
Siaran televisi menginformasikan berita bencana angin pting beliung. Memberitakan banyak bangunan yang rusak dihantam badai dan beberapa alat berat yang rusak, kendaraan bermotor, kapal laut juga pesawat terbang pribadi itu yang ternyata tanpa ijin memasuki perbatasan.
Team penyelamat juga Polisi sudah mengevakuasi daerah yang hancur terkena badai pting beliung.
Seorang pembawa acara membacakan jumlah korban dalam bencana itu. Kamera televisi menyorot kearah bangkai pesawat yang sedang diangkut oleh alat pemberat.
Pembawa acara memberitakan kalau bangkai pesawat itu berasal dari Negara J dan menyebutkan nomor seri pesawat yang ternyata pesawat pribadi milik seorang Pengusaha terkenal.
"Siaaalll!!!" Bella menggebrak tangannya ke meja. Para Pelayannya sangat terkejut namun tak berani berbuat apa-apa.
"Apa yang harus Aku katakan pada Suami Ku? Apa alasanku Pesawatnya keluar? Aaacchhh.... Benar-benar sial!!!" Bella terus memaki.
"Tapi tunggu....." Bella masih terus menatap layar televisi nya. "Mereka belum bisa mengevakuasi para korban, itu berarti Lita mungkin sudah menghadap-NYA..." Bella tersenyum getir.
"Maafkan Aku, Sayaaang..... Ternyata nasibmu kurang beruntung...." Bella menghela nafas dengan seringaian licik.
Bella menelpon seseorang. Tak lama sambungan itu terjawab.
"Selidiki para korban bencana itu! Sedetil mungkin, Aku tak mau ada yang terlewat! Saat ini juga!" Perintah Bella dan segera mematikan sambungan telponnya.
Di Tempat lain
"Innalillaahi......" Vita membekap mulutnya sendiri.
"Ada apa Sayang?!" Tanya Atala yang baru saja keluar dari kamar.
Keluarga Lita memang sudah pindah ke rumah dinas Perusahaan Lambok yang berada di Negara J. Setelah Polisi tidak berhasil melacak keberadaan Lita.
Sedangkan Leo mengerahkan anak buah Sang Papa untuk mencari keberadaan Lita. Karena Leo berfikir gerak Polisi sangat lambat.
Tia pun sudah sedikit agak tenang ketika Tristan memberitahu kalau keadaan Lita baik-baik saja. Tia dan Lambok berjanji tak akan memberitahukan berita dari Tristan kepada Leo sesuai permintaan Lita.
"Ini Yang ada berita bencana di televisi. Tapi itu ada pesawat pribadi dari Negara ini." Jelas Vita.
"Masa sih?" Atala ikut duduk disamping Vita dan fokus melihat ke layar televisi.
Pembawa berita sudah mulai membacakan nama-nama para korban yang terkena bencana tersebut dalam angkutan laut juga pesawat pribadi.
"Gak mungkin Lita ada, kan?" Atala enggan membaca.
"Eehhh.... Barangkali ada nama-nama yang Kita kenal. Iiihhh.... Ayang gimana sih?!" Vita menepuk paha Atala yang akan beranjak pergi.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu...." Pamit Atala.
"Aaaccchhhh....." Vita berteriak dan sontak membuat seisi rumah keluar dari kamarnya masing-masing. Atala yang sedang di kamar mandi pun terkaget mendengar teriakan sang Istri.
"Ada apa Vita...!!" Tanya semua orang yang ada di rumah itu.
Wajah Vita sudah pucat, Dia menunjuk-nunjuk kearah televisi. Tak lama Vita tak sadarkan diri.
Joanna yang posisi nya dekat dengan Vita memang sempat melihat nama-nama korban bencana. Dan Dia menangkap nama Lalita Puteri Wijaya termasuk disana.
"Lita.... Lita....." Kata Joanna.
"Kenapa Lita?" Tanya Lambok panik.
Atala sudah menepuk-nepuk pipi Vita yang tak sadarkan diri.
"Lita termasuk kedalam nama-nama korban bencana itu... Hik... hik... hik..." Joanna menangis.
"Aapaaaa??!!" Semua orang disana nampak tak percaya.
Ponsel Atala berdering. Atala langsung mengangkatnya.
"Siapa?" Tanya Fathir.
"Assalamu alaikum Atala..." Sapa Leo.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab semua.
"Apa Kamu sudah mendengar berita?" Leo terdengar gugup.
"Iya.... Istriku pingsan." Kata Atala.
"Anak buah Papa menghubungi ku kalau Lita ada dalam pesawat pribadi itu." Jelas Leo terdengar kacau.
"Kamu tenang Leo. Aku akan menjemputmu." Kata Fathir yang bergegas mengambil kunci mobil dan menuju Apartemen Leo.
_________________________
Seluruh Keluarga Lita sudah tiba ditempat evakuasi para korban bencana. Kantung-kantung jenasah satu persatu diperiksa oleh Leo.
Tia terus saja menangis dan seringkali tak sadarkan diri. Hingga akhirnya Leo meminta pada Lambok untuk membawa Tia ke Rumah Sakit terdekat dari kepulauan itu.
__ADS_1
"Apa masih ada lagi?" Tanya Leo setelah memeriksa kantung jenasah yang Dia periksa.
"Untuk hari ini, baru ini, Tuan. Kami berharap tidak ada korban lagi. Tapi Team penyelamat tak akan berhenti hingga tujuh hari ke depan." Jelas salah seorang petugas medis.
Terdengar isakan tangis juga gerungan orang yang merupakan keluarga dari para korban bencana. Riuh sekali suasana disana.
Atala dan Fathir pun ikut dalam kapal Team penyelamat. Mereka memang berpengalaman dalam team relawan saat Kuliah dulu. Semua urusan perusahaan diserahkan pada orang kepercayaan Sang Papa. Meeting dengan para Klien semua dibatalkan.
Bagi Mereka tak masalah kehilangan Proyek triliunan daripada harus kehilangan orang yang Mereka cintai.
Leo juga membantu mengobati para korban yang masih hidup. Di camp-camp tenda besar. Karena Rumah Sakit penuh.
Leo juga menghubungi Rumah Sakit Negara J untuk mengirimkan obat-obatan untuk membantu korban bencana ini.
"Kakak...... Kakak janji sama Aku.... Kakak akan baik-baik saja... Hik... hik... hik..." Tristan menangis di kursi dalam ruang perawatan Sang Mama, dalam rangkulan sang Papa.
Lambok juga sangat terpukul. Tapi Mereka juga masih menunggu karena sampai saat ini tubuh Lita belum diketemukan.
___________________________
Seminggu sudah berlalu. Para korban bencana sudah berangsur berkurang. Jenasah sudah habis dibawa pulang oleh Keluarga Mereka masing-masing.
Keluarga Lita masih menunggu disana. Namun para penyelamat sudah turun ke darat.
"Sudah tidak ada lagi, Tuan. Kami sudah menyisir area ini sampai ke perbatasan. Kami juga sudah menghubungi perbatasan, Mereka bilang tidak ada lagi, sudah bersih. Kalau pun korban ada yang sampai perbatasan, Mereka akan habis dilahab hewan laut disana." Jelas salah seorang Team penyelamat.
Hewan canibal itu tidak berani menyebrang kelautan ini karena suhu air yang berbeda dengan laut kediaman Mereka.
Leo nampak lemas. Tubuh nya rasa tak bertulang. Dia tak berhasil menemukan Lita dalam keadaan hidup atau pun jenasahnya.
Keluarga Lita nampak sangat kecewa dengan hasil ini. Tia kembali pingsan mendengar berita ini.
"Sebaiknya Tuan dan Keluarga kembali pulang. Kalau ada informasi, Kami akan segera mengabarkan kepada Anda." Kata Team Penyelamat itu setelah menerima foto diri Lita.
__________________________
Tak ada satu pun yang membuka suara. Mereka berkumpul dalam hening.
Keluarga Lita memutuskan kembali ke Indonesia karena tempat bencana itu tak jauh dari Indonesia. Kurang lebih 5 jam penerbangan.
"Astaghfirullaah.... Kita tidak boleh seperti ini. Kita harus berdoa untuk Lita." Lambok mengingatkan Keluarganya.
__ADS_1
Tia memang sudah pasrah. Naluri nya sebagai seorang Ibu menepis pikiran buruk pada Puteri nya, namun Tia juga sedih karena keberadaan Puteri nya entah dimana kini, dengan kondisi nya yang cacat.
Sedangkan Leo kembali ke Negara J untuk mengusut, kenapa Lita bisa berada dalam pesawat pribadi milik seseorang. Leo akan menanyakan milik siapa pesawat itu. Dengan begitu Leo akan tahu, siapa penculik calon istrinya dan apa motif nya.