek Dinda.
"Saya Arby... Saya kemari ingin bertemu Keluarga Saya..." Jawab Arby.
"Arby siapa? Dan siapa Keluarga mu?" Nenek Dinda sangat geram menutupi ketakutannya.
"Bunda... Biarkan Nak Arby masuk dulu....Tidak baik menyambut tamu seperti ini." Kata Kakek Burhan.
"Silahkan masuk Nak Arby... Nak Fahri..." Kata Kakek Burhan.
"Lalu buat apa cucu nya Nia ikut kemari?!" Ketus Nenek Dinda.
"Maaf Nek... Saya tadi hanya mengantarkan Bang Arby kesini. Kalau begitu Saya permisi." Pamit Fahri tanpa ragu-ragu karena tak mau mendengar lebih panjang lagi makian Nenek Dinda.
"Tapi..." Arby mencoba menahan Fahri.
"Gak apa Bang. Nanti kalau ada apa-apa, Abang ke rumah saja." Kata Fahri sopan.
"Bunda....." Tegur Kakek Burhan yang masih saja dendam pada Keluarga Nia.
"Gak apa, Kek. Fahri pamit ya Kek.. Bang Arby... Assalamu alaikum...." Salam Fahri.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Kakek Burhan dan Arby.
Nenek Dinda hanya melengos sambil bersedekap. "Dan Kamu...! Memang nya bukti apa yang Kamu bawa sampai berani-berani nya mengaku Keluarga disini?!" Ketus Nenek Dinda.
Arby mengeluarkan sebuah amplop dari travel bag nya. Kakek Burhan menerima nya dan mulai membaca nya.
Wajah Kakek Burhan terlihat sangat kaget. Mata nya berkaca-kaca. "Subhanallaah.... Jadi ini benar Kamu, Nak?! Ya Allah... Alhamdulillaah..." Kakek Burhan langsung melakukan sujud syukur.
"Apa-apaan sih Ayah? Memang siapa Dia?" Nenek Dinda nampak makin ketakutan. Dinda sadar betul, wajah Arby mirip betul dengan Vero, seperti pinang dibelah dua. Dinda teringat akan masa lalu nya, yang menjual salah satu anak kembar Adnan dengan alasan kesehatannya.
"Dia cucu Kita, Bunda... Putera Adnan, kembaran Vero! Ya Allah... Nak... Kamu baik-baik saja, kan?" Kakek Burhan memeluk tubuh Arby dengan kuat.
"Ayah ini, percaya saja dengan isi surat ini. Pikir dong Ayah. Dari mana Dia bisa tes DNA, sedangkan Adnan sudah tidak ada!" Ketus Nenek Dinda.
"Bunda.... Bunda gak lihat? Wajah nya mirip dengan Vero. Dia Veri, Veri Anggara cucu Kita.." Ayah Burhan terus membela.
__ADS_1
"Ya... Tapi dari mana Dia bisa dapat hasil tes nya, Ayah?! Ayah jangan ceroboh deh. Bisa ajakan, Dia ngaku-ngaku..., Veri sudah meninggal 27 tahun yang lalu, tiga bulan setelah Dia lahir!" Nenek Dinda masih kekeh menolak.