CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Vero Sakit


__ADS_3

Lita menahan airmatanya. Walau bagaimana pun perasaan cinta untuk Vero masih ada.


"Sayaaang.... Kok gak kebawah, saudara-saudaramu sudah menunggu di resto. Sapa Tia yang memang sengaja menjemput Lita di kamarnya." Sedangkan Astrid sudah terlebih dahulu meninggalkan Lita karena sedang menerima panggilan Video.


"Mama... hik..hik..hik..." Lita terisak.


"Loh kok malah nangis? Tadi Astrid bilang Kamu lagi video call sama Diah?" Tia terlihat bingung.


Lita tak menjawab. Dia masih sesegukkan. Tia melihat ponsel Lita yang tergeletak diatas kasur. Dia mengambilnya dan membukanya. Tia menghela nafas setelah tahu apa yang telah puterinya dapati.


"Sabar ya Sayang... Mungkin memang Vero bukan jodoh untukmu. Kamu harus berdoa yang terbaik untuk Vero dan Diah. Insyaa Allah dengan keikhlasan Kita, Kita akan menerima yang lebih baik." Nasehat Tia.


Lita melerai pelukannya. Dia mengusap airmata nya. "Seperti Mama yang pada akhirnya bertemu lagi dengan Papa???" Lita sedikit menyunggingkan senyum walau pahit.


Tia tersenyum dan mengangguk. Lita kembali memeluk Mama nya. "Aku akan coba seperti Mama yang selalu sabar...." Kata Lita berjanji.


Tia mengusap rambut Lita dengan lembut. "Sekarang cuci muka, terus Kita ke bawah. Kasihan Papa dan saudara-saudaramu menunggu Kita." Pinta Tia.


Lita mengangguk dan langsung menurut perintah sang Mama.


________________________


"Sebaiknya Kalian pergi dari rumah Saya!!" Hardik Papa Dika. Dia sangat kesal dengan pertemuan lamaran ini.


"Bang Dika..." Panggil Dita. "Abang mengusir Kami?" Dita terlihat sedih.


Diah yang pingsan sudah dibopong ke dalam kamarnya. Sedangkan Adrian mengejar Vero yang berlari keluar rumah.


"Dari dulu Abang sudah mendengar tentang keluarga Ayah Burhan, akan istrinya yang matrelialistis dan Ayah Burhan yang takut pada istri. Sehingga tidak bisa mendidik istrinya..!" Kata Dika kesal.


"Cukup Dika...!! Kamu pikir, kamu siapa berani menghina keluarga Saya?! Adikmu Dita yang mengejar-ngejar Adrian, Putera Saya. Dan sekarang Puterimu mengejar-ngejar cucu Saya!!" Bunda tak kalah sengit menjawab hinaan Dika.


"Bunda...!! Diam...!! Jangan memperkeruh suasana! Kali ini Ayah tak bisa lagi bersabar dengan kelakuan Bunda! Seharusnya dari dulu Ayah berkeras pada Bunda. Ayah bukan takut pada istri, tapi Ayah menunggu kesadaran Bunda! Tapi Bunda malah menjadi!!" Hardik Ayah Bunda pada Istrinya sekaligus menjawab sindiran Dika.


Dika menunduk. Dika meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan para tamu yang masih ada disana. Meninggalkan saudara-saudaranya yang hanya diam terpaku menyaksikan perseteruan ini.


"Oohhh Ayah sekarang sudah berani menentang Bunda!??!!" Bunda malah tambah kurang ajar.


Mau tak mau Ayah Burhan menarik tangan Bunda untuk meninggalkan rumah Dika. Tak mungkin Dia ribut didepan orang banyak dan didepan sanak saudara.


Adrian kembali. Dia tak bersama Vero. Vera mengikuti sang Kakek yang menarik tangan Sang Nenek.


"Dimana Vero?" Tanya Ayah Burhan.


"Adrian tidak menemukannya Yah." Kata Adrian yang melihat Ayahnya menarik tangan Bunda.

__ADS_1


"Ada apa Yah?" Tanya Adrian heran.


"Kita bicara di rumah. Bunda mu bikin malu saja!" Kata Ayah yang masih menarik tangan bunda dan menggenggamnya kuat agar tak terlepas.


"Ayah...!! Sakit!! Lepasin!!" Bunda terus meronta minta dilepaskan.


"Bunda... hormatilah Ayah..." Pinta Adrian dengan wajah memohon. "Malu dilihat banyak orang Bunda." Adrian menekan nada bicaranya.


Mau tak mau Bunda menurut. Dia baru sadar kalau banyak sanak saudara yang memperhatikan Mereka dari tadi.


Bunda langsung mempercepat jalannya hingga malah Dia yang menarik suaminya.


"Bang...." Panggil Dita.


Adrian menoleh. "Ya Sayang?"


"Maafkan Abangku...." Dita menunduk.


Adrian tersenyum. "Abangmu tidak salah. Kamu disini saja dulu, menemani Abangmu yah. Nanti kalau Bunda sudah adem, Abang kabari yah." Kata Adrian mengusap lembut pipi Dita.


Dita mengangguk dan tersenyum. Dia mencium punggung telapak tangan Adrian. "Hati-hati Bang. Vera... kabari Mama soal Abangmu, Vero ya." Pinta Dita pada Vera.


"Ya Ma..." Kata Vera yang terlihat sangat terpukul melihat perseteruan keluarganya.


________________________


"Kemana Pak?" Tanya supir taxi.


"Rumah Sakit Pak." Pinta Vero.


Supir taxi pun melajukan kendaraannya ke Rumah Sakit terdekat.


Sepuluh menit kemudian Vero sudah berada di loby Rumah Sakit. Dia langsung membayar argo pada taxi.


"Pak... kembaliannya...!" Teriak supir taxi.


Namun Vero seakan tak mendengar. Tubuh nya terhuyung di depan Loby Rumah Sakit.


Satpam yang melihat langsung membantu Vero. Memapahnya ke arah kursi roda. "Anda kenapa Pak?" Tanya Pak Satpam.


"Pak tolong Saya...." Tak lama Vero tak sadarkan diri.


Pak Satpam langsung mendorong kursi roda yang diduduki Vero menuju ruang UGD. "Dokter...!! Suster...!! Toloong...!!" Pak Satpam meminta pertolongan.


"Kenapa Dia Pak?" Tanya seorang Suster.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, tadi Dia pingsan di loby." Jelas Pak Satpam.


Para Suster pun membantu Pak Satpam mengangkat tubuh Vero ke atas brankar ruang UGD.


"Maaf ya Dokter, Saya periksa saku nya. Siapa tahu ada Keluarganya yang bisa dihubungi." Pak Satpam minta ijin.


"Silahkan Pak. Kita jadi saksinya." Kata Dokter yang juga disaksikan oleh suster.


"Ada ponselnya. Tapi terkunci. Kata Pak Satpam. Kemudian Dia memeriksa dompet Vero. Pak Satpam melihat kartu identitas milik Vero.


"Bagaimana Pak?" Tanya Suster.


"Saya kenal dengan alamat ini. Seperti nya tak asing bagi Saya." Pak Satpam mengingat.


"Astaghfirullaah...." Tiba-tiba Pak Satpam seperti teringat sesuatu.


"Kenapa Pak?" Tanya Dokter yang telah memeriksa kondisi Vero.


"Ini alamat rumah Pak Burhan. Sebentar, Saya hubungi adik Saya supaya Dia bisa mengabari Pak Burhan." Pak Satpam sambil mengambil ponselnya dari saku dan segera menghubungi Adiknya.


________________________


Diah tersadar dari pingsannya. Diah menangis memanggil Vero.


"Sayang...." Panggil Mama Dea.


"Ma... Vero mana Ma....? Vero jangan boleh tinggalin Diah lagi Ma... hik...hik...hik...." Dia masih terisak.


"Mama Dea menghela nafas. Kamu tenang dulu ya Sayang. Semua orang sedang panas. Nanti kalau situasi nya sudah tenang, Kita bicara baik-baik sama Papa." Pinta Mama Dea.


"Kenapa Papa seperti itu Ma?" Diah tak terima.


Mama Dea menghela nafas. "Papa mu masih sakit hati dengan Nenek nya Vero. Mama juga kalau gak sabar, marah memang sama Nenek Vero." Jelas Mama Dea.


"Memang seperti apa Ma kejadian yang sebenarnya?" Tanya Diah yang mulai tenang.


"Tante Kamu sangat mencintai Adrian dari dulu sebelum Adrian tugas ke kalimantan, saat itu Dita masih sekolah. Tante mu sampai rela menikah dengan Adrian menjadi istri kedua. Nah disitu Papa mu tak terima. Tante mu sampai memberikan apa saja yang Bunda mau asal Adrian menjadi miliknya. Hingga akhirnya tiba-tiba Tante mu minta harta warisan bagiannya. Padahal saat itu usaha Papa mu sedang naik-naiknya." Mama Dea terus bercerita.


"Papa akhirnya mengalah memberikan bagian Dita, namun karena ada bagian Dita di saham perusahaan Papa mu, Bunda ikut-ikutan ambil andil dalam usaha Papa. Papa sudah melarangnya karena biar Papa saja yang menangani, tapi Bunda bersikeras dan mengatakan kalau saham itu miliknya karena Dita sudah menyerahkan pada Bunda."


"Karena Bunda ikut campur akhir nya usaha Papa mengalami kemerosotan yang sangat tajam. Dan Bunda menyalahkan Papa mu. Disitu Papa mu tambah kesal pada Bunda." Mama Dea mengusap airmata nya.


"Maafin Diah Ma... Diah membuka luka lama keluarga ini. Tapi Diah gak mau berpisah sama Vero, Ma...." Diah mengharap.


"Kamu sabar ya Sayang. Nanti Kita bicara baik-baik sama Papa." Kata Mama Dea sambil mengusap kepala Diah lembut.

__ADS_1


__ADS_2