
Lita sudah hendak melangkah tapi sebuah tangan menahan bahu nya dengan lembut. Kedua tangan itu menarik bahu Lita agar tak melanjutkan langkahnya.
Kaki Lita berhenti melangkah. Jantungnya berdebar sangat kencang. Lita tak ingin menoleh. Lita tak ingin Keluarga nya melihatnya terluka.
Genggaman tangan Caca terlepas. Lita tersentak kaget. Lita memejamkan mata mengharap mengurangi gejolak kecewa penuh penyesalan di hati nya.
"Seharusnya Aku menerima lamarannya tempo hari... Hik...hik...hik..." Kata Lita sangat Lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri. Bahu Lita terguncang kembali.
Namun perkataan Lita terdengar oleh pemilik tangan yang hendak membalikkan bahu Lita. Lita masih memejamkan mata saat tubuhnya sudah berputar menghadap orang yang menarik bahunya. Lita menunduk sedih.
Tangan itu menarik tubuh Lita dalam pelukannya. "Aku sangat mencintai Nya. Aku gak bisa hidup tanpa Nya... Huk... huk...huk..." Tangis Lita pecah dalam dekapan tubuh Itu.
"Aku juga sangat mencintai Mu... Aku juga gak bisa hidup tanpa Mu."
Suara itu seolah halusinasi dalam pendengaran telinga Lita. Lita menggeleng masih dalam dekapan. "Aku gak mungkin merusak kebahagiaannya. Aku menyesal karena tidak menerima lamarannya...hik...hik...hik...."
"Kamu tidak merusak kebahagiaan Ku, Sayang... Justru Aku sangat bahagia ternyata Istri Ku akhirnya datang juga..."
Lita seperti tak percaya suara itu nyata. Suara yang tak asing bagi dirinya. Yang Lita tak percaya, Dia mengatakan kalau Lita adalah Istrinya. Lita melerai pelukannya dan menengadah menatap wajah orang yang telah memeluknya.
"Dokter...Leo....??" Lita sangat terperanjat tak percaya.
Leo tersenyum. "Ya Istri Ku, Sayang...." Leo hendak memeluk tubuh Lita namun Lita menahannya dengan kedua telapak tangannya.
"Apa maksud Dokter?" Tanya Lita tak percaya.
"Nak Leo, sudah menjadi Suami Mu, Sayang...." Tiba-tiba Lambok sudah berdiri tepat di samping Leo.
Lita langsung memeluk tubuh Papa nya. Tia mengusap punggung Puteri nya. Semua kejadian itu tak luput dari para tamu undangan yang datang lebih awal yang ingin menyaksikan prosesi Ijab Qabul. Mereka begitu terharu melihat semua ini.
"Tapi bagaimana mungkin?" Lita nampak masih tak percaya akan apa yang di dengar nya.
"Daddy.... Gendong..." Caca menarik sisi baju koko milik Leo. Leo langsung menggendongnya. Caca menyondongkan tubuhnya kepada Lita. "Aku senang deh... Akhirnya Aku punya Ayah Daddy dan Mommy...." Caca mencium pipi Lita.
"Ayo Sayang...." Tia membimbing tubuh Lita menuju tempat Ijab Qabul. Tia mendudukan Lita di karpet dekat meja Ijab Qabul.
Pak penghulu tersenyum. Leo juga sudah berada disebelah Lita dengan Caca masih dalam gendongannya. Pak Penghulu menyerahkan berkas-berkas pernikahan Mereka dan dua buku nikah untuk Mereka tanda tangani.
__ADS_1
Lita masih tak percaya. "Apakah pernikahan ini benar terjadi? Apakah Sah?" Batin Lita seraya menatap wajah Papa nya dan Mama nya. Mereka mengangguk bahagia.
Lita menoleh kepada Leo. "Aku sangat mencintai Mu... Kini Kamu adalah Istri Ku, Sah..." Kata Leo dengan lembut.
Lita menatap Pak Penghulu. "Jangan khawatir Nak, pernikahan ini sudah sesuai syariat Islam dan rukun Nikah. Semua lengkap, Pengantin laki-laki dan perempuan, Mas Kawin, Wali Nikah, Para Saksi dan Saya sebagai Penghulu." Jelas Pak penghulu.
"Kamu tidak menyesalkan, Sayang?! Atau marah karena rencana dadakan ini?" Tanya Leo.
Lita langsung menghambur dan memeluk Leo. Lita menangis, tapi kali ini tangisan bahagia.
Prosesi akad Nikah telah usai, para tamu sedang menikmati hidangan yang telah disediakan. Lita sedang melakukan sungkem kepada kedua orang tua Leo, kemudian kepada Orang Tua nya dan Kakak-kakak nya. Masih banyak tanya dalam pikiran Lita bagaimana pernikahan ini terjadi tepat disaat kepulangannya.
"Selamat Ulang Tahun...!!!" Tiba-tiba Tristan dan Vita sudah berada di pelaminan dengan Kue ulang tahun yang dibawa dua orang petugas catering.
Lita menutup mulutnya tak percaya. Dia lupa kalau hari ini Ulang tahun nya bersama Vita.
Petugas Catering meletakkan Kue Ultah yang berukuran besar itu di meja bekas Akad Nikah.
"Selamat ulang tahun, Sayang..." Leo mencium kening Lita. Leo membacakan Surat Ar Rahman sebagai Mas Kawin untuk Lita. Lita mendengarkannya dengan seksama.
Setelahnya Leo menyematkan cincin berlian yang sudah Dia siapkan. Dan juga menyerahkan satu set perhiasan kepada Lita.
____________________________
Resepsi pernikahan baru akan digelar esok hari karena permintaan dari Leo. Leo yakin Lita sangat letih setelah menempuh perjalanan jauh.
Kini Mereka sedang berada di kamar Lita. Lita dari tadi menunduk salah tingkah. Padahal Lita sudah mengenal Leo lama sekali. Namun rasa gugup itu tak bisa Dia hilangkan.
"Kamu cape, Sayang?" Leo baru saja selesai mandi. Dan masih menggunakan baju mandi. Leo duduk di sebelah Lita sambil memijat pelan bahu Lita. Lita langsung memeluknya. Leo membalas dengan mencium kepala Lita yang masih tertutup hijab.
"Mandi dulu yah... Setelah itu Kita makan dan Istirahat." Pinta Leo yang terus mengecupi wajah Lita. Lita mengangguk.
Mereka kini berjalan beriringan menuju meja makan. Disana sudah berkumpul Keluarga Besar dari Lita dan Leo.
"Leo... sabar yah... Jangan malam ini Lita, Kamu hajar..." Fathir nyeletuk dan langsung mendapat pukulan dari Mama Fitri.
"Mama... Iihhh...." Fathir meringis.
__ADS_1
"Kamu itu, kayak anak kecil. Ini banyak anak-anak. Gak lihat-lihat kalau ngomong..." Kata Fitri dengan mata mendelik.
"Hehehehe... Maaf..." Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Semua orang tertawa. Lita menunduk malu. Jantung nya berdebar kencang. Leo merengkuh bahu Lita dan mengecup kepala Lita yang tertutup hijab.
Setelah makan makan malam, Mereka masih berkumpul sekedar melepas rindu. Ada Veri dan Farah yang tengah menggendong buah hati Mereka. Ada Fahri dan Vera yang juga sudah memiliki momongan. Juga Cellin Fatimah, Puteri Nindi dan Marcel yang juga sudah menikah dengan seorang Dokter kenalan Marcel.
"Nih kado dari Kita Semua." Kata Atala seraya memberikan sebuah amplop pada Lita dan Leo.
Lita menerimanya dan menoleh pada Leo. Leo mengangguk. Lita membuka amplop itu. Dua tiket pulang pergi ke Negara S beserta akomodasi selama satu minggu.
"Tapi Aku harus kembali ke Negara J." Lita seakan teringat dengan tugasnya yang masih ada di Rumah Sakit J.
"Kalau itu beres... Sudah ditangani Dokter Oliver." Kata Auntie Nindi.
"Auntie...??!!" Lita tak percaya.
Marcel dan Nindi tersenyum bahagia.
"Jadi semua nya terlibat untuk pernikahan ini?" Tanya Lita yang sudah dapat bocoran dari Leo kalau ini adalah rencana nya. Lita tak menyangka kalau rencana ini begitu matang. Semua pihak terlibat, sampe-sampe Caca harus berakting histeris memintanya pulang dan mencegah pernikahan Leo dengan wanita lain yang gak pernah ada.
"Hahahahaha...." Semuanya tertawa bahagia.
"Sudah... Dilanjutkan di kamar saja. Kamu pasti capek banget... Biar Caca nanti sama Mama..." Pinta Tia agar Lita dan Leo beristirahat.
"Sayang...." Lita memanggil Caca yang sedang bermain dengan saudara-saudara nya.
"Ya Mommy..." Caca langsung berhambur dan memeluk kedua orangtua nya.
"Caca gak apa bobo sama Oma?" Tanya Lita.
"Iya Mommy... Mama Vita juga ajak Aku bobo..." Kata Caca.
"Ya sudah... Mommy mau istirahat..." Lita menciumi wajah Caca. Caca pun membalasnya dan bergantian pada Daddy nya.
"Jangan larut malam bobo nya yah..." Pinta Leo.
__ADS_1
"Siap Daddy..." Kata Caca lucu yang membuat semua orang tertawa gemas melihatnya.