CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kekhawatiran Lita


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa Kalian tersenyum? Seolah merencanakan sesuatu?" Leo mengernyitkan dahinya.


"Kasih tahu gak yah?" Caca mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya ke dagu nya. "Dokter mau tahu aja apa mau tahu banget?" Canda Caca.


"Dokter mau tempe aja." Leo terkekeh.


"Iihhh... Dokter... Caca gak bilang tempe..." Caca mengrucutkan bibirnya. Itu membuat Leo sangat gemas.


"Walau Caca bukan anak kandung Lita, tapi watak dan wajah nya hampir sama, selalu menggemaskan." Batin Leo.


"Iiiihhh Dokter... Malah diem?" Caca membuyarkan lamunan Leo.


"Kamu itu... persis Mama Kamu..." Leo mencubit pipi Caca.


"Ya dong... Caca kan anak nya Ibu..." Caca tersenyum bangga.


"Caca mau gak jadi anak Dokter Leo?" Tanya Leo.


Caca menatap Tristan. Tristan hanya tersenyum.


"Memang Dokter mau, jadi Ayah Caca?" Tanya Caca dengan wajah lucu.


"Kalau anak nya Kamu, gak ada Ayah yang menolak." Leo mencubit pipi cubby Caca.


"Caca mau jadi anak Dokter, tapi...." Caca terlihat sedih.


"Tapi apa?" Tanya Leo.


"Caca mau punya Dedek bayi yang banyak..." Caca masih menunduk. Dia teringat manakala Lita terlihat bersedih saat Caca meminta Dedek bayi pada Ibu nya.


Leo tersenyum. "Dedek bayi itu akan ada atas kehendak Allah, Sayang..." Leo mengusap kepala Caca. Dia teringat perkataan Krisna yang mengatakan kalau Lita akan susah memiliki anak.


"Caca akan memohon sama Allah supaya Allah mau kasih Caca, Dedek bayi dari Ibu dan Dokter." Caca terlihat riang.


"Aamiin.... Hahahahaha... Kamu itu pintar sekali..." Leo terlihat sangat bahagia. "Ternyata tidak salah Lita lebih memilih Krisna demi Caca daripada memilih diriku." Batin Leo.


'Kakak Mu, pulang jam berapa, Dek?" Tanya Leo pada Tristan yang dari tadi hanya tersenyum mendengar celotehan Caca dengan Leo.


"Jam dua dini hari, Kak." Kata Tristan.


"Kok malam sekali? Apa tiap hari seperti itu?" Tanya Leo.


"Iya Kak. Kak Lita yang meminta kebijakan dari Rumah Sakit, karena tidak ada yang jaga Caca, jika Kakak kerja bersamaan dengan waktu kuliah Ku." Jelas Tristan.


Leo hanya mengangguk. Dia sudah tahu alasan Lita bekerja. Tristan sudah menjelaskannya. Padahal kalau soal materi, Papa nya Lita, Lambok, tak pernah kurang mengirim uang untuk Lita dan Caca.


Jam sembilan malam, Tristan pamit pulang. Caca sudah tertidur di kamar hotel dimana Leo menginap.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya Kalian nginap saja disini?" Leo nampak kasihan melihat Caca yang tertidur pulas.


"Nanti Kak Lita mencari Kami, Kak. Dia pasti panik. Kak Lita gak bisa jauh-jauh dari Caca. Waktu Kak Lita bulan madu dengan Kak Krisna, setiap hari bisa tiga kali video call dengan Caca." Jelas Tristan.


Leo mengangguk. "Kamu bisa telpon Lita, alasan apalah, nginep di rumah teman dan mengajak Caca." Saran Leo.


"Tidak Kak, rencana Kita bisa gagal. Kak Lita pasti akan video call Aku untuk bicara dengan teman Aku." Kata Tristan.


Leo menghela nafas yang terasa sesak. Lita memang sulit untuk dibohongi. "Baiklah kalau begitu... Kakak pesankan taxi dulu ke receipsionist." Leo langsung menelpon.


____________________________


"Dokter....!!!" Caca berteriak sambil berlari menghampiri Leo.


Hari ini Lita tak bisa menjemput Caca karena mendadak mendapat telpon dari Rumah Sakit ada pasien gawat darurat yang harus segera ditangani Dokter specialist saraf.


Lita menelpon Tristan untuk menjemput Caca. Lita juga sudah menghubungi pihak sekolah agar menjaga Caca selama Uncle nya belum menjemput.


Tristan langsung menelpon Leo. Tristan sedang banyak tugas yang harus Dia selesaikan agar lulus tepat waktu.


Leo dengan senang hati menjemput Caca ketika Tristan memberikan nama sekolahnya.


"Pak Dokter sendiri? Ibu mana?" Tanya Caca yang celingak celinguk mencari Lita.


Leo tersenyum. "Ibu Mu mendadak ke Rumah Sakit. Tadi Uncle Tristan telpon Dokter untuk jemput Kamu, Sayang..." Leo mencium pipi Caca.


"Saya, Ayah nya Caca... Iya kan, Sayang?" Leo menciup pipi Caca.


"Iya Miss... Ini Ayah Daddy Caca... Baru datang dari Indonesia." Jelas Caca.


"Maaf... Saya harus telpon Miss Lita dahulu untuk memastikan." Kata Guru tersebut.


"Waduuuhhh gawat ini...." Gumam Leo. Leo terlihat panik.


"Miss... Jangan telpon Ibu Caca, Ibu lagi sibuk." Caca langsung mengerti kekhawatiran Leo.


"Iya Miss... Telpon Tristan saja." Pinta Leo.


Guru itu melihat wajah Leo. Dan segera menghubungi Tristan.


Tak berapa lama.


"Baiklah Tuan. Tuan Tristan sudah mengijinkan." Kata Guru tersebut.


"Thank You, Miss." Kata Leo dan langsung menggandeng Caca setelah mengambil tas ransel milik Caca.


"Dokter.... Caca mau ice cream." Pinta Caca saat Mereka sudah berada dalam taxi.

__ADS_1


Leo tersenyum. "Kamu sudah makan?" Tanya Leo.


Caca mengangguk. "Ibu selalu menyediakan sarapan buat Caca dan bekal sekolah. Kata Ibu, Caca harus hidup sehat dan disiplin."


"Ibu Mu benar, Sayang.... Kita makan ice cream di Mall aja, yaah...?" Kata Leo.


Caca tersenyum riang. "Yeeeeiiii.... Terima kasih Dokter."


_______________________________


Sore hari Tristan baru kembali ke apartemen.


"Assalamu alaikum..." Salam nya. Tristan tidak tahu kalau di Apartemennya, Lita sudah kembali.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Lita.


"Loh, Tristan?! Caca mana?" Tanya Lita terlihat panik. Lita pikir Caca bersama Tristan.


"Hah..??!! Caca?!" Tristan terlihat kaget tak menyangka Kakak nya sudah pulang dari Rumah Sakit. "Kakak sudah pulang?" Tanya Tristan dengan nada masih terkejut. Tristan berniat pulang ke Apartemen untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu Dia baru akan menjemput Caca di hotel tempat Leo menginap.


"Lalu yang berdiri di depan Mu, siapa?" Lita jadi sewot. "Caca dimana?! Kenapa tidak bersama Mu?!" Lita makin panik.


"Anu... Kak... Caca ada kok..." Tristan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Lita langsung keluar pintu apartemen mencari Caca. "Dek... Kamu jangan bercanda, mana Caca?! ?" Lita histeris.


"Kakak tenang yah... Caca ada kok..." Tristan mau gak mau menenangkan sang Kakak. "Aduuhhh gimana ini?!" Batin Tristan.


"Ada... ada... Mana, Tristan?!" Lita tak menurunkan emosinya.


Tristan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Wa alaikumussalaam... Kak Lita sudah pulang. Kakak menanyakan Caca...." Tristan berbicara dengan seseorang tanpa menyebut nama nya.


Lita sudah bertelak pinggang di depan Tristan. "Kamu titip siapa Caca?!" Tanya Lita sesaat Tristan memutuskan sambungan telpon.


"Maaf Kak... Aku tadi banyak tugas kampus yang gak bisa Aku tinggal..." Tristan menunduk. Dia tahu pasti, Lita akan sangat marah jika tahu siapa yang membawa Caca.


"Lalu Caca?!" Lita menurunkan nada bicara nya. Lita merasa bersalah karena membuat Adik kesayangannya takut.


"Caca baik-baik saja, Kak. Sebentar lagi juga sampai." Kata Tristan masih menunduk.


Lita menghela nafas. "Astaghfirullaah..." Lita terkulai duduk di sofa. Nyawa Lita serasa mau terbang tidak mendapati Puteri nya bersama Tristan. Lita memendam rindu pada Puteri nya karena seharian Dia sibuk di Rumah Sakit. Malam ini Lita tak ke Rumah Sakit. Pasien yang Dia tangani sudah berada di ruang perawatan. Lita akan kembali ke Rumah Sakit esok pagi.


"Aku ke kamar dulu Kak...." Pamit Tristan. Seharian Dia penat dengan tugas kampus yang menumpuk. Dia mengejar ketinggalan saat cuti dahulu. Tristan ingin cepat-cepat lulus dan bisa berkumpul kembali bersama kedua orang tua nya.


"Hhhmmm....." Jawab Lita sambil memijat keningnya yang berdenyut karena mengkhawatirkan Puteri kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2