
"Mau kemana Kamu?" Tanya Lita melihat Tristan sudah segar dan berganti pakaian.
"Mau jemput Caca, Kak." Kata Tristan.
"Gak usah, Kakak mau tahu, siapa yang mengantar Caca." Tegas Lita.
"Tapi Kak...." Tristan khawatir jika Lita bertemu Leo.
"Kenapa? Memang siapa yang antar Caca?" Lita terlihat bingung dengan sikap Tristan yang khawatir.
Tristan terdiam. Dia tak berani menjawab.
"Dek....." Tegur Lita.
"Nanti Kakak juga tahu." Kata Tristan. Dia membuka ponselnya dan mengirim pesan.
Beberapa saat sebelumnya, di tempat lain.
"Kenapa Sayang?" Tanya Leo yang melihat Caca sudah gelisah.
"Caca kangen Ibu..." Terlihat wajahnya murung.
"Tunggu Uncle jemput, yah..." Bujuk Leo.
Caca mengangguk dengan bibir mengrucut.
Leo memeluk tubuh mungil itu. "Caca sayang banget yah sama Ibu?" Tanya Leo sambil mengusap kepala Caca dengan lembut dan mengecupnya. "Krisna, Kamu sangat beruntung memiliki Caca. Insyaa Allah Aku akan menjaga nya dengan kasih sayang." Batin Leo.
"Caca gak punya siapa-siapa lagi selain Ibu dan Uncle. Juga Oma dan Opa. Eh ada Mama Vita juga deh, Ayah Atala dan Ayah Fathir." Caca menutup bibir nya menahan malu.
"Hhhmmm... Pinter anak Ibu. Kalau Dokter termasuk yang Caca sayang, gak?" Tanya Leo berharap.
"Caca kan udah bilang, Dokter itu Ayah Daddy Caca." Celoteh Caca.
"Kamu itu... Ayah, Ayah saja, kenapa pake Daddy?" Tanya Leo gemas.
"Kalau Ayah Caca kan sudah bersama Allah. Kalau Dokter, Ayah Daddy aja, Dokter kan Ayah Bule." Kata Caca polos.
"Ya ampun... Kamu itu." Leo makin gemas. Ponsel nya berdering. "Uncle telpon Daddy." Kata Leo sambil menggeser nya.
"Assalamu alaikum Dek... Apa??? Baiklah... Nanti Kamu kirim saja alamatnya." Kata Leo menjawab panggilan Tristan.
"Apa kata Uncle, Ayah Daddy?" Tanya Caca.
"Ibu Caca sudah pulang. Daddy yang antar Kamu ke Apartemen." Kata Leo.
"Yeeeiiii... Asyiiik... Berarti Ayah Daddy ketemu Ibu..." Caca bertepuk tangan.
Leo tersenyum. "Walau rencana jadi berubah, tapi mau bagaimana lagi. Semua harus dihadapi." Batin Leo.
"Bereskan dahulu pencil warna nya." Pinta Leo lembut sambil membantu Caca merapikan alat tulis dan buku gambar nya. Leo memang sedang membantu Caca mengerjakan PR nya.
"Sudah Ayah Daddy..." Kata Caca yang bersiap mengangkat ransel nya.
"Sini, Daddy yang bawa. Kamu jangan lepas genggaman tangan Daddy yah." Pinta Leo yang menggandeng tangan Caca.
__ADS_1
____________________________
Di apartemen.
Lita terlihat gelisah karena teman yang Tristan bilang belum kunjung datang.
Tristan nampak tenang walau Dia juga takut jika Kakak nya akan marah saat tahu siapa yang mengantar Caca.
Ting... tong.... Bel apartemen berbunyi.
Tristan bergegas hendak membuka pintu. Tapi Lita melarangnya. "Biar Kakak saja." Kata Lita yang bergegas membuka pintu. Lita mengintip di lubang kaca kecil pintu. Tapi sosok yang mengantar Caca sedang membungkuk. Terlihat punggungnya dengan menggunakan kaos berkerah.
"Dia seorang laki-laki? Kakak kira perempuan, kekasih Kamu." Kata Lita.
"Hah?!" Tristan terkejut dengan perkataan Lita.
Lita buru-buru membuka kunci pintu dan handle pintu.
"Assalamu alaikum..." Salam Caca dan Leo.
"Ibuuuu....!" Teriak Caca saat tahu Ibu nya yang membuka pintu. Caca langsung menghambur memeluk pinggang Lita.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Lita dan Tristan. Lita langsung berjongkok.
"Puteri Ibu... I misa you." Lita menciumi wajah Caca.
"I miss you too, Mommy..." Kata Caca balas menciumi wajah Lita.
"Kak..." Panggil Tristan. Leo masih berdiri di ambang pintu.
"Oh ya... maaf... Silahkan....." Kata-kata Lita terhenti saat sadar matanya menatap sosok lelaki yang pernah Dia cintai.
"Sayaaang... Apa kabar?" Mata Leo berkaca-kaca. Kerinduannya sangat mendalam pada Lita.
Lita terpaku. Lita berdiri perlahan. Mata nya tak putus menatap Leo.
Tristan menarik pelan Caca agar menjauh. Tristan membawa masuk Caca.
"Dokter....???" Lita masih tak percaya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Lita tak percaya dengan apa yang Dia lihat.
"Iya Sayang... Ini Aku..." Leo mendekat.
"Astaghfirullaah..." Lita tersadar. Dia memalingkan wajah nya. "Silahkan masuk." Lita langsung membalikkan tubuh nya. Dia tak dapat menutupi kerinduannya pada Leo. Namun Lita tak mau melukai hati Leo.
Leo mengikuti langkah Lita masuk ke ruang tamu.
"Silahkan duduk Dokter." Kata Lita masih menunduk. Lita tak tahu memulai pembicaraan dari mana.
"Maafkan Aku...." Kata Leo tiba-tiba.
Lita yang menunduk, mendongakkan wajahnya. Menatap wajah Leo dengan heran.
"Maaf? Untuk?" Tanya Lita.
"Aku menyakiti Mu saat pernikahan Mu dengan Krisna." Kata Leo dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tidak Dokter. Dokter tidak salah. Aku yang salah karena sudah menghianati cinta Dokter. Aku minta maaf. Aku.... Aku...." Lita tak dapat meneruskan kata-kata nya. Lita menangis mengingat peristiwa itu dan kehidupannya bersama Krisna.
Ingin rasanya Leo memeluk tubuh Lita. Menyalurkan kerinduannya yang begitu mendalam. Tapi semua Leo tahan.
"Maaf... Aku buatkan minum dulu." Lita nampak canggung.
"Tidak usah... Aku dan Caca habis makan dan minum tadi." Leo menarik tangan Lita dengan lembut. "Duduklah disini..." Pinta Leo tanpa melepas pandangannya pada Lita.
Lita hanya tertunduk dari tadi. Lita tak berani menatap wajah Leo. Bayangan Krisna menari-nari dibenaknya.
"Bagaimana keadaan Mu selama ini?" Akhirnya pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Leo. Mereka seperti orang asing yang baru saja bertemu.
"Alhamdulillaah... Aku baik..." Kata Lita masih menunduk.
"Apakah wajah Ku sangat menyeramkan hingga Kamu tak mau menatap wajah Ku?" Tanya Leo putus asa.
Lita menggeleng. "Maaf... Bagaimana bisa Dokter bertemu dengan Caca?" Lita mengutarakan rasa penasarannya.
Leo tersenyum. "Tristan dan Caca menjemput Ku di Bandara, seminggu yang lalu." Jelas Leo. "Aku mendapat nomor ponsel Tristan dari Papa Mu."
"Ooohhh..." Lita hanya berkata itu. Wajah nya terus menunduk.
Leo mendekat. Lita terlonjak. Lita menggeser duduk nya.
"Apakah Aku menjijikan hingga Kamu tak mau berdekatan lagi dengan Ku?" Tanya Leo kecewa.
"Maaf Dokter... Aku ini Istri Kak Krisna." Jawab Lita.
"Istri mendiang Almarhum Krisna." Leo mempertegas.
Lita terisak. Kesedihannya kembali menelusuk batinnya. Kerinduannya pada Almarhum Suami nya kembali mendera.
"Maaf..." Kata Leo. "Maaf Aku tidak datang saat pemakaman Suami Mu. Karena Eyang Puteri sedang Kritis." Kata Leo pelan.
"Innalillaahi..." Lita mendongak. "Lalu bagaimana keadaan Eyang sekarang? Eyang baik-baik saja kan?" Tanya Lita tulus.
"Leo tersenyum. Eyang sudah tenang tapi mungkin belum sepenuhnya." Kata Leo.
"Maksudnya? Eyang sudah tiada?" Tanya Lita tak percaya.
Leo mengangguk. Menatap wajah Lita yang murung tak secerah saat Dia melihat terakhir kali di pernikahannya dengan Krisna.
"Innalillaahi... Maaf Aku gak tahu..." Lita kembali menunduk airmata nya mencelos begitu saja kehilangan sosok Eyang yang begitu menyayangi Nya.
"Sebelum meninggal dunia, Eyang memberi pesan...." Leo menjeda kata-kata nya. menunggu reaksi Lita.
Lita terdiam menunggu lanjutan kalimat Leo tapi nihil. Lita mendongak dan menatap Leo. "Eyang berpesan apa?" Tanya Lita.
Leo menghela nafas. Leo bingung bagaimana mengatakannya pada Lita.
"Dokter???" Tegur Lita.
"Hhhmmm.... Aku ingin Kita kembali lagi seperti dulu. Aku ingin Kamu menjadi Istri Ku." Tiba-tiba Leo langsung berjongkok di depan tubuh Lita yang terduduk.
🌷Lalita Puteri Wijaya, Mau kah Kamu menikah dengan Ku?🌷
__ADS_1