
"Si.. a..paaa....?" Tanya Bunda Dinda dengan terbata, mulutnya terlihat tidak lurus. Beliau terkena stroke ringan setelah jatuh di kamar mandi.
Ayah Burhan menoleh menyembunyikan senyumannya melihat Lita yang pura-pura celingak-celinguk, masuk ke ruang rawat Bunda Dinda.
"Maaf.... Sepertinya Saya salah masuk ruangan." Kata Lita yang segera hendak membuka pintu.
"Tuung...guuuu..." Bunda mencoba menghentikan langkah Lita.
Lita menoleh dan tersenyum.
"Ke...ma...ri... Nak... Si...a...paa... Na..ma.. Ka...mu...? Ka...mu... can...tikk... se...ka..li..." Kata Bunda masih terbata.
Ayah Burhan bangun dari duduknya dan membantu mengangkat tubuh Bunda dan menyandarkan agar duduk.
Bunda tersenyum pada suaminya. "Te..ri...ma... ka..siihh... A...yaahh..." Kata Bunda.
Ayah Burhan mengangguk. Dia menoleh kearah Lita. "Kemarilah Nak... Istriku memanggilmu..." Pinta Ayah Burhan.
Lita dengan perlahan menghampiri brankar Bunda. Dia berdiri di depan brankar Bunda.
"Maaf Oma... Sepertinya Aku salah masuk ruangan. Aku ingin menjenguk temanku disini." Lita berbohong.
"Ti...daak... a..paa... Naakk..." Kata Bunda.
"Nama Ku, Puteri, Oma." Kata Lita yang memberikan nama tengahnya. Karena kalau Dia sebut nama depannya, Bunda pasti tak akan suka. Semua rencana Neneknya.
"Put....ri... ba...gus... na...ma... ka..mu... dan... ka...mu... sang..at... can...tik..." Puji Bunda.
"Terima kasih Oma." Kata Lita sambil tersenyum.
"Oma sakit apa?" Tanya Lita.
Ayah Burhan menyaut karena melihat sang istri yang begitu sulit untuk berbicara. "Istri ku kena stroke, Nak."
"Apa Oma jatuh di kamar mandi?" Tanya Lita.
Bunda mengangguk perlahan. "Ka...mu... ting...gal di...ma..na... Nak...? Si...a..pa.. orang...tua...mu..?" Tanya Bunda lagi.
Lita tersenyum. "Aku tinggal tidak jauh dari rumah sakit ini, Oma. Aku menginap di Apartemen Mall B. Aku sedang menerima panggilan kerja di Rumah Sakit ini, Oma. Dan ternyata temanku ada yang dirawat disini." Jelas Lita, dia tak ingin merepotkan Bunda yang ngomong terbata-bata.
"Keluargaku semua di Jakarta." Kata Lita lagi sedikit berbohong.
Bunda tersenyum. Dia merasa senang melihat Lita yang cantik juga pintar. Lemah lembut dan feminim. "Aku akan menjodohkannya dengan Vero. Daripada Vero sama Lita cucu si Nia itu." Batin Bunda.
Lita memegang kaki Bunda. Meneliti urat syarafnya. Dia memang Kuliah kedokteran spesifik syaraf.
__ADS_1
Bunda dan Ayah memperhatikan apa yang dilakukan Lita.
"Oma nanti sering-sering berjemur saat matahari pagi yah... Aku lihat Oma masih bisa berjalan, kalau Oma mau terapi dengan disiplin." Kata Lita.
"Jadi Kamu seorang Dokter, Nak?" Tanya Ayah Burhan.
Lita tersenyum. "Aku belum jadi Dokter, Opa. Aku hanya tahu sedikit tentang syaraf. Aku berencana akan meneruskan kuliah S2 Ku dinegara J." Jelas Lita.
"Kalau Dia Kuliah lagi, bagaimana Aku akan mengenalkannya pada Vero?" Batin Bunda.
"Naak... a..pa.. Ka..mu... su..dah.. me..ni..kah..?" Tanya Bunda.
Lita tertawa. "Aku punya pacar saja, tidak Oma. Bagaiamana Aku menikah?" Kata Lita.
Bunda terlihat senang.
"Maaf Oma... Aku permisi dulu. Temanku sepertinya menelpon." Pamit Lita yang merasakan getaran pada ponselnya.
"Lain waktu, Aku akan mengunjungi Oma lagi." Pamit Lita.
Bunda menyenggol Ayah Burhan dan sedikit mengedip pada Suaminya. "Ve...ro..." Kata Bunda.
Ayah Burhan seakan mengerti dengan keinginan Istrinya.
"Nak... Istriku meminta nomor ponselmu, boleh?" Pinta Ayah Burhan sambil mengulurkan ponsel Bunda pada Lita.
"Terima kasih, Nak." Kata Ayah Burhan.
Lita pun berpamitan dan segera meninggalkan ruang rawat Bunda. Sebenarnya Lita sangat gerah berada didalam sana, padahal ruangannya ber AC. Tapi semua Dia lakukan, demi memperbaiki hubungan keluarga sang Nenek dengan Nenek nya Vero.
Lita bergegas ke ruangan Auntie Nindi dan Uncle Marcel.
"Assalamu alaikum..." Salam Lita sambil mengetuk ruangan itu.
"Wa alaikumussalaam..." Sahutan dari dalam. "Masuk Sayang..." Teriak Nindi dari dalam yang mengenali suara keponakannya.
Lita membuka pintu perlahan. "Auntie dan Uncle baru makan siang?" Tanya Lita.
Nindi mengangguk. "Kamu makan juga yah. Nanti Kamu kurus memikirkan Vero." Canda Nindi.
"Iissshh Auntie... Aku juga gak mau gemuk kaya Auntie." Canda Lita.
"Whaatsss??? Jadi Auntie gendut!? Honey... is that true?" Tanya Nindi pada Suaminya.
Marcel mengangguk dengan telapak tangan melayang seperti mengimbang. "Begitulah..." Kata Marcel asal.
__ADS_1
"Tapi kenapa Kamu tak protes?" Tanya Nindi sedikit kesal dan mengrucutkan bibirnya.
"Karena Aku memcintaimu, Sayang. Aku hanya ingin Kamu sehat dan bahagia." Kata Marcel sambil merangkul bahu Nindi dan mengecup bibir Nindi.
"Ups...!!" Lita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa sih, orang Dewasa gak punya malu mengumbar kemesraan Mereka?!" Tanya Lita.
Nindi dan Marcel tertawa dengan tingkah laku Lita. "Hahahaha..."
"Auntie dan Uncle sama saja seperti Mama dan Papa... Selalu mengotori pandanganku..." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Hahahaha..." Nindi makin tertawa. "Sayaaang... Nanti kalau Kamu sudah menikah dengan orang yang Kamu cintai, Kamu akan mendapat jawabannya." Nindi masih tertawa.
Lita menghela nafasnya. "Gak tahu Auntie, Aku kan mau meneruskan S2 Ku ke Negara J." Lita menaikan kedua bahunya.
"Lalu Vero?" Tanya Nindi.
"Kalau Bang Vero mau menungguku, Aku juga akan menunggu. Tapi kalau Dia melarang keinginanku... Aku akan menekan perasaanku. Seperti Auntie dulu..." Lita terkekeh.
Nindi mengrucutkan bibirnya mengingat masa lalu nya yang dengan sabar menunggu Marcel mau mengikuti keinginannya.
Marcel mendekap tubuh Nindi, Dia paham dengan suasana hati Istrinya. "Tapi kan sekarang Aku sudah bersamamu, Sayang. Dan Kita akan menua bersama." Kata Marcel sambil mengecup kening Nindi.
Lita tersenyum melihat kasih sayang Uncle nya pada Auntie nya. "Auntie beruntung dengan sabar menunggu Uncle." Puji Lita.
"Tidak Sayang... Uncle yang beruntung memiliki Auntie Mu... Dan Uncle sangat menyesal karena terlambat menyadari itu." Kata Marcel yang memandang wajah istrinya dengan lembut dan mesra.
Nindi menangkup kedua pipi suami nya. "Aku bahagia memiliki Mu, Honey." Kata Nindi.
"Kaya nya Aku disini jadi obat nyamuk." Canda Lita.
"Hahahaha..." Sontak Marcel tertawa. "Kamu bukan obat nyamuk, Sayang... Tapi Bunga yang wangi, memenuhi ruangan ini." Puji Marcel.
Wajah Lita bersemu merah. "Uncle bisa saja."
"Benar Sayaaang... Kamu itu sangat cantik, persis seperti Oma Kamu. Baik hati seperti Mama dan Papa mu. Tapi sayaaang..." Nindi menggantung ucapannya.
"Kenapa Auntie?" Lita mengerutkan keningnya.
"Kamu belum mau berhijab." Nindi ceplas-ceplos.
"Sayaaang..." Marcel menutup bibir Nindi dengan jari telunjuknya. "Biarkan Lita memutuskan kapan Dia akan siap untuk menutup auratnya." Kata Marcel.
Lita menunduk. Dia sadar, dirinya bukan anak kecil lagi yang bebas mengumbar auratnya. Dia kini wanita yang beranjak Dewasa. Banyak laki-laki diluaran sana yang ingin memilikinya dengan cara baik-baik ataupun dengan otak kotor Mereka.
"Maafkan Auntie, Sayang. Auntie gak bermaksud melukai hatimu." Nindi segera menghampiri Lita dan memeluknya.
__ADS_1
"Gak apa Auntie. Makin banyak orang yang menegurku, Aku makin senang. Karena ternyata keluargaku, sangat sayang dan peduli padaku." Kata Lita yang mengusap airmatanya yang telah jatuh ke pipi.