CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Fitri Minta Pisah


__ADS_3

"Kalian disini yah. Auntie mau ambil bekal dulu." Kata Nindi pada keponakannya.


"Yaaang..." Panggil Nindi pada Marcel.


Marcel menoleh. Nindi mengedipkan mata. "Ayo katanya mau ke sungai. Maaf ya Kak, Aku tinggal. Aku pergi sama anak-anak."


Nindi pamit pada Fitri dan Tia.


"Itu bekal nya sudah Kakak siapin dek." Kata Fitri yang segera beranjak ke dapur.


"Kak....Selesaikan dengan kepala dingin. Kasihan anak-anak." Kata Nindi di dapur.


Fitri mengangguk. "Kalau Kakak sanggup, Kakak teruskan tapi kalau tidak...." Fitri tak meneruskan kata-katanya.


"Jangan Kak... Nindi harap ini hanya salah paham saja. Kakak kan belum punya bukti-buktinya." Kata Nindi pelan.


"Kurang bukti apalagi, jelas-jelas Kakak lihat sendiri, Kak Fahmi memeluk perempuan itu." Fitri mengrucutkan bibirnya.


"Ya sudah.... Keputusan ada sama Kakak. Tapi Nindi berharap bisa diselesaikan baik-baik dan tidak diakhiri dengan perpisahan." Pinta Nindi.


Fitri hanya diam. Fitri memberikan bekal pada Nindi. "Hati-hati... Anak-anak jangan sampai meleng. Tar Kamu asyik berduaan, anak-anak gak tahu dimana." Pesan Fitri.


"Siap Kakakku yang paling cantik." Nindi mengecup pipi Fitri.


"Ayo Yaang Kita berangkat... Bu, Kakak... Aku pamit dulu ya... Assalamu alaikum..." Salam Nindi.


Marcel dan anak-anak juga berpamitan.


"Waalaikumussalaam..." Jawab yang didalam rumah.


Para Keponakan sangat senang pergi ke sungai bersama Auntie dan Uncle Mereka.


Twins bergelayut pada Marcel sedangkan Atala merangkul bahu Nindi. Fathir dan Fahri saling berangkulan.


Mereka juga bergantian membawa perbekalan.


"Masih jauh, Yaaang?" Tanya Marcel.


"Lumayan. Sebentar lagi juga terdengar suara air. ?" Kata Nindi. "Kenapa? Kamu cape?" Tanya Nindi.


"Gak... Aku hanya penasaran saja, Istriku senang sekali ke sungai." Canda Marcel.


"Bukan Aku saja yang suka. Mereka kalau kesini selalu kesini." Kata Nindi.


"Uncle tahu gak?" Tanya Fathir. Twins menterjemahkan.


"Kamu mau ngomong apa, Fathir?" Tanya Nindi yang membaca gelagat tak enak.


"Apa Fathir?" Tanya Marcel.


Fathir melirik kearah Nindi. Dia terkekeh.


"Bicara saja Fathir, kalau Auntie marah kan ada Uncle." Canda Marcel.


"Waktu Uncle belum kesini, setiap hari Auntie ke sungai tapi bukan mau mancing." Kata Fathir.


"Lalu?" Tanya Marcel.


"Aku melamun di batu yang disana!" Nindi meneruskan. "Puas Kamu??!" Nindi melotot pada Fathir.


"Hahahahaha...." Fathir, Atala dan Twins tertawa. Fahri hanya tersenyum.


"Uncle tahu." Kata Marcel.

__ADS_1


"Dari mana Kamu tahu?" Tanya Nindi.


"Kak Lambok mengirimkan gambarnya padaku." Marcel mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Nindi.


Nindi melihatnya. "Whaaattsss???!! Jadi Kak Lambok ngikutin Aku yah..?" Nindi mengrucutkan bibirnya.


"Itu tandanya Auntie kalian sangat mencintai Uncle Kalian yang tampan ini..." Seru Marcel.


"Yyeeaaa...." Anak-anak bersorak.


"Huh.. Ge er." Kata Nindi.


"Apa Ge er?" Tanya Marcel.


"Mau tau aja apa mau tahu bingiitt..??? Hahahaha..." Anak-anak menggoda Marcel.


"Hahahaha..." Nindi tertawa mentertawakan kelakuan keponakannya yang jahil-jahil.


Marcel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tuh Yaaang... Sungainya sudah kelihatan." Tunjuk Nindi.


"Subhanallaah.... Indah sekali... Pantas saja Kalian senang kesini." Puji Marcel.


"Naahhh... Sekarang baru tahu kan?" Kata Nindi.


Marcel mengangguk dan mengecup kening Nindi. "Kalau begini Aku lebih suka tinggal disini dari pada di Jakarta, kalau jadi pindaaahhh..." Kata Marcel.


"Jadiiiinnn... Uncle... Jadiin yaaah...." Kata Atala dan Twins.


"Hhhhmmm.....Nanti Uncle pikirkan lagi." Kata Marcel.


"Huuuuhhhh.... PHP...." Kata Anak-anak.


"Mau tahu aja apa mau tahu bingiits...?" Mereka mengulang kembali menggoda Uncle mereka yang belum mengerti bahasa Indonesia.


"Nindi hanya geleng-geleng kepala. Sudaaahhh... Nanti Unclenya BT loh dicandain terus." Kata Nindi.


"Ge er, PHP, sekarang BT.... Apa lagi nanti?" Marcel menggrutu.


Nindi dan keponakannya terkekeh melihat Marcel.


Mereka sudah sampai di sungai. "Airnya sedang deras. Nanti saja turunnya." Kata Nindi.


"Ya Auntie." Kata para keponakan menurut.


"Kalau gitu kita duduk-duduk dirumput itu..." Ajak Nindi.


"Ayoooo..." Kata Mereka serempak.


"Pada mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Nindi.


"Nanti saja Auntie. Abis berenang. Tadikan sudah makan pisang goreng." Kata Lita.


"Yang lain?" Tanya Nindi.


"Ya nanti saja." Kata Mereka.


Marcel mengabadikan kebersamaan mereka lewat ponselnya.


"Ada ikan apa saja disini?" Tanya Marcel.


"Banyak Uncle..." Kata Fathir. Apalagi ikannya dipepes atau dibakar... hhhmmmm..." Fathir menghayal makan ikan pepes buatan Nenek hingga air liurnya menetes.

__ADS_1


"Iihhhh Fathir jorok..." Kata Twins.


"Hehehe.... Maaf." Fathir segera mengelap bibirnya.


"Ayoooo Kita tangkap ikan." Ajak Marcel.


"Tapi airnya deras, yang." Kata Nindi.


"Justru kalau airnya deras, ikannya akan melawan arus. Mereka akan mudah terlihat." Kata Marcel.


"Ya terserah Kamu. Tapi hati-hati Yang. Kamu masih bujangan." Bisik Nindi sambil terkekeh.


Marcel segera mengecup bibir Nindi.


"Twins dan Fahri gak usah turun ya Nak. Temani Auntie saja." Pinta Nindi.


"Ya Auntie. Kak Atala... Tangkap yang banyak yah." Pinta Twins.


"Insyaa Allah, dek." Kata Atala.


Marcel, Atala dan Fathir segera turun ke sungai. Twins dan Fahri menemani Nindi.


__________________


Di rumah Ibu.


"Orang jelas-jelas Fitri melihat dengan mata kepala Fitri sendiri, Kak Fahmi memeluk perempuan itu." Fitri mulai terisak.


"Waktu itu Aku minta tolong anterin ke puskesmas, karena Farah mau imunisasi. Tapi Kak Fahmi gak bisa katanya ada rapat di kantor tapi ternyata rapet di taman." Fitri sangat kesal.


"Kamu salah paham, Sayaang. Dia adikku. Bukan selingkuhanku." Jelas Fahmi.


"Masuk akal gak Kak Tia? Kak Lambok? Ibu? Adiknya jauh-jauh dari Kalimantan kesini tapi gak mampir? Apa itu namanya Adik?" Ketus Fitri yang mulai menangis.


Tia mengelus bahu Fitri. Sebenarnya Tia tak percaya kalau Fahmi selingkuh. Karena Tia tahu betul siapa Fahmi.


"Terus, alasan keluar Kota tugas Kantor, tapi mana hasilnya? Setahu Fitri kalau tugas Kantor keluar Kota, berarti ada uang tambahan, kan? Fitri selama ini diam saja gak pernah minta. Gak tahunya buat selingkuhannya kali yah....?!" Fitri makin histeris.


"Deeekk... Istighfar..." Tia mencoba meredam amarah Fitri. Fitri memang sangat sulit diredam kalau sudah sangat kesal.


"Bu... Dia betul-betul Adik Fahmi. Memang Fahmi belum pernah cerita kalau Fahmi punya adik angkat." Jelas Fahmi.


"Fahmi sudah bilang sama Fitri, kalau gak percaya, silahkan tanya Bunda, tapi Fitri gak mau." Kata Fahmi lagi.


"Kalau masalah uang tambahan Aku keluar Kota, Aku ngaku salah tidak minta pendapat Kamu dulu. Soalnya Adikku sangat membutuhkannya mendesak. Dan Aku lupa memberitahumu karena Kamu langsung menjauhiku." Fahmi menunduk.


"Sudah satu tahun, Fitri mendiamkan Fahmi, Bu.... Lambok... Tia.." Kata Fahmi.


"Astaghfirullaah... Fitri...! Kamu durhaka sama suamimu! Ibu tak pernah mengajari Kamu seperti itu!" Ibu terlihat sangat marah pada Fitri.


Fitri hanya menunduk. "Fitri mau pisah saja, Bu. Fitri jijik sama Kak Fahmi. Huk... huk... huk..."


"Astaghfirullaah..." Fahmi mendekat pada Fitri. "Apa gak ada jalan lain selain pisah? Apa Kamu sudah pikirkan masak-masak?" Tanya Fahmi datar.


Ibu, Tia dan Lambok terperanjat dengan perkataan Fitri yang meminta pisah dengan Fahmi.


"Hampir 15 tahun Kalian berumah tangga. Tapi akankah harus kandas karena salah paham?" Kata Ibu.


"Fahmi gak mau pisah Bu. Fahmi sangat mencintai Fitri, walau Fitri mendiamkan Fahmi selama ini, Fahmi sadar, Fahmi salah. Tapi Fahmi berani sumpah Bu, Fahmi gak pernah selingkuh."


"Perempuan itu adik angkat Fahmi. Kata Bunda, waktu Fahmi berusia satu tahun, ada yang meletakkan bayi baru lahir didepan pintu rumah. Akhirnya Ayah dan Bunda mengadopsinya. Bunda juga menyusui Diva." Jelas Fahmi.


"Jadi gak mungkin kan Bu, Fahmi selingkuh dengan Adik satu Susu Fahmi?" Tanya Fahmi.

__ADS_1


__ADS_2