
"Ayah.... Ibu kenapa?" Tanya Caca yang terbangun karena merasa ada gerakan di sebelah nya.
"Ibu pingsan, Sayang... Kamu mandi yah, Kita shalat subuh berjamaah." Kata Krisna sambil memeriksa keadaan Lita.
"Ya Allah... Ada apa dengan diri mu sebenar nya? Kenapa tubuh Mu ringkih sekali?" Batin Krisna.
Krisna memasang infus dan menusukan jarumnya ke pergelangan tangan Lita. "Bismillaah..." Gumam Krisna.
Usai shalat subuh, Krisna menyiapkan sarapan ala kadar nya. Dia melihat kemarin Lita sudah membumbui Ayam dan di ungkep.
Dengan cekatan Krisna menggoreng ayam sambil mengulek cabe.
"Ayah... Ibu kenapa?" Kembali Caca menanyakan perihal Lita. Dia kaget melihat jarum infus yang sudah melekat di tubuh Ibu nya.
"Ibu sakit lagi Sayang. Kamu tolong jaga Ibu yah... Ayah selesaikan ini dahulu. Kamu sudah lapar kan?" Tanya Krisna.
"Tapi Aku mau makan sama Ibu..." Rengek nya.
"Nanti kalau Ibu sudah sehat, Kamu boleh kemana pun sama Ibu." Janji Krisna.
Caca mengangguk dan kembali ke kamar. Caca mencium pipi Lita. Mengelus pipi sebelah nya. "Bu... Bangun Bu... Kenapa Ibu cakit telus... Ibu malah sama Caca? Caca janji deh kalau Ibu bangun, Caca dak akan nakal lagi atau melawan kata Ibu. Hik... hik... hik...
Krisna melihat interaksi Puteri Nya. Krisna mengusap air mata nya yang sudah akan meleleh. "Sayang... Kita sarapan dulu. Abis itu Kita bangunkan Ibu yah..." Pinta Krisna.
Caca mengangguk. Dia langsung keluar Kamar dan segera sarapan.
"Semalam Ibu gak kenapa-napa Ayah. Kenapa cekalang Ibu sakit lagi??" Caca terus mengintrogasi Sang Ayah.
Krisna mengelap mulut Caca yang belepotan sambel. "Caca mau Ibu tinggal bersama Caca selama nya?" Tanya Krisna.
Caca mengangguk. "Aku mau Ibu dan Ayah belsama Aku..." Kata Caca.
Krisna tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Caca.
_____________________________
Krisna masih terjaga. Dia terus mengawasi perkembangan kesehatan Lita. Krisna sudah mengetahui penyebab penyakit Lita. Awal nya Krisna kaget dengan apa yang Dia dapat. Kini Krisna paham kenapa Lita tak ingin berpisah dengan Puteri nya.
__ADS_1
Sedangkan Caca sudah terlelap di kamar Krisna. Tadi sempat terjadi adu mulut antara Caca dan Krisna. Caca berkeras ingin tidur bersama Lita. Namun Krisna melarang nya karena Sang Ibu sedang sakit. Dengan memberikan pengertian pada Puteri nya, Akhir nya Caca mau tidur di kamar Ayah nya dengan janji jika Sang Ibu bangun, Ayah nya harus mengabari nya.
"Ya Allah... Apa Aku salah mencintai wanita yang sudah bertunangan?" Batin Krisna sambil menengadah.
Krisna mengambil Al Quran dan membuka surat Ar Rahman. Dia melantunkan Ayat-ayat suci dengan syahdu.
Jemari Lita bergerak. Krisna terus melantunkan Surat Ar Rahman. Krisna sering mendengar Lita membaca Surat Ar Rahman.
"Ca... Ca...." Lita mengigau. "Ca... Ca... Ja.. ngan... ting... gal...kan... I..bu..."
"Shadaqallaahul 'Aazhiiim...." Krisna langsung menutup Al Quran nya.
Dia bergegas ke kamar nya dan menggendong tubuh Caca yang terlelap. Krisna membawa nya ke sisi tubuh Lita.
"Caca disini Dek...." Kata Krisna menuntun tangan Lita menyentuh tubuh Caca.
"Ayaaaahhh...." Caca terbangun dengan suara serak. "Apa Ibu sudah bangun?" Tanya Nya.
"Ibu mencari Mu, Nak. Panggilah Ibu Mu, minta Ibu cepat kembali." Pinta Krisna.
Caca bangun dari berbaring nya. Dia mengecup pipi Lita. "Ibu... Bangun Bu... Caca ada disini. Coba buka mata Ibu..." Pinta Caca dengan suara akan menangis.
Caca mengelus lengan Lita. "Caca ada di samping Ibu..." Rengek nya.
Perlahan mata Lita terbuka. Caca buru-buru mengusap airmata nya. Caca langsung memeluk tubuh Lita. Krisna tak dapat lagi mencegah nya.
"Ibu jangan pegi... Caca nda mau Ibu sakit..." rengeknya.
"Hhhmmmm..." Lita terasa pengap.
"Sayang... Ibu nya dikasih nafas dulu yah. Kasihan baru sadar sudah Kamu tindih." Kata Krisna.
Caca buru-buru bangun. "Maafin Caca ya Bu... Caca ceneng deh Ibu udah bangun."
Lita tersenyum. "Kak... Maafkan Aku... Aku selalu merepotkan Kakak..." Airmata nya mencelos ke telinga.
Krisna mengusapnya dengan lembut airmata itu. "Maafkan Aku karena sudah berlaku kasar dengan Mu... Besok Aku akan ke Kabupaten, ingin mengabari Dokter Leo." Kata-kata yang keluar dari bibir Krisna berbeda dengan isi hati nya. "Andai saja Kamu bukan milik orang lain..."
__ADS_1
"Aku mohon... Ijinkan Aku tinggal dengan Kalian. Jangan beritahu Dokter Leo tentang keberadaan Ku..." Lita kembali terisak.
"Sayang... Boleh Ayah bicara berdua dengan Ibu?" Tanya Krisna pada Caca.
"Tapi Ayah jangan buat Ibu Ku menangis." Rengeknya.
"Ayah janji..." Kata Krisna seraya mengelus kepala Puteri nya.
Sepeninggal Caca.
"Dek... Semua penyakit ada Obatnya. Orang yang mencintai akan menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangannya. Dokter Leo adalah Pribadi yang baik. Aku mengenalnya dulu saat Kami sama-sama mengadakan Riset di Rumah Sakit di Jogja." Jelas Krisna.
"Aku gak mungkin menghianati Dokter Leo. Selama ini Dia sering membantu Ku. Memang semenjak Aku menikah, Kami lose contact, kabar yang terakhir Aku dapat Leo menjadi Dokter dan Dosen di Negara J. Dia memang Dokter yang sangat Cerdas. Aku turut berbahagia saat berita Kalian yang sudah bertunangan, namun Aku juga mengkhawatirkan Leo saat musibah yang Kalian alami." Jelas Krisna.
"Kak... Aku mohon... Kak Leo lebuh pantas bersanding dengan Bella. Dia akan bahagia bersama Bella. Bella wanita sempurna untuk Dokter Leo." Lita mengharap.
Lita menceritakan perkenalannya dengan Leo hingga akhir nya Mereka dan bertunangan hingga musibah itu datang. Lita kembali menangis mengingat kebersamaannya dengan Leo. Namun Lita sudah mengikhlaskan Leo.
"Maafkan Aku jika dengan bercerita membuka luka hati Mu..." Kata Krisna dengan suara yang sudah serak. Dia tidak tega mendengar kisah hidup Lita.
"Aku mau menikah dengan Kakak walau pun Kakak tidak mencintai Aku... Asal Aku tidak berpisah dengan Puteri Kakak. Hik... hik... hik..." Lita kembali menangis.
"Ya Allah... Apa ini jawaban Mu atas doa-doa Ku selama ini?" Batin Krisna.
"Tapi Kita membutuhkan Wali Nikah untuk Mu, Lita." Krisna nampak berfikir.
"Aku akan menghubungi Adik Ku, Tristan. Aku percaya Adik Ku akan mendukung Ku. Hik... hik... hik..." Kata Lita meyakinkan Krisna.
Krisna memeluk tubuh Lita. "Jangan menangis lagi... Aku janji akan membahagiakan Kamu. Aku akan menerima apa kurang nya diri Mu..." Krisna mengelus kepala Lita.
"Terima Kasih Kak.... Aku gak tahu bagaimana cara Ku membalas kebaikan Kakak." Kata Lita masih terisak.
Krisna melerai pelukannya. "Jadi lah Ibu yang baik untuk Caca... Didiklah Dia seperti Orang Tua Mu mendidik Mu..." Pinta Krisna.
"Kak... Jangan ngomong seperti itu... Apa Kakak akan meninggalkan Aku dan Caca?" Lita menengadah menatap wajah yang selalu muram itu. Walau senyum terbesit di wajah nya Demi Sang Puteri, tapi Lita tahu ada sesuatu yang Krisna tutupi dari diri nya.
Krisna kembali memeluk Lita. "Cepatlah sehat, Kita akan pergi ke Kabupaten dan mengabari Adik Mu. Aku juga akan mengurus perlengkapan pernikahan Kita."
__ADS_1
Lita mengangguk. Dia juga akan menelpon Tristan dan meminta Sang Adik untuk membawakan beberapa persyaratan Administrasi di KUA.