CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Cinta Karet


__ADS_3

"Kenapa mendadak?" Tanya Fitri pada Lita.


Lita memberikan email dari Dokter Oliver untuknya kepada Fitri.


Fitri dan Fahmi saling menatap. Farah dan Fahri juga demikian. Nenek hanya manggut-manggut tak mengerti.


"Ya sudah.... Nanti Mama bantu berkemas. Biar Ayah yang urus tiket, Kamu." Kata Fitri.


"Gak usah Ma... Lita sudah mengabari Mama dan Papa di Jakarta. Kak Atala juga sudah tahu, tadi dari sungai ke rumah, Aku sudah memberitahu Mereka. Dan Kak Atala langsung booking tiket ke Jakarta dan Negara J." Jelas Lita.


Fitri mengusap kepala Lita dengan lembut. "Ya sudah.... Kamu sekarang istirahat. Supaya besok bugar untuk melakukan perjalanan jauh." Pinta Fitri.


Lita mengangguk sambil tersenyum. Farah menggamit tangan Lita ke kamar Mereka.


"Farah...." Panggil Fitri.


"Ya Ma...?" Jawab Farah.


"Lita nya jangan diganggu, nanti malah gak istirahat Dia." Pinta Fitri.


"Ya Ma... Aku cuma mau bantu Lita berkemas." Kata Farah.


"Loh... Ini Bang Veri nya dicuekin?" Goda Fahmi.


"Biarin aja. Kan ada Bang Fahri....!" Farah mengrucutkan bibirnya sambil berlalu. Farah memang belum sepenuhnya menerima Veri. Karena Farah sering melihat ada tatapan cinta Veri buat Lita. Walau sebenarnya Farah sudah menyukai Veri saat pertama kali melihatnya. Namun perasaan nya Dia tekan agar tak kecewa nantinya.


Lita terkekeh melihat raut wajah Farah yang menggemaskan. Saudara sepupunya ini memang sangat cantik, Farah persis Mama Fitri dipadu dengan hidung mancung Ayah Fahmi dan tinggi semampai seperti dirinya. Kulit nya kuning langsat dan selalu wangi.


"Ketawa aja, Kamu Lita..." Farah mencubit lengan Lita saat sudah berada di dalam kamar.


"Habis Kamu lucu banget. Kasian tuh Bang Veri... Nanti putar haluan looohhh..." Goda Lita.


"Biarin aja. Sok kegantengan. Cinta karet, Cinta sana cinta sini." Farah masih mengrucutkan bibirnya.


"Loh?? Memang Bang Veri cinta sama siapa aja?" Lita terkejut.


"Sama Kamu lah.... Sama siapa lagi..." Farah membuang tubuh nya ke ranjang yang berkasur empuk.


"Deeehhhh.... Ada yang cemburu?" Goda Lita.


"Aku gak cemburu sama Kamu, Lita. Tapi Aku gak suka dengan sifat plin plan Bang Veri." Ketus Farah.


"Hhhmmmm..... Ya siihhh... Tapi gak seharusnya Kamu cuekin. Kalau Kalian dekat, siapa tahu Bang Veri bisa cepat move on." Lita menjawil hidung mancung Farah.


"Biarin aja.... Aku mau tahu... Sampai mana sih usaha Dia mendekatiku." Tegas Farah.

__ADS_1


"Kamu benar... Memang jangan sedikit pun menggampangi menerima cinta laki-laki. Lihat perjuangannya dulu." Lita terkekeh.


Farah masih membantu Lita berkemas. Sedang Lita sedang mengumpulkan file-file riset nya yang sudah sempat Lita print sebagian sebelum Vero meninggal Dunia. Lita juga sudah sempat mengirimkan hasil risetnya kepada Dokter Oliver saat masih observasi Almarhum Vero.


Lita tak menyangka kalau ternyata Dokter Oliver sang Dosen pembimbingnya menerima riset nya dan memintanya melanjutkan walau kenyataannya Vero sudah tidak ada.


Dokter Oliver yang tersiar kabar adalah Dosen Killer, ternyata tidak bagi Lita. Malah Lita senang dengan ketegasan Dokter Oliver, makanya saat Lita mendapat Dosen pembimbing Dokter Oliver, Lita sangat antusias sekali. Padahal teman-teman Kampus nya banyak mengeluh karena banyak yang ditolak riset nya oleh Dokter Oliver.


________________________


"Sayaaaang....." Astrid memeluk tubuh Lita. Perutnya sudah terlihat buncit.


"Kok Kamu masih jemput Aku siihhh...??" Lita terlihat khawatir.


"Aku tuh kangen banget sama Kamu... Ya ampuuunnnn.... Pas denger Kamu mau balik, Aku gak sabaran nunggu hari ini." Astrid terlihat bahagia. Tak lepas Astrid memeluk lengan Lita sambil berjalan.


"Ya... Aku kan nanti pasti mampir ke Apartemen Kalian. Duuhhh... Udah besar banget perutnya... Nanti kalau lahiran disini, gimana?" Lita terlihat khawatir sambil mengelus perut basar Astrid.


"Tenang aja... Prediksi Dokter, minggu depan." Canda Astrid.


"Astaghfirullaah... Astrid... Iiisshhh... Benerkan kataku.... Ayoooo Aku antar ke apartemenmu." Lita sangat cemas.


"Kamu tenang, Sayaang... Ada Calon Papa yang selalu siaga... Tuuuhhh...." Tunjuk Astrid pada Arham, suaminya.


Lita menghela nafas. "Kak Arham... Kenapa ngerepotin sih, jemput Aku?"


Astrid dan Lita terkekeh melihat kelakuan Arham.


"Kamu sehat-sehat aja kan?" Tanya Astrid.


"Alhamdulillaah..." Kata Lita. Lita membantu membukakan pintu mobil untuk Astrid. Sedangkan Arham membantu mengangkat travel Bag Lita ke dalam mobil.


"Kamu sendiri gimana? Keponakanku sehat-sehat kan?" Tanya Lita.


"Alhamdulillaah... Sehat... Semua nya sehat..." Jawab Astrid.


"Kita kemana?" Tanya Arham yang sudah siap dibelakang stir.


"Kamu cape gak, Say?" Tanya Astrid.


"Memang Kamu mau kemana?" Tanya Lita.


"Aku kepengen makan asinan di restoran Indonesia." Pinta Astrid.


"Ya udah... Kita ke apartemen Kamu aja. Nanti Aku yang beliin." Kata Lita.

__ADS_1


"Gak mau... Aku mau makan disana." Astrid merajuk.


Arham hanya menghela nafas. "Gak apa Lita... Bu Mil kalau udah ada mau nya gak bisa ditolak."


"Ya udah. Tapi jangan lama-lama yah. Janji makan asinan aja." Pinta Lita.


Astrid tersenyum sambil memeluk tubuh Lita.


Satu Jam Kemudian


Astrid, Lita dan Arham sudah duduk di resto Indonesia.


Astrid langsung memesan asinan. Lita hanya tersenyum saja melihat wajah Astrid yang terlihat berisi. Pipi nya terlihat cubby.


"Nanti pulang beli rendang, ya Pa...." Pinta Astrid pada Arham.


"Gak usah. Kalau rendang, Mama Ku sudah membuatkan khusus untuk Kamu." Kata Lita.


"Subhanallaah... Alhamdulillaah... Mama baik banget.... Seneng deh punya Mama...." Kata Astrid dengan mata berkaca-kaca.


"Ya... Pesan Mama, Kamu jangan terlalu cape. Sering senam Bu Mil biar lancar lahirannya. Maaf Mama belum bisa kesini. Maklum... Mama kan selalu setia menemani Papa kemana pun...." Kekeh Lita.


"Vita gimana kabarnya? Sudah ada tanda-tanda hamil, belum?" Tanya Astrid.


Lita menggeleng. "Mereka masih disuruh pacaran terus sama Allah... Hehehehe..." Canda Lita.


"Mudah-mudahan Vita cepat hamil yah...." Doa Astrid.


"Aamiin...." Jawab Lita dan Arham.


"Maaf.... Sayang... Hubunganmu dengan Dokter Leo, gimana?" Astrid sangat hati-hati. Tak ingin membuat Lita bersedih.


Lita hanya tersenyum. "Untuk saat ini, Aku gak mau memikirkannya. Aku sedang fokus pada sidang riset ku. Dokter Oliver memintaku untuk segera menyelesaikan agar Aku cepat sidang. Karena Beliau akan pindah tugas bulan depan."


"Kok dadakan? Terus Mahasiswa yang lain gimana?" Astrid terlihat kaget.


"Yang bisa menyelesaikan waktu sebulan ini, Dokter Oliver masih menunggu dan akan membantu. Tapi yang belum siap, yaaa cari pembimbing yang baru." Lita menggedikkan bahunya.


"Memangnya kenapa Dokter Oliver dipindahkan? Selama ini kinerja nya sangat bagus loh... Yah walau kata anak-anak Killer tapi Killer nya Dia membangun deh..." Kata Astrid lagi.


"Permintaan Rektor. Di Kampus Negara Bagian kekurangan tenaga pengajar sekaligus Dokter untuk Rumah Sakit. Dokter Oliver kan Dokter Senior, jadi Rektor mempercayakan Beliau untuk pindah kesana." Jelas Lita. "Kebetulan tempat tugasnya yang akan datang, dekat dengan Keluarga Beliau. Jadi Beliau akan bahagia karena segera bersama kembali dengan Keluarganya."


Astrid mangguk-mangguk. Wajah nya tersenyum manakala pramusaji menyediakan pesanannya.


Lita hanya terkekeh melihat gaya makan Astrid yang sangat lahab.

__ADS_1


"Hhheeehhhh.... Bahagia nya Astrid... Akan memiliki anak dari Pria yang sangat mencintai Dia. Sedangkan Aku......" Batin Lita. Namun Lita buru-buru menepis perasaan sedihnya. Lita sudah berjanji pada kedua orangtua nya untuk tidak memikirkan hal yang tidak penting.


Padahal usia Lita hampir menginjak 25 tahun, namun belum juga ada jodoh untuk dirinya.


__ADS_2