
Seminggu kemudian, keluarga Lambok sudah balik ke Jakarta karena kegiatan belajar sudah dimulai kembali.
Hubungan Nindi dan Marcel pun sepertinya makin dekat. Walau Nindi belum membuka hatinya.
Marcel selalu mengantar jika Nindi tugas malam di Rumah Sakit. Marcel tak mau kejadian waktu itu menimpa Nindi kembali.
Lambok sering pulang ke Sumatera karena Dia sedang membangun rumah di Kampung Ibu.
Tia sangat bahagia, setidaknya jika mereka pulang kampung, Mereka tidak berdesakan di rumah Ibu.
Awalnya Ibu menawarkan untuk membangun rumah di kebun Nenek. Tapi Tia menolak karena sayang, kebun itu ditumbuhi banyak buah-buahan. Apalagi kalau musim duren tiba, pohonnya banyak berbuah.
Lambok membeli tanah tak jauh dari rumah Ibu, hanya jarak 200 meter.
"Pa... Kalau ke kampung Nenek lagi, Atala ikut yah. Atala kangen sama Auntie, Nenek dan Fathir." Kata Atala.
"Iihhh Aku juga Kak." Kata Vita.
"Kalian kan sekolah sayang. Nanti kalau liburan sekolah Kita pulang sama-sama lagi." Kata Lambok.
"Pa... Kita kan sekolah senin-jumat. Jadi bisa kan pulang jumat-minggu." Pinta Atala.
"Ok... Gak apa. Tapi janji... Gak ada yang ngeluh cape kalau pas hari senin masuk sekolah." Kata Lambok.
"Yeeeiii... makasih Papa... Papa memang Papa terbaik." Sorak Atala dan Twins.
Tia hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya. Lambok merengkuh bahu Tia dan mengecup pipi Tia.
Tia tersenyum. "Terima kasih Sayang... Kamu mau meluluskan permintaan mereka." Kata Tia.
"Aku sangat menyayangi keluargaku. Asalkan Kalian bahagia itu sudah cukup untukku." Kata Lambok.
"Aku bahagia memilikimu, Sayang..." Kata Tia. Tia berangsur-angsur mulai ingat semuanya. Hanya pernikahannya dengan Adrian yang Tia tidak ingat karena Tia tak pernah bertemu dengan Adrian atau keluarganya.
___________________
Beberapa Bulan Kemudian
"Mau kah Kamu menikah denganku, Nindiana...??" Marcel bersimpuh bertopang dengan satu lututnya di sebuah resto sambil mengangsurkan sebuah cincin bermata berlian.
Marcel dan Nindi baru saja selesai makan malam di resto Mall B.
Sontak saja pengunjung resto berdiri dan berteriak. "Terima.... terima... terima..."
Nindi tersipu malu. Nindi tak menyangka Marcel akan melamarnya di resto. Padahal Nindi belum juga bisa mencintai Marcel.
Nindi hanya mencintai Marcel nya yang seorang Dokter yang tinggal di Negara A.
"Apa yang Kamu lakukan?" Nindi berbisik. Nindi sangat malu.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku menepati janjiku kalau Aku benar-benar serius denganmu." Kata Marcel.
"Tapi gak ditempat ramai begini. Kamu mau bikin malu Aku?" Nindi masih berbisik.
"Terima... Terima....Terima..." Pengunjung makin ramai. "Itu kan yang Aktor laga itu ya." Kata seorang pengunjung.
"Ayo dong Kak, terima. Abang Marcel kan ganteng..." Seru salah seorang pengunjung.
__ADS_1
Nindi tersenyum dan mengangguk. "Aku mau." Akhirnya Nindi dengan terpaksa menerima lamaran Marcel. Suasana hati Nindi tak karuan. Kaget, malu, kesal bercampur aduk.
Marcel menyematkan cincin ke jari manis Nindi. Para pengunjung bertepuk tangan.
"Ayo Kita pergi dari sini secepatnya. Aku gak mau awak media meliput kejadian ini." Pinta Nindi.
Marcel terkekeh. Marcel menggandeng tangan Nindi dan membawanya ke apartemennya karena mereka memang berada di Mall dimana Apartemen Marcel berada.
Para penggemarnya sudah mengambil gambar mereka, ada juga yang membuat video dadakan.
Nindi dan Marcel sudah berada di Unit milik Marcel. "Kenapa Kamu malah membawaku ke Unitmu?" Tanya Nindi yang sedikit khawatir.
"Tadi kan Kamu minta cepat pergi dari resto. Yah tempat yang aman sementara waktu, di Unitku." Kata Marcel.
Marcel membuka kunci pintu apartemennya. "Assalamu alaikum." Salamnya. Nindi pun juga memberi salam.
Marcel menghidupkan lampu ruang tamu dan ruangan lainnya.
Nindi masih berdiri di dekat pintu. "Kok kamu masih berdiri disitu? Kesini dong, Sayaang..." Panggil Marcel.
"Aku mau pulang." Kata Nindi tiba-tiba.
"Loh kok pulang? Kita baru saja sampai. Hhmmm... Aku tahu... Kamu takut Aku berbuat macam-macam, ya kan?" Tanya Marcel.
Nindi mengangguk.
Marcel tertawa. "Kamu tenang dong, Sayang. Selama ini pernah gak Aku minta macam-macam sama Kamu?"
Nindi menggeleng.
"Aku akan menjaga kehormatanmu sampai Kita sah menjadi suami-istri." Janji Marcel.
"Tidak usah. Aku masih kenyang. Tadi juga banyak minum." Tolak Nindi.
"Ya sudah." Marcel menghampiri Nindi dan duduk disebelah Nindi. Marcel merengkuh bahu Nindi.
"Apa Kamu tidak mencintaiku?" Tanya Marcel tiba-tiba.
Nindi terdiam. Nindi teringat perkataan Ibu nya. "Marcel, Ibu lihat baik. Tidak kurang ajar, sopan lagi. Kurang apa, Nak? Apa Kamu mau Ibu jodohin sama anak Mak Elo?"
Ucapan Ibu terus terngiang ditelinga Nindi.
"Hallooo... Sayaang..." Marcel mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke wajah Nindi.
"Apa..??!" Nindi tersadar dari lamunannya.
"Ditanya kok malah bengong?" Marcel tahu Nindi tak pernah mencintainya. Marcel hanya ingin melakukan kewajibannya, membantu Nindi membuka hatinya untuk dirinya.
"Sayaang... Nanti dirumah, Aku akan melamarmu di depan Ibu dan Kakak-kakakmu." Kata Marcel.
"Kamu mau ya?" Tanya Marcel.
Nindi mengangguk. Nindi berfikir, Kakaknya, Tia. Dulu dijodohin tapi Kak Tia bisa membuka hatinya untuk Adrian. Rasa Cinta tumbuh ketika mereka sudah menikah. Nindi akan mencoba mencintai Marcel.
Marcel memeluk tubuh Nindi dari samping. "Aku sangat bahagia.... Sayang. Akhirnya Aku akan punya istri dan rumah tangga." Kata Marcel.
"Tapi umur Kita?" Nindi ragu.
__ADS_1
"Kenapa dengan umur Kita? Aku kan sudah bilang sama Kamu, Aku gak permasalahkan usiamu yang lebih tua dariku." Kata Marcel.
Nindi tersenyum mendengar kesungguhan Marcel. "Andai saja yang berucap Marcel ku..." Batin Nindi.
"Ayo Kita pulang sekarang. Nanti kemalaman. Nanti Ibu keburu tidur." Kata Marcel.
Nindi mengangguk. Marcel mengulurkan tangannya pada Nindi. Nindi menyambutnya. Marcel tersenyum dan menggandeng tangan Nindi.
Dua puluh menit kemudian, Marcel dan Nindi sudah tiba dipekarangan rumah Ibu.
"Assalamu alaikum..." Salam Marcel dan Nindi.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Fitri dan Fahmi.
Nindi mencium punggung telapak tangan Fahmi dan Fitri.
"Ibu mana Kak?" Tanya Nindi.
"Ibu ada di kamar, sedang ngaji." Kata Fitri.
"Marcel mau bicara dengan Ibu dan Kakak." Kata Nindi.
"Ada apa Marcel?" Tanya Fahmi.
"Nanti saja Kak, sekalian di depan Ibu." Kata Nindi.
Nindi bergegas ke dapur. Membuatkan Marcel minum. Tak lama Nindi sudah menenteng secangkir teh untuk Marcel.
"Terima kasih Sayang." Senyum Marcel.
Fitri sedikit kaget mendengar Marcel memanggil Sayang pada Nindi. Selama ini Nindi biasa-biasa saja pada Marcel.
"Mudah-mudahan ini kabar baik." Batin Fitri. Fitri tersenyum. "Ayo diminum dulu teh nya. Sebentar lagi Ibu juga keluar dari kamar." Kata Fitri.
"Ya Kak. Terima kasih." Kata Marcel.
Tak lama pintu kamar Ibu terbuka. "Eehh... Ada Marcel." Ibu tersenyum.
Marcel bergegas menghampiri Ibu dan mencium telapak tangan Ibu.
"Kapan datang Nak?" Tanya Ibu.
"Baru saja Bu. Marcel mau bicara sama Ibu, Kak Fahmi dan Kak Fitri." Kata Marcel.
"Ada apa?" Ibu segera duduk dan mempersilahkan Marcel duduk.
"Begini Bu, Kak, maksud kedatangan Saya ingin melamar Nindi sebagai Istri Saya. Mohon maaf Bu, kalau tidak ada persiapan apa-apa." Marcel menunduk.
Ibu tersenyum. "Alhamdulillaah.... Gak apa Nak, Ibu ngerti, Kamu sebatang kara disini." Kata Ibu.
"Jadi Ibu setuju? Ibu merestui pernikahan Ku dengan Nindi?" Tanya Marcel.
Ibu mengangguk. "Ibu bersyukur akhirnya Nindi mau menikah. Ya Allah... Alhamdulillaah..."
Fitri dan Fahmi tersenyum. Perkenalan Nindi dan Fahmi baru berjalan 5 bulan, tapi jodoh berkata lain. Marcel meminang Nindi.
Marcel tersenyum dan mengusap wajahnya.
__ADS_1
Nindi tersenyum. Mata nya sudah berkaca-kaca entah apa perasaannya kini.