CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Atala Murung


__ADS_3

Semenjak terkuaknya status Atala dalam keluarga, Atala menjadi agak pendiam.


Apalagi setelah Dia dan keluarganya mendapati kenyataan kalau Ibu nya sudah meninggal dunia dan dia terlahir tanpa Ayah.


Sehari-hari Atala selalu di kamar. Keluar hanya akan mengantar dan menjemput Twins ke sekolah.


Tia terlihat sedih melihat kondisi Atala. "Sayaaang.... Mama boleh minta tolong?" Tia menegur Atala yang sedang mengambil air minum.


"Apa Ma?" Tanya Atala masih murung.


"Adikmu dari kemarin merengek minta Kamu gendong." Kata Tia pelan. Tia mengusap airmatanya.


Atala melihat Tia. Atala menghampiri Tia. "Kenapa Mama menangis? Apa Aku menyakiti hati Mama?" Tanya Atala bingung.


"Mama abis kehilangan belahan hati Mama. Apa Mama seburuk itu hingga anak yang Mama anggap lahir dari rahim Mama, tak mau lagi peduli sama Mama." Tia terisak. Tia merasa kehilangan Atala nya yang dulu, yang selalu manja padanya, yang selalu mengasihinya.


Atala memeluk Tia. "Maafkan Atala Ma... Atala malu... Ternyata Atala bukan dari keluarga yang utuh."


"Sudah berapa kali Mama katakan, Mama, Papa dan Twins gak peduli siapa diri Kamu. Kamu itu tetap anak tertua di rumah ini." Tia sedikit kesal.


"Apa Kamu mau Mama sakit lagi karena memikirkan Kamu yang selalu murung?" Tia mengrucutkan bibirnya dan terlihat lucu oleh Atala.


"Iihhh Mama lucu deh kalau manyun kaya gitu... Hehehe..." Atala terkekeh. Atala mencium pipi Tia.


"Maafkan Atala Ma... Atala janji setelah hari ini Atala gak akan murung lagi. Atala juga cape Ma, sedih terus." Canda Atala.


"Siapa suruh Kamu sedih? Mama saja gak mau sedih walau dibayar." Canda Tia.


Atala merangkul bahu Tia dan mengajak Mama nya duduk di kursi meja makan. Atala dan Tia memang selalu seperti seorang sahabat. Tia selalu menjadi teman terbaik bagi Atala.


Atala menyiapkan makanan yang sudah Tia masak. Tristan mengangkat tangannya minta digendong. "Tata.... endong"


Atala segera menggendong Tristan. "Maafkan Kakak ya Dek... Kakak nyuekin Kamu selama ini." Atala mencium pipi Tristan.


Tia tersenyum. "Kamu mau makan sekarang?" Tanya Tia.


"Aku mau makan disuapi Mama." Pinta Atala.


Tia terperanjat tapi Tia tersenyum sambil mengangguk. Tia mengambil sepiring nasi dengan sayur dan lauknya. Tia menyuapi Atala dan Tristan makan. "Hhhmmm... 2 jagoan Mama...." Canda Tia.


"Ma... Nanti kalau Atala mulai masuk kuliah, Atala mau bawa motor Papa saja. Boleh ya Ma?" Tanya Atala.


"Lalu kalau jemput Twins gimana?" Tia heran.


"Iya ya..." Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tapi nanti pasti ada waktunya Atala tak bisa menjemput Twins." Kata Atala.


Tia mengangguk. "Ya Sayang... Nanti bisa diatur."

__ADS_1


"Kenapa Kita gak manggil Om Jojo lagi Ma?" Tanya Atala.


"Loh... Memang Kamu belum tahu? Om Jojo kan jadi asisten pribadi Grandpa." Kata Tia.


"Oh ya... Hebat Om Jojo ya Ma..." puji Atala.


"Om Jojo kan selama ini menjaga Kita, makanya Grandpa sudah sangat percaya sama Om Jojo... Sayang Mbah Marni...." Tia menunduk sedih.


"Sssttt Mama... Jangan sedih... Memang sudah takdirnya Mbah Marni menghadap Allah. Kita gak bisa mencegahnya Ma." Kata Atala.


"Ya Sayang... Mbah Marni bagi Mama seperti Ibu Mama, selama Mama tinggal disini." Kata Tia.


"Nanti biar Papa yang jemput Twins kalau Kamu gak sempat." Tiba-tiba Lambok sudah berada di ruang makan.


"Sayang.... Kok gak kedengeran kasih salam?" Tanya Tia.


"Papa.... Aku gak denger mobil Papa." Atala bingung.


"Papa pulang naik taxi. Papa gak enak badan Sayang.. Tadi Papa dah kasih salam.. Mungkin suara Papa pelan karena lemas..." Kata Lambok.


"Pa... Apa gak sebaiknya ke Rumah Sakit?" Kata Atala yang khawatir.


"Ya Sayaaang... Atala benar. Kamu belum berobat dari minggu lalu Kita ke Cikarang." Tia juga khawatir.


Atala menurunkan Tristan dan segera memapah Sang Papa dan membawanya ke sofa. Tia membuatkan teh hangat.


Atala membantu membuka jas dan dasi Lambok. Dia juga membukakan sepatu Papanya.


"Ya Ma....Adek duduk sini ya dekat Papa." Kata Atala. Atala segera berlalu ke lantai atas.


"Minum dulu Sayang..." Pinta Tia yang menyodorkan cangkir teh pada Lambok.


"Terima kasih Sayaang..." Kata Lambok yang segera menyeruput teh nya perlahan.


"Ini Ma..." Atala menyodorkan minyak kayu putih pada Tia.


"Kamu jemput Twins dulu, Sayang... Sudah jam berapa tuh? Sudah shalat dzuhur kan tadi?" Kata Tia sambil memijat tengkuk Lambok perlahan.


"Sudah Ma... Tapi Papa gimana Ma?" Atala sangat khawatir.


"Papa gak apa Sayang... Sudah ada Mama.. Nanti kalau ada apa-apa, Mama akan hubungi kamu." Kata Lambok.


Atala mengerutkan keningnya. "Ada apa Pa?" Atala berjongkok di depan Lambok.


Lambok tersenyum. Dia mengusap pipi Atala. "Maksud Papa kalau Papa kenapa-napa, Mama pasti hubungi Kamu. Tapi Kita tak berharap demikian." Kata Lambok.


"Papa jangan nakutin Atala... Atala gak mau Papa kenapa-napa. Pokoknya sekarang Papa, Atala antar ke Rumah sakit. Abis itu Atala langsung jemput Twins!" Atala berkeras.


"Mama siapkan makan dulu buat Papa di mobil." Tia juga bergegas.

__ADS_1


Lambok menghela nafas. Dia tak bisa lagi menolak perkataan Atala.


Tak lama mereka sudah bersiap di dalam mobil. Atala menyetir. Tristan duduk disamping Atala dengan seatbelt yang sudah membelitnya. "Adek tenang disini ya... Kita antar Papa ke rumah sakit." Kata Atala.


Tristan mengangguk. "Ya Tata..."


Tia dan Lambok duduk di kursi penumpang. Tia membuka makan siang untuk Lambok dan menyuapinya perlahan.


Lambok menerimanya walau terpaksa.


20 menit kemudian, Mereka tiba di Rumah Sakit A. Atala membantu Lambok duduk di kursi roda.


"Kamu jemput adik-adikmu dulu. Biar Mama yang bawa Papa. Nanti Kamu ajak twins kesini ya. Tristan Kamu bawa ya Nak. Hati-hati... jangan ngebut-ngebut." Pesan Tia.


"Ya Ma. Ayo dek..." Atala menuntun Tristan kedalam mobil. Tia mendorong kursi roda Lambok ke poli umum.


__________________


"Tumben Kak Atala lama jemput Kita." Lita terlihat khawatir.


"Iya... Ada apa yah. Perasaan Aku gak enak." Kata Vita.


"Coba Aku telpon Kak Atala atau Mama." Kata Lita.


Vita mengangguk dan mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Lita.


Lita mendial nomor ponsel Atala. Nyambung tapi tak diangkat. "Gak diangkat." Lita terlihat cemas.


"Coba ke Mama.. Takutnya Kak Atala lagi dijalan gak bisa angkat telpon." Kata Vita.


Lita mendial nomor Mama nya.


"Assalamu alaikum Sayang..." Sahutan dari Tia.


"Wa alaikumussalaam... Mama dimana? Kok rame?" Lita bingung.


"Mama di Rumah Sakit Sayang... Kak Atala sedang jemput Kalian. Tadi nganter Papa dulu ke Rumah Sakit." Kata Tia.


"Papa sakit Ma?" Lita terlihat cemas.


"Ya Sayang. Kalian tunggu Kakak ya.. Nanti nyusul kesini. Tristan sama Kakak." Kata Tia.


"Ya Ma.... Semoga Papa gak apa-apa ya Ma..." Kata Lita.


"Aamiin... Ya sudah Sayang... Mama sedang nunggu panggilan untuk Papa." Kata Tia.


"Mama jangan panik ya." Pinta Lita.


"Ya Sayang... Nih Papa tersenyum." Kata Tia mencoba menenangkan putrinya.

__ADS_1


"Ya sudah Ma....Assalamu alaikum." Salam Lita.


"Wa alaikumussalaam..." Sahut Tia dan menekan tombol off pada ponselnya.


__ADS_2