CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Gugup


__ADS_3

"Kenapa Lita mengulang kembali pertanyaannya?" Batin Tia. "Kemarin Dia sudah bertanya, sekarang bertanya lagi." Tia menatap wajah Lambok. Lambok hanya mengangguk.


Lambok menatap Leo, Leo seakan mengerti dengan tatapan Lambok. "Tidak apa Tuan, Lita masih menyimpan trauma nya." Kata Leo tanpa menutupi kegalauan kedua orangtua Lita kepada Lita.


"Memang Aku trauma kenapa?" Lita bertanya dengan heran.


"Kamu yang tahu masalah mu sendiri, Sayang...." Kata Lambok. "Mengapa Kamu menutupi dari Kami, Hhmmm???"


"Papa... Aku tak menutupi apapun." Lita mengrucutkan bibirnya.


Tia mengusap lembut kepala Lita. "Papa dan Mama lebih paham Kamu, dari pada dirimu sendiri, Sayaaang... Cerita ya sama Mama dan Papa..." Pinta Tia lembut.


Lita menunduk. "Tapi gak di depan orang lain juga kan, Ma..." Lita merengut.


Semua orang memandang pada Leo. "Tapi Leo, Dokter Kamu, Nak." Kata Lambok. "Dia perlu untuk riset kesehatan Kamu."


Lita menggeleng. "Aku cuma mau Mama dan Papa saja." Kata Lita pelan.


"Baiklah..." Leo pun mengalah.


Vita dan Atala pun ikut keluar dari ruang perawatan Lita. Mereka mengerti perasaan Lita.


"Nah... Sekarang tinggal Kita bertiga." Kata Tia.


Tiba-tiba Lita memeluk erat tubuh Tia dan menangis. "Huk... huk... huk.... Mama... Papa... Aku gak bisa melupakannya. Aku selalu bermimpi tentangnya.. Huk... huk.. huk... Dia selalu memanggilku dan meminta tolong..." Lita terus meracau sambil menangis.


"Vero..???!!" Tia dan Lambok berseru berbarengan. Mereka sangat kaget dengan apa yang diutarakan Lita.


Lita mengangguk masih dalam pelukan Tia. Tia mengelus punggung Lita dengan lembut. Beberapa ayat Al Quran, Tia bacakan dan tiupkan ke ubun-ubun Lita.


"Tapi Kamu bilang, Kamu sudah melupakan Vero, Nak..." Kata Lambok.


"Aku memang sangat berusaha melupakan Bang Vero, Papa. Tapi kehadiran Kak Arby, mengingatkan Aku lagi pada Dia." Jelas Lita.


Tia melerai pelukannya. "Istighfar Sayang... Astaghfirullaah..." Tuntun Tia sambil tak luput dengan bacaan Al Quran.


"Astaghfirullaah.... Astaghfirullaah... Astaghfirullaah..." Lita beristighfar mencoba menenangkan jiwa nya sendiri.


Lambok mengusap airmata Lita dengan lembut. "Apa Kamu mau kembali ke Indonesia?" Tanya Lambok.


Lita menatap tak percaya pada Papa nya. "Tapi Pa... Bagaimana dengan kuliah dan beasiswa ku?"


Lambok tersenyum. "Kesehatan dan kebahagiaanmu lebih penting, Sayang. Papa tahu, Kamu kuliah disini hanya ingin menghindari masalah hati mu, tanpa mau menyelesaikannya. Papa pernah muda, Sayang... Papa juga pernah seperti mu saat meninggalkan Mama mu, tanpa tahu kebenaran tentang Mama mu."


Lambok menatap Tia penuh cinta. Tia membalasnya. Tia mengusap pipi Lambok dengan lembut. "Semua sudah berlalu, Sayang... Sekarang Aku Tua bersamamu hingga akhir hayatku..." Kata Tia bijak.


"Aku hanya ingin Lita menyelesaikan masalahnya, Ma. Itu yang dulu Aku lakukan demi menenangkan hatiku. Saat kudengar Mama sudah menikah dengan laki-laki lain, Aku begitu hancur, tapi Aku juga tak menyalahkan Mama. Memang jodoh belum mempertemukan Kita. Saat itu Kita memiliki pasangan masing-masing." Jelas Lambok.

__ADS_1


Lita mendengarkan penuturan Lambok. Lita menggeser duduk nya. "Maafkan Aku Pa... Aku janji akan menyelesaikan masalahku dengan Dia. Tapi Aku mau menyelesaikan kuliahku disini." Lita menatap Lambok penuh harap.


Lambok mengecup kening Lita. "Papa yakin Kamu bisa menyelesaikannya. Lalu apa Kamu tak mau membuka hatimu untuk yang lain?"


Lita menggeleng. "Aku belum siap untuk terluka lagi, Pa."


"Tapi kalau luka itu ada yang mengobati, kenapa Kamu tak terima, Sayang?" Pinta Tia.


"Entahlah Ma... Aku belum memikirkannya. Biarlah semua berjalan sesuai rencana Allah." Kata Lita.


"Tidak Nak... Allah tak akan membuka jalanmu, kalau Kamu sendiri gak mau membukanya." Tegas Lambok.


Lita menunduk diam. "Aku... Aku... Aku menyukainya Pa... Tapi Dia berbeda dengan Kita. Dia tak mungkin mau mengikuti Kita." Lita menunduk. Wajahnya bersemu merah. Lita tak tahan untuk tidak terbuka dengan kedua orangtua nya.


Lambok dan Tia saling menatap. Mereka tersenyum. "Apa pikiran Mama dan Papa tidak salah, Sayang?" Tanya Tia.


Lita menggeleng. "Tidak Ma... Pa... Aku menyukai nya. Tapi Aku tak mau mengumbarnya. Aku hanya memohon pada Allah, agar dibukakan hatinya untukku dan mau mengikuti agama Kita." Lita bersemu merah.


Tia dan Lambok memeluk tubuh Lita. "Insyaa Allaah... Jika Kalian berjodoh, Allah akan mempermudah segalanya... Aamiin...." Kata Lambok.


"Aamiin..." Jawab Tia dan Lita.


"Aku sayang Mama dan Papa." Lita mempererat pelukannya pada kedua orangtua nya.


________________________


Beberapa kali Lita mengirim pesan pada Papa dan Mama nya, juga Vita. Tapi Mereka seakan enggan membuka pesan dari Lita.


Lita mengrucutkan bibirnya karena merasa risih ada Leo di ruangannya sejak tadi siang. Hari ini tak ada yang menjenguk Lita. Mereka seakan hilang lenyap entah kemana.


"Kamu belum ada yang menemani. Jadi Aku menemani mu. Aku gak mau Kamu kenapa-napa." Kata Leo dengan lembut dan penuh perhatian.


"Aku kan bukan pasien sakit parah yang harus ditemani terus-terusan!" Lita meninggikan nada bicaranya. "Aku bisa ke kamar mandi sendiri. Aku bisa makan sendiri. Aku juga bisa semua nya sendiri."


Leo tersenyum melihat wajah Lita yang begitu menggemaskan. Ingin sekali Dia membungkam bibir Lita dengan bibir nya. Tapi Leo tahan sekuat mungkin.


"Aku tahu... Tapi Aku tidak yakin." Kata Leo singkat.


Lita tambah memajukan bibirnya kesal. Lita mengglosor tubuh nya dan menarik selimutnya hingga menutupi wajah.


Leo mendekati Lita. Dia mencoba membuka selimut Lita perlahan. "Apa Kamu tidak merasa sesak? Jika selimut ini menutupi seluruh wajahmu?" Goda Leo.


"Maka nya Dokter tinggalkan Aku sendiri. Aku mau sendiri saja." Lita sangat gugup. Berulangkali jantungnya berdegub kencang.


Leo hendak menurunkan brangkar Lita yang bagian kepala agar Lita nyaman.


"A.. Apa.. Apa... Yang Dokter mau lakukan?" Lita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat wajah Leo begitu dekat dengan wajahnya.

__ADS_1


"Aku gak mau ngapa-ngapain kok. Aku cuma mau menurunkan ini." Goda Leo.


"Ya tapi gak gitu juga kali. Wajah nya sampe mau nempel ke wajah Aku." Ketus Lita masih menutup wajahnya.


Leo tersenyum. Leo merasa senang mengerjai Lita. Tapi Leo juga salut sama Lita yang tak mudah menerimanya. Padahal di luar sana banyak wanita yang berebut ingin mendapatkan perhatiannya.


"Apa segini sudah merasa nyaman?" Tanya Leo.


"Haahh...!" Lita terkejut. Lita sibuk menata jantungnya yang seakan akan lompat dari tempatnya.


Leo memegang tangan Lita dengan lembut. Melepaskan dari wajah Lita. "Aku bertanya apa brankar nya sudah terasa nyaman?" Leo mengulang pertanyaannya.


Mata Lita menatap lekat mata Leo. Lita seakan terhipnotis dengan ketampanan dan kelembutan Leo.


Leo mengelus kepala Lita yang tertutup hijab. Lita menutup mata nya merasakan kelembutan belaian Leo.


Leo tersenyum. Dia menunduk ingin mengecup kening Lita. Tapi mata Lita terbuka. Lita tersadar dan langsung istighfar. Lita menghalau bibir Leo yang ingin mengecup keningnya, dengan kedua telapak tangannya.


"Astaghfirullaah... Dokter!!!" Bentak Lita.


Leo tersadar. "Hhmmm... Maaf... Maaf..." Leo tak dapat menutupi kegugupannya.


Leo menangkupkan telapak tangan Lita dengan kedua telapak tangannya. "Aku mencintaimu.... Sangat mencintaimu...." Kata Leo tanpa ragu.


"Tapi....." Lita menggantung kalimatnya.


Leo hendak membungkap bibir Lita dengan bibirnya. Lita dengan sigap mengambil bantal sebagai perisainya. "Dokter, jangan seperti ini!?" Lita sangat kesal.


"Aauuwww..!!" Lita setengah berteriak, tangan yang ada jarum infus nya agak tertarik.


Leo cepat sadar. Dia mengambil tangan Lita. Berdarah. Leo buru-buru membenarkan. Sementara Lita meringis menahan sakit.


"Maaf... Aku benar-benar minta maaf." Kata Leo sungguh-sungguh. Leo memeriksa lengan Lita, agak bengkak dan kebiruan. "Ganti tangan yah. Ini sudah terlalu lama juga ditangan kirimu." Kata Leo khawatir.


Lita mengangguk pasrah sambil menahan rasa sakit. Apalagi akan ganti tangan untuk ditancapi jarum infus.


Dengan sangat hati-hati namun cekatan, Leo mengganti jarum infus dan juga menusukkan pada tangan kanan Lita. Setelahnya Leo mengompres tangan kiri Lita yang kebiruan bekas jarum infus.


Jantung Lita berdegub sangat kencang. Beberapa kali Lita menghela nafas menahan gejolak di dada nya.


Leo terus menatap wajah Lita. Itu membuat Lita makin salah tingkah.


"Dokter ngapain sih ngeliatin Aku terus?! Aku aneh ya?" Lita mengrucutkan bibirnya.


Leo tersenyum. "Kamu sangat cantik dan menggemaskan. Aku serius. Aku mencintaimu."


"Jangan mulai lagi Dokter." Ketus Lita.

__ADS_1


Leo hanya menghela nafas. "Sabar Leo... Lama-lama Lita akan luluh juga." Batin Leo.


__ADS_2