
"Apa Kak?" Tristan yang baru saja senang mendengar suara Lita setelah berbulan-bulan menghilang dan dinyatakan sudah tiada, dikejutkan kembali dengan keinginan Sang Kakak yang akan menikah.
Lita menjabarkan alasannya pada Tristan dengan catatan Tristan harus tutup mulut. Lita memang selalu terbuka pada Adiknya, Tristan.
Tristan menghela nafas. "Lalu apa alasan Aku, Kak? Apa jawab Ku jika Mama dan Papa bertanya?" Tanya Tristan.
"Dek sebisa mungkin jangan sampai Papa dan Mama tahu. Kakak juga belum siap untuk kembali. Luka hati Kakak masih mendalam. Kakak tidak mau bertemu Kak Leo. Tolong lah Dek...." Lita wanti-wanti.
"Baiklah Kak... Aku akan berusaha agar semua nya aman. Kapan Kakak akan menikah?" Tanya Tristan.
"Secepatnya Dek, setelah Kakak mendapatkan identitas Kakak dan administrasi KUA." Kata Lita.
"Baiklah Kak. Hari ini juga Aku akan pulang ke Jakarta. Untung nya Aku sedang tidak banyak tugas. Kakak tenang yah... Ya Allah... Alhamdulillaah... Ternyata Kakak Ku masih hidup." Kata Tristan.
"Ya Alhamdulillaah Dek... Allah selalu melindungi Kita. Aamiin." Kata Lita.
"Bagaimana Aku akan menghubungi Kakak, jika Aku sudah mendapatkan semua?" Tanya Tristan.
"Lusa Kakak akan menelpon Mu, di jam yang sama." Kata Lita.
Tristan melihat jam tangan nya. "Baiklah Kak. Aku sayang Kakak... Mmuuuuaacchhh...." Tristan mencium ponsel nya. Wajah nya terlihat bahagia walau Sang Kakak memberikan amanat untuknya. Tapi yang terpenting bagi Tristan, mengetahui Kakak nya baik-baik saja, tidak dapat mengalahkan apapun yang dapat menyenangkan hati nya.
__________________________
"Sayang.... Kamu pulang?" Tanya Tia yang tak percaya bungsu nya pulang di hari bukan liburan Kuliah.
"Mama.... Aku kangen sama Mama..." Kata Tristan yang menunduk memeluk Sang Mama. "Papa mana Ma?" Tanya Tristan.
"Papa Mu sedang Ikut dengan Kak Atala ke proyek." Kata Tia.
"Kok Papa bukan nya istirahat saja di rumah." Kata Tristan terdengar tidak suka.
"Papa BT kata nya. Pengen gerak." Bela Tia.
"Apa Mama tidak bisa menghilangkan BT Papa?" Canda Tristan.
"Hhmmmm.... Bungsu Mama sudah pandai meledek yah?" Tia menjewer telinga Tristan.
Tristan menangkupkan kedua telapak tangannya. "Ampuunnn Maaaa...."
Tia memeluk Tristan. "Sampai kapan Kamu disini?" Tanya Tia.
"Besok Aku balik Ma..." Kata Tristan berbohong.
"Kok cepat?" Tanya Tia yang sudah mengerutkan keningnya.
"Aku pulang cuma mau ambil berkas yang ketinggalan Ma..." Kata Tristan.
"Tumben Kamu seceroboh itu?" Tanya Tia curiga. Dia tahu Tristan orang nya sangat teliti dan selalu ingin yang terbaik.
"Mendadak Ma... Ada persyaratan tambahan. Salah Kampus nya juga gak teliti." Alasan Tristan.
__ADS_1
"Ya sudah... Sekarang istirahat dulu. Kamu sudah shalat, Nak." Tanya Tia.
"Selalu di awal, Ma...." Kata Tristan.
Tia tersenyum. Walau pun Putera nya sudah Kuliah di Luar Negeri, namun tak pernah sekali pun mengabaikan panggilan Allah SWT.
"Aku ke atas ya Ma..." Tristan berbalik. "Ma..." Panggil nya.
"Ya Sayang?" Tanya Tia.
"Boleh kan Aku tidur di kamar Kakak?" Tanya Tristan.
Mata Tia berkaca-kaca. Tia mengangguk. "Ya Sayang..." Tia mengusap airmata nya.
Tristan berlari dan langsung memeluk Sang Mama. "Aku yakin Ma, Kakak baik-baik saja." Kata Tristan menguatkan Sang Mama.
Di Keluarga itu yang masih menganggap Lita masih hidup hanya Tristan. Yang lain sudah mengikhlaskan Lita. Tapi Tristan tidak. Dia selalu berdoa agar dipertemukan kembali dengan Sang Kakak. Karena Kakak nya banyak berhutang janji pada nya.
___________________________
Tristan sudah berada di Bandara Kalimantan. Setelah ini Dia akan ke pelabuhan untuk menyebrang. Tempo hari Lita sudah memberi tahu keberadaannya.
Tristan melihat jam tangannya. Dia tersenyum. "Sebentar lagi Kakak akan menelpon Ku."
Baru saja Tristan hendak melangkah, ponsel nya berdering. Tristan bergegas mengangkat setelah memastikan nomor dengan kode Kalimantan.
"Assalamu alaikum Kak..." Sapa Tristan.
"Dapat Kak, dan Kakak tahu Aku dimana?" Tanya Tristan.
"Kamu dimana? Bukannya di rumah Mama yah?" Lita Ragu.
"Aku sudah berada di Bandara Kak. Sebentar lagi Aku akan menyebrang setelah dari sini." Jelas Tristan.
"Ya Allah... Alhamdulillaah... Apa Mama curiga?" Tanya Lita.
"Gak Kak... Tapi Papa yang curiga." Kata Tristan khawatir.
Lita menghela nafas. "Papa memang tidak pernah bisa Kamu bohongi, Dek. Dan Kamu bukan orang yang pandai berbohong." Kata Lita.
"Tapi Aku yakin Kak, Papa akan mengerti." Kata Tristan.
"Ya Dek. Kita beruntung memiliki Orang Tua seperti Mama dan Papa Kita." Kata Lita. "Ya sudah Dek. Kamu hati-hati. Satu jam lagi Kakak jemput di Pelabuhan." Kata Lita.
_________________________
Tristan memeluk Lita dengan deraian air mata. Tristan sujud syukur saat melihat kondisi Lita baik-baik saja dan tidak memakai kursi roda lagi.
Caca dari tadi memperhatikan hanya bengong. Banyak tanya dalam benak nya. Tapi Dia tak berani melihat Tristan yang tinggi besar dan tegap. Tapi Caca senang melihat wajah Tristan yang tampan seperti Ayah nya.
Lita mengusap air mata Tristan. Dia mengecup kedua mata Tristan. "Mama dan Papa sehat-sehat saja kan?" Tanya Lita.
__ADS_1
Tristan hanya bisa mengangguk. Tristan tak dapat menahan tangis haru nya. "Kenapa Kakak gak melapor ke kantor Polisi disini? Dan melaporkan Si Bella itu?!" Tristan masih kesal setelah Lita menceritakan semua nya. Mereka kini berada di sebuah Resto tradisional dalam sebuah Mall di Kota itu.
"Tidak Dek... Kita gak boleh mendendam. Mungkin saja Bella sudah bahagia dengan Kak Leo." Kata Lita.
Tristan memang belum tahu bagaimana kabar Leo. Karena Tristan sudah harus kembali ke Negara I untuk Study.
"Maaf Kak Krisna... Dari tadi Kita cuekin." Kata Tristan segan.
"Gak apa Dek... Kakak ngerti Kok." Kata Krisna.
"Dan ini adik kecil, siapa nama Mu, Cantik?" Tristan mengelus pipi Caca lembut.
"Caca..." Kata Caca sambil tersipu malu.
"Duh pintar nya... Caca sayang sama Ibu yah?" Tanya Tristan.
"Cayang banget. Mang Om ciapa?" Tanya Caca sok tua.
Tristan tersenyum. Dia mencubit pipi Caca. "Aku adik nya Ibu Kamu..." Kata Tristan.
Caca melihat ke arah Lita kemudian kembali ke Tristan. "Om cakep kayak Ibu..." Kata Caca yang langsung menyembunyikan wajah nya ke dada Ayah nya.
"Hahahahaha... Iisshhh pinter banget sih. Kak... Boleh gendong Caca, gak?" Ijin Tristan pada Krisna.
"Tentu saja. Tapi Dia sedikit pemalu kalau sama laki-laki baru dikenal. Tapi akan ganjen kalau sudah akrab. Nempeeelll terus." Canda Krisna.
Lita mencubit lengan Krisna.
"Sayaaang... Sakiiitt..." Krisna meringis.
"Biarin... Masa Puteri Aku dibilang ganjen!" Lita mengrucutkan bibir nya.
"Hehehehehe..." Krisna menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
Tristan sudah membawa Caca ke area bermain anak-anak. Caca terlihat sangat senang. Dia langsung akrab dengan Tristan.
"Seperti nya Kita akan mencari penginapan disini." Kata Krisna.
"Memang kenapa Kak? Kakak malu sama Adik Ku?" Tanya Lita tak mengerti.
"Buat apa Aku malu... Kakak nya saja mau hidup prihatin sama Aku, masa Adik nya gak ngerti..." Canda Krisna.
"Hhhmmm... mulai deh..." Rengek Lita.
"Gak sayang.. Ini sudah hampir maghrib. Kita tidak bisa kembali, karena perahu yang akan menyebrangkan Kita sudah tidak beroperasi jam segini." Jelas Krisna.
"Ooohhhh...." Mulut Lita membulat.
Krisna langsung merengkuh bahu Lita. Lita menyandarkan kepala nya pada Dada Krisna.
"Biar besok Kita lebih dekat juga ke KUA." Kata Krisna.
__ADS_1