CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Cinta Oh Cinta


__ADS_3

Atala memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Lambok.


"Kamu nginep disini, Sayang?" Tanya Tia yang dicium punggung telapak tangannya oleh Atala. Tia sedang menyiram bunga.


"Ya Ma... Aku kangen dengan suasana rumah ini. Lagi pula, Fathir sedang pulang ke rumah Eyangnya, kangen sama Mama Fitri dan Ayah Fahmi. Aku jadi kesepian di rumah. Lagi pula Aku khawatir sama Vita, Ma. Apa dia sudah kembali?" Tanya Atala.


Tia menggeleng. "Belum... Mungkin sebentar lagi. Dia gak pernah mangkir dari janjinya." Kata Tia.


Atala tersenyum.


"Kak Atala...!" Panggil Tristan. Tristan berlari dan langsung menomplok Atala yang segera menggendongnya.


"Adik Tampan Kak Atala... Huuuhhh..." Atala mencubit pipi Tristan gemas.


"Mama....!" Tristan merengek karena pipinya merah dicubit Atala.


"Atala....!" Tegur Tia.


"Huuuhhh... Bisa nya ngadu sama Mama." Atala mencium pipi Tristan dan Tristan membalasnya.


"Sudah sana masuk. Mandi... Sudah sore." Pinta Tia.


"Siap Ma..." Kata Atala.


Suara deru mesin motor berhenti di depan gerbang rumah. Atala menoleh. Dia tak jadi masuk kedalam.


"Siapa tuh?" Tanya Tristan lucu.


Tia langsung mematikan selang airnya dan mendekati gerbang.


"Kakak gak mampir dulu?" Tanya Vita.


"Gak usah terima kasih." Kata Vero. "Assalamu alaikum Tante..." Tegur Vero ramah.


"Wa alaikumussalaam.." Tia tersenyum. "Vita... kok temannya gak diajak masuk?" Tanya Tia.


"Gak usah Tante... Sebentar lagi mau Maghrib. Bunda pasti sudah nunggu di rumah." Tolak Vero halus.


"Ya sudah. Terima kasih ya, sudah nganter Vita." Kata Tia lembut.


"Ya Tante... Sama-sama... Permisi Tante...Vita...Abang... Assalamu alaikum.." Pamit Vero yang juga melihat Atala.


"Wa alaikumussalaam..." Ucap Tia dan Vita juga Atala dan Tristan.


"Ooohhh.... Jadi gak mau dijemput Kakak, karena ada yang nganterin..??" Atala terlihat tak suka.


"Apaan sih Kak Atala.." Vita mengrucutkan bibirnya. Vita sebenarnya terkejut melihat Atala yang ternyata masih di rumah.


Tia hanya geleng-geleng kepala. Tia memang tahu Atala menyukai Vita, tapi Tia sendiri belum tahu perasaan Vita pada Atala.


Atala langsung merangkul bahu Vita. "Siapa Dia?" Selidik Atala yang masih menggendong Tristan.


Vita melerai rangkulan Atala. "Apa sih Kak? Dia kakak kelas Aku." Kata Vita keceplosan.

__ADS_1


"Loh tadi katanya belajar kelompok sama teman sekelas, kenapa jadi diantar Kakak kelas?" Atala makin curiga.


"Iisshh yang bilang belajar kelompok siapa Kak?" Vita jadi kesal.


"Tadi Lita bilang..." Kata Atala.


"Lita salah denger. Aku cuma lagi ada rapat Osis." Kata Vita.


"Sejak kapan Kamu gabung sama Osis?" Tiba-tiba Lita sudah berada di belakang Mereka.


"Waduuuhhh... Gawat nih... Iiihhh Lita ngapain siiihh..??" Batin Vita yang menggigit bibirnya sendiri.


"Nah..." Atala makin curiga.


"Mama....!!" Vita memanggil Tia meminta bantuan.


"Ya Sayang... Kamu tinggal jawab saja pertanyaan Lita. Apa susahnya?" Tia malah ikut mengintrogasi Vita.


Vita menghela nafas. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia melepas sepatunya.


"Ma... Kak... Lita... Di sekolah mau mengadakan Isra' Mi'raj. Tadi waktu Dzuhur, Aku ketemu Kak Vero. Dia mendengarku mengaji. Padahal Aku sudah sangat memelankan suaraku." Akhirnya Vita langsung mendapat ide yang brilian untuk menutupi kebohongannya.


"Kak Vero mengajakku untuk ikut rapat Osis. Aku tadi nya nolak, tapi beberapa teman Aku malah mendukung Vero agar mengajakku ikut serta. Ya Aku gak bisa nolak, gak ada salahnya kan Aku membantu kegiatan Islam?" Kata Vita beralasan sangat tepat.


Atala mengangguk... "Bukan karena Kamu menghindari Kakak, kan?" Atala langsung menembak.


"Haaahhh...!?" Vita terperanjat kaget. "bagaimana mungkin Kak Atala bisa tahu?" Batin Vita.


"Iiisshhh... Apaan sih Kak. Ma.. Kak Atala kenapa sih? Kaya kepedean banget... Ngapain juga menghindari Kakak. Mang Aku pacar Kakak? Ups..." Vita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ish....Apaan lagi nih. Kakak jangan ngada-ngada deh. Masa Adik Kakak, pacaran?" Vita mengrucutkan bibirnya. Tapi Ucapan Atala membuat jantungnya berdebar.


"Sudah ah... Aku mau mandi... Sebentar lagi maghrib." Vita langsung beranjak dan menenteng sepatu dan tas nya ke kamar. Vita tak mau Atala melihat wajahnya yang sudah bersemu merah.


Atala terlihat frustasi. Vita menolaknya. Tia mengelus bahu Atala. Wajah Atala terlihat murung.


Lita menaikan sebelah alisnya. "Ada apa dengan Kak Atala dan Vita?" Batin Lita yang segera bersedekap.


"Hhhmmm....Kaya nya ada kasus yang harus diselesaikan nih." Batin Lita yang masih menaikkan alisnya sebelah.


"Kenapa Kamu?" Ketus Atala pada Lita.


"Yeeeyyy... Kak Atala sensi banget sih? Patah hati yaaa??" Goda Lita asal.


Tapi perkataan Lita membuat Atala terlihat murung. "Loh... Kak... Apa perkataanku ada yang salah?" Lita menarik tangan Atala. Atala menepisnya.


Atala menurunkan Tristan dan segera berlari ke kamarnya.


Tia menghela nafas.


"Ma... Sebenarnya Kak Atala kenapa?" Tanya Lita.


"Kamu sih... Kalau ngomong ceplas-ceplos saja." Kata Tia.

__ADS_1


"Aku becanda Ma... Tapi... tunggu... Jangan bilang Kak Atala benar menyukai Vita?" Lita membulatkan matanya.


Tia menempelkan telunjuknya ke bibirnya sendiri.


"Serius Ma?" Tanya Lita penasaran. Tia mengangguk.


"Oh My God..." Lita menepak jidadnya sendiri.


"Apa Vita juga menyukai Kakak juga?" Tanya Lita.


"Itu Dia, Mama dan Kak Atala juga belum tahu dengan perasaan Vita. Kak Atala pernah jujur sama Mama, tapi Mama sudah menasehati Atala untuk jangan terburu-buru. Karena belum tahu, Vita suka atau gak." Jelas Tia.


"Sejak kapan Ma?" Tanya Lita.


"Kata Kakakmu, sejak lama. Waktu Kakakmu belum tahu kalau Dia bukan anak kandung Mama dan Papa. Tapi Dia memendamnya. Hingga Dia tahu kebenarannya, makanya Atala berani mengungkapkan pada Mama." Kata Tia.


"Apa Papa tahu, Ma?" Tanya Lita.


Tia menggeleng. "Mama belum cerita sama Papa." Kata Tia.


"Huuhhh... Cinta.... Cinta... Cinta... Cerita Indah tapi membawa luka." Kata Lita yang kembali bersedekap.


"Kamu itu ya... Persis kaya Auntie Nindi." Tia terkekeh melihat tingkah Lita yang terkadang cuek seperti adik bungsunya.


"Hehehe..." Lita terkekeh... "Aku kan anak kesayangan Auntie yang paling cantik."


Tiba-tiba Tristan memukul Lita.


"Ade... Kok Kak Lita dipukul?" Lita berjongkok dan mengrucutkan bibirnya pada Tristan.


Tristan langsung memeluk tubuh Lita. "Kalau Kamu Adik Kak Lita yang paling tampan." Canda Lita yang mencium Tristan dengan hidung mancungnya.


"Assalamu alaikum... Rame banget Lita..." Tegur Lambok.


"Wa alaikumussalaam..." Kata Tia dan Lita.


Tia dan Lita mencium punggung telapak tangan Lambok.


"Hehehe... Papa..." Lita tersipu malu. Dia memang paling cerewet diantara anak-anak Tia dan Lambok.


"Ada apa sih Ma? Kaya nya seru banget. Papa gak diajak nih?" Canda Lambok.


"Biasa Pa, Lita kalau sudah datang Dewi bicara nya ya gak berhenti." Canda Tia.


"Iihhh Mama... Kenapa bawa-bawa Oma Dewi." Canda Lita.


"Hahaha...." Lambok tertawa karena ceplas-ceplos Lita.


"Ma.... Papa mau bersih-bersih dulu ya. Sebentar lagi maghrib." Kata Lambok.


"Ya Sayang..." Tia membawakan tas kerja Lambok. Lambok merangkulnya dengan mesra.


"Kak Atala dan Vita seperti Mama dan Papa. Mudah-mudahan Mereka berjodoh... Jadi Aku gak kehilangan Kak Atala." Batin Lita.

__ADS_1


"Aamiin.." Kata Lita yang mengusap wajahnya. Tristan mengikuti yang dilakukan Lita.


"Aamiin..." Sambil mengusap wajahnya. Lita terperanjat tapi langsung mencium pipi Tristan dan mengajaknya untuk bersiap shalat maghrib.


__ADS_2