
"Kok Kita ke bandara, Pak?" Tanya Lita bingung.
"Kak, lebih baik Kakak tinggalkan pulau ini. Kakak tidak tahu siapa orang yang tadi mengejar Kakak dan anak Kakak." Kata Tukang Ojek.
"Bapak kenal?" Tanya Lita.
Tukang Ojek mengangguk.
"Kalau Bapak kenal, kenapa tidak melaporkannya ke Polisi?" Lita sangat kesal.
Tukang Ojek itu mengeluarkan dompet nya. Dia memperlihatkan lencana nya pada Lita.
"Jadi Bapak seorang Polisi?!" Lita sangat kaget. "Kenapa Bapak jadi tukang Ojek? Kenapa juga Bapak gak menangkap orang jahat itu?!" Lita makin kesal.
Bapak itu mengajak Lita duduk di sebuah coffe shop. Lita menggendong tubuh Caca yang sudah terlelap. Bapak itu membantu membawakan belanjaan Lita.
Setelah memesan minuman, Pak Polisi yang bernama Karim itu bercerita pada Lita.
"Dari dulu pihak kepolisian tidak berani melawan kekuasaan Tuan Riji, hingga suatu ketika Mabes Polri mengirim seorang Akpol yang berdedikasi tinggi dan menjabat sebagai Kapolres disini."
"Sejak kedatangannya banyak preman dan orang jahat yang tidak bisa berkutik disini, hingga suatu hari Dia berurusan dengan kaki tangan Tuan Riji."
"Awal nya Tuan Riji menawarkan kerja sama dengan nya namun setelah tahu kejahatan Tuan Riji, Pak Farouq menangkap nya dan menjebloskannya kedalam sel. Tapi tidak selang berapa lama, Tuan Riji dibebaskan, Pak Farouq tak dapat berkutik karena perintah dari atasan Pak Farouq."
"Tak lama dari bebas nya Tuan Riji, Pak Farouq ditemukan tewas di rumah dinas nya dengan leher tergantung. Tapi kasus nya langsung tenggelam dari permukaan. Sejak saat itu Polisi di Kota ini berpihak pada Tuan Riji." Jelas Pak Karim.
"Astaghfirullaah... Lalu kenapa Bapak membantu Saya?" Lita makin tak mengerti.
"Sebenarnya Saya sedang menyelidiki kasus Pak Farouq, Saya Adik kandung beliau. Saya tidak terima Abang Saya meninggal dengan berita yang tidak mengenakan. Nama baik Abang Saya tercoreng sebagai Abdi Negara." Pak Karim menghela nafas.
"Lalu apa Bapak sudah mendapatkan bukti-bukti?" Tanya Lita penasaran.
"Belum banyak. Tapi Saya perlu kesaksian Kamu." Kata Pak Karim.
"Tapi Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya tahu karena Suami Saya yang bercerita. Ah sebaik nya Aku menghubungi Adikku. Aku belum tahu bagaimana kabar Suami dan Adikku." Lita menghela nafas. Dia tidak memiliki ponsel.
Pak Karim menyodorkan ponsel nya. "Pakailah, Suatu hari nanti mungkin Saya juga memerlukan keterangan dari Suami Mu."
"Tapi disana tidak ada sinyal. Makanya Aku tidak memiliki ponsel." Lita terlihat kecewa.
Pak Karim memyambungkan nomor ponsel yang sudah dicatat oleh Lita. "Tersambung." Katanya.
"Benarkah?" Lita tak percaya namun merasa senang.
__ADS_1
"Assalamu alaikum..." Sapa Tristan.
"Wa alaikumussalaam Dek... Bagaimana keadaan disana Dek?" Tanya Lita antusias.
"Kak?! Kakak baik-baik saja?! Apa Mereka melukai Kakak?" Tristan malah balik bertanya dengan panik.
"Alhamdulillaah Kakak dan Caca baik. Ternyata tukang ojek yang bersama Kakak seorang Polisi. Bagaimana dengan Mu dan Kak Krisna?" Tanya Lita khawatir.
"Kak.... Sabar yah..." Tristan menjeda bicara nya.
"Ada apa Dek?" Lita jadi panik.
"Kak Krisna koma, Kak. Anak buah Tuan Riji menembak Kakak dan mengenai ginjal nya." Tristan menceritakan kejelasan Dokter yang disampaikan padanya tadi kepada Lita.
"Innalillaahi...." Lita menitikkan airmata.
"Aku sudah test untuk mendonorkan ginjal Ku, Kak. Tapi ternyata tidak cocok." Kata Tristan.
Lita terisak. Hik.. hik... hik... Lita memeluk Caca.
Pak Karim memgambil ponsel dari Lita. "Halo Tristan, lalu bagaimana perkembangannya? Kalian di Rumah Sakit mana? Kalian harus segera pindah dari Rumah Sakit itu. Saya akan menuju kesana. Kakak Mu sudah aman disini." Jelas Karim.
"Saya di Rumah Sakit terbesar di Kota ini." Kata Tristan.
"Baik Pak. Terima kasih banyak." Kata Tristan dan mengakhiri sambungan telponnya.
Karim mengajak Lita ke hotel agar Lita dan Caca beristirahat.
"Kamu istirahatlah. Kamu aman disini. Jangan khawatir daerah ini tak terjangkau oleh Tuan Riji. Anggota Saya berjaga disini." Jelas Karim.
"Terima kasih Pak. Tolong bawa Adik dan Suami Saya Pak..." Tangis Lita.
"Anak buah Saya sedang mengurus administrasi nya. Para Medis juga sudah mempersiapkan kepindahan Suami Mu. Kamu tenang dan jangan lupa berdoa." Pinta Karim.
Lita memgangguk. Karim meninggalkan Lita dan Caca yang sudah mengunci kamar hotel.
Di Tempat Lain
"Siaaalll!!! Dimana Iblis itu!? Apa Kalian yakin tidak ada satu kamar pun yang terlewat?!" Tuan Riji sangat geram.
"Tidak Tuan. Para pelayan malah membantu mencari juga." Kata salah seorang anak buah nya.
"Aahh Kalian ini! Bisa sajakan salah satu pelayan itu membantu menyembunyikan Mereka!!" Tuan Riji makin murka.
__ADS_1
"Periksa lagi!! Saya gak mau tahu, Mereka harus ketemu!!" Bentak Tuan Riji.
"Baik Tuan...." Dengan gemetaran anak Buah Tuan Riji kembali memeriksa satu persatu kamar hotel dan pemginapan yang ada disana.
Para pemilik hotel dan penginapan tidak berkutik. Mereka tahu siapa Tuan Riji.
Di Rumah Sakit.
"Bertahanlah Kak. Kami akan membawa Mu ke Rumah Sakit yang lebih aman." Kata Tristan yang mengikuti brankar Krisna yang di dorong beberapa Perawat dan Seorang Dokter dengan dikawal anak buah Karim yang berpakaian preman.
Sebuah ambulance sudah standby di belakang Rumah Sakit. Mereka sengaja lewat belakang, kalau ada anak Buah Tuan Riji yang melihat, Mereka menyangka Pihak Rumah Sakit mengeluarkan jenazah.
Karim juga sudah tiba disana. Dia membantu Tristan melobi para Dokter tadi. Dan meminta pihak Rumah Sakit tutup mulut.
Mobil Ambulance pun bergerak. Karim menghubungi Anak Buah nya di Bandara untuk mengurus pesawat yang akan membawa Krisna.
Tristan sudah menganjurkan agar Krisna dibawa ke Surabaya. Namun pihak Rumah Sakit merekomendasikan Rumah Sakit di Singapura. Karim juga membenarkan kalau ke Surabaya, khawatir Tuan Riji akan sampai kesana.
Akhirnya Tristan menyetujui usulan Karim. Sepanjang perjalanan Tristan memberikan kesaksian yang direkam oleh Karim.
Di Hotel
Tok... tok... tok....
Pintu kamar Lita diketuk. Lita sedang terlelap. Kemudian ketukan itu berulang.
Lita mengerjabkan mata. "Astaghfirullaah... Aku ketiduran. Sudah jam berapa ini?" Lita mendengar pintu diketuk. Jantungnya berdebar.
Lita mengintip lewat celah lubang kaca pintu. Lita tak mengenal Mereka.
"Nyonya... Kami anak buah Pak Karim." Teriak salah seorang diantara Mereka. Mereka juga memperlihatkan lencana nya lewat kaca lubang pintu.
Lita menghela nafas. Lita membuka pintu. "Maaf...."
"Tidak apa Bu. Ibu memang harus waspada. Pak Karim meminta Ibu agar bersiap. Sebentar lagi ambulance yang membawa Pak Krisna tiba di Bandara." Kata salah seorang petugas.
"Baik... Saya akan bersiap." Kata Lita yang kembali menutup pintu. Lita membangunkan Caca. "Sayaang....Bangun Nak.... Kita akan pergi." Lita mencium pipi Caca.
Caca membuka matanya. "Ibu... Aku ingin Ayah... hik... hik... hik..."
"Ya Sayaaang....Ayah sedang menuju kemari. Kita bersih-bersih dulu ya, setelah itu Kita shalat maghrib." Pinta Lita dengan penuh kasih Sayang.
"Ya Bu..." Caca langsung menuruti kemauan Ibu nya.
__ADS_1