
Atala dan Fathir lulus SMA dengan nilai yang sangat baik.
Atala dan Fathir pun sudah mendaftarkan sebagai calon Mahasiswa di Universitas Negeri di Jakarta dan Mereka juga sudah melaksanakan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN)
Dua Bulan Kemudian.
"Alhamdulillaah...." Fathir baru saja melihat daftar calon Mahasiswa yang diterima di Universitas Negeri dari surat kabar. Fathir melaksanakan sujud Syukur.
Fitri yang sedang berada di dapur segera keluar mendengar Fathir yang mengucap syukur dengan lantang. Fitri melihat Putra sulung sedang sujud Syukur.
Fitri tersenyum. "Ya Allah... Alhamdulillaah... Engkau mengabulkan doa-doa Kami."
"Ma...." Fathir menghampiri sang Mama dan memeluknya. "Fathir diterima Ma. Ya Allah... Alhamdulillaah..." Fathir menengadah.
"Ya Sayang.... Alhamdulillaah... Bagaimana dengan Atala?" Tanya Fitri.
"Aku belum dapat kabar, Ma. Nanti Atala pasti telpon." Kata Fathir.
Baru saja Fathir selesai bicara, ponselnya berdering.
Fathir melihat nama dilayar ponselnya. "Atala, Ma... Mudah-mudahan kabar baik." Kata Fathir sambil menekan tombol on.
"Assalamu alaikum Fathir...." Sapa Atala di Jakarta.
"Wa alaikumussalam Atala... Bagaimana? Kamu sudah baca pengumuman?" Tanya Fathir langsung pada inti.
"Alhamdulillaah....Aku diterima. Bagaimana dengan Kamu?" tanya Atala.
"Alhamdulillaah... Aku juga diterima..." Kata Fathir.
"Alhamdulillaah... Kapan Kamu ke Jakarta? Nanti Aku jemput di Bandara." Tanya Atala.
"Nanti Aku kabari Kamu ya Atala. Aku mau kasih kabar pada Ayahku dulu." Kata Fathir.
"Baiklah Fathir. Aku tunggu yah. Salam sama Mama Fitri dan Nenek. Assalamu alaikum." Salam Atala.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Fathir.
"Bagaimana Nak? Atala diterima?" tanya Fitri.
"Alhamdulillaah Ma, Atala diterima." Kata Fathir sangat senang.
__________________
"Bagaimana Sayang? Apa Fathir diterima?" Tanya Tia yang sedang memasak di dapur.
"Alhamdulillaah Ma, Fathir diterima. Atala jadi punya teman deh." Atala sangat senang.
"Kapan Fathir ke Jakarta?" Tanya Tia.
"Belum tahu Ma, Dia mau tunggu keputusan Ayahnya." Kata Atala.
Tia tersenyum dan mengangguk. "Kamu sudah kasih kabar ke Papa?" Tanya Tia.
"Belum Ma. Aku mau kasih kejutan pada Papa." Atala memberitahu rencananya pada sang Mama.
"Kamu itu yah... Seneng banget jahilin Papa." Kata Tia tersenyum geli mendengar rencana Atala.
"Hehehehe... gak apa Ma.. Biar Papa awet muda." Atala terkekeh.
Tiba-tiba Tristan menangis. Atala langsung ke kamar Tristan. "Ma Aku tengok ade dulu." Kata Atala.
"Iya Sayang. Terima kasih." Kata Tia. Atala memang sedang di rumah bersama sang Mama dan Tristan. Sedangkan Twins sudah kembali masuk sekolah setelah kenaikan kelas.
__ADS_1
Tak lama Atala sudah menggendong Tristan. "Adek pup, Ma. Tapi sudah Atala bersihkan." Kata Atala yang mencium pipi Tristan.
"Terima kasih Sayang.... Kamu memang Kakak yang perhatian." Puji Tia.
"Ya dong Ma, Aku kan sayang Adik-adikku juga Mama dan Papa." Kata Atala.
Atala mengajak main Tristan di ruang tengah sambil duduk di permadani.
"Alhamdulillaah... kelar juga." Kemudian Tia membuatkan susu untuk Tristan.
"Kak... Nih susu buat Adik." Kata Tia yang menghampiri mereka.
"Mama... mama....Mama..." Tristan mengangkat tangannya minta digendong Tia.
Tia tersenyum. "Anak Mama..." Tia mengambil Tristan dan menggendongnya. "Kamu mau makan sekarang atau nanti, Sayang?" Tanya Tia pada Atala.
"Nanti saja Ma, tunggu Papa. Papa makan siang di rumah kan?" Tanya Atala.
"Papa mu mana mau makan diluar." Kata Tia sambil tersenyum.
"Abis masakan Mama enak. Atala bakalan kangen kalau jauh dari Mama." Kata Atala yang memeluk Tia yang sedang menggendong Tristan.
"Ma... Lama-lama Adek Tristan kaya Aku, yah." Kata Atala.
"Ya dong Sayang... Tristan kan Adik Kamu, pasti Kalian mirip." Kata Tia tersenyum.
Atala mendengar suara mobil Lambok masuk pekarangan.
"Ma... Papa pulang. Kita mulai yah." Kata Atala.
Tia mengangguk.
"Assalamu alaikum...." Salam Lambok.
Lambok mengecup kening Tia. Tia mencium punggung telapak tangan Lambok, demikian juga dengan Atala.
"Loh... Anak Papa yang tampan kenapa?" tanya Lambok yang melihat Atala murung.
"Oh ya... Hari ini pengumuman Masuk Universitas yah. Bagaimana?" Tanya Lambok.
Atala masih diam.
"Ma... Atala kenapa?" Lambok makin bingung.
Tia menghela nafas. "Atala takut Papa kecewa, katanya." Kata Tia.
Lambok mengelus punggung Atala. "Kenapa Sayang? Papa gak akan kecewa sama Kamu. Kalau Kamu diterima Alhamdulillaah... Kalau tidak diterima, Kamu bisa cari Universitas Swasta." Kata Lambok.
"Papa gak marah?" Tanya Atala masih memasang wajah sedih.
"Kenapa Papa harus marah? Berarti belum rejeki Kamu masuk Universitas Negeri." Kata Lambok.
"Ya Pa... Aku gak diterima di Fakultas Ekonomi." Jelas Atala menunduk. Dia menahan tawanya.
Lambok mengerutkan keningnya. "Loh kok Ekonomi? Tempo hari Kamu bilang Fakultas Tehnik jurusan Arsitektur?" Lambok bingung.
"Ya Pa... Makanya Atala gak diterima... Atala diterimanya di Fakulatas Tehnik." Atala segera tertawa.
Lambok terperanjat. Dia mencerna kata-kata Atala. "Hhhmmm.. Anak Papa dan Istri Papa lagi ngerjain Papa, yah?"
"Hahahaha...." Atala tertawa sambil memeluk Lambok. "Alhamdulillaah Pa, Atala diterima. Fathir juga Pa!"
"Alhamdulillaah..." Lambok menengadah. "Tapi kok sempet kepikiran ngerjain Papa sih?" Lambok menatap Tia.
__ADS_1
"Putramu... Aku disuruh ikut membantu jahilin Papa." Kata Tia.
"Kamu itu yah... Kalau Papa punya sakit jantung gimana?" Canda Lambok.
"Gak lah Pa... Biar Papa awet muda... Hehehehe..." Kata Atala yang masih memeluk Lambok.
Lambok mencium kepala Atala. "Papa bangga sama Kamu."
Tia tersenyum. "Tristan harus contoh Kak Atala...." Kata Tia yang mengangkat Tristan dan mendirikannya.
"Papa bersih-bersih dulu ya Ma. Dzuhur dulu baru makan." Kata Lambok.
"Ya Sayang..." Kata Tia.
"Ma... Atala siap-siap dulu. Nanti Papa keburu selesai bersih-bersih." Kata Atala.
"Ya Sayang. Mama juga mau bersih-bersih." Kata Tia.
Tia beranjak ke kamar dan meletakkan Tristan di kasur. Lambok keluar dari kamar mandi. Tia sudah menyiapkan sarung dan baju Koko untuk Lambok.
"Yang... Aku titip Tristan. Aku juga mau bersih-bersih. Tadi abis masak ngobrol dulu sama Atala sampai lupa bersih-bersih." Kata Tia.
"Ya Sayang... Gak apa." Kata Lambok tersenyum.
Tak lama mereka sudah berada di musholah rumah.
Tia mendirikan Tristan di samping Atala. "Tristan di sebelah Kakak, yah..."
Atala tersenyum. Lambok mengimami shalat mereka.
20 Menit Kemudian.
"Mama masak Apa?" Tanya Lambok yang segera ke meja makan.
"Apa pun yang Mama masak, pasti enak Pa." Puji Atala.
Lambok tersenyum. "Iya Sayang. Mama mu memang sangat mahir dalam menyenangkan keluarga." Puji Lambok.
"Papa bisa saja." Tia tersipu malu.
"Atala sudah makan?" Tanya Lambok.
"Belum Pa, aku nunggu Papa." Kata Atala.
Lambok tersenyum. "Ya sudah... Ayo kita makan." Ajak Lambok.
Mereka pun makan dengan sukacita.
"Ngomong-ngomong kapan Kamu mau ke Kampus?" Tanya Lambok yang baru saja menyelesaikan makannya.
"Tunggu Fathir, Pa. Nanti bareng sama Fathir." Kata Atala.
Lambok mengangguk. "Kamu jemput Twins, hari ini?" Tanya Lambok.
"Iya dong Pa... Aku kan Kakak Mereka. Aku harus menjaga Adik-adik Aku." Kata Atala.
"Papa bangga sama Kamu, Nak. Ma... Kita sangat beruntung memiliki Atala." Kata Lambok.
Tia tersenyum. "Ya Pa. Atala adalah anugerah terindah buat Kita." Kata Tia.
"Mama....." Atala menghampiri Tia dan memeluknya.
"Mama gak akan bisa hidup tanpa Kamu, Sayang." Tia menangis.
__ADS_1
Lambok mengusap punggung Tia. Lambok memang tahu Atala adalah kebahagiaan Tia. Atala mampu menghilangkan kesedihan Tia saat dia terpuruk dulu.