
Tristan melihat tanggal dibuatnya video itu. Tristan terkejut. "Video nya dibuat tujuh hari sebelum kecelakaan itu. Ya Allah... Engkau Yang Maha Kuasa... Berarti Kak Krisna sudah mempunyai firasat." Batin Tristan.
"Uncle..." Panggil Caca. "Kok Uncle melamun?" Tanya Caca.
"Hah? Eh gak Sayang. Uncle sedang melihat tanggal video yang Ayah Caca buat." Tunjuk Tristan.
"Kenapa Uncle?" Tanya Caca bingung.
"Ayah Caca buat video ini sehari sebelum Kalian akan terbang ke Negara C. Tujuh hari sebelum Ayah Caca meninggal." Jelas Tristan.
Caca nampak berfikir. "Ya Uncle. Caca ingat, waktu itu Ayah terlihat apa yah kata Ibu?" Caca nampak berfikir.
"Apa?" Tanya Tristan.
"Ayah.... Itu loh Uncle, Ayah godain Ibu terus... Ibu sampe cemberut tapi pipi Ibu merah." Caca lupa dengan bahasa nya.
"Genit? Ganjen?" Tanya Tristan.
"Bukan... Kata Ibu, Ayang genit iihhh kayak orang lagi...." Caca tak dapat meneruskan bicaranya. "Ber... ber... apa ya?"
"Puber?" Tanya Tristan.
"Nah... itu Uncle... apa tadi?" Tanya Caca.
"Puber." Jelas Tristan.
"Puber itu apa Uncle?" Tanya Caca penasaran.
"Waduuuhhh... Gimana ngejelasin nya yah?" Batin Tristan.
"Iihhh Uncle kok diam sih?" Caca bersedekap sambil mengerucutkan bibirnya.
"Puber itu hampir sama kayak genit, atau ganjen....Ya seperti itu." Akhirnya Tristan memberikan jawaban. Entah benar atau salah.
"Ah Kak Lita, kalau ngomong sama Kak Krisna gak lihat situasi..." Batin Tristan sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Memang Ibu dan Ayah bicara seperti itu didepan Caca?" Tanya Tristan.
Caca menggeleng. "Gak Uncle, Caca udah bobo, tapi Caca bangun nyari Ibu, Caca lihat Ayah sama Ibu lagi pacaran...." Caca menutup wajahnya.
"Kok Caca tahu kalau Ayah dan Ibu pacaran? Siapa yang ajarin?" Tanya Tristan.
"Tante Afifah..." Kata Caca. "Kata Tante Afifah, Caca gak boleh ganggu Ayah sama Ibu lagi pacaran." Jelas Caca.
"Memang Tante Afifah melihat Ayah dan Ibu pacaran?" Tanya Tristan, Dia geram karena Afifah mengajari Caca yang bukan pantas untuk usia nya.
Caca mengangguk. "Waktu itu Caca minta turun di Klinik. Terus Tante Afifah membuka ruang kerja Ibu. Tapi Tante Afifah bilang Caca gak boleh masuk, katanya Ayah dan Ibu lagi pacaran." Jelas Caca.
"Ya Allah... Afifah!" Dengus Tristan.
__ADS_1
"Caca memang melihat Ayah dan Ibu lagi ngapain? Tanya Tristan.
"Ayah duduk seperti Uncle, terus ibu duduk begini. Caca menirukan posisi Lita saat dipangku oleh Krisna. "Terus bibir Ayah nempel sama bibir Ibu." Jelas Caca. "Terus Caca gak jadi panggil Ibu, Caca gak mau ganggu Ayah dan Ibu."
"Memang kenapa Uncle? Memang gak boleh yah, Ayah dan Ibu pacaran? Pacaran itu apa?" Tanya Caca.
"Ayah dan Ibu boleh pacaran, Sayang. Karena Ayah dan Ibu sudah menikah. Pacaran itu, Ayah sayang sama Ibu, Ibu juga sayang Ayah." Jelas Tristan.
"Berarti Uncle sekarang pacaran sama Caca?" Tanya Caca.
"Hahahaha.... Memang Caca mau jadi pacar Uncle?" Tristan mencium pipi Caca gemas.
"Memang boleh Caca masih kecil nikah sama Uncle?" Pipi Caca memerah.
"Ya ampun... keponakan Ku kritis sekali." Batin Tristan. "Caca gak boleh yah pacaran... Caca kan janji sama Ayah mau jagain Ibu Caca. Caca janji jadi Puteri yang baik buat Ibu." Kata Tristan.
"Ya Uncle.... Caca kan pacar Ibu." Kata Caca lucu.
"Hahahaha.... Kamu lucu banget..." Tristan mencubit pipi Caca gemas.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Lita sudah berdiri di pintu ruang belajar. "Ibu kasih salam gak ada yang jawab."
"Ibuuuuu....!!" Caca langsung turun dari pangkuan Tristan dan memeluk Lita. "Caca kangen sama Ibu. Ibu kan pacar Caca."
Lita terkejut. Dia menatap tajam pada Tristan.
"Jangan salahkan Tristan, Kak. Tapi salahkan Kakak, Kak Krisna juga Kak Afifah." Kata Tristan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Caca menceritakan kejadian saat di Klinik Singapura. Tristan bersedekap. Tangannya mengusap dahinya sambil geleng-geleng kepala.
Lita merasa malu dengan penjelasan Caca. Lita memeluk tubuh Caca. "Ibu sayang sama Ayah." Lita meneteskan airmata.
Tristan buru-buru menon aktifkan laptop milik Krisna dan menutupnya.
"Ibu gak boleh nangis, nanti Ayah sedih." Kata Caca sambil mengusap airmata Lita.
"Gak Sayang... Ibu gak akan bikin Ayah sedih." Lita kembali memeluk tubuh Caca.
"Bagaimana dengan wawancara nya Kak?" Tanya Tristan.
"Alhamdulillaah... Kakak diterima, mulai besok Kakak sudah mulai tugas." Kata Lita terlihat senang.
"Lalu, Caca sama siapa?" Tanya Tristan.
"Oh ya... Kamu kan kuliah pagi sampe siang, tadi Kakak minta kebijakan dengan pihak Rumah Sakit, jadi Kakak tugas sore sampe dini hari." Kata Lita.
"Tapi Kak, bahaya pulang dini hari. Kita tidak tahu bagaimana keamanan di Negara ini." Tristan terlihat khawatir.
"Kebetulan Rumah Sakit menyediakan transportasi untuk mengantar karyawan yang pulang malam sampe dini hari." Kata Lita.
__ADS_1
"Alhamdulillaah.... Kalau begitu." Tristan merasa lega.
"Kenapa Laptop Ayah ada disini?" Tanya Lita.
"Oh itu Kak, tadi Caca sedang bermain permainan puzzle." Kata Tristan berbohong.
Tristan buru-buru menggendong Caca. "Sayang... tadi katanya mau beli es krim kalau sudah berhasil menyelesaikan puzzle." Kata Tristan. "Biarkan Ibu istirahat dulu yah."
"Yeeeiii... Uncle menepati janji..." Caca terlihat senang. "Ibu, Caca kebawah dulu yah sama Uncle." Caca mencium pipi Lita.
"Ya Sayang..." Lita tersenyum.
Di dalam Lift
"Uncle kok bohong sih sama Ibu?" Tanya Caca yang ingin marah sama Tristan dari tadi.
"Maaf Sayang... Kalau Uncle gak bohong, nanti Ibu tahu kalau Ayah Caca bikin video, terus Ibu Caca nangis lagi, gimana?" Tanya Tristan.
"Oh iya... Uncle memang pintar..." Caca mengacungkan ibu jari nya.
"Uncle siapa dulu, dong?" Tanya Tristan.
"Uncle nya Caca dong..." Jawab Caca bangga.
"Eh tapi Caca janji yah... Jangan cerita sama Ibu soal Video Ayah Caca. Caca juga jangan bilang kalau Kita akan mencari Dokter Leo." Pinta Tristan.
"Memang kenapa Uncle? Caca kan gak boleh bohong kata Ayah." Tanya Caca bingung.
"Ya Uncle tahu, tapi untuk kali ini Caca harus main rahasia sama Ibu. Kalau sampai Ibu Caca tahu, Kita mencari Dokter Leo, Ibu pasti akan marah sama Uncle. Terus permintaan Ayah Caca untuk mengembalikan Ibu pada Dokter Leo, akan berantakan. Karena Ibu pasti akan menolak." Jelas Tristan.
"Kenapa Ibu menolak, Uncle? Kata Ayah, Ibu cinta sama Dokter Leo." Caca tambah bingung.
"Itu dulu sayang, sebelum Ibu menjadi Ibu nya Caca. Sekarang cinta Ibu masih milik Ayah Caca." Jelas Tristan.
"Caca jadi takut, Uncle." Kata Caca.
"Takut apa?" Tanya Tristan.
"Nanti Ibu marah sama Caca, terus Ibu gak sayang lagi sama Caca..." Caca nampak sedih.
"Kamu tenang aja, Kamu itu kesayangan Ibu, Ibu gak akan marah sama Caca. Caca ikuti aja apa yang Uncle bilang ya.... Untuk saat ini jangan beritahu Ibu tentang video Ayah. Caca ngerti, kan?" Tanya Tristan.
Caca mengangguk. "Mengerti Uncle."
Tristan mencium pipi Caca dengan gemas.
Orang-orang yang berada didalam lift tersenyum melihat kelakuan Caca dan Tristan, walau Mereka tidak mengerti akan bahasa Tristan dan Caca.
Seorang wanita juga sempat mencubit pipi Caca yang membuat Caca menyembunyikan wajahnya ke leher Tristan.
__ADS_1
Caca bukannya tidak bisa berbahasa Inggris. Tapi Caca dan Tristan selalu berbahasa Indonesia jika sedang berbicara secara pribadi yang orang lain tidak boleh tahu. Dari kecil Lita dan Krisna sudah mengajari Caca berbahasa Inggris, karena tempat tinggal Mereka yang mayoritas Orang berbahasa Asing.