CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Aku Mencintaimu, Friska


__ADS_3

Friska masih saja membungkam mulutnya. Dia masih belum mau cerita kejadian yang sebenarnya. Friska gak mau Atala akan meninggalkannya jika Dia menceritakan yang sebenarnya.


"Atala.... Aku ngantuk...." Friska beralasan.


Atala menghela nafas. Ini memang masih dini hari. Atala mengangguk. "Tidurlah... Besok Kita bicarakan ini kembali." Kata Atala.


Fathir terlihat kesal. "Dasar Atala lemah..!" Ketus Fathir. "Dia itu mau cari cara untuk membohongi Kamu....Tapi Kamu malah memberi celah padanya...!"


"Fathir... Aku tahu... Tapi Aku juga kasihan sama Friska. Biar bagaimana pun Friska sahabat Kita. Dia juga sedang sakit dan sedang hamil." Kata Atala akhirnya.


"Dari awal Aku sudah tahu, kalau Friska itu hanya modus jadi sahabat Kita. Melek dong Atala..!" Tegas Fathir.


Atala tersenyum. "Allah tak akan tidur. Allah akan membantu Hamba-Nya yang selalu berjalan dijalan-Nya yang benar." Kata Atala.


Fathir menghela nafas. Fathir meninggalkan ruang rawat Friska. Dia merasa gerah berada di ruangan itu, padahal ruangan itu ber AC.


"Kamu mau kemana?" Tanya Atala.


"Cari kopi..!" Jawab Fathir asal.


"Aku ikut...." Kata Atala yang keluar begitu saja tanpa memperdulikan Friska yang masih terjaga dan mengharap cinta Atala.


__________________________


Vita terlihat termenung di kamar tidurnya. Dari tadi sang Mama yang memanggilnya, seperti tak terdengar olehnya.


Vita masih sangat sedih karena harus berpisah dengan Atala. Dia juga merelakan resepsi pernikahannya diambil Friska.


Tia masuk ke kamar Vita yang memang tak tertutup rapat. Tia mengusap rambut Vita. Vita memang sedang tak berhijab.


"Ma...ma....?" Vita terlihat gugup. Dia mengusap airmatanya yang entah dari kapan sudah mengalir.


Tia duduk disamping Vita. Vita memeluk tubuh Tia. Tia mengelus rambut Vita. Tia sangat mengerti dengan perasaan Vita. Dia juga dulu pernah merasakan sakit hati karena tak meraih cintanya.


"Sabar ya Sayaaang.... Kalau Kamu sabar, Insyaa Allah semua akan cepat berlalu." Hibur Tia.


Vita menangis. Akhirnya Vita tak dapat menutupi kesedihannya lagi. Walau bagaimana pun Vita mencoba tegar, tapi tetap saja Dia tak dapat membohongi perasaannya yang hancur.


Walau hatinya berusaha yakin untuk mempercayai Atala, tapi semua bukti tertuju pada calon suaminya.


Tia pun juga tak bisa mempercayai Atala mampu berbuat seperti itu. Atala adalah Puteranya, Dia lebih mengenal Atala dari siapa pun. Namun Tia tak dapat berbuat apa-apa. Semua bukti memberatkan Atala.


"Aduuuhhh... Istri dan Puteri ku ternyata disini... Sepertinya di rumah ini Aku cuma ada berdua saja dengan Tristan. Aku kesepian." Tiba-tiba Lambok dan Tristan sudah berada di dalam kamar Vita.

__ADS_1


Vita melerai pelukannya. Tia juga melerai pelukannya. Vita mengusap airmata nya. "Maafkan Vita, Pa..." Kata Vita pelan.


"Tidak Sayaang... Kamu gak salah. Papa maklum..." Kata Lambok.


Lambok menghela nafas. Dia juga merasa sedih kedua wanita yang Dia sayangi sedang bersedih. "Papa kesepian... Dari tadi Papa menunggu di ruang makan, tapi kalian tak juga turun. Tristan sudah sangat lapar." Kata Lambok akhirnya. Lambok tak ingin Puteri nya terus larut dalam kesedihan.


"Astaghfirullaah... Mama sampai lupa. Mama mau memanggil Vita, tapi Mama malah ikut larut disini... Maafkan Mama ya Pa... Tristan." Tia merasa bersalah.


"Vita yang salah Ma... Semua gara-gara Vita yang gak bisa melupakan Kak Atala." Vita menunduk.


Tristan duduk di samping Vita. "Kakak gak salah kok. Cuma perut Aku nih yang gak bisa diajak kompromi....Dari tadi cacing nya teriak-teriakan terus." Canda Tristan.


Sontak saja semua yang mendengar jadi tertawa. Begitu juga dengan Vita. Sesaat Dia bisa melupakan kesedihannya. "Dasar Kamu, Dek... Makaaannn... Saja yang ada dipikiranmu. Lihat tuh badan Kamu sudah gendut gitu..." Vita mengrucutkan bibirnya.


"Hehehehe...." Tristan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tristan memang sedang masa pertumbuhan, lagi sedang-sedangnya doyan makan. Makanya Tia tak mau berjauhan dari Tristan. Karena Tristan juga lebih suka masakan Mama nya daripada jajan di luar.


"Ya sudah... Ayo kita makan." Ajak Tia.


Lambok merangkul bahu Tia. Tia memeluk pinggang Lambok. "Maafkan Aku ya Sayang..." Kata Tia yang mendongak pada Lambok.


Lambok hanya mengedipkan matanya sambil tersenyum. Lambok memgecup kepala Tia.


Tristan meniru yang dilakukan Papa nya. Dia mengecup kening Vita. Vita terkejut tapi Dia langsung merangkul bahu Tristan dan mengajaknya turun ke ruang makan.


"Coba ada Kak Lita, pasti rame..." Kata Tristan.


"Nanti kalau Kakak libur, Kita pulang ke Indonesia." Kata Lambok.


"Atau Kak Lita yang kesini." Kata Vita yang seakan enggan kembali kesana dan bertemu dengan Atala.


"Oh ya Ma... Tadi Lita telpon Papa. Dia mau ngomong sama Kita semua." Kata Lambok.


Tia mengangguk. "Lita sehat-sehat saja kan Pa?" Tanya Tia.


"Ya Dia sehat. Ada yang mau Lita sampaikan pada Kita." Kata Lambok lagi.


"Papa gak nanya, ada apa?" Tanya Tia.


Lambok hanya tersenyum. "Lita ingin bicara sama Kita." Kata Lambok lagi. Lambok tak ingin mengecewakan Lita. Lambok sendiri telah tahu apa yang akan Lita sampaikan.


Tapi Lita meminta agar dirinya saja yang menyampaikan pada semua. Lita ingin tahu pendapat keluarganya satu persatu.


"Ada apa sih? Lita bikin Mama penasaran." Kata Tia.

__ADS_1


Vita dan Tristan saling menatap. Tristan mengangkat bahunya. Tristan memang dengar Papa nya berbicara pada Lita tapi Tristan tak tahu apa yang dibicarakan Kakak nya dengan Papa nya.


"Baiklah... Kita selesaikan makan malam nya. Setelah ini Kita hubungi Vita." Kata Tia.


Lambok tersenyum. Lambok senang membuat Tia penasaran. Wajah Tia akan sangat menggemaskan jika sedang penasaran.


________________________


"Kenapa Friska harus menikah dengan Atala?!!! Kenapa Friska tak mengatakan yang sebenarnya?!! Friska.... Apa kurangnya Aku...?!!"


Seseorang terlihat sangat kecewa dan frustasi. Dia sangat mencintai Friska dari awal Mereka bertemu saat pertama kali masuk ke kampus.


FLASH BACK ON


Waktu itu Friska masih lugu. Dia terlihat malu-malu kucing saat dirinya memperkenalkan diri dihadapan Friska.


Dia sangat gemas melihat Friska yang malu-malu kucing. Setahun Mereka bersama satu kelas. Dia sudah bertekad di semester tiga nanti, Dia akan mengutarakan isi hatinya pada Friska.


Namun setelah kegiatan belajar mengajar kembali, Friska tak terlihat lagi di Kampus. Dia sempat frustasi mencari Friska.


Dia sudah bertanya tentang keberadaan Friska namun tak ada yang tahu. Friska juga gak punya teman dekat karena teman dekatnya hanya Dia.


Dan selama kebersamaannya, Dia tak tahu rumah Friska karena Friska yang selalu menolak jika dia ingin mengantar Friska pulang.


Pernah sewaktu-waktu Dia mengikuti Friska namun Friska mengetahuinya dan memarahinya. Friska juga mengancam tak akan mau kenal dengan Dia lagi kalau tak menurut apa yang Friska minta.


Hingga setahun lama nya. Hampir saja Dia sudah bisa melupakan Friska. Namum di semester 5, Dia kembali melihat Friska.


Tubuh Friska terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Dan wajahnya juga tak berseri seperti dulu. Namun masih cantik seperti setahun yang lalu.


Dia menarik tangan Friska secara tiba-tiba namun tetap lembut. Friska menoleh dan tersenyum padanya.


"Aku mencintaimu...." Dia merasa lega karena telah mengungkapkan perasaannya.


Friska sangat terkejut. Friska juga sebenarnya menyukainya dan merasa berbunga-bunga. Namun Friska menolaknya karena Friska teringat akan vonis Dokter. "Maafkan Aku.... Aku tak bisa menerima cintamu." Friska menunduk.


"Kenapa Friska...??? Dan kemana saja Kamu selama ini..??" Tanya nya.


Friska tak menjawab. Friska meninggalkannya ditaman begitu saja.


Hingga setahun kemudian, saat Dia sedang sibuk mengurus skripsinya, Dia melihat kedekatan Friska dengan Atala dan Fathir.


FLASH BACK OFF

__ADS_1


__ADS_2