CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Mendua


__ADS_3

"Kenapa Kamu pergi meninggalkan Aku begitu saja?" Tanya Vero saat tiba di taman.


Matahari pagi tepat menerpa tubuh Vero yang pucat. Lita sengaja melakukannya. Vitamin D alami sangat diperlukan oleh Vero.


Lita memasang rem pada kursi roda Vero. Lita duduk di bangku taman menghadap Vero. Lita menggenggam tangan Vero.


"Aku sangat mencintaimu, dulu dan sampai kini." Kata Vero lagi.


"Baaang...." Lita merasa tak enak.


"Kalau tak ada harapan bagiku untuk kembali padamu, buat apa Aku sehat?!" Vero memalingkan wajahnya dari tatapan Lita.


Lita akhirnya berjongkok. Menundukkan kepala nya. Lita benar-benar bingung dengan situasi ini. Niat nya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Vero malah mendapati Vero yang sakit parah.


Sebagai seorang Calon Dokter, Lita tak mungkin mematahkan semangat pasiennya.


"Aku gak pernah marah sama Abang. Aku pergi karena Aku mendapat panggilan dari Kampus Negara J." Kata Lita.


"Tapi kenapa Kamu tak berpamitan denganku..." Vero nampak kecewa.


"Baaang... Saat itu... Aku gak mau melukai hati sahabatku, juga Nenek Dinda." Lita mencoba memberi pengertian pada Vero.


"Sekarang Nenek sudah gak ada. Gak ada lagi penghalang bagi Kita." Ketus Vero.


Lita tersenyum getir. Bagaimana mungkin Lita menerima Vero lagi kalau di alam baqa Sang Nenek gak pernah ridho.


Vero mengangkat tangannya dan menaikan dagu Lita. "Apa karena sekarang Aku sakit, Kamu gak menyukaiku lagi?" Vero mencari cinta dimata Lita namun nihil.


"Apa Abang mau janji?" Tanya Lita.


"Janji apa?" Tanya Vero pelan.


"Abang janji harus sehat. Bagaimana bisa Abang mencintaiku kalau Abang tak mau sehat? Apa Abang tega meninggalkan Aku merana disini?" Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Lita walau semua nya demi kebaikan Vero.


Vero memeluk kepala Lita. "Abang sayang Kamu. Abang janji akan berjuang melawan penyakit ini demi Kamu. Abang gak akan ninggalin Kamu lagi..." Mata Vero berkaca-kaca.


Dari kejauhan sepasang mata menatap cemburu akan adegan pelukan itu. Dia melihat Vero mengecup kepala Lita yang tertutup hijab. Dia lepaskan sekuntum mawar dalam genggamannya ke tanah. Tubuh nya berbalik. Niat nya menemui Lita diurungkannya.


_______________________

__ADS_1


Setiap hari Dia datang. Melihat Lita dari kejauhan begitu perhatian pada Vero. Dia sudah mencari tahu siapa pasien yang sedang bersama Lita.


Hari ini juga sama. Lita terlihat senang berbicara dengan Vero. Sesekali Vero mengecup telapak tangan Lita. Dan Lita terlihat tersipu malu.


Gerahamnya menggeretak menahan amarah. Namun sebisa mungkin Dia tahan. Dia masih terus mencari informasi tentang Lita dan pasiennya.


"Pantes saja Dia tak mengadakan Riset di Rumah Sakit Negara J! Rupa nya ini alasan Dia pulang!" Gumamnya menahan amarah. Dia remas setangkai bunga mawar itu tanpa peduli telapak tangannya tertancap duri.


"Semua wanita sama saja! Penghianat dan tidak setia!" Dia membanting remasan bunga mawar itu ke tanah dan meninggalkan Rumah Sakit dengan rasa cemburu yang berkobar.


Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju hotel tempatnya menginap. Sudah beberapa hari ini Dia di Sumatera mencari keberadaan Lita. Dia teringat kalau Uncle nya Lita mempunyai Rumah Sakit Kanker dan Saraf di Sumatera ini.


Dengan mudah Dia menemukan Rumah Sakit itu dan benar saja, dengan mudah Dia menemukan Lita disana.


Setiba nya di kamar Hotel.


"Aacchhh!!! Lita...!! Kenapa Kau menghianatiku?! Kenapa?! Susah payah Aku menahan hasratku agar tak menyentuhmu." Dia menjambak rambutnya sendiri.


"Kamu ingin Aku muallaf, kan?! Aku lakukan walau berat sekali....Tapi kini... Kamu malah menghianatiku..!!" Leo membanting gelas yang ada dihadapannya.


"Kamu sama saja seperti Bella..! Penghianat! Apa bagusnya Vero?! Penyakitan!" Leo masih histeris.


"Ya Allah... Aku baru saja menjadi hamba-Mu... Tapi mengapa cobaan ini Kau berikan padaku?! Apa salahku?!" Leo menengadah.


"Assalamu alaikum Ustadz...."


"Baik... Aku akan segera terbang ke sana..."


"Assalamu alaikum..." Leo mematikan ponsel nya.


Leo segera mengepak barang-barang nya. Menelpon ke bandara membooking tiket ke Jogja.


_________________________


"Tidak mungkin...." Ustadz Joey tersenyum sambil menggeleng. "Mungkin Kamu salah lihat. Atau Kamu salah paham, Nak." Kata Ustadz Joey.


Leo sudah meremas rambutnya. "Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri. Lita bahagia bersama Vero. Sedangkan disentuh olehku saja, Lita gak mau. Tapi sama Vero....." Leo tak meneruskan kata-katanya.


Ustadz Joey mengelus bahu Leo. "Sabar Nak... Lita tak mungkin seperti itu. Ustadz kenal betul dengan keponakan Ustadz. Mungkin Lita sedang mengobati Vero atau memberikan semangat buat Vero. Istighfar Nak...." Nasehat Ustadz Joey.

__ADS_1


Leo mendongakkan kepala nya. "Apa Ustadz yakin, Lita tak sedang menghianatiku?" Leo menatap lekat mata Ustadz Joey.


Ustadz Joey mengangguk. Nanti Ustadz tanyakan pada Dokter Marcel. "Kamu tenangkan dirimu. Perdalam lagi Ilmu yang sudah Ustadz ajarkan padamu. Kamu ingin Lita bahagia, kan? Kamu gak mau Lita sakit-sakitan lagi, kan?"


Leo mengangguk. Namun masih belum bisa terima mengingat perlakuan Lita kepada Vero.


FLASHBACK ON


Leo berjalan dengan semangat menuju unit kamar apartemennya. Dia sangat merindukan Lita.


Beberapa kali Leo mengetuk pintu unitnya namun tak ada jawaban. "Bukankah Lita pagi-pagi begini masih di unit. Kenapa sepi sekali? Apa Dia belum bangun? Tapi gak mungkin, Lita selalu bangun subuh-subuh. Atau jangan-jangan...." Kecemasan terlihat di wajah Leo.


Buru-buru Leo membuka unit nya. Leo khawatir terjadi sesuatu pada Lita. Sudah dua bulan ini Leo menjauh dari Lita. Itu Leo lakukan demi memendam hasratnya.


Leo ingin memberi kejutan pada Lita. Leo ingin melamar Lita sebagai Istri nya. Memenuhi persyaratan Lita.


"Sayaaang....!" Leo memanggil Lita. Leo bergegas mencari Lita ke kamar, namun Leo mendapati kamar yang kosong. Barang-barang Lita tak ada di sana.


"Assalamu alaikum....Lita... Kamu udah kembali?!" Tiba-tiba suara yang tak asing bagi Leo terdengar dari depan unit. Leo bergegas keluar.


"Wa alaikumussalaam....Astrid.. Arham. Mari masuk." Ajak Leo.


Astrid dan Arham sedikit terkejut mendengar jawaban salam dari Leo. Astrid menatap Arham, Arham mengangguk. Akhirnya Mereka menuruti kemauan Leo agar masuk ke unit nya.


Astrid nampak kesal. Astrid masih marah pada Leo yang telah menghianati sahabatnya. Astrid pikir Lita kembali ke unit Leo karena pintu nya yg terbuka sedikit.


"Kemana saja Pak Dokter selama ini? Apa sudah bosan dengan bermain perempuan dan kembali lagi mencari Lita! Mau nyakitin Lita lagi?! Mau bikin Lita sakit lagi?! Apa belum puas?!" Astrid tak dapat menahan lagi amarahnya. Maklum bawaan Ibu hamil. Emosi nya tak terkontrol.


"Sayaaang...." Arham mengelus lengan Astrid. "Ingat emosi Kamu. Ingat bayi Kita."


Leo bergegas ke pantry mengambil air mineral dalam kemasan yang selalu tersedia di Unit nya. Leo menyodorkan pada Astrid dan Arham. "Minumlah..."


Leo tak tega melihat Astrid yang sedang mengandung, perutnya sudah terlihat buncit. Leo menghela nafas menahan emosinya.


"Apa maksud Kamu Strid? Siapa yang main perempuan?" Leo nampak bingung. "Kemana Lita? Kenapa barang-barangnya tidak ada?" Beruntun pertanyaan Leo.


"Dokter pura-pura kan?! Dokter jangan banyak drama!" Emosi Astrid masih belum bisa turun.


Arham memeluk tubuh sang Istri. Dia tak ingin Astrid kenapa-napa. "Istighfar Sayang... Aku tahu Kamu kesal sama Leo. Tapi biarkan Leo menjelaskannya dulu. Kamu jangan ikuti emosi mu. Ingat kesehatan bayi mu." Arham kembali mengingatkan Astrid.

__ADS_1


"Astaghfirullaah..... Astaghfirullaah..."


Arham menyodorkan air mineral pada Astrid agar Astrid lebih tenang.


__ADS_2