CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kejutan Untuk Fahri


__ADS_3

Seorang Perawat berlari ke ruang perawatan Lita.


"Ya Dokter?" Dengan nafas tersengal.


"Tolong ambilkan botol infus yang baru, cepat...!" Perintah Leo. Leo juga sudah melepas jarum infus dari tangan Lita.


"Maafkan Aku... Aku gak tahu..." Leo merasa sangat bersalah. Leo langsung menghubungi Dokter Oliver.


Beberapa saat kemudian.


"Astaga...!!" Leo terperanjat dengan apa yang diutarakan Dokter Oliver. "Tapi obat itu terlanjur masuk ke tubuh Lita, empat hari ini... Baik.... Baik Dokter... Terima kasih." Leo pun memutus sambungan telponnya.


"Sayaang...." Leo menghampiri Lita yang terlihat sudah pasrah. Leo mengusap airmata Lita dengan jemari nya. "Maafkan Aku...."


Lita menggeleng. "Mungkin sudah takdirku untuk lumpuh..." Lita masih tetap bersikap pasrah.


"Tidak Sayang... Setiap penyakit ada obat nya. Kamu gak boleh putus asa. Aku akan terus observasi, saraf apa saja yang tidak bekerja." Leo mencoba menguatkan Lita.


Seorang perawat masuk kedalam ruang perawatan Lita. Ini Dok.


"Terima kasih. Oh ya, Saya minta untuk selanjutnya Saya yang akan memberikan Lita obat. Anda membantu Saya menyiapkannya saja." Pinta Dokter Leo.


"Baik Dokter... Kalau begitu Saya permisi." Kata Perawat.


Leo mengangguk. Leo bergegas memasang alat infus ke lengan Lita yang sebelah lagi.


Kali ini hati Lita mulai tenang. Lita tak marah lagi pada Leo. Lita percaya Leo tak menghianatinya. Tapi Lita merasa Leo tak pantas bersanding dengannya.


_________________________


Lita membuka matanya perlahan. Sayup-sayup Lita mendengar seseorang membaca surat Ar Rahman dengan terbata-bata tapi makhraj dan tajwidnya sangat jelas dan benar.


Lita hendak menarik tubuhnya untuk bersandar agak tinggi namun sekali lagi Lita kecewa atas respon organ tubuhnya. "Ya Allah..." Ucap Lita pelan.


"Dokteeerrr...." Lita mencari Leo. Dia ingin bertanya siapa yang sedang mengaji. Lita mendengar suara itu tak asing baginya. Tapi Lita masih tak mempercayai pendengarannya.


"Shadaqallaahul 'aazhiiim..." Leo menyelesaikan bacaannya. Dia kemudian berdiri dan merapihkan sajadahnya.


"Dokter?" Lita terkejut. "Subhanallaah..." Antara tak percaya dan bahagia.


"Kamu terbangun, Sayang? Apa suara ku mengganggumu?" Leo nampak gugup karena Akhirnya Lita tahu. Leo menaikan brankar Lita agar Lita bisa menyandar agak tinggi.


"Apa Aku sedang bermimpi?" Tanya Lita.


Leo tersenyum dan mendekat. Leo mengecup pipi Lita.

__ADS_1


"Dokter... Sejak kapan?" Lita masih terkejut.


"Sejak Kamu riset di Sumatera." Kata Leo.


"Subhanallaah... Tapi kenapa Aku gak tahu?" Tanya Lita.


"Karena Kamu tak pernah bertanya." Kata Leo sambil tersenyum.


Leo menggenggam tangan Lita. "Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin pernikahan Kita berbarengan dengan Saudara mu, Fahri dan Farah. Tapi Kamu malah sakit." Leo nampak bersedih.


"Jadi yang melamar Aku, Dokter?" Tanya Lita penasaran.


"Apa ada lagi laki-laki yang mencintai Kamu dan Kamu cintai, selain Aku?" Leo malah balik bertanya.


Lita menggeleng pelan.


"Sesaat Kamu meninggalkan ku di Bandara, Aku langsung menelpon Papa untuk melamarkan Kamu untukku pada Om Lambok. Papa terkejut dan mengira Aku sudah berbuat yang tidak-tidak pada Kamu..." Jelas Leo.


Lita kembali terisak.


"Ssttt... Jangan Menangis lagi." Kata Leo yang kembali memeluk tubuh Lita.


"Sekarang Aku sudah lumpuh. huk... huk.. huk... Aku gak berguna... Aku gak pantas bersanding dengan Dokter..." Lita akhirnya berterus terang.


Leo melerai pelukannya. Dia menangkup pipi Lita. "Dengar.... Lihatlah mata ku.. Apa ada kebohongan cinta disana?" Tanya Leo.


"Jangan pernah mengatakan Kamu tak berguna. Karena Aku tak bisa hidup tanpa Kamu." Leo kembali memeluk tubuh Lita.


Lita menangis bahagia. Di saat tubuhnya tak dapat merespon, ternyata masih ada hati yang peduli padanya.


__________________________


Hari ini Pernikahan Fahri dan Farah digelar. Sesuai janji Fahri, Lita akan melihat pernikahan nya lewat laptopnya.


Fahri merasa sedih karena Adik yang dicintainya tak dapat hadir di hari bahagia nya.


Fahri terus berdoa untuk kesehatan Lita.


"Bang.... Sudah saatnya..." Panggil Fitri sang Mama.


Farah dan Vera berada di kamar rias yang sama. Mereka menunggu Fahri dan Veri mengucapkan ijab Qabul.


Fahri mengikuti sang Mama ke tempat ijab Qabul. Mata nya terus mencari. Tapi nihil. Fahri menghela napas. Beberapa saat yang lalu, Fahri sudah melakukan panggilan Video dengan Lita. Wajah Lita terlihat segar dan Lita mengatakan maaf karena tak bisa menghadiri pernikahan Abangnya itu.


Fahri melihat Veri sudah duduk di meja ijab Qabul nya. Veri tersenyum pada Fahri dan Fahri membalasnya.

__ADS_1


Ayah Fahmi dan Bang Fathir sudah berhadapan dengan Veri. Kini dihadapan Fahri telah duduk Papa Adrian sebagai Wali Nikah dan Kakek Burhan sebagai Saksi dan Om Tiar dan Om Feri.


Baru saja Fahri akan duduk. Mata nya menangkap sosok seorang gadis tengah tersenyum padanya diatas kursi rodanya. Dan seorang laki-laki tampan berada di belakang gadis itu yang mendorong kursi rodanya.


"Lita.....!" Panggil Fahri dan langsung berdiri. Semua Keluarga menatap Fahri dan mengikuti arah Fahri berjalan.


Fahri tak dapat menahan airmata nya. Dia memeluk tubuh Lita yang tergolek di kursi roda. "Kenapa jadi begini, Dek? Dokter??" Fahri seakan minta jawaban pada Leo.


"Bang... Ijab Qabul nya akan dimulai. Aku sudah memenuhi janjiku. Aku gak bisa lama-lama... Nanti Dokter Leo ditegur Direktur Rumah Sakit karena membawa kabur Aku..." Canda Lita.


Leo tersenyum dan mengangguk. Fahri langsung mengambil alih mendorong kursi roda Lita ke dekat meja ijab Qabul nya. Hati Fahri sangat bahagia.


Malam tadi Lita tidak bisa tidur. Dia merasa gelisah. Dan Leo mengetahui itu.


"Ada apa Sayang?" Tanya Leo yang baru saja menyelesaikan tadarusnya. Lita ikut tadarus tapi dari awal bacaannya banyak yang diralat oleh Leo. Lita gak konsentrasi.


"Aku.... Aku..." Lita nampak ragu.


"Kamu sudah janji, gak ada rahasia lagi." Kata Leo.


Lita mengangguk. "Aku ingin menghadiri pernikahan Abang ku dan Saudaraku..." Lita menunduk sedih. Mengingat kondisi nya yang tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan.


"Apakah sangat penting?" Tanya Leo.


Lita mengangguk dengan cepat. "Bang Fahri pasti sedih... Walau Dia bilang gak apa-apa Aku gak datang." Lita mengrucutkan bibirnya.


Leo menghela nafas. Leo langsung menghubungi Sang Papa untuk meminta pertolongan. Tak lama Sang Papa mendapatkan kabar dari Kolega nya yang mau menyewakan pesawat pribadinya.


"Besok Kita berangkat." Kata Leo tiba-tiba.


Lita mendongak tak percaya. "Apa?!"


"Katanya Kamu mau ke Sumatera? Besok Kita berangkat." Kata Leo sambil tersenyum.


"Tapi... Rumah Sakit?" Lita nampak khawatir.


"Aku akan mengaturnya." Dan Leo langsung menghubungi beberapa Perawat dan Pengurus Rumah Sakit. Awalnya pihak Rumah Sakit menolak. Namun Karena Leo memohon dan melobi dengan benar, akhirnya pihak Rumah Sakit memberi ijin. Dengan catatan sebelum pergantian shift jam makan siang, Lita sudah kembali ke kamarnya dalam keadaan baik-baik saja.


Setengah berlari Leo membawa kabar berita ini pada Lita. Dan Lita tak habis-habisnya mengucapkan syukur.


Lita juga mengatakan kalau ini akan jadi kejutan buat Fahri dan Farah. Makanya saat Fahri melakukan panggilan telpon sesudah subuh tadi, Lita nampak sumringah.


Dengan satu kali tarikan nafas, Fahri berhasil mengucapkan Ijab Qabul. Hingga para Saksi mengatakan kata "SAH"


Begitu juga dengan Veri. Tak lama pengantin wanita disandingkan dengan Suaminya masing-masing.

__ADS_1


Resepsi pun digelar dengan meriah. Lita nampak bahagia. Dan Leo tersenyum melihat kebahagiaan Lita.


__ADS_2