CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Bertemu Dokter Leo


__ADS_3

Ponsel Tristan berdering. Buru-buru Tristan mengambilnya dalam tas slempang miliknya.


Tristan mengerutkan keningnya. Nomor yang tidak dikenal. Tapi kode nya berasal dari Indonesia. "Siapa yah? Apa teman Aku?" Batin Tristan. Tristan mengangkatnya.


"Assalamu alaikum...." Sapa Tristan.


"Wa alaikumussalaam... Dek, Kamu dimana?" Tanya diseberang.


Tristan mengernyitkan dahi nya. "Suara nya tak asing bagi Tristan. Dokter Leo?" Tebak Tristan.


"Iya... Ini Kakak. Kamu dimana?" Tanya Leo.


"Aku di Kampus, Kak. Ada apa? Tumben..." Kata Tristan. Dia lupa dengan rencana nya mencari Leo.


"Hari ini Kakak akan terbang ke Nagara I, kemungkinan besok menjelang maghrib, Kakak akan tiba di Bandara Negara I." Jelas Leo.


"A.. Apa Kak? Ada apa? Kok dadakan?" Tanya Tristan.


"Besok Aku jelasin. Bolehkan besok Kamu jemput Kakak di Bandara?" Tanya Leo.


"Insya Allah Kak..." Kata Tristan.


"Baiklah... Sudah yah, panggilan terakhir pesawat Kakak sudah terdengar. Assalamu alaikum..." Sapa Leo.


"Wa alaikumussalaam...." Jawab Tristan.


"Astaghfirullaah... Kenapa Aku bisa lupa?" Tristan menepuk keningnya sendiri. "Ya sudah... Besok saja sekalian Aku bicara sama Kak Leo. Tapi gimana dengan Kak Lita dan Caca?" Tristan nampak berfikir.


"Nunggu Kakak berangkat kerja, baru Aku pergi bersama Caca. Kan Kak Lita pulangnya malam. Ya Allah... Alhamdulillaah... Semoga Engkau mempermudah jalan Ku menyatukan Kak Lita dengan Kak Leo....Aamiin..."


__________________________


"Assalamu alaikum...." Sapa Tristan yang baru saja tiba di depan unit apartemennya.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Lita dan Caca. Caca langsung membukakan pintu.


"Uncle....!" Teriak nya senang.


Tristan langsung menggendongnya. "Kamu tiap hari tambah berat..." Keluh Tristan.


"Caca kan tiap hari tambah besar, Uncle..." Caca mengrucutkan bibir nya.


"Hhhmmm... Ngambek... Katanya Kita pacaran... Kalau pacaran gak boleh ngambek..." Canda Tristan.


"Deeeekkkk....!" Tegur Lita.


Tristan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia terkekeh. "Maaf Kak... Abis Puteri Kakak ini menggemaskan..." Tristan mencubit pipi Caca.


"Uncle juga lucu..." Caca balas mencubit pipi Tristan.

__ADS_1


"Ya ampuuunnn.... Puteri Ibu kenapa jadi ganjen???" Lita menggelengkan kepala. Dia sedang bersiap akan berangkat kerja.


"Maaf Bu...." Kata Caca.


"Maaf Kak..." Kata Tristan berbarengan dengan Caca.


"Sudah... Kamu makan dulu sana.... Sebentar lagi ashar." Kata Lita.


"Siap Bu Bos!" Kata Atala.


"Hahahahaha...." Caca tertawa melihat kelakuan Uncle nya.


"Ayo Sayang... Kamu siap-siap... Sebentar lagi Ashar." Kata Lita yang menggandeng tangan Caca masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian setelah shalat Ashar berjamaah.


"Kamu baik-baik di rumah ya Dek... Jangan bawa Caca sampai larut malam." Pinta Lita. "Makan malam sudah Kakak siapkan.... tinggal diangetin aja kalau mau panas." Pesan Lita.


"Ya Kak... Kakak juga hati-hati yah.. Kunci dan akses jangan lupa dibawa. Kayak kemarin, Aku harus turun kebawah..." Tristan terkekeh.


"Iya maaf... Kakak lupa." Kata Lita.


"Sayang... Belajar yang bener yah. Tadi kata Ibu guru apa? Gak boleh banyak melamun..." Pinta Lita. Lita mensejajarkan tinggi badannya dengan Caca.


"Iya Ibu... I'm Sorry..." Caca mencium pipi Lita kanan kiri. Lita memeluk Caca.


"Hati-hati ya Bu... Miss you..." Caca memberikan kiss jarak jauh nya.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Tristan dan Caca.


Tristan menutup pintu dan mengunci nya.


"Sekarang kita gimana, Uncle?" Tanya Caca.


"Kita tunggu setengah jam, takut Ibu balik lagi. Kamu sudah siap kan?" Tanya Tristan.


"Mukena Aku belum dimasukin ke tas." Kata Caca.


"Ayo Uncle bantu.." Tristan menggandeng tangan Caca ke kamar. "Memang tadi di sekolah, Caca melamun?" Tanya Tristan.


"Ya Uncle... Caca lagi mikir ketemu Dokter Leo.... Caca takut Dokter Leo gak mau jadi Ayah Caca..." Caca terlihat sedih.


"Caca tenang yah... Kalau Dokter Leo gak mau terima Caca sebagai Puteri nya, berarti Ibu juga gak akan terima Dokter Leo jadi Ayah Caca..." Tristan menenangkan hati Caca.


"Apa Kita tidak terlambat menjemput Dokter Leo?" Tanya Caca.


"Yah mau gimana lagi? Kita kan harus tunggu Ibu Caca berangkat kerja." Kata Tristan. Dia mengetik pesan ke ponsel Leo.


Tristan memang sudah bercerita pada Caca semalam kalau Dokter Leo sedang terbang ke Negara I.

__ADS_1


______________________________


"Tristan...!!" Suara memanggil Tristan.


Tristan mencari asal suara. "Kak Leo..." Tristan tersenyum mendapati Leo yang melambaikan tangan pada nya. "Ayo Sayang... Itu Dokter Leo."


Caca belum jelas melihat wajah Leo. Karena terhalang beberapa tubuh pengunjung.


"Assalamu alaikum Dek... Gimana kabar Mu, sehat-sehat aja kan?" Tanya Leo sambil memeluk tubuh Tristan.


"Wa alaikumussalaam Kak... Aku baik..." Tristan membalas pelukan Leo.


Sedangkan Caca memegang jaket Tristan, karena gandengannya terlepas. Jaket Tristan tertarik karena Caca menggenggamnya kuat.


Tristan melerai pelukan Leo. "Oh ya Kak... Ada yang Aku mau kenalkan sama Kakak... Ini Puteri Kak Lita, Caca namanya." Tristan membawa Caca kehadapan Leo.


"Aacchhh...!!" Caca tiba-tiba histeris dan langsung menyembunyikan tubuh nya ke belakang tubuh Tristan.


"Loh... Kenapa Sayang? Ini Dokter Leo, katanya Caca mau ketemu Dokter Leo." Tristan berjongkok dihadapan Caca.


Caca menggeleng. "Caca takut Uncle, Dia orang jahat... Dia kan yang dulu mendorong tubuh Ayah... Waktu Ayah dan Ibu nikah." Bisik Caca.


"Dokter Leo tidak jahat, Sayang... Dia kan begitu karena Ibu Caca diambil Ayah Caca. Dulu sebelum bertemu Ayah Caca, Ibu itu tunangan Dokter Leo. Mereka akan menikah..." Tristan menjelaskan pada Caca.


Leo memandang kedua Orang itu, Leo menghela nafas. Leo mengerti jika Caca takut pada nya. Leo perlahan berjongkok di samping Tristan.


"Maafkan Dokter, Sayang... Waktu itu Dokter sangat marah sama Ayah Caca... Kakak juga minta maaf sama Kamu, Tristan. Saat itu Kakak benar-benar emosi." Leo mencoba menarik tangan Caca agar mendekat padanya.


Caca memandang wajah Tristan. Tristan mengangguk. Dengan masih takut-takut, Caca mendekat pada Leo.


Leo mencium Pipi Caca, kemudian memeluk tubuh gadis itu. Ada rasa haru memeluk Caca, sekecil ini Dia harus kehilangan Sosok Ayah nya. Leo mengusap sudut mata nya, hidungnya menarik cairan yang akan keluar.


Caca melerai pelukannya. "Dokter gak boleh nangis... Kata Ayah, laki-laki itu harus kuat..." Caca memberanikan diri memandang wajah Leo.


Leo tersenyum. "Iya Sayang... Dokter nangis karena bisa bertemu dengan peri cantik kayak Caca..."


Caca memeluk leher Leo. "Caca juga senang ketemu Dokter. Maafin Caca yah, tadi Caca teriak, karena Caca takut Dokter itu jahat..."


"Iya Sayang... Dokter maafkan..." Leo langsung menggendong tubuh Caca. "Ayo Dek, Kita ke Hotel Kakak dulu. Kalian belum makan kan?" Tanya Leo.


"Kita shalat maghrib dulu, Kak." Pinta Tristan.


Setelah shalat, Mereka makan malam di sebuah resto didalam hotel tempat Leo menginap.


"Bagaimana kabar, Kakak Mu, Dek? Apa Dia sehat?" Tanya Leo.


"Alhamdulillaah sehat, Kak. Kakak sekarang bekerja di Rumah Sakit. Makanya tadi Kami datang terlambat karena menunggu Kak Lita pergi kerja." Jelas Tristan.


"Kak Leo tahu darimana kalau Kak Lita bersama Ku?" Tanya Tristan. Baru saja Tristan ingin menanyakan nomor telpon Leo pada Atala.

__ADS_1


"Kakak ke rumah Kalian beberapa minggu yang lalu. Kakak mau minta restu Mama dan Papa. Niat Kakak ingin kembali meneruskan pernikahan Kami yang tertunda. Kata Vita, Lita ikut Kamu ke Negara ini." Jelas Leo.


Tristan dan Caca saling menatap. Mereka tersenyum dan membuat Leo bingung.


__ADS_2