
"Assalamu alaikum...." Sapa Lambok, Tristan dan Atala.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Tia, Lita, Vita dan Gery.
"Loh... Gery sudah disini?" Lambok terlihat bingung.
"Sudah Sayang... Dia membantu Kami memasak. Lihatlah... Pekerjaanku jadi lebih mudah." Puji Tia.
Lambok tersenyum dan melirik ke arah Atala. Atala terlihat tidak suka.
"Kenapa wajahmu jadi ditekuk-tekuk begitu?" Goda Lambok pada Atala.
"Haahh?? Oohhh... Eehhh... Gak kok Pa... Aku biasa saja... Mas Gery memang pintar memasak, Pa..." Atala terlihat gugup.
"Mas... Kalau mau bebersih, Ayo Aku antar ke kamar Tristan." Pinta Vita.
Gery tersenyum. Dia hendak mengikuti Vita, namun Atala menghalanginya.
"Vita... Biar Kak Atala saja, yah..." Atala tersenyum pada Vita.
Vita menunduk dan segera berlalu dari hadapan Atala. Vita segera ke kamar untuk membersihkan diri.
Lambok dan Tia menggelengkan kepala. "Seperti nya ada yang cemburu, Sayang...." Kata Lambok.
Tia tersenyum.... "Biarkan saja. Sayang mandi dulu ya... Sebentar lagi maghrib." Kata Tia.
Lambok mengangguk dan merangkul bahu Tia menuju ke kamar. Tia sudah membawakan tas kerja Lambok.
Di kamar Tristan.
"Mas ngapain sih datang lebih awal?" Atala terlihat kesal.
"Loh... memang nya kenapa? Aku kan ingin lebih mengenal calon istriku dan keluarganya..." Canda Gery.
"Tapi gak gitu juga Mas... Pake pamer bisa masak segala...." Atala melempar tubuhnya ke kasur empuk milik Tristan.
"Kamu cemburu...??!! Hhmmmm....?? Kan Kamu sudah punya Friska, apa lagi?" Canda Gery.
"Huuuhhhh.... Terus deh Mas.... Aku gak suka Mas...." Belum selesai Atala meneruskan kalimatnya, Tristan masuk.
"Mas... Kak... Ini handuknya kalau mau mandi." Kata Tristan.
"Terima kasih ya Dek." Kata Atala yang menyambar handuk dari tangan Tristan dan langsung masuk ke kamar mandi.
Di kamar Vita.
"Kenapa ada Kak Atala? Apa Papa juga mengundang Kak Atala? Ya Allah... salahkah Aku, jika Aku masih berharap Kak Atala menjadi suami ku?" Batin Vita.
__ADS_1
Vita menggeleng. "Gak mungkin... Kak Atala adalah suami Kak Friska..." Vita memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Vita...." Panggil Lita yang masuk ke kamar Vita. "Kamu kenapa?" Tanya Lita.
"Kepala ku sakit...." Kata Vita.
"Kamu sudah mandi?" Tanya Lita.
Vita menggeleng. Lita memegang kening Vita. "Ya Allah... kenapa panas sekali?!" Lita terlihat panik.
Lita hendak keluar dari kamar Vita. Tapi Vita menarik tangan Lita. "Kamu mau kemana?" Tanya Vita.
"Aku mau ambil obat untuk Kamu." Kata Lita.
"Gak usah... Aku istirahat saja sebentar." Kata Vita.
"Tapi kepala mu panas sekali..." Kata Lita.
"Lita... Aku hanya perlu rebahan sebentar saja...." Pinta Vita.
"Baiklah..." Lita menyerah. "Kalau begitu Aku ke kamar ku dulu. Kalau ada apa-apa, Kamu panggil Aku ya..." Pinta Lita.
Vita mengangguk. "Ya..." Vita segera merebahkan tubuhnya. Lita menyelimutinya.
____________________________
"Kemana Vita? Kenapa Dia belum turun?" Tanya Tia.
Atala memandang Lambok. "Pa... Ma... Ijinkan Atala mengantarkan makanan ke kamar Vita. Atala mohon untuk yang terakhir kali sebelum Vita menikah." Atala melirik ke arah Gery.
Tia dan Lambok saling menatap. Mereka menatap Gery. Gery mengangguk.
"Baiklah Sayang...." Tia menyiapkan makan malam untuk Vita. Kemudian Atala mengantarnya ke kamar Vita.
"Assalamu alaikum...." Sapa Atala sambil membuka handle pintu kamar Vita.
Vita terpejam mata nya. Atala meletakkan makan malam Vita diatas meja.
"Sayaaang...." Atala duduk dipinggir ranjang Vita dan menyentuh kening Vita. "Astaghfirullaah... Panas sekali..."
Vita mengerjapkan matanya. Vita terbelalak kaget dan segera ingin duduk tapi kepala nya makin sakit. "Aaauuu...."
Atala membantu tubuh Vita yang ingin duduk.
"Kenapa Kak Atala di kamarku? Nanti apa kata Mas Gery?" Vita masih memijit kepalanya.
"Kakak sudah minta ijin sama Mama dan Papa, juga Mas Gery. Apa Kamu menyukai Mas Gery?" Tanya Atala.
__ADS_1
"Aku gak tau, Kak. Aauuuu...." Vita kembali mengeluh sakit.
"Kamu makan dulu ya. Pasti Kamu lupa makan akhir-akhir ini... Sampai Kamu sakit kaya gini." Kata Atala. Atala sudah tau betul bagaimana kesehatan Vita.
Atala mengambilkan makanan dari atas meja untuk Vita. Atala mulai menyuapi Vita.
Tapi Vita menolak. "Biar Aku saja Kak...." Vita menunduk.
"Ijinkan Kakak menyuapimu untuk terakhir kalinya, sebelum Kamu resmi menjadi seorang istri." Pinta Atala.
Vita memandang wajah Atala. Vita mendapati keseriusan disana. Air mata Vita jatuh ke pipi.
"Kenapa menangis... Hhhmmmm...?! Apa Kata-kata Kakak ada yang menyakitimu?" Tanya Atala terlihat sedih. Atala mengusap air mata Vita.
"Mengapa nasib hidup Kita seperti ini, Kak?" Vita masih terisak.
"Maksud Kamu?" Atala mengusap kepala Vita yang tertutup hijab.
"Selama ini Kita memendam rasa. Aku mencintai Kak Atala dan Kak Atala mencintai Aku. Dan Kita akan segera menikah setelah tahu Kita saling mencinta. Tapi takdir berkata lain, Kita harus berpisah karena kesalahan yang tak pernah Kakak perbuat. Huk... huk... huk...." tangis Vita akhirnya tumpah.
Atala menaruh makanan ke atas meja kembali. Dia memeluk tubuh Vita yang menangis. "Maafkan Aku, Sayaaang.... Semua karena keteledoranku.... Maafkan Aku...." Atala mengusap punggung Vita.
"Aku tak mau menikah Kak.... Aku tak mau menikah dengan Mas Gery.... Huk... huk... huk..." Vita masih menangis.
Atala terperanjat tapi ada semburat senyum disana. Atala melerai pelukannya. Vita menunduk. "Bagaimana mungkin Kamu membatalkan pernikahan ini?? Apa Kamu mau membuat Mama dan Papa juga seluruh keluarga malu??!"
Vita menggeleng. "Aku gak bisa mencintai Mas Gery.... Aku gak bisa mencintai laki-laki manapun...." Vita masih menunduk.
Atala mengangkat dagu Vita. Atala menggeleng. "Kamu jangan menangis, Dek.... Semua pasti cepat berlalu... Seiring berjalannya waktu Kamu pasti akan mencintai suamimu....."
"Apa Kak Atala sudah mencintai Kak Friska?" Tanya Vita yang begitu menohok jantung Atala.
"Jawab Kak...?!!" Tegas Vita.
"Kamu makan dulu ya... Abis itu minum obat..." Atala tak menjawab pertanyaan Vita.
"Aku gak mau makan kalau Kakak tak menjawab pertanyaanku...." Vita sedikit mengancam.
Atala menghela nafas. "Tidak ada wanita di dunia ini yang paling Aku cintai selain dirimu...." Akhirnya Atala berkata jujur.
Vita kembali menangis. Atala memeluk tubuh Vita. "Takdir mempermainkan hidup Kita, Dek...." Kata Atala. "Kakak sudah sekuat tenaga untuk melawan takdir ini......"
"Huk.... huk.... huk.... Apa Kak Friska tak mau melepaskanmu, Kak?" Vita masih sesegukkan.
Atala melerai pelukannya. Atala mengusap airmata Vita lembut. "Sudah yah jangan menangis lagi.... Bertahun-tahun Kakak ingin sekali bertemu denganmu.... Tapi Kamu selalu menghindari Kak Atala... Jangan seperti itu lagi.... Kakak mohon.... Sampai kapanpun Kamu akan tetap menjadi Adik Kak Atala walau takdir tak mengijinkan Kita bersatu."
"Sekarang makan ya..." Atala menyuapi Vita. Dan Vita menerima suapan dari Atala. Sesekali Vita juga menyuapi Atala.
__ADS_1
Pemandangan itu tak luput dari pandangan sepasang mata yang dari tadi berdiri di depan pintu kamar Vita yang memang sengaja dibuka.
Gery mengusap airmata nya. Dia terharu melihat dan mendengar kisah cinta Atala-Vita.