
Krisna tak dapat membendung kesedihannya. Dia tak menyangka kalau Lita menyembunyikan hal ini padanya. Ingin sekali Dia segera berlari tiba di hotel, memeluk Istri nya yang sudah berkorban perasaan untuknya.
Krisna berlari setelah proses cityscan pada tubuhnya usai. Dia juga sudah mendapatkan hasilnya yang nyata. Selama ini Lita mengatakan kalau ada kemungkinan Krisna sembuh, namun hasil Lab dari Rumah Sakit ini mengatakan kalau saraf yang terhubung dengan alat intim nya selamanya tak akan bisa bangun lagi.
Krisna menangis. Dia berlari tanpa memperhatikan banyak Dokter yang memperhatikannya. Leo melihat kekalutan Krisna. Dia memang sangat membenci Krisna karena telah merebut calon Istri nya. Namun rasa keingin tahuannya membuat Leo membuntuti Krisna.
"Taxi..!!!" Krisna berteriak dan menyebrang tanpa melihat lagi lalu lalang kendaraan yang melintas.
BRAAAAKKK..!!! Tubuh Krisna terpental beberapa meter. Dia tersambar minibus yang melintas dengan kecepatan tinggi.
"Krisnaaaaa!!!" Leo histeris. Leo segera menghambur ke arah tubuh Krisna yang sudah dibanjiri darahnya sendiri. Leo mengangkat kepala Krisna.
Beberapa petugas Rumah Sakit dan Dokter yang ikut seminar segera membantu Krisna. Mengangkat tubuh Krisna dan meletakkannya di brankar yang dengan cepat di dorong petugas Rumah Sakit.
Leo berlari disisi brankar Krisna. "Krisna... Bertahanlah... Ya Allah... Apa yang telah Kau lakukan Krisna..." Leo sangat panik.
"Dok... ter... Leo... Maaf...kan... Aku..." Krisna masih melihat Leo yang berlari disisi brankarnya.
"Diamlah...! Kamu akan segera ditangani." Perintah Leo.
Krisna menggeleng dengan lemah. "Wak..tu.. Ku... sangat... singkat...." Krisna tak dapat menahan rasa sakitnya. Tapi Dia bertahan demi memberi penjelasan pada Leo.
Brankar Krisna masuk ke ruang Operasi. Para Dokter dengan cepat menangani Krisna. Leo terus mengikuti. Leo segera mengganti pakaian.
"Tolong... tinggalkan... Saya... bersama... Dokter... Leo..." Pinta Krisna.
"Apa-apaan Kamu, Krisna. Mereka akan segera menangani Mu!" Leo terlihat gusar.
Krisna menggeleng. "Waktu... Ku... hampir... tiba... Leo..." Kata nya terbata.
Leo terkulai lemas di samping brankar Krisna. Para Dokter sudah meninggalkan Mereka dalam ruang operasi.
"Aku... titip... Istri... dan... Puteri Ku..." Krisna terus bicara. "Kamu... harus... janji... membahagiakan... Mereka... berdua...."
"Tapi...." Leo tak habis pikir. Tapi Krisna memberinya tanda agar mendengarkannya.
"Lita.... sangat... mencintai... Mu... Aku... tahu... itu... Lita... mencintai... Puteri... Ku... Lita... terpaksa.... memilih..Ku... Karena... Aku... dan... Lita... menemukan... penyakit... dalam... tubuh... Lita... Lita... akan... sulit... mempunyai... anak... Heeeeegggg..." Krisna menarik nafasnya yang sudah terasa sesak.
"Lita... tak... ingin... mengecewakan.. Mu... Dia... ingin... Kamu... bahagia... Leo.... Allaahu... Ya... hanan... Ya... Manan..."
"Astaghfirullaah..." Leo terkesiap. Leo mendekatkan bibirnya pada Krisna. Menuntun Krisna dalam sakratul maut.
"La... ilaaaha illallaahu... Muhammadarrasulullaaahhh...." Krisna memejamkan matanya sesaat tersedak tiga kali.
"Krisna.... Hik... hik... hik... Maafkan Aku... Maafkan Aku..." Leo tak dapat menahan tangisnya. Leo menyesal tak mau mendengarkan penjelasan Krisna saat Krisna dalam keadaan sehat wal afiat.
__ADS_1
Para Dokter segera mengurus jenazah Krisna. Leo membantu mengurus Jenazah Krisna. Dia meminta Dokter yang Muslim membantunya mengurus jenazah Krisna.
Leo mencari ponsel Krisna. Ingin menghubungi Lita. Tapi ponsel Krisna tidak ada. "Ya Allah... apa yang harus Aku lakukan? Hotel...."
Ponsel Leo berdering. Dia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. "Mama...??" Leo langsung menerima telpon Mama nya setelah meminta pada panitia Seminar untuk menghubungi Hotel dimana Krisna dan Keluarganya menginap.
"Assalamu alaikum Ma..." Sapa Leo.
"Apa Ma??!" Leo nampak terkejut.
"Iya Ma.... Leo akan pulang sekarang." Leo terlihat panik. Dia langsung berlalu meninggalkan Rumah Sakit.
_____________________________
Di Waktu Bersamaan.
PRAAANNGGGG
Lita terkejut tiba-tiba gelas di atas meja jatuh begitu saja. Ada Caca disana.
"Astaghfirullaah... Sayang....Kamu gak apa-apa?" Tanya Lita khawatir.
"Gak Bu... Gelas nya jatuh sendiri. Caca gak menyentuhnya."
"Ya Sayaang... Ibu tahu.. Tapi apa gelasnya mengenai kaki Mu, Nak?" Lita memeriksa tubuh Caca.
"Ayaaaahhhh!!... Huk.. huk... huk..." Caca malah menangis.
"Sayaaang.... Ya Allah... Ayang..." Jantung Lita berdegub kencang. Perasaannya tidak enak manakala Caca memanggil Ayah nya. Lita memeluk tubuh Caca yang sudah menangis histeris.
Pintu kamar Mereka diketuk.
"Ibu ke depan dulu. Siapa yang datang? Mungkin itu Ayah..." Lita mencoba menenangkan Caca.
Lita bergegas ke depan. Caca mengikutinya.
"Selamat sore, Dokter..." Kata Manager hotel.
Lita mengerutkan keningnya. Manager hotel dan dua orang Polisi mendatangi Kamar nya.
"Ada apa ini Pak? Kenapa ada Polisi?" Lita mencoba tenang.
Caca sudah menyembunyikan wajahnya di perut Lita.
"Maaf Dokter. Kami membawa kabar Duka." Kata salah seorang Polisi.
__ADS_1
Lita terperanjat. Seketika tubuhnya terasa lemas. "Berita... apa... Pak?" Lita gemetar.
"Dokter Krisna mengalami kecelakaan... Saat ini jenazah Dokter Krisna sedang diurus para Dokter."
Lita langsung tak sadarkan diri. Dia pingsan.
"Ibuuuuu!!!!" Caca memeluk tubuh Lita yang tergeletak di lantai. "Huk... huk... huk..." Caca histeris menangis. "Ayaaaahhhh...!!!! Ibuuuuu....!!!"
_____________________________
Lita tak sanggup menerima kenyataan Krisna yang telah terkubur di liang lahat. Berulang kali Tristan membopongnya karena Lita kembali pingsan.
Keluarga Lita langsung mengurus pemakaman Krisna di Indonesia. Atala dan Fathir mengurus pesawat pribadi milik kolega nya untuk membawa jenazah Krisna kembali ke Indonesia.
Atala dan Fathir menyusul ke Negara C begitu Leo mengabari nya. Leo meminta maaf tidak dapat menemani Krisna karena Dia mendapat kabar dari Sang Mama kalau Eyang nya kritis.
Leo juga tidak hadir pada pemakaman Krisna karena Dia juga sedang berduka. Sang Eyang dipanggil Yang Kuasa subuh tadi.
Vita menggendong tubuh Caca yang terus histeris memanggil Ayah nya. "Caca harus ikhlas Sayaang... Caca sayang Ayah, kan? Jangan halangi jalan Ayah, Sayaang... Ikhlaskan Ayah, Nak..." Pinta Vita lembut.
"Caca gak punya Ayah lagi, Mama Vita... Ibu Lita juga pasti sangat sedih ditinggal Ayah... Huk... huk.. huk... Caca gak punya siapa-siapa lagi..."
"Ssstttt... Caca Sayaaang.... Siapa bilang Caca gak punya siapa-siapa? Ada Ibu Lita, Mama Vita, Ayah Atala, Oma, Opa, Uncle, Ayah Fathir... Caca tidak sendirian Nak..." Vita terus menghibur Caca.
Caca memeluk erat leher Vita. Vita mengelus punggung Caca. Airmata Vita menetes. "Ya Allah....Kenapa Engkau ambil kebahagiaan Anak sekecil ini? Rahasia apa yang Engkau siapkan untuk Lita dan Caca...??? Aku mohon... Buatlah Saudara Ku selalu bahagia..." Batin Vita.
___________________________
Seminggu sudah Krisna meninggalkan Lita dan Caca. Namun Lita masih terpuruk. Lita tak menyangka jika jodohnya dengan Krisna sesingkat ini. Baru saja Dia mengecap kebahagiaan bersama Krisna dan Caca. Tapi Kehendak Allah tak ada yang bisa menduga.
Lita kembali menangis. Lita terus mengurung diri di kamar. Tubuh nya terlihat kurus, mata nya celong karena kurang tidur.
Lita merasa bersalah pada Krisna. Lita mendapati surat hasil Cityscan Krisna di saku blazernya yang telah berubah warna merah, darah nya Krisna.
"Maafkan Aku, Sayaaang....Seharusnya Aku tidak membohongi Mu... Hik... hik... hik..." Lita terus menyalahkan dirinya.
Tristan mengurungkan kembali ke Negara I, Dia tak tega meninggalkan Kakak nya, walau ada Orang tua dan saudara-saudara nya, namun Tristan tahu betul, Kakak nya hanya ingin dengannya saja untuk saat ini.
"Uncle.... hik... hik... hik..." Caca memanggil Tristan yang baru saja keluar dari kamar Lita, setelah Tristan berhasil membuat Kakak nya terlelap.
"Ya Sayaaang..." Tristan langsung menggendong tubuh Caca.
"Ibu.... hik... hik... hik... Apa Ibu gak sayang lagi sama Caca?" Caca menangis. Sejak meninggalnya Krisna, Lita tak sama sekali menyentuh Caca. Pikirannya terus menyesali kebodohannya membohongi Krisna.
"Gak Sayang... Ibu sangat sayang sama Caca. Biarkan Ibu sendiri dulu yah. Ibu gak bisa ditinggalkan Ayah..." Tristan mencoba menghibur Caca.
__ADS_1
"Tapi kata Mama Vita, Caca gak boleh nangisin Ayah. Kasian Ayah... Ibu juga gak boleh nangisin Ayah... Ibu harus ikhlas..." Kata Caca.
"Iya Sayaang.... Uncle sudah bilang ke Ibu... Kamu tenang ya." Tristan mencium pipi Caca. Caca menyerukkan wajahnya ke leher Tristan.