
Hubungan Devi alias Lita semakin dekat dengan Krisna dan Caca. Lita rasa nya tidak sanggup berpisah dengan gadis kecil yang menggemaskan itu.
Lita duduk termenung di dekat jendela kamar. Krisna memang sudah memperluas gubuk Mereka. Kini Lita atau Devi sudah memiliki kamar sendiri. Dan Caca selalu merengek untuk selalu dekat dengan Sang Ibu.
Air mata Lita menetes mengingat Keluarga nya di Jakarta pasti memikirkan diri nya. Atau mungkin Mereka sudah menganggap diri nya Tiada. "Hik... hik... hik... Mama... Papa... Adek... Aku kangen..." Lita tak dapat menahan kerinduannya.
Tanpa Lita sadari, Krisna sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Lita. Sedangkan Caca, Puteri nya sudah terlelap sejak abis isya tadi.
"Apakah Devi sudah mengingat siapa diri nya?" Batin Krisna.
"Hhmmm...." Krisna berdehem.
Devi atau Lita langsung mengusap air mata nya dengan cepat. "Kak... Kak Krisna... Ada apa? Apa Kakak butuh sesuatu?" Tanya Devi.
Krisna menghampiri Devi dan berdiri di dekat jendela kamar Devi di sebelah Devi duduk.
"Apa Kamu teringat Keluarga Mu?" Tanya Krisna.
"Hah..." Devi sangat terperanjat. Dia tak menyangka kalau Krisna dapat menebak kesedihannya.
"Keluarga Ku? Aku tidak tahu Keluarga Ku dimana? Mengingat diri Ku saja, Aku belum mampu." Kata Lita berbohong.
"Lalu kenapa Kamu menangis?" Tanya Krisna.
"Entahlah.... Aku seperti melihat sesuatu tapi entah apa? Apa Aku masih punya Keluarga atau tidak." Kata Devi mengeles.
Krisna berjongkok di hadapan Devi dan itu membuat Devi sangat takut.
Krisna menggenggam kedua telapak tangan Devi. "Seandai nya Kamu telah mengingat jati diri Mu, Apakah Kamu akan pergi meninggalkan Kami?" Tanya Krisna terlihat cemas.
Sontak Lita terkejut. Lita tak menyangka Krisna akan bertanya demikian. Lita akui selama Dia tinggal bersama Krisna dan Caca, tak sekali pun Krisna berkata kasar atau bersikap kurang ajar. Walau kadang Caca yang keras kepala, namun Krisna dengan sabar menghadapi Puteri semata wayang nya.
"Aku tahu... Tidak seharusnya Aku punya perasaan ini pada Mu..." Krisna menatap wajah Lita yang masih terlihat kaget. "Aku sangat menyayangi Puteri Ku... Dan Aku yakin, Kamu bisa menjadi Ibu yang baik untuk Caca." Kata Krisna.
__ADS_1
"Maksud Kakak?" Tanya Lita tak mengerti atau pura-pura tak mengerti menutupi kegugupannya.
Krisna mengeluarkan sesuatu dari saku baju koko nya. Dia mengulurkan pada Lita. Sebuah kotak bludru berwarna biru benhur, Krisna membukanya. "Mau kah Kamu menikah dengan Ku? Aku tahu mungkin ini sangat cepat. Aku sangat menyayangi Puteri Ku dan Puteri Ku begitu menyayangi Mu." Kata Krisna.
Lita menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Jadi Dia melamar Ku karena Puteri nya? Bukan karena Dia mencintai Ku?" Batin Lita. Ada rasa kecewa di hati nya. Namun buru-buru Lita tepis. Lita tahu, Krisna sangat mencintai mendiang Istri nya.
"Ta... tapi Kak... Aa.. Aku..." Devi terlihat gugup.
"Aku akan menunggu Mu sampai diri Mu siap. Maaf, Aku harus mengatakan ini...." Krisna menghela nafas sebelum meneruskan bicara nya. "Kepala Dinas tanah garap ini mendapat laporan kalau Kita pasangan kumpul kebo disini. Aku pun tak menyangka kalau keberadaan Mu diketahui orang lain." Krisna memberikan sebuah amplop pada Lita yang Dia simpan di saku belakang celana nya.
"Jadi Kakak meminta Ku menikah dengan Kakak, karena ini?" Tanya Devi atau Lita.
"Sebenarnya.... Aku..." Krisna belum selesai bicara.
"Ibu... Hik... hik... hik..." Caca mengigau.
Devi langsung naik ke tempat tidur dan menepuk-nepuk pinggul Caca dengan lembut. "Ya Sayaaang... Ibu disini..." Bisik Lita.
"Ibu jangan pegi... Hik... hik... hik..." Rengek Caca, namun mata nya terpejam.
Krisna ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Caca. "Ayah juga gak mau Ibu pergi, Sayaang..." Kata Krisna sambil mencium pipi Puteri nya.
Lita menghela nafas. Satu sisi, Dia adalah tunangan Leo tapi disisi nya sekarang seorang gadis kecil mendamba kasih sayang seorang Ibu.
Lita kembali duduk dan beranjak dari tempat tidur. Lita menatap keluar jendela. "Ya Allah... Apa yang harus Aku lakukan?" Batin Lita.
____________________________
Tengah malam Krisna terbangun. Dia mendengar suara orang menangis dalam panjatan Doa.
Krisna membuka hordeng kamar nya perlahan.
"Ya Allah... Apa yang akan Aku katakan pada Leo? Hik... hik... hik... Tapi Aku juga sangat menyayangi Caca. Aku tidak ingin kehilangan gadis kecil Ku.... Hik... hik... hik... Mama... Papa... Apa yang harus Lita lakukan? Apa Mama dan Papa akan marah jika Lita menikah dengan Kak Krisna?" Lita terus memanjatkan Doa dengan khusyuk memohon petunjuk dari Allah.
__ADS_1
Lita tak menyadari Krisna sudah duduk bersimpuh di samping nya. Krisna tak percaya, wanita disamping nya telah mengingat siapa diri nya namun Dia membohongi nya.
Lita membuka mukenanya, tapi alangkah terkejutnya Dia mendapati Krisna berada di sampingnya.
"Kak.... Kakak belum ti... tidur?" Lita terdengar gugup.
"Kenapa Kamu tak jujur dengan Ku?" Kata Krisna dingin. Dia sangat kecewa dengan Lita. "Jadi nama Mu Lita? Apa kah Kau Lalita Puteri Wijaya, tunangan Dokter Leo Adi Putera yang diculik saat penobatan Cum Load wisuda Mu?" Tanya Krisna.
Krisna memang sempat melihat berita di Televisi di sebuah toko rempah-rempah tentang Lita, namun Krisna hanya sekilas melihat wajah Lita, sesudah nya Dia fokus memilih rempah-rempah yang bagus namun telinga nya tetap mendengarkan berita.
Lita mengangguk dengan gugup. Dia belum siap kehilangan Caca.
"Kalau begitu besok Kamu, Aku antar ke Kota." Kata Krisna dan hendak beranjak meninggalkan Lita yang sudah terisak.
Dengan cepat Lita menarik tangan Krisna. Krisna hendak menepis nya namun pegangan Lita sangat kuat, hingga tubuh Lita hampir berputar.
"Jangan pisahkan Aku dengan Puteri kecil Ku... Aku mohon." Lita menengadah memohon pada Krisna.
Krisna menatap nya tajam. "Caca bukan Puteri Mu. Dan Aku tidak mungkin menyembunyikan Mu disini. Apalagi Dinas pertanahan sudah memberi Ku surat peringatan. Aku gak mau dicap sebagai laki-laki perebut calon Istri orang." Tegas Krisna dan kembali menepis tangannya dari genggaman Lita yang sudah melemah.
Lita menunduk sambil menangis. Dia belum siap berpisah dengan Caca, Dia juga tak mau kehilangan Krisna. Entah bagaimana perasaannya, tapi Lita merasa nyaman disisi Krisna.
Di Kamar, Krisna terlihat frustasi. Dia merasa kehilangan lagi. Baru saja Dia dapat merasakan kembali getar-getar di dada yang mungkin kata orang adalah Debar-debar asmara dalam dada. Namun sekali lagi Krisna harus menelan pil pahit dan harus siap terluka lagi.
Baru saja Dia bisa menerima sosok lain dihati nya menggantikan almarhum Istri nya, tapi kini semua nya musna tak bersisa.
Krisna menangis dalam diam. "Ya Allah... Apakah Aku memang ditakdirkan hidup sendiri? Membesarkan Puteri Ku tanpa kasih sayang seorang Ibu disisi nya?" Gumam Krisna terdengar hancur.
Di Tempat shalat.
Lita tak sadarkan diri setelah tak dapat menahan gemuruh emosi kesedihan di dada nya. Nampak nya Krisna belum sepenuh nya dapat menemukan penyakit bawaan Lita yang lain.
Hingga subuh tiba, Krisna yang baru saja mengambil air wudhu mendapatkan Lita yang terbaring di sajadah.
__ADS_1
Krisna memanggil nama Lita tapi tak ada sahutan. Krisna mendekat, dan mencoba mengguncang tubuh Lita namun tak ada reaksi. Tubuh Lita terasa dingin dan wajah serta bibir nya terlihat pucat.
"Astaghfirullaah... Litaaaa...!!!"